Permintaan yang Tak Biasa

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 11 April 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

60.5 K Wilayah Umum
Permintaan yang Tak Biasa

Permintaan yang Tak Biasa
(Review Film Session, 2012)

Apa yang harus dijawab oleh seorang pendeta? Mark umat Kristiani, gembala yang rajin ke gereja dan berdiskusi dengannya. Tapi kali ini permintaan Mark sangat menyentuh namun sulit. Ini permintaan yang sangat manusiawi tapi melanggar prinsip gereja.

"Usiaku sudah hampir 40 tahun, bapa," ujar Mark mengawali curhatnya dengan ragu dan malu. Hidupku tak lagi lama. Aku tak ingin mati sebagai perjaka. Mark akhirnya berani menyatakan apa yang dulu tak pernah tuntas diekspresikannya.

Pendeta Brenden menatap Mark. Berbeda dengan gembala lainnya, Mark cacat total. Sejak usia 6 tahun, ia hanya membujur terbaring saja di tempat tidur khusus. Ia terjangkit polio yang membuatnya lumpuh. Ia terkena penyakit paru paru pula yang harus dibantu mesin pernapasan.

Pendeta bertanya, Anda ingin berhubungan sex dengan gadis yang kau nikahi? Pendeta berharap jawaban positif dari Marx.

Tidak, bapa, jawab Marx. Tak ada yang mau menikahi saya, bapa. Saya sudah mencoba berkali- kali. Saya lumpuh total dan hanya akan menjadi beban bagi siapapun.

"Jadi," ujar pendeta, "kau minta restu saya untuk membolehkanmu berhubungan sex di luar nikah?" "Betul bapa," jawab Marx.

Pendeta terdiam. Ia menatap patung Jesus yang terpasang di dinding gereja. Ia serba salah, mencari respon yang paling pas dari suara hati. Berkali kali ia menatap wajah Mark, dan patung Jesus, bergantian.

Dipegangnya tangan Marx untuk berdoa bersama. Pendeta Brenden merasa Tuhan memahami keputusannya. Ia merestui Marx untuk "journey" pengalaman seksual sebelum ajal menjemput. Marx tak ingin mati sebagai perjaka.

-000-

Ini film yang sangat menyentuh dan penuh dilema moral. Film ini kisah true story, yang diangkat dari esai tulisan Marx sendiri.

Walau badan sepenuhnya lumpuh, otak Mark sangat cemerlang. Walau ia hanya bisa hidup dalam posisi terbaring, ia cakap bicara. Khayalan, fantasi, emosi, termasuk hasrat sexnya sepenuhnya sehat dan normal.

Nama lengkapnya Mark O'Brien. Ia aktivis kaum disable sekaligus juga penulis. Melalui mulut, dibantu alat, ia bisa menulis. Ia mendapatkan nafkahnya dari esai dan puisi karangannya.

Suatu ketika Mark ditawari riset yang unik. Ia diminta mewawancarai kaum disable, mereka yang cacat, hanya untuk isu seksual saja. Ingin diketahui bagaimana tepatnya hasrat seksual mereka. Bagaimana pula solusi yang mereka lakukan.

Sebagian dari disable yang ia wawancarai berani bicara terbuka dan blak-blakan. Marx berpikir tentang kebutuhannya sendiri. Selama ini itu topik yang tabu ia bicarakan.

Kini ia mendapatkan keberanian baru. Mark tak bisa menipu diri. Hasrat seksual itu juga tumbuh padanya.

Beberapa kali Mark pernah mengutarakan cintanya. Termasuk kepada perawat yang merawatnya. Dengan harapan ia akan mengalami seks yang sah dan direstui Tuhan.

Yang terjadi perawat itu pergi. Padahal awalnya sang perawat sangat baik hati, penuh perhatian, mengasihinya.

Mark menyadari penyakit ini tak bisa membuatnya berumur panjang. Ia butuh pengalaman seksual segera.

-000-

Kerja riset soal sex and disable memperluas wawasan Mark. Ia tahu ternyata ada lembaga yang secara khusus bisa membantu kaum disable mendapatkan pelayanan seksual. Ia kontak lembaga itu melalui perawatnya. Tapi lembaga itu sudah tutup.

Perawatnya mendapatkan kontak person seorang terapis yang pernah bekerja di sana bernama Cheryl Cohen Greene. Jika Mark bersedia, terapis itu akan datang.

Mark yang tadinya bersemangat kini ia justru takut. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa benar ia ingin mendapatkan pengalaman seksual di luar pernikahan?

Kembali ia ingin meneguhkan diri lewat Pendeta Brenden. Pendeta bertanya, apakah Cheryl melakukan ini untuk uang? Mark mengamini. Pendeta kembali mendukung Mark untuk menjalaninya, jika itu memang suara hati.

-000-

Mark gelisah alang kepalang ketika langsung bertatap muka dengan Cheryl. Yang pertama dilakukan Cheryl, ia menjelaskan soal profesinya. Mark, ujar Cheryl, saya ingin anda tahu. Saya bukan pelacur. Saya seorang terapis profesional.

Saya membantu mereka yang memiliki kendala substansial untuk mengalami keintiman, pengalaman seksual. Saya mengajak diskusi, menemukan kendala. Jika psikilogis kendalanya, saya ada program relaxing. Jika kendalanya bersifat fisik, saya lakukan dulu terapi pijat.

Hasil akhir dari jasa ini, klien akan mengalami hubungan seksual yang puncak dan normal. Ini sebuah profesi. Mark setuju. Ia memang sudah membaca profesi bernama Sex Surroget itu.

Terapipun dimulai dengan menuntaskan aneka kendala psikologis. Mereka bercakap. Berbagi pandangan hidup. Hubungan mereka menjadi tak biasa karena kemudian muncul ikatan emosional yang lebih dalam.

Mark mulai membuat puisi untuk Cheryl. Suami Cheryl sempat cemburu karena ini bukan lagi relasi antara terapis dan klien. Cherylpun semakin menyukai Mark. Dibalik kelumpuhannya, banyak ucapan Mark yang cerdas, filosofis dan jenaka.

Mark dan Cheryl menyetujui mengakhir session lebih cepat. Keduanya menyadari emosi dan ikatan batin yang tercipta sudah melampaui hubungan kerja.

Mark mendapatkan lebih dari yang ia harap. Ini bukan saja pengalaman seksualnya yang pertama. Namun ia rasakan pula hati yang hangat, lembut dibalik pengalaman seksual itu.

-000-

Begitu mendalam pengalaman ini bagi Mark. Iapun menulis esai "On Seeing Sex Surrogate." Kolom panjang tersebut dimuat Majalah Sun, November 2012. Kolom itu pula yang menjadi basis pembuatan film.

Mark terus menjalani hidup seperti sebelumnya. Cheryl juga tetap menjalani hidup berkeluarga seperti biasa.

Namun perjumpan Mark dengan Cheryl banyak mengubah hidupnya. Sebelum ajalnya tiba, Mark berjumpa gadis lain. Dengan bangga ia menyatakan bahwa dirinya tidak perjaka lagi.

Ketika ia dimakam, puisi Mark dibacakan. Cheryl dan suami hadir di sana. Cheryl tahu, itu puisi yang dibuat Mark untuknya.

Selesai menonton film, saya penasaran. Dari google search saya ingin tahu lebih banyak soal Cheryl.

Ia memang tokoh yang sebenarnya. Ia tidak hanya seorang terapis yang melayani dan membantu kebutuhan seksual mereka yang punya kendala. Ia juga seorang penulis.

Wow! Memang banyak keunikan dunia yang belum saya ketahui.***
,

  • view 474