Monas Menangis dan Badai Pasti Berlalu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 13 Mei 2017
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

45.9 K Tidak Diketahui
Monas Menangis dan Badai Pasti Berlalu

Monas Menangis
dan Badai Pasti Berlalu

Denny JA


Suatu hari di Jakarta
Sudah selesai era Pilkada
Heboh, super heboh
Berkumpul para tokoh
Berkumpul para hulu balang
Berkumpul ribuan massa

Monas menangis
Monas teteskan air mata
Pertama kali dalam sejarah
Tiada ada, tiada pernah

Ribuan massa bergumam
Ratusan tokoh terpana
Media ramai membuat berita
Pengamat tawarkan analisa
Mengapa Monas menangis?
Mengapa ada air mata?
Kok bisa?

Kain raksasa disiapkan
Setiap lubang disumpalkan
Namun air mata Monas
Tetap mengucur deras

Insinyur didatangkan
Perbaikan dilakukan
Namun air mata Monas
Terus mengucur deras

Monas mengapa menangis?
Pohon di seputar Monas
ikut menangis
Rumput di sekitar Monas
juga menangis

-000-

Rosa ada di kerumunan itu
Hatinya menjadi pilu
Salahkah aku?
Tanya Rosa sendu

Rosa pun tahu
Air mata Monas itu
Air mata warga Jakarta
Air mata warga yang luka
Terlalu brutal ini pilkada
Terlalu kejam kita berlaga
lubang hati menganga
Jakarta terbelah

Jakarta menjadi dua
Jakarta yang kalah
Jakarta yang menang
Jakarta yang duka
Jakarta yang pesta

Kebencian muncrat hingga ke ciliwung
Kemarahan memenuhi got dan parit
Umpatan bergelantungan di tiang listrik
Permusuhan ramai di pasar dan stasiun

Salahkah aku?
Ujar Rosa ragu

Di pilkada tempo hari
Rosa petarung sejati
Sikat sana sikat sini
Siap peduli?
Ia mainkan hati
Ia libatkan seluruh emosi

Menang yang utama
Mainkan segala cara
Ayo mobilisasi massa
Ayo isu agama

Namun selesai pilkada
Dilihatnya Jakarta berbeda
Tak ia duga
Luka terlalu menganga

Ditatapnya Monas yang menangis
Rosa pun meringis
Dalam hati, bekata sendu
Monas maafkan aku

-000-

Datanglah Rosa membawa tanya
Bekunjung pada guru Sidarta
Belum sempat Rosa berkata
Guru sudah bersabda

Badai pasti berlalu
Pada waktunya
Hitam berubah menjadi abu
Putih bergeser hingga kelabu
Awan kabarkan fajar baru
Badai pasti berlalu
Tunggu waktunya

Rosa siapkan tanya
Ia memilih kata
Namun belum sempat mengucap
Guru Sidarta berucap

Badai pasti berlalu, Rosa
Begitulah kerja semesta
Lihatlah sejarah
Begitu banyak luka
Segera datang obatnya
Begitu banyak duka
Penawar segera tiba

Apa yang lebih buruk dari perang dunia?
Apa yang lebih buruk dari perang salib?
Apa yang lebih buruk dari kelaparan Afrika?
Apa yang lebih buruk dari ganasnya bencana?

Setelah itu fajar merekah
anak anak bermain riang di rumput
Bunga tumbuh di taman
Air sungai mengalir jernih
Burung bernyanyi
Para kekasih berpuisi dan bercinta

Tapi guru, ujar Rosa buru buru
Jakarta kini terbelah
Di antara dua kubu
Tiada tegur sapa

Kembali Sidarta bersabda
Semakin dalam nadanya

Badai pasti berlalu, Rosa
Ada tempat untuk semua

Ada tempat untuk mawar
Ada tempat untuk durinya
Ada tempat untuk madu
Ada tempat untuk racun

Bahkan di salju yang keras
Tumbuh bunga lestari
Bahkan di telaga berlumpur
Tumbuh teratai putih nan suci
Itu terjadi
Ketika musim berganti

Begitulah kerja misteri
Tak semua kita pahami

Tentang Jakarta yang terbelah
Berilah waktu jeda
Dua kubu menjadi ekstrim
Itu hanya kerja semusim

Biarlah yang kalah
Mengobati luka
Dengan lilin atau bunga
Pahami saja

Biarlah yang menang
Menjadi senang
Bahkan pesta kembang api
Tak bisa hingga pagi

Soal Monas yang menangis
Tak perlu hati teriris
Monas hanya merajuk
Ulah warga Jakarta
Terlalu banyak amarah
Terlalu kurang cinta

Bangku dan kursi di rumah Sidarta
Koor bersama
Mengulangi mantra
Sabda guru Sidarta

Monas menangis
Ulah warga Jakarta
Terlalu banyak amarah
Terlalu kurang cinta

-000-

Segera Rosa kembali ke Monas
Ribuan massa masih berkerumun
Air mata Monas semakin deras
Menanggulanginya,
Tiada ada yang kuasa

Rosa teringat petuah Sidarta
Itu air mata
Ulah warga Jakarta
Terlalu banyak amarah
Terlalu kurang cinta

Rosa ambil pengeras suara
Ia tampil ke muka
Ribuan massa berdesah
Mereka saling tatap mata
Apa yang dilakukan gadis muda?

Rosa pun membacakan puisi
Dari Rumi, guru Sufi

"Karena cinta,
Duri menjadi mawar
Karena cinta
Cuka menjadi anggur
Karena cinta
Duka menjadi makna
Karena cinta
Debu menjadi taman"

Tiba tiba Monas berhenti menangis
Tiada lagi itu air mata
Ternyata cinta
Obatnya
Ternyata cinta
Yang ingin Monas rasakan
Dari warga Jakarta

Massa yang berkerumun terpana
Cinta?
Mereka saling tatap tanya
Cinta?
Itu mahluk yang lama hilang
Tepatnya sejak era pilkada

Cinta itu apa?
Tanya Wahab di kubu yang menang
Cinta, maksudnya?
Tanya Albert di kubu yang kalah

Demikianlah kisah
Suatu hari di Jakarta
Kita cukupkan kata
Semoga peroleh hikmah

***

 

 

 

 

 

 

  • view 930