Rasa Pilu yang Lahirkan Karya Besar

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 11 April 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

72 K Wilayah Umum
Rasa Pilu yang Lahirkan Karya Besar

Rasa Pilu yang Lahirkan Karya Besar
(Review Film Ray, 2004)

Denny JA

Rasa pilu, rasa bersalah yang mendalam, tak hanya membawa efek merusak. Dalamnya kesedihan itu bisa pula menghasilkan karya besar.

Itulah kesan setelah menonton film Ray (2004). Ini kisah sebenarnya, seorang anak yang buta total sejak usia tujuh tahun, merangkak tertatah-titih menjalani kesedihan, dizalimi lingkungan, namun berkembang menjadi Ray Charles, penyayi, pencipta lagu, dan musisi legenda dunia.

"Ingat anakku,"ujar ibunya. Tak ada yang kasihan padamu hanya karena kau buta. Jangan minta kasihan pada orang. Kau harus berjuang, menolong dirimu sendiri."

Ucapan ibu itu selalu datang kapanpun Ray mengalami kesulitan. Keyakinannya mulai muncul ketika ia baru saja mengalami kebutaan. Di ruang tamu yang kumuh dan berantakan, ia terjatuh.

Ia teriak, "ibu tolong aku." Ibu hanya berjarak 3 meter di ruang yang sama. Namun ibu diam saja sambil berharap cemas agar anaknya menolong dirinya sendiri. Ibu terdiam menangis dan berharap anaknya bangkit.

Saat itu, Ray mengembangkan mata yang lain. Kedua matanya ia coba buka tapi yang ada hanya kegelapan. Pelan-pelan telinganya sangat peka. Bahkan Ray seolah melihat serangga kecil di dekatnya.

Dengan telinganya, tangannya meraba lantai, mendekati serangga, dan menangkapnya. Serangga berhasil ditangkap. Ia tersenyum.

Lirih, Ray kecil berkata. "Ibu, aku tahu kau ada di sini. Serangga ini untukmu." Terharu ibu memeluknya sambil terurai air mata. Terus diucapkannya mantra itu: Kau memang buta anakku. Tapi kau bukan orang bodoh. Jangan berharap orang kasihan padamu. Kau harus berjuang untuk dirimu sendiri.

-000-

Ray memang berhasil mengatasi buta matanya. Tapi rasa pilu dan rasa bersalah selalu menghantui kemanapun ia pergi.

Film dibuka dengan masa kecil Ray ketika matanya masih sehat. Usianya sekitar 5 tahun. Ia bermain di kawasan kumuh lingkungan rumahnya dengan adik yang sangat disayanginya, George.

Ibu menafkahi mereka berdua dengan menjadi pencuci pakaian. Ibu memiliki sejenis panci besar yang diletakkan di atas meja. Ada air di dalamnya. Itulah alat ibu mencari nafkah.

Pada suatu hari George berdiri di atas meja itu. Terpeleset ia masuk ke dalam panci. Ray sang kakak berdiri berjarak sekitar 5 meter. Ia terpana melihat George. Namun kakinya tak bergerak. Mulutnya tak bicara. Ia terdiam saja.

Ketika ibu tahu George tenggelam dalam panci, itu sudah terlambat. George sudah mati. Ibu meraung sedih, sambil berteriak pada Ray: Mengapa kau diam saja melihat adikmu tenggelam. Mengapa kau tidak panggil ibu.

Tak tahu harus menjawab apa. Ray hanya menangis sedih melihat adiknya mati. Namun yang jauh lebih dalam, ia merasa bersalah. Ia menyebabkan adiknya mati.

Rasa bersalah dan kesedihan acapkali datang di pikirannya. Dan itu tak hanya mewarnai prilakunya. Tapi juga mewarnai alunan suaranya yang mendalam dan meraung, terutama jika membawakan lagu melankoli. Seolah ia ingin membagi luka yang begitu menyayat.

-000-

Itu terjadi di tahun 1935, di desa Greenville, Florida. Berbeda dengan anak kecil biasa, Ray sejak kecil sering mengintip menyelinap masuk ke Wylie Pitman's Red Wing Cafe. Ia terkesima dengan musik dan piano yang dimainkan oleh Pitman.

Suatu ketika Pitman memergokinya. Usia Ray baru tiga tahun. Pitman mengajak Ray duduk bermain piano. Ray sangat senang tak hanya belajar piano. Ia juga mendapatkan figur Ayah. Sejak kecil ia tak tahu Ayahnya pergi entah kemana.

Ketika buta, Ray hanya senang dan hanya bisa main piano. Ibu bersusah payah mencari sekolah untuk anaknya yang mengajarkan musik. Guru piano melihat bakat berbeda pada diri Ray. Sejak dini, Ray dididik musik klasik memainkan lagu Beethoven, Mozart, dan sejenisnya.

Namun sedih di hatinya membuat Ray lebih senang memainkan musik blues yang menusuk hati. Apalagi setelah ibunya wafat saat usianya 14 tahun. Wafatnya ibu ia anggap tragedi kedua setelah matinya George.

Luntang lantang Ray hidup ke sana kemari. Kadang ia menahan lapar tidak makan. Kesedihan semakin mewarnai musiknya. Lebih jauh lagi, kesedihan itu mewarnai suaranya, yang tak biasa, berat, serak, namun menyayat.

Ia terus berjuang untuk musiknya. Beberapa kali ia diajak main Band, dan ditipu sana dan sini soal pembagian honor. Semakin ia membenarkan nasehat ibunya. Orang tidak kasihan padanya karena ia buta. Sebaliknya ia sering dicurangi. Ia harus menolong dirinya sendiri.

-000-

Ray mulai hidup dari kafe ke kafe di aneka kota. Yang termudah mencari uang, ia memainkan saja musik dari penyanyi yang sudah terkenal, seperti Nat King Cole dan Charles Brown. Ray memirip-miripkan suaranya dengan idolanya itu.

Sampai satu masa Ray jatuh cinta. Sang kekasih bertanya mengapa ia tak ingin menjadi dirinya sendiri, menciptakan musiknya sendiri. Ray menjawab ia hanya perlu uang. Orang datang untuk mendengar musik yang mereka sudah sukai.

Pertanyaan yang sama ditanyakan seorang pebisnis bidang musik. Ray menjawabnya sama. Ray merenung ketika pebisnis itu merespon balik. Jika kau berpikir penny kau dapatkan penny. Jika kau berpikir dollar kau dapatkan dollar.

Ray mulai berpikir menciptakan musiknya sendiri. Ia buatkan lagu untuk kekasih yang kemudian menjadi istrinya: I Got a Woman.

Ia gabungkan blues dengan musik gospel yang sering ia dengar di gereja. Di tangan Ray, lahirlah genre musik baru yang disebut Soul. Bersama dengan musisi lain, selanjutnya Ray dikenal sebagai pencipta genre musik soul.

Namun Ray tak puas sampai situ. Ia juga menggabungkan musik country dan pop. Lahirlah aneka aransemen lagu yang jauh lebih menyayat dibandingkan lagu aslinya. Satu lagu yang paling terkenal yang dinyanyikan Ray, bahkan melampaui penyanyi aslinya: I can't stop loving you.

Ray sibuk tour ke aneka kota. Tapi tempat kelahirannya Georgia selalu ada dipikirannya. Ini membuat versi yang berbeda untuk lagu Georgia on My mind. Lagu versinya ini kemudian menjadi lagu resmi negara bagian Georgia.

-000-

Ray berhasil sukses dan kaya. Namun rasa bersalah dan pilu selalu menyertainya. Itu pula yang membuat Ray lama tenggelam dalam pelarian obat terlarang. Penggunaan obat terlarang berkali kali membuatnya berurusan dengan polisi, pengadilan bahkan ancaman penjara.

Pelarian itu pula yang membuatnya mencari kehangatan dari satu pelukan wanita ke pelukan wanita lain. Ray tercatat memiliki 12 anak dari sembilan wanita. Hanya dua wanita yang ia nikahi resmi.

Rehabilitasi bagi kecanduannya sangat sulit karena ia terus berlari dari rasa bersalah. Adik kesayangannya mati di depan matanya. Ia merasa bisa menyelamatkan adiknya seandainya ada sesuatu yang ia lakukan. Tapi saat itu ia terdiam, terkesima saja.

Lantai yang ia pijak kadang terasa basah oleh air panci itu. Koper yang ia buka kadang seolah berisi air panci. Di air panci itu adiknya mati tenggelam.

Di puncak rehabilitasi, fantasi ibu dan adiknya datang dan berkata: Ray kau tidak bersalah. Kami menyayangimu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Ray menangis meraung sendirian, di tengah malam, di sudut kamar.

Ray lahir kembali. Lepas dari obat bius. Ia terus berkarya. Majalah musik terkemuka Rolling Stones 2010 membuat list 100 penyanyi terbesar sepanjang sejarah. Ray Charles berada di posisi kedua, di atas Elvis Presley. Ia bahkan di atasnya idolanya Nat King Cole.

Dalam ulasannya, majalah Rolling Stones menulis. Ketika kita mendengar Ray Charles bernyanyi, kita rasakan penuh luka batin yang menjadi nada.

Di tangan Ray Charles, luka batin itu melahirkan karya besar, walau ia buta.***

  • view 315