Saatnya Dunia Menengok Kekayaan Batin Asia Tenggaara

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 25 April 2017
Saatnya Dunia Menengok Kekayaan Batin Asia  Tenggaara

Saatnya Dunia Menengok
Kekayaan Batin Asia Tenggara

(Denny JA)

Selamat atas rencana mengadakan temu sastrawan tingkat dunia di Sabah, Malaysia, tahun 2018, di tahun depan. Saatnya dunia menengok kekayaan batin Asia Tenggara. Dan saatnya pula para sastrawan Asia Tenggara menggali kekayaan batinnya sendiri, dan disampaikan dalam bahasa yang universal.

BBC Culture pada bulan Oktober 2014 membuat tulisan soal Jallauddin Rumi. Saat itu di Amerika Serikat, buku puisi paling laku bukan buku karya penyair barat baik yang terdahulu ataupun kontemporer.

Tapi buku puisi Rumi yang terjual paling laris di Amerika Serikat. Puisinya dibaca tak hanya oleh sesama peminat sastra. Tapi Rumi juga dibaca oleh selebriti dunia seperti Madona, Demi More dan Dhepak Chopra. Tak hanya dibacakan di mesjid, tapi juga di gereja, Sinagog dan Kampus.

Rumi mutiara dunia Islam. Ia sudah wafat 800 tahun lalu. Namun ia mampu menggali batin filosofi Sufisme dalam Islam dan membuatnya universal. Nilai kemanusiaan dan cinta yang disuarakan lewat puisinya bergema melampaui kultur dan zamannya.

Ia misalnya berkata:

Agamaku adalah Cinta
Mesjidku adalah hati manusia

Ia juga menulis

Kucari Tuhan
di Mesjid, Gereja dan Kuil
Namun kutemukan Tuhan
di hatiku

Rumi juga menyentuh manusia untuk terus berkarya, dan tak usah terlalu peduli dengan pro dan kontra karyanya. Ujar Rumi

Ekspresikanlah dirimu
seperti burung yang bernyanyi
Tak usah hirau
Respon sekeliling

Renungan Rumi sangat relevan untuk dunia masa kini. Terutama ketika manusia semakin tersekat-sekat oleh formalitas dan ekstrimitaas agama. Kedalaman pikirannya menyentuh batin modern yang semakin didangkalkan oleh dunia material belaka.

Asia Tenggara kaya dengan dunia batin. Di sini tersimpan tak hanya mutiara Islam di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Tersimpan pula kedalaman ajaran Buddha di Thailand. Hadir pula keagungan agama Katolik/Kristen di Filipina.

Dari Indonesia hingga Vietnam, Dari Malaysia hingga Filipina, terkandung ratusan adat istiadat dan kearifan lokal. Ketika dunia menjadi satu, maka hal yang lazim jika Timur belajar dari Barat. Namun barat juga belajar dari Timur.

Saya ucapkan terima kasih pula kepada para sastrawan di Malaysia. Tak saya lupa para sastrawan Asia Tenggara berkumpul di sini seharian menggali dan mendiskusikan 24 buku puisi esai saya.

Mari bersama kita sirami ruang publik kita dengan puisi, dan dengan sastra. Sukses untuk Sabah tahun ini, dan tahun berikutnya.

(Pidato Denny JA dalam penutupan Festival Penulis Sabah, Temu Sastrawan Asia Tenggara soal 24 Buku Puisi Esai Denny JA)

 

 

  • view 573