Hilangnya Aneka Patung di Hari Kebangkitan Nasional

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 19 Mei 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

107.8 K Tidak Diketahui
Hilangnya Aneka Patung di Hari Kebangkitan Nasional

Hilangnya Banyak Patung
di Hari Kebangkitan Nasional

Denny JA

Tengah malam buta
Seminggu berlalu sudah
Tetap tafakur ibu tua
Tak henti berdoa

Berulang, bertalu
Panjatkan asa selalu
Ya Allah, Ya Tuhanku
Muliakanlah bangsaku

Kami di pucuk jenuh
Perpecahan sampai ke ulu
Hujat sini hujat situ
Serang sini serang situ
Hantam sini hantam situ

Api menjadi abu
Semua menjadi saru
Amarah menjadi tuan
Akal budi budaknya

Ya Allah
Datangkanlah tanda
Tiuplah terompet sangkakala

Malam bulan purnama
khusyuk diam si ibu tua
Datang angin menerpa
Sampaikan itu berita
Akan datang hal tak biasa

-000-

Besoknya di Jakarta
Ketika langit bercahaya
heboh satu kota
Gempar meraja lela

Bagaimana bisa terjadi?
Apakah ada menjadi saksi?
Trending berita sejak pagi
Hot isu kontroversi

Tepat di hari kebangkitan nasional
Tanggal 20 Mei yang monumental
Lima patung legenda
Hilang di ibu kota

Polisi sudah mendata
Patung Pak Tani di menteng
Patung selamat datang di bundaran HI
Patung dirgantara di pancoran
Patung Sudirman di tanah abang
Patung pembebasan di lapangan banteng

Semua hilang tiada bekas
Semua pergi amblas
Para ahli merapat
Menganalisa beri pendapat
Mengapa patung tak di tempat

-000-

Tiga hari sudah berlalu
Masih tak ada yang tahu
Teknologi sudah bekerja
Intelijen sudah bekerja
Bantuan dunia sudah bekerja
Lima patung tetap tiada

Alangkah lihai sang pencuri
Lebih lihai dari polisi
Demikian bunyi opini
Rakyat marah dan sedih

Putus asa sudah polisi
Segala sisi sudah dicari
Tapi negara tiada boleh nyerah
Harus upaya segala cara


Ibu tua yang berdoa
Didatangi tiga politisi berkuasa
Patung hilang secara gaib
Harus dicari secara gaib
Tiada lebih ternama
Dari ia si ibu tua
Tinggal ini cara tersisa
Mencari hilangnya patung legenda

Ibu tua hidup di dunia batin
Ia punya mata ketiga
Melihat di sebrang realita
Menjangkau ke luar samudra

Tolonglah ibu
Tolong negara
Kemanakah perginya
Lima patung legenda?

Ibu tua diam saja
Ibu tetap berdoa
Acuhkan penguasa negara
Ia pentingkan penguasa jiwa

Ayo ibu tolong kami
Negara dalam bahaya
Misteri tak boleh lama
Berikan nama pencuri

Menjawab ibu tua itu
Menjawab cepat sekali
Patung tidak dicuri
Lima patung itu pergi
atas kehendak sendiri

Politisi bingung tak mengerti
Celinguk kanan dan kiri
Lima patung tidak dicuri?
Patung pergi atas kehendak sendiri?

-000-

Berceritalah ibu tua
Realita di balik realita
Kejadian tak biasa
Diciptakan penguasa semesta
Sebagai tanda
Ialah ketika aparat negara
atau sebuah bangsa
Tiada lagi amanah

Puluhan tahu sudah
Lima patung itu setia
Berdiri saja di sana
Menjaga ibu kota

Patung biasakan diri
Atas semua jenis polusi
Polusi udara Jakarta
Polisi sampah Jakarta
Polusi air Jakarta
Polusi knalpot Jakarta
Mereka tahan belaka

Namun satu jenis polusi
Membuatnya ngeri
Ialah polusi hati
Menghujat sana
Menghujat sini
Menyumpah sana
Menyumpah sini
Memecah sana
Memecah sini

Politisi ikut memecah
Pendukung ikut membelah
Partai ikut memecah
Cerdik pandai ikut membelah
Media ikut memecah
Agamawan ikut membelah

Para patung satu suara
Sepakat tinggalkan Jakarta
Mereka ingin sebrangi waktu
Menjumpai Bung Karno
Menjumpai Bung Hatta
Menjumpai Bung Syahrir
Menjumpai Bung Sutomo
Mereka ingin mengadu
Anak bangsa tengah beradu

Waktu ditentukan bersama
Untuk turun singasana
Hari kebangkitan nasional
Dirasakan fenomenal
Itu hari baik
itu bulan baik

Patungpun amblas
Pergi tak berbekas

Tiga politisi yang mendengar
Kepalanya semakin lebar
Apa iya?
Tapi debat tiada guna

-000-

Berbisik tiga politisi
Ketawa ketiwi di hati
Si ibu sudah gila
Simpan mereka di dada

Tapi apa daya
Mereka emban tugas negara
Tinggal ibu tua yang tersisa
Mengembalikan patung legenda
Dengan cara tak biasa

Kami percaya Ibu
Ujar politisi walau ragu
Mohon bantuannya
Agar patung kembali ke tempatnya

"Ubah arah angin," ujar ibu tua
Tanya politisi: Apa?
"Ubah arah angin," tegas ibu tua
Kembali politisi terpana.
Apa pula maksudnya?

Televisi memutar kembali
Pidato presiden Jokowi
"Jangan saling hujat, karena kita saudara
Jangan saling jelekkan, karena kita saudara
Jangan saling fitnah, karena kita saudara."

Ujar ibu tua, ikuti Presiden Jokowi
Lafalkan dengan hati
Apa bu, tanya politisi?
Kamu ingin patung kembali?
Ya bu, semua ingin patung kembali?

Ikuti pidato Jokowi
Mulai dengan niat hati
Awalnya ragu itu politisi
Akhirnya fasih mereka bunyi:

Jangan saling hujat, karena kita saudara
Jangan saling jelekkan, karena kita saudara
Jangan saling fitnah, karena kita saudara."

Berulang ulang itu mantra
Diucapkan politisi bersama
Entah mengapa
Menetes air mata

Segugukan itu politisi
Mulai mainkan hati
Berharap perbaikan negeri
Ampun ya Ilahi

-000-

Esok hari
Pagi pagi sekali
Lima patung legenda
Kembali berdiri di tempatnya

Tiga politisi bingung
Jalannya agak limbung
Aneh tapi nyata
Mustahil tapi realita

Sedangkan si ibu tua
masih di sana
selalu di sana
Di alam jiwa
Menjaga jiwa Jakarta
Menjaga marwah Indonesia

Mei 2017

 

 

  • view 819