Mundurnya Peradaban Islam: Enam Indikator.

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Agama
dipublikasikan 04 Februari 2016
Mundurnya Peradaban Islam: Enam Indikator.

Mundurnya Peradaban Islam dengan Enam Indikator*
Denny J.A

?Tak ada yang lebih powerful,? ujar Victor Hugo, ? dibandingkan dengan sebuah gagasan yang waktunya sudah datang. " All the forces in the world are not so powerful as an idea whose time has come."

Apakah waktu bagi gagasan Islam Nusantara sudah datang? Sehingga gagasan Islam Nusantara tak hanya berhenti sebagai wacana? Namun ia menjadi sebuah movement yang ikut mengubah wajah Islam, seberapapun kecilnya? Namun ia juga ikut mengubah peradaban, seberapapunnu kecilnya?

Di tahun 2015, lembaga riset terkemuka berpusat di Amerika Serikat: Pew Reseach Center mempublikasi temuannya.

Diproyeksikan di tahun 2070, agama Islam akan menjadi agama dengan pemeluk terbesar di dunia. Saat itu pemeluk agama Islam melampaui tak hanya agama Kristen namun juga melebihi populasi mereka yang tak percaya agama.

Karena Muslim akan menjadi mayoritas di dunia, dengan sendirinya baik dan buruk peradaban Islam akan semakin mempengaruhi peradaban dunia.

Akankah warga dunia, termasuk anak dan cucu kita, mewarisi sebuah peradaban yang semakin cemerlang dan damai? Atau sebaliknya? Ini juga akan semakin dipengaruhi oleh bagaimana peradaban Islam tumbuh dan berkembang.

Buku soal Islam Nusantara ini bisa dilihat sebagai ikhtiar ikut membangun peradaban Islam. Buku ini ditulis oleh Mohamad Guntur Romli dan Tim Ciputat School yang terbiasa berwacana soal Islam, demokrasi, hak asasi manusia, dan Indonesia tanpa diskriminasi. Tentu banyak variabel dan kekuatan yang bekerja membentuk sejarah dan peradaban.

Namun gagasan sekecil apapun, seperti yang ditampilkan buku ini adalah sebuah langkah. Ia memberikan tawaran menampilkan nilai dasar Islam yang lebih sesuai dengan peradaban di era Google.

Enam Indikator

Bagaimanakah wajah peradaban Islam masa kini? Berdasarkan enam indikator yang terukur, kultur Islam bukan lagi peradaban yang unggul. Enam indikator ini diukur oleh berbagai lembara riset terkemuka.

Data ini juga memberikan informasi mengenai wajah komunitas Muslim jika dibandingkan dengan sisa dunia.

Dalam tulisan ini, indikator kekuatan ekonomi diukur oleh International Monetary Fund (IMF) berdasarkan GDP nominal, di tahun 2014.

Indikator politik dengan indeks demokrasi diukur oleh Economist Inteligence Unit, 2014.

Indikator kultural berupa sumbangan pada ilmu pengetahuan diukur oleh banyak lembaga dan dirumuskan dalam sebuah laporan di the New Atlantis, 2011.

Indikator kondisi mental populasinya dengan indeks happiness diukur oleh United Nations Sustainable Development (UNSD), 2013.

Indikator penerimaan atas keberagaman dan toleransi diukur oleh Pew Research Center, 2009. Indikator Islamicity diukur oleh George Washington University, 2011.

Pertama, dari sisi kekuatan ekonomi (GDP nominal sebuah negara), negara yang mayoritas populasinya Muslim bukan kekuatan utama dunia. Negara yang populasi mayoritas Muslim paling tinggi ada di urutan ke 16 (Indonesia), 18 (Turki), dan 19 (Saudi Arabia).

Negara terbesar di dunia dari sisi kekuatan ekonomi dari rangking 1 sampai 15 datang dari aneka benua dan kultur. Di antaranya termasuk negara Amerika Serikat, China, Jepang, German, Brazil dan Australia. Negara yang mayoritasnya Muslim tak ada satupun yang bertengger di 15 besar dunia.

Kedua, dari sisi politik, diukur dari indeks demokrasi, negara yang mayoritasnya Muslim juga ada di urutan papan tengah dan belakang. Urutan 1-48 adalah negara barat, seperti Norwegia, Swedia, Amerika Serikat. Juga termasuk dalam list itu aneka negara di Asia: Jepang, Korea Selatan. Ada juga negara dari Amerika Latin: Brazil, Chili, Portugal. Bahkan ada juga negara di Asia Tenggara: Timor Leste.

Negara yang mayoritas populasinya muslim yang ada di urutan tertingi untuk kualitas demokrasi adalah Indonesia (rangking 49), Malaysia (65) dan Mali (83). Tak hanya ekonomi, tapi juga diukur secara politik dari indeks demokrasi, negara yang mayoritas populasinya Muslim jauh tertinggal.

Ketiga, dari sisi sumbangan kepada ilmu pengetahuan, peradaban Muslim juga jauh di belakang. Rata-rata di negara muslim hanya memiliki sembilan scientists, engineers dan technicians per-seribu populasi. Sementara rata-rata dunia memiliki 41 orang. Dari sisi jumlah profesional yang bergerak di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, rata-rata dunia memiliki hampir lima kali lipat dibandingkan rata-rata negara muslim.

Dari total 1,6 milyar penganutnya, komunitas Muslim hanya menyumbangkan dua penerima hadiah nobel. Dari 46 negara Muslim hanya menyumbang 1 persen saja kepada literatur dunia. Total keseluruhan 46 negara Muslim itu bahkan kalah dibandingkan sumbangan negara India sendiri.

Bahkan total 46 negara Muslim itu kalah juga dengan negara Spanyal sendiri.
Dari tahun 1980-2000, 9 negara Arab hanya mendaftarkan 370 hak paten penemuannya. Sementara hanya Korea Selatan sendiri, dalam periode yang sama mendaftarkan hak paten sebanyak 16.328, hampir 50 kali lebih banyak dibandingkan 9 negara Arab.

Keempat, diukur dari sisi kebahagian populasi yang hidup di sebuah negara, negara mayoritas populasinya Muslim juga tidak unggul. Rangking tertinggi 1-19 negara yang populasinya paling bahagia di dunia berasal dari aneka benua dan aneka kultur. Namun negara itu tidak dari peradaban Islam.

Negara dengan rangking kebahagian populasi tertinggi umumnya di eropa, terutama di aneka negara skandinavia seperti Swiss, Denmark. Terdapat juga negara Amerika Latin: Brazil, dan Australia.

Negara yang mayoritas populasinya Muslim, yang memiliki tingkat indeks kebahagian tertinggi adalah Emirat Arab (rangking 20), Oman (22), dan Qatar (28).Indonesia terperosok jauh ke rangking 76.


Kelima, diukur dari praktek kebebasan agama, gabugan indeks pembatasan pemerintah dan permusuhan masyarakat satu sama lain, hasilnya tak jauh berbeda. Negara yang paling bebas dan menerima keberagama datang dari aneka benua dan kultur, seperti Brazil, Afrika Selatan, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.

Negara yang mayoritasnya muslim berada di papan tengah bahkan bawah. Termasuk negara yang dinilai terburuk kebebasan beragama dan toleransinya adalah Pakistan, Iran, Mesir dan Indonesia sendiri.


Keenam, diukur dari nilai keislaman sendiri, negara mayoritas Muslim juga tidak utama. George Washington University mengembangkan Islamicity indeks berdasarkan 113 variabel mengenai nilai yang dianjurkan AL-QURAN. Aneka variabel ini sudah merangkum nilai ekonomi, hukum, politik ataupun kebaikan secara umum.

Hasilnya, negara yang paling islami, yang paling mempraktekkan anjuran nilai Islam, rangking 1- 32 justru bukan negara yang mayoritasnya Islam.

Daftar negara dengan islamicity Indeks terbaik justru negara Eropa seperti Ireland, Denmark, Kanada, Portugal.Masuk juga dalam list terbaik itu negara dari benua dan kultur lain seperti Israel dan Singapura.

Negara mayoritas Muslim yang tertinggi islamicty indeksnya adalah Malaysia (rangking 33), Kuwait (42), dan Saudi Arabia (91). Negara Indonesia terpuruk ke rangking 140.

Dari enam indikator yang terukur itu, peradaban Islam bukan saja tak unggul. Namun untuk kasus penerimaan kepada demokrasi dan hak asasi manusia seperti kebebasan agama, komunitas Islam sangat tertinggal.

Bahkan di beberapa wilayah, komunitas Islam justru unggul dari sisi buruknya seperti kekerasan dan konflik yang tinggi.

Dengan kualitas peradaban seperti itu, kawasan Muslim tidak menjadi bagian dari solusi, tapi bagian dari problem. Bertambah banyaknya penganut Islam berarti semakin tak nyamannya peradaban. Apalagi jika Muslim menjadi komunitas agama terbesar di dunia di tahun 2070.

Apa yang salah? What went wrong?

Ikhtiar

Sejarah menunjukkan bahwa Islam pernah menjadi penerang dan puncak peradaban dunia. Itu terjadi di abad 9 - 13, justru ketika dunia barat masih dalam era kegelapan dan jahiliyah. Pusat ilmu dan riset justru berpusat di wilayah yang mayoritas populasinya Muslim.Itu adalah era ketika peradaban Islam justru bersinerji dengan peradaban terbaik era itu dari Yunani.

Fakta sejarah di abad itu membuktikan bahwa agama Islam juga bisa terdepan, menjadi sumbu utama kemajuan peradaban. Yaitu ketika Islam dipraktekkan dengan interpretasi tertentu.

Jika ada masalah dengan Islam berarti itu problem dengan interpretasi Islam, bukan dengan agama Islam itu an sich. Solusi terhadap ketertinggalan Islam dengan sendirinya adalah reinterpretasi Islam.

Walau Islam itu satu, sebagaimana agama besar lain, namun Islam dalam sejarah sudah dipraktekkan dengan aneka pemahaman, yang sangat liberal sampai yang sangat konservatif.

Sejarah agama pada dasarnya adalah sejarah interpretasi agama.
Islam yang tumbuh di Arab Saudi misalnya sangat berbeda dengan Islam yang tumbuh di Amerika Serikat walau penganutnya mengklaim bersumber pada Al-Quran yang sama.

Cukup dilihat satu isu saja soal paham atas peran wanita di dunia wilayah itu.
Di Arab Saudi, ada aturan wanita dilarang mengemudikan mobil sendirian. Larangan ini didukung oleh kesepakatan ulama. Ini kebijakan pemerintah Arab Saudi yang mendasarkan segala hal kepada Quran dan Hadits melalui penafsiran ulamanya.

Sebaliknya di Amerika, peran wanita begitu liberalnya bahkan melampaui apa yang dibayangkan feminis modern. Muslim Progresive Values misalnya mempraktekkan persamaan hak wanita untuk juga menjadi Iman Sholat bagi seluruh jamaah, termasuk laki-laki. Di Amerika Serikat sudah berkali-kali dipraktekkan wanita memimpin sholat di masjid yang juga dihadiri jemaah lelaki.

Di era yang sama, di era digital seperti sekarang, dikalangan penganut Islam yang sama, kita melihat dua komunitas mempraktekan Islam dengan nilai yang sangat berbeda.

Di Arab Saudi, wanita dilarang mengemudi mobil sendirian. Di Amerika Serikat, wanita menjadi iman sholat untuk jemaah yang juga ada lelaki di dalamnya.

Islam adalah satu jika mengacu pada sumber rujukannya: Al-Quran. Namun ketika Islam masuk ke dalam sejarah kongkret, dengan aneka keberagaman kultur, dengan aneka level kesadaran, dengan aneka kepentingan, maka ada banyak Islam.

Lebih tepatnya ada banyak tafsir dan interpretasi Islam, mulai dari yang paling kaku dan konservatif hingga kepada yang paling liberal dan progresif.

Buku yang disusun Mohamad Guntur Romli dan Ciputat School adalah bagian dari interpretasi Islam yang progresif itu. Ia menampilkan kembali essesial teachingatau nilai dasar Islam yang lebih modern.

Di abad keemasannya, Islam bersinerji dengan peradaban Yunani.Kini dalam konsep Islam Nusantara, yang dimajukan Guntur Romli beserta team Ciputat School, adalah Islamingin disinerjikan dengan prinsip ilmu pengetahuan, hak asasi manusia, demokrasi dan pancasila.

DI bagian awal, Mohamad Guntur cukup panjang dan detail menguraikan bagaimana Islam dipraktekkan dengan aneka kekayaan kultur lokal di aneka daerah. Di bagian selanjutnya yang menjadi gagasan besarnya adalah bagaimana Islam Nusantara harus dirumuskan.

Jika Islam Nusantara hanyalah kristalisasi Islam yang sudah dipraktekkan di Nusantara, maka tetap akan kita dapati konsep Islam yang sudah terbukti tidak membawa Indonesia pada puncak peradaban dunia. Islam Nusantara yang berangkat dari apa yang sudah dijalankan di Indonesia tetaplah konsep Islam yang usang.

Islam Nusantara yang dirindukan adalah sejenis pemahaman baru yang lebih sejiwa dengan puncak peradaban dunia baru, yang kini masuk ke era digital, dengan keberagaman yang kompleks.

Sudah banyak wacana Islam Nusantara yang dipublikasi sejak istilah ini populer di seputar Muktamar NU 2015.Namun belum ada buku yang utuh yang membahas lebih kongkret isi dari nilai dasar Islam Nusantara. Apa yang in dan out dalam Islam Nusantara? Apa yang membedakan Islam Nusantara dengan yang bukan Islam Nusantara.

Dari perdebatan gagasan, jelas buku ini sebuah langkah maju yang berani untuk menawarkan bagaimana sebaiknya nilai dasar Islam Nusantara itu diformulasikan.

Dilihat dari karaktek buku, jelas ini buku yang tak hanya mempunyai pretensi akademik. Ini buku putih yang juga dipersiapkan untuk memandu sebuah gerakan pemahaman agama.

Terlebih lagi dalam proses penulisannya, buku ini tak hanya dirumuskan di belakang meja. Gagasan utama buku ini adalah kristalisasi dari brainstorming yang sudah diuji dan diperkaya oleh aneka komunitas diskusi.

Sebagai sebuah konsep, buku ini sudah cukup utuh.Namun sebagai sebuah gerakan, buku ini adalah langkah pertama. Sukses atas tidak gagasan Islam Nusantara mempengaruhi masyarakat luas memang akan ditentukan oleh hal lain di luar sebuah buku.

Tapi pada mulanya adalah kata. Pada mulanya adalah gagasan.

Kembali kepada kutipan Victor Hugo: serangan dari bala tentara dapat ditahan. Namun serangan dari sebuah gagasan yang waktunya sudah datang, tiada yang dapat menahannya.

Pertanyaannya memang apakah waktu bagi Islam Nusantara sudah datang? Lebih umum lagi, apakah waktu bagi reformasi interpretasi Islam sudah tiba? ***

(Pengantar Buku Islam Kami Islam Nusantara : Lima Nilai Dasar, karya Guntur Romli dan Ciputat School)


?

  • view 743