Kepada Pembaharu

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Puisi
dipublikasikan 04 Februari 2016
Puisi Agama dan Diskriminasi

Puisi Agama dan Diskriminasi


Kategori Puisi

19.6 K Tidak Diketahui
Kepada Pembaharu

  • Kepada Pembaharu

Oleh Denny JA

Dengan pilu
Yang sangat kelu
Di ruang hening itu
Dewi dan Rama membuka buku
Karya Ayahnya, Sang Pembaharu

Dibukanya halaman pertama
Halaman kedua
Ketika sampai ke halaman sepuluh
Air menetes dari kata
Air menetes dari kalimat

Semakin banyak halaman ia buka
Semakin banyak air mengalir
Sampai halaman terakhir
Menyembul di sana mata air
Berlimpah airnya

Dewi dan Rama tenggelam
Hanyut terbawa air bah
Ketika sadar
Dewi dan Rama terduduk
Dalam sebuah jamuan
Perayaan kematian Ayahnya
Sang Pembaharu
Sang Pejuang gagasan

Di sana
Berkumpul teman Ayah ratusan
seperjuangan
Bertahun menapak sejalan

Mereka berorasi bergantian
Untuk saling menguatkan

"Para pembaharu zaman di setiap negeri
Ilmuwan, pemimpin atau pemikir sejati
Mereka tak pernah mati
hanya jazad mereka yang pergi"

Aktivis senior membuka pidatonya
Yang lain mendengar mencari makna

"Para pembaharu terus hidup bersama kita
Karena gagasan mereka bertenaga
Lihatlah itu pembaharuan agama
Renungankanlah itu hak asasi manusia"

"Aspirasi demokrasi
Paham evolusi
Semua beranak-pianak bersama kita
walau pemikirnya sudah tiada
Sejak berabad lamanya"

Aktivis lain kini bicara
Sama ingin pompakan asa

"Para aktivis perubahan
Selalu lahirkan kumpulan
Mungkin ia ditembak mati
Seperti Mahatma Gandhi
Mungkin ia dibunuh terkaing
seperti Marthin Luther King"

"Namun lihatlah sukarelawan
Menghidupkan mereka punya gagasan.
Harapan Mahatma Gandhi
Hayalan Martin Luther King
Berumur lebih lama
daripada para pembunuh mereka"

Pembicara lain kini berorasi
Tak kalah menyulut inspirasi

"Para pejuang gagasan
pada akhirnya selalu menang
Mungkin ia dipenjara lama
Seperti Nelson Mandela
Mungkin ia disiksa hingga tiada
Seperti para Syuhada

"Namun pembaruan yang mereka nyalakan
Tiada padam
walau kadang timbul tenggelam
Perubahan yang mereka serukan
Tiada diam
Walau kadang merangkak pelan"

"Sejarah dalam jangka panjang
sudah terang benderang
Pencerahan akhirnya menang
Dan Para pembaharu
akhirnya dikenang"

Kembali saling tatap Dewi dan Rama
Dari tadi para pembicara
Hanya bicara gagasan besar saja
Tiada bicara hati yang luka

Pembaharu itu juga manusia
Mereka punya keluarga
punya ananda tercinta
Yang sangat menyayangi
Yang saling peduli

Sang pembaharu itu memang tahan siksa
Yang mencintainya justru semakin tersiksa
Sang pembaharu itu memang tahan berdarah
Yang peduli padanya justru tambah berdarah

Teringat Dewi dan Rama
Ketika mereka kwatir seharian
Kadang dalam ketakutan
Ketika Sang pembaharu itu terancam

Kadang Ayahnya difitnah kerumunan
kadang Ayahnya dihina keterlaluan
Sementara karena keyakinan
Hidup mereka jauh dari kecukupan

Teringat ketika ibu mereka menangis sendirian
Saat itu Dewi sedang kesakitan
Ke dokter belum ada dana
Sang Pembaharu terlihat pasrah

Mereka juga dengar kabar berita
Keluarga para pejuang lainnya
Yang dipenjara tanpa pengadilan
Yang disiksa tanpa kejelasan
Yang hilang tak ketahuan

Dalam itu pertemuan
Hal hal besar yang diungkapkan
Namun di lubuk hati Dewi dan Rama
Luka batin yang terasa

Para pembaharu itu memang ikhlas
Namun salahkah keluarganya yang memelas?
Karena keyakinan, sang pembaharu rela dicela
Namun salahkah keluarganya yang tak tega?


Dewi dan Rama tenggelam dalam renungan
Orasi Kawan seperjuangan
Menyentuh pikiran
Seolah berabad lamanya
Mengganggunya dari dalam


Air bah datang kembali
Tenggelamkan RAma dan Dewi
Pindah ruang
Pindah waktu
Kini Dewi dan Rama
Kembali memegang buku
kembali ke ruang yang hening itu

Hati mereka masih pilu
Namun kini mereka tahu
Para pembaharu
Akan hidup selalu

Hati mereka masih duka
Namun harus rela
Sang Pembaharu
Bukan hanya Ayah mereka
Tapi juga milik sejarah

 

Agustus 2015

  • view 275