Spirit yang Melawan Takdir

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 17 April 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

60.8 K Wilayah Umum
Spirit yang Melawan Takdir

Spirit yang Mengalahkan Takdir?
(Review Film Spare Parts, 2015).

Denny JA

Angela Lee Duckworth meneliti mereka yang sukses. Hasil risetnya cukup inspiratif. Yang membuat sukses itu bukan kecerdasan, ujarnya. Bukan pula bakat, bukan pula kekayaan yang membuat individu jaya.

Yang paling menentukan apakah individu itu akhirnya gagal atau sukses adalah GRIT. Ini sebuah spirit, passion jangka panjang, sejenis api yang terus hidup di dalam hati untuk meraih puncak.

Spirit itu membuat individu terus mencari cara mengejar mimpinya. Ia tak mudah patah. Derita yang ia hadapi tetap memberikannya makna. Sekali GRIT itu tumbuh, spirit itu menjadi enerji besar mendorong individu berprestasi.

Ketika mendengar presentasi Angela Duckworth di Ted Talk, reaksi saya biasa saja. GRIT nama lain dari apa yang sudah dikatakan oleh Psikolog Henry Murray dan David McClelland dengan istilah Need for achievement. Itu spirit untuk berprestasi, meraih sesuatu yang gemilang.

Namun memori soal GRIT itu muncul kembali ketika saya menonton film Spare Parts (2015). Sprit itu saya saksikan terpancar dari anak anak SMA latino (Asal Amerika Latin di Amerika Serikat). Mereka miskin, mereka imigran yang diburu petugas untuk dideportasi. Sebagian datang dari keluarga yang broken home.

Tapi mereka bertekad memenangkan kejuaraan robot tingkat nasional, mengalahkan sekolah super elit termasuk MIT (Massachusetts Institute of Technology). MIT dianggap satu dari sekolah paling prestisius di dunia.

Spare Parts menarasikan kisah sejati, true story, kisah yang benar-benar terjadi soal anak- anak latino itu di tahun 2004. Film dibuat berdasarkan artikel di Wired Magazine dengan judul La Vada Robot (2004).

Ini bukan kisah David versus Goliath, si kecil dan si miskin mengalahkan si besar dan si kaya. Ini kisah anak anak SMA yang hidup sehari-harinya susah. Namun mereka kemudian bermimpi besar: meraih matahari.

-000-

Oscar Vasques kemana mana selalu menggunakan baju militer Amerika Serikat. Baju itu disiapkan oleh ibunya. Bukan Oscar tapi ibunya yang sangat ingin ia menjadi tentara Amerika Serikat.

Oscar ikuti saja keinginan ibunya, walau tahu hampir mustahil ia menjadi tentara. Ia imigran ilegal, tak punya dokumen tinggal sah di Amerika Serikat. Bagaimana mungkin ia bisa diterima bekerja di lembaga pemerintahan. Apalagi diterima menjadi tentara?

Bagian penerima aplikasi memberikan perhatian ekstra pada Oscar. Ujarnya, kamu tahu mustahil kamu bisa menjadi tentara di sini karena kamu imigran gelap.

Ingat pesan saya. Jangan pernah kamu mengirimkan lamaran kerja di pemerintahan. Kamu bukan saja pasti ditolak. Tapi kamu akan akan diburu untuk dideportasi kembali ke negara asalmu.

Oscar tidak kaget karena ia sudah tahu semua itu. Tapi ia lakukan saja perintah ibunya untuk mencoba melamar. Siapa tahu ada keajaiban.

Namun di kantor militer itu, Oscar membaca lomba membuat robot tingkat nasional. Semua robot akan ditest dan dinilai dari kemampuannya melakukan aneka tugas di dalam air.

Lomba robot itu yang membakar semangat Oscar. Pulang dari kantor militer ia tidak sedih, walau ia ditolak. Oscar justru gembira.

Namun ia harus membentuk team dari sekolah SMAnya. Dan ia harus bekerja diam diam ikut lomba itu, tanpa sepengetahuan ibu. Sudah pasti ibu melarangnya. Ibu hanya ingin ia fokus untuk diterima sebagai tentara Amerika Serikat.

Hal yang berbeda terjadi dengan Larenzo Sentilan. Di rumah acapkali ia dinomor duakan oleh ayahnya sendiri. Ia selalu ditugaskan Ayah menjaga adiknya yang nakal dan suka mencuri.

Bedanya adiknya itu punya dokumen legal sebagai imigran. Sementara Larenzo imigran yang tak legal. Ayahnya berharap nanti adiknya yang menjadi tulang punggung mereka agar sah tinggal di Amerika Serikat.

Frustasi karena perlakuan tak adil ayahnya membuat Larenzo banyak menghabiskan waktu mengkutak katik mesin. Bahkan kadang ia mencuri barang dari mobil yang bisa ia buka dengan kemampuan mekanikalnya.

Suatu ketika perbuatan nakal Larenzo itu kepergok oleh guru bernama Cameron. Ia dihukum Cameron dengan cara memaksanya ikut dalam team lomba robot. Lorenzo satu team bersama dengan Oscar dan lainnya.

Lorenzo awalnya tidak berminat dengan lomba itu. Ia hanya asyik dengan dirinya sendiri dan mengkutak katik mesin saja.

Tapi ia terpaksa ikut karena tak ingin kasus kriminalnya diungkap. Bertahap Larenzo akhirnya sangat menyukai lomba tersebut.

Oscar, Lorenzo di bawah bimbingan Cameron, merekrut dua lainnya untuk ikut kompetisi. Mereka akan mengatas namakan sekolah SMA mereka: Carl Hyden High School.

Ini sebuah SMA miskin di daerah Poenix, Arizona. Sebanyak 90 persen siswanya keturunan Hispanic, Latino. Sebagian siswa berasal dari imigran gelap asal Mexico, dan negara sekitar.

Team ini melapor kepada kepala sekolah ingin ikut lomba. Tentu kepala sekolah mendukung. Namun sekolah tak punya dana.

Mereka diminta kepala sekolah mencari dana sendiri. Kepala sekolah juga tak berharap banyak dengan team. Apalagi ia tahu ada team dari MIT, yang tahun sebelumnya juara pertama.

Setidaknya kepala sekolah harus menunjukkan respon positif. Sebagi pimpinan ia menghargai inisiatif apapun yang ingin mengangkat prestasi anak didik.

-000-

Jika semangat mereka normal saja, tak banyak yang mereka bisa lakukan. Mereka tak berhasil mencari dana minimal untuk membeli spare parts. Mereka tak punya alat-alat standard minimal yang diperlukan untuk membuat robot yang baik.

MIT misalnya memiliki dana untuk membuat robot itu dengan dana di atas 10 ribu USD. Sementara dana yang bisa mereka kumpulkan paling banyak hanya kurang dari sepersepuluhnya, kurang dari 800 USD saja.

Akibatnya mereka harus kreatif mencari spare parts pengganti yang murah meriah. Yang penting spare sparts itu memberikan fungsi yang sama.

Beberapa kali mereka putus asa. Dana yang tak cukup sangat menghalangi. Namun mimpi untuk ikut kejuaraan membuat mereka semangat kembali.

Mereka misalnya harus mencari alat yang bisa menyerap air. Alat biasa yang standard terlalu mahal. Akhirnya mereka sepakat menggunakan alat yg murah. Yaitu "pembalut wanita," tampon yang biasa dipakai ketika seorang wanita sedang haid.

Banyak spare parts lain yang mereka juga cari pengganti murahnya.

Ketika lomba dimulai, mereka kecut di hati. Dilihat secara fisik, robot mereka terlihat sangat murah dan terkesan asal asalan. Sementara lawan mereka menggunakan teknologi mahal dan mutakhir. MIT, sang juara bertahan, bahkan menggunakan sinar lasser.

Mereka minder. Kepala sekolah juga tak bisa datang karena ada hambatan biaya. Tapi kepala sekolah meminjamkan mobil besar yang butut, untuk digunakan ke tempat kejuaraan.

Beberapa peserta lain yang melihat penampilan robot mereka juga terkesan melecehkan. Mereka kecil hati dan saling pandang saja.

-000-

Pertandingan dimulai. Ada dua tahap penilaian. Pertama test robot di kolam renang. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikan robot. Setiap tugas yang tuntas diberikan pointnya.

Kedua, test akademik. Team juri menginterview peserta mengenai hal ihwal pembuatan robot itu. Yang ingin diketahui dari interview tak hanya pengetahuan teori. Penting juga bagi juri untuk tahu entrepreneurship, kreativitas dan team work dari setiap peserta.

Test robot saja sudah membuat team Carl Hyden ini was was. Beberapa kali mereka gagal. Tapi hasil akhir tahap pertama sudah luar biasa.

Mereka untuk tahap pertama masuk dalam empat besar. Rangking pertama tetap diraih MIT yang super canggih.

Berita masuk empat besar di ronde pertama saja sudah membuat gempar sekolah mereka. Kepala sekolah mengumumkan prestasi luar biasa itu. Mereka berharap ada keajaiban mendapatkan nomor tiga, piala perunggu.

Ketika masuk ke tahap kedua, wawancara, para Juri terkagum mengetahui riwayat team Carl Hyden. Dana membuat robot team Carl Hyden hanya sepersepuluh dari umumnya peserta lain. Cara mengumpulkan dana juga dengan sistem gerilya kanan dan kiri. Mereka tak punya dan tak bisa lakukan sistem fund rising yang standard dilakukan sekolah prestisius.

Yang tambah membuat juri tercengang lagi bahan material robot. Mereka mendaya gunakan bahan sangat murah, seperti pembalut wanita. Ini "spare parts" pengganti alat yang selama ini tak pernah digunakan membuat robot apapun. Para juri tertawa namun kagum.

Mereka berkumpul di aula. Pengumuman pemenang segera dipublikasi. Nama Carl Hyden disebut pertama kali sebagai team favorit. Mereka senang basa basi, dan senyum kecut. Berarti mereka juara empat.

Target juara tiga untuk piala perunggu tak tercapai. Mereka bersalaman saling memberi semangat agar tak usah kecewa. Bisa juara yang selevel dengan juara empat harus tetap disyukuri.

Juara ketiga dan kedua juga diumumkan. MIT juara kedua. Mereka kaget ada team lain yang bisa mengalahkan MIT.

Mereka bertambah kaget lagi. Ternyata juara pertama dengan score tertinggi mengalahkan MIT adalah team Carl Hyden High School. Mereka berteriak kencang. Carl Hyden High School, sekolah miskin para imigran, mampu juara pertama mengalahkan MIT.

-000-

Para juri yang terdiri dari akademisi dan guru itu tak hanya melihat pencapaian robot. Mereka juga menilai kreativitas, entrpreneurship dan aneka langkah "out of the box."

Team Carl Hyden memilih "pembalut wanita" untuk menyerap air sebenarnya bukan kesengajaan. Itu semata karena tak ada biaya. Namun spirit yang memaksakan diri ikut lomba dan berprestasi akhirnya melahirkan langkah out of the box. Spirit itu yang mahal.

Lama saya merenung teringat masa kecil saya sendiri. Ketika saya tahu orang tua bahkan susah membiayai saya sekolah di kampus, saya bermimpi harus sekolah setinggi mungkin sampai ke Amerika Serikat.

Apakah ini juga GRIT, tanya saya? kopi saya hirup, mensyukuri tumbuhnya passion ingin berprestasi itu. Mensyukuri mereka yang melawan "takdir," melawan nasib, melawan keterbatasannya.

 

 

  • view 563