Ketika Puisi dibaca Jenderal TNI di Rapimnas Partai Politik

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 23 Mei 2017
Ketika Puisi dibaca  Jenderal TNI di Rapimnas Partai Politik

Ketika Puisi dibacakan Panglima TNI dalam Rapimnas Partai Politik

- Mempertemukan Kembali Puisi dan Masyarakat

Denny JA

Dana Gioia dapat melihat puisi lebih jernih. Ia tak hanya seorang penyair. Ia juga seorang akademisi, kepala lembaga seni terkemuka, dan seorang pengusaha.

Suatu ketika, Mei 1991, ia menulis review di Atlantic Monthly yang menjadi pembicaraan hingga kini. Judul tulisannya: Can Poety Matter? Dapatkah puisi bermakna bagi masyarakatnya.

Menurut Gioia, puisi sudah kehilangan kekuatannya selaku agen pengubah budaya dan masyarakat. Hiruk pikuk para penyair dan puisinya hanya bersikulasi di kalangan internal mereka sendiri. Sementara denyut utama peradaban, dunia politik dan binis semakin terpisah dan tak tersentuh puisi.

Terbentuk dua komunitas. Yaitu komunitas penyair yang semakin terisolasi dari denyut utama dinamika masyatakat. Dan para pelaku utama perubahan masyarakat yang semakin terisolasi dari puisi.

John F Kennedy merespon dan menyayangkan terpisahnya dua komunitas itu. Kutipannya yang terkenal: Jika saja para politisi lebih banyak membaca puisi, dan para penyair lebih peduli politik, kita akan hidup dalam dunia yang lebih baik.

Itu sebabnya mengapa Jenderal TNI yang membaca puisi di Rapimnas Golkar Mei 2017 menjadi viral di media. Ini peristiwa yang tak bisa. Pembekalan untuk rapat pimpinan tertinggi sebuah partai besar diisi oleh puisi. Yang membaca puisi seorang jendral TNI pula. Kebetulan puisi yang dibaca karya saya sendiri: Tapi Bukan Kami Punya.

Mungkinkah ke depan jarak antara komunitas puisi dan dunia yang sangat jauh lebih besar di luarnya melebur kembali?

-000-

Ada banyak contoh ditunjukkan betapa puisi semakin terisolasi. Contoh ini terjadi di Amerika Serikat. Namun ia juga sebenarnya terjadi di pelosok dunia lain, termasuk Indonesia.

Sejak tahun 1985, National Book Award di Amerika Serikat untuk pertama kalinya menghapus penghargaan buku terbaik untuk kategori puisi. Alasan yang dikemukakan, puisi semakin kehilangan audience dan pembaca dari kalangan publik umum. Puisi hanya beredar di kalangan segelintir akademisi yang berminat, atau di kalangan internal para penyair dan calon penyair.

New York Time Book Review semakin tidak lagi mereview buku puisi. Buku humaniora lain seperti novel dan biography tetap diminati. Seandainyapun direview buku puisi, umumnya direnceng beberapa buku puisi sekaligus dalm satu review saja. Semakin jarang pula kritikus humariora yang berminat mereview buku puisi.

Buku puisi juga semakin kehilangan nilai komersialnya. Akibatnya para penyair juga semakin kurang sukses secara ekonomi. Ini berbeda dengan penulis novel yang sukses. Apalagi jika novel itu difilmkan, membuat penulis novel punya penghasilan ratusan milyar rupiah dalam satu tahun saja.

Mengapa puisi semakin ditinggalkan publik luas? Penyebab pertama puisi terlebih dahulu meninggalkan publik luas. Ujar John Barr, praktis selama satu abad ini tak ada inovasi yang berarti dalam puisi, baik dari sisi isi puisi ataupun bentuknya.

Banyak pula jenis puisi yang ditulis dengan bahasa sulit. Akibatnya puisi hanya dimengerti oleh komunitasnya yang semakin kecil. Karena penyair dan puisi tak lagi melebur dan terkesan memisahkan diri dari masyarakat luas, maka masyarakat luas juga memisahkan diri dari puisi

-000-

Bagaimana menyambungkan kembali puisi agar kembali ikut mewarnai denyut utama masyarakat? Semakin banyak opini dan solusi merespon pertanyaan itu, semakin baik.

Saya hanya ingin sharing pengalaman pribadi. Ini bukan klaim bahwa saya melakukan inovasi atau membesarkan peran. Sharing ini katakanlah dimaksudkan sebagai pemantik diskusi belaka.

Saya dan teman teman berikhtiar mengembangkan bentuk lain puisi. Ikhtiar ini kini dikenal dengan nama puisi esai. Ini jenis puisi yang meramu isi dan bentuk lain dari puisi.

Puisi esai merespon isu soal yang hangat di masyarakat. Namun fakta sosial itu difiksikan. Puisi akibatnya punya aroma esai. Atau ini sejenis esai yang berpuisi. Namun bahasa dalam puisi esai menghindari "bahasa puisi gelap" yang tak dimengerti publik luas.

Mengapa mindset puisi seperti itu dipilih? Data dan argumen rasional hanya memuaskan kognisi. Namun passion dan hati lebih bisa disentuh oleh hal lain. Puisi salah satunya. Namun agar punya tenaga di aneka komunitas, puisi harus juga merekam dan mengekspresikan isu yang memang hidup dalam komunitas itu.

Puisi esai akibanya memang genre untuk merespon isu sosial. Namun agar tak terjatuh menjadi artikel atau esai belaka, harus tetap digali dunia batinnya. Agar tak kering, fakta sosial dilezatkan pula oleh fiksi.

Awalnya catatan kaki punya peran sentral dalam puisi esai. Namun berkembang, catatan kaki hanya pilihan. Awalnya puisi esai sangat panjang berbabak. Namun kini puisi esai berkembang, tak harus panjang namun tetap berbabak dengan aneka karakter. Puisi esai layaknya cerpen semi dokumenter yang dipuisikan.

Terlepas dari pro dan kontra, sudah terbit lebih dari 50 judul buku puisi esai. Semua buku puisi esai bisa diakses di internet. Penulisnya ratusan peserta dari Aceh hingga Papua.

Dulu slogannya, yang bukan penyair dilarang ambil bagian. Untuk puisi esai, slogan justru dibalik: yang bukan penyair silahkan ambil bagian. Penulis puisi esai tak hanya penyair karir, namun juga aktivis, intelektual, kolomnis dan peminat lain.

Tak perlu menjadi koki untuk membuat nasi goreng yang gurih. Tak perlu menjadi kiai atau pendeta agar fasih berdoa. Juga tak perlu berkarir menjadi penyair agar bisa menulis puisi yang menyentuh.

Apa efek puisi esai ini dalam ikut menyambungkan komunitas puisi dengan dunia luarnya? Puisi saya cukup sering dibacakan dalam pertemuan komunitas di luar komunitas seni. Terutama karena isi puisinya yang relevan.

Di bawah ini beberapa contohnya. Rapimnas Partai Golkar Mei 2017. Rapimnas ini terjadi setelah gunjang ganjing pro dan kontra Ahok. Efek pilkada Jakarta meluas nasional dengan muncul aneka polarisasi masyarakat. Isu SARA, kriminalisasi ulama, ketimpangan ekonomi dan keadilan sosial mencuat.

Saya membuat puisi yang merespon situasi itu, dengan judul "Tapi Bukan Kami Punya." Puisi ini bercerita soal desa dan kota yang semakin kaya, tapi bukan kami punya. Mereka yang termarginalkan memprotes dengan membawa isu agama dan ulama. Karena hanya itu dunia mereka.

Tak heran jika panglima TNI membacakan puisi itu di Rapimnas Golkar. Ujar panglima Gatot Nurmantyo, saya akan membacakan puisi yang sangat tepat menggambarkan kondisi masa kini.

Contoh lain adalah konggres para aktivis (Prodem). Para aktivis sejak era mahasiswa di tahun 80an berkumpul memilih ketua baru. Sebagian aktivis in sudah ada yang menjadi mentri, anggota DPR, pengusaha, komisaris utama BUMN dan lainnya. Namun banyak pula yang masih penggangguran dengan teriakan revolusi.

Saya membuat puisi merespon dunia mereka dengan judul Konggres Para Aktivis. Puisi ini bercerita tentang aktivis yang idealis. Begitu lantang ia memprotes. Begitu gagah ia di mimbar. Namun ketika pulang ke rumah, ia keok. Tagihan listrik belum dibayar. Genteng bocor. Kredit motor nunggak. Anak-anak belum lunas sumbangan sekolah.

Puisi saya ini dibacakan dalam awal pembukaan konggres. Ia cukup memberikan simulasi renungan karena isinya sangat relevan dengan dunia mereka.

Contoh lain lagi mengenai concern komunitas civil society. Mereka kwatir gereja dibakar, mesjid dibakar. Mereka prihatin kerusuhan etnis. Mereka tak ingin melihat longgatnya ikatan kebangsaan dan kemanusiaan. Mereka yang bukan saudara dalam iman, saudara dalam bangsa dan kemanusiaan.

Aneka puisi saya sering dibacakan komunitas ini untuk memantik passion dan renungan. Umumnya puisi itu bercerita bagaimana sebaiknya kita mencintai manusia saja, apapun pahamnya. Sebagian puisi itu diterjemahkan dalam film pendek agar lebih meresap.

Mengapa puisi saya dibacakan di sana? Isi puisi itu relavan dan renungan batin untuk masalah yang memang sedang mereka hadapi. Puisi menjadi pemantik diskusi, penghela renungan, pembakar passion, penyentuh hati, dan menajamkan visi sosial.

-000-

Agar puisi menyatu kembali dengan masyarakat, puisi perlu mengubah bahasa. Namun, ujar Derek Walcot, mengubah bahasa seorang penulis pada dasarnya harus dimulai dengan mengubah hidup sang penulis. Manusia tak bisa menulis hal yang tidak bergetar di hatinya dan tidak mengisi kepalanya.

Bagaimana burung malam bisa menulis soal keindahan cahaya karena ia hanya hidup malam hari? Bagaimana seekor ikan harus melukiskan warna warni taman bunga karena ia hidup di air? Dengan kata lain, bagaimana penulis dan penyair punya passion dan visi soal denyut utama masyarakatnya jika ia sendiri tidak hidup di sana?

Saya sangat beruntung hidup di pusat denyut itu. Saya ikut memenangkan 3 presiden, 32 gubernur dan 87
bupati/walikota dari Aceh hingga Papua. Pekerjaan ini membuat saya hidup dalam batin pertarungan politik tingkat paling intens dan tinggi.

Saya memimpin belasan usaha binis, mulai dari properti, Food and Beverage hingga tambang. Pekerjaan ini menenggelamkan saya dalam denyut dunia usaha.

Saya juga pencari spirtual. Sejak mahasiswa saya mendalami sufisme, karma Yoga, Subud, Krishnamuri hingga Ki Ageng Surya Mentaram. Journey spriritual ini menumbuhkan passion di kehalusan dan keluasan imajinasi.

Kombinasi pengalam hidup itu yang membuat saya mudah saja lepas dari segala macam sekat, konvensi, konsep atau kerangkeng lainnya. Lalu dari batin, berkicau saja seperti burung. Tak peduli apakah kicauannya disebut puisi atau bukan, esai atau bukan, dan sebagainya. Mudah pula saya menuliskan puisi yang merespon aneka isu denyut dunia dan komunitas itu.

Ini tak berarti untuk punya passion menulis isu sosial seseorang harus menjadi aktivis dulu. Namun penting untuk membuka hati dan kepala dengan denyut utama perubahan masyarakat. Penting untuk melebarkan horison. Penting untuk merobohkan dinding penyekat.

-000-

Panglima TNI sudah mulai membaca puisi di Rampinas partai politik. Saatnya kita ramaikan kembali ruang publik dengan puisi. Saatnya puisi dilahirkan kembali menjadi agen pengubah budaya, seperti aslinya ketika puisi dilahirkan.

Enheduana dikenal sebagai penyair pertama dalam sejarah yang punya dokumen tertulis. Ia hidup sekitar 2200 (2285-2250 BCE), tahun sebelum masehi. Puisi pertama tertulis yang dikenal sejarah adalah karya Enheduanna.

Apa yang ia tulis dalam puisinya? Tak lain yang ia ekspresikan isu yang menjadi problem masyarakatnya saat itu. Karena ia hidup di era dewa dewi yang bercampur dengan manusia, soal itu pula yang bergetar di puisinya.

Menyambungkan kembali puisi dengan masyarakat pada dasarnya membuat puisi "kembali ke Khitah" : puisi yang peduli dengan batin dan isu utama masyarakat.

Mei 2017

 

 

 

  • view 549

  • Ardiansyah Fadli
    Ardiansyah Fadli
    2 bulan yang lalu.
    Samgat menarik, dan ada beberapa argumen yang kemudian menampik obrolan/isu tentang mas denny JA yang selama ini ada dalam ruang ruang diskusi ciputat. Terima lasih untuk pencerahannya mas,