Di balik Layar Penulis Besar (Review Film Genius, 2016)

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 08 April 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

61.8 K Wilayah Umum
Di balik Layar Penulis Besar (Review Film Genius, 2016)

Di balik Layar Penulis Besar
(Review Film Genius, 2016)

Seberapa banyak yang menduga? Bahkan di balik penulis besar kelas dunia, tersembunyi seorang editor yang memilih tak muncul ke permukaan. Namun perannya begitu besar bukan saja kepada naskah akhir sebuah karya. Tapi juga pada kehidupan pribadi Sang penulis besar itu.

Menjelang akhir hayatnya, penulis besar Tom Wolfe minta pensil dan kertas. Itu bulan September 1938. Awalnya suster rumah sakit melarang karena Tom Wolfe harus beristirahat total. Namun Tom memaksa. Ia merasa ajalnya tak lama lagi menjemput.

Di kertas itu, Tom menuliskan kata terakhirnya. Kata kata itu ternyata bukan untuk kekasihnya. Bukan pula untuk ibunya. Surat terakhir itu untuk editornya, Max Perkins. Bagi Tom, Max orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, menemaninya sejak ia tak dikenal hingga dianggap satu dari penulis terbaik dunia di eranya.

Saya tertegun menonton hubungan unik Tom Wolfe (1900-1938) dengan editornya, Max Perkins. Sangat jarang sekali tulisan atau film yang mengangkat peran editor beserta seluruh dramanya.

Film ini kisah sejati yang diangkat dari buku A.Scot Berg: Editor of Genius. Buku tersebut memenangkan national book winning 1978 karena berhasil mengangkat secara detail dan bagus profesi yang selama ini tak dieksplor.

Aktor penerima Oscar Colin Firt memainkan peran Max Perkins dengan apik. Judi Law berperan sebagai penulis besar Tom Wolve yang labil

-000-

Tak banyak yang mengenal nama Max Perkins. Ia memang memilih tidak menonjol selaku editor. Namun Scholar seperti Matthew Broccoli menyebut Max Perkins sebagai editor paling menonjol dan berpengaruh abad ini. Ia tidak saja mengedit buku. Ia juga menemukan dan membentuk penulis dunia ketika saat itu mereka belum dikenal.

Di tangan Max Perkins, lahir Ernest Hemingway yang menerima nobel satra 1954. Lahir pula F Scot Fitzgeral yang menulis novel Great Gatsby (1925). Hingga kini novel itu masuk dalam 100 novel terbaik abad ini pilihan Modern Library.

Perkins juga menemukan James Jones yang kemudian menulis From Here to Eterniy. Novel ini menjadi dasar film dengan judul yang sama, memenangkan Oscar 1953 selaku film terbaik. Novel itu juga masuk dalam list 100 novel terbaik sepanjang masa.

Film Genius membuka mata kita tentang kerja seorang editor. Tom Wolve tak dikenal saat itu. Naskah panjangnya ditolak aneka penerbit. Suatu ketika sampailah naskah itu ke tangan Max Perkins. Max bekerja di penerbit Charles Scribner's Son.

Berbeda dengan editor lain, Perkins justru melihat karya Tom Wolfe sejenis batu permata yang masih tersembunyi dalam bongkahan tanah. Jika hanya melihat bongkahan tanahnya, draft novel panjang itu akan pula ia tolak. Tapi mata Perkins lebih jeli. Iapun merasa harus terus melahirkan penulis berbakat.

Dimulailah kerja seorang editor. Ia akan menerbitkan buku Tom tapi dengan syarat. Ia memaksa Tom Wolve untuk membuang hampir separuh dari draft panjangnya. Ia meminta Tom mengubah judul, mengubah banyak ekspresi kata, mengubah beberapa suasana.

Tom melonjak kegirangan. Ia sudah putus ada karena ditolak oleh semua penerbit. Tom lakukan saja apa yang diminta Max. Walau setelah buku selesai, ia kadang bertanya apakah ini karyanya atau karya Max sang editor. Begitu jauh dan dalam sang editor merombak naskahnya.

Kerja editor bagi Max tak hanya duduk di atas meja dan mencorat coret kertas. Ia harus berteman dengan penulis itu. Menghabiskan waktu bersama sambil selalu mendiskusikan cara terbaik mengekspresikan gagasan dalam kata.

"Ini bukumu dan tetap harus dirimu yang memutuskan finalnya. Aku hanya kawan diskusi dan menyatakan secara profesional jika ekspresimu belum pas," ujar Perkins. Mereka pun menghabiskan waktu bersama dalam club dan pub.

Lebih dari itu, Perkins selaku editor ternyata tak bisa menghindari diri dalam kisah asmara Tom Wolve. Kekasih Tom yang selama ini menjadi kawan diskusi Tom merasa tersingkir. Ia cemburu karena Tom selalu bercerita menurut Max harus begini. Ujar Max ini yang harus saya lakukan. Tapi kata Max itu harus dibuang. Hanya Max yang seolah didengar Tom.

Bahkan istri Max juga cemburu. Mereka sempat ribut besar. "Kau lebih memperhatikan Tom ketimbang anakmu dan istrimu, protes sang istri. Bahkan kau menolak untuk liburan keluarga karena lebih memilih menghabiskan waktu mengedit novel Tom.

Max membentak istrinya. "Aku ini seorang editor. Dalam masa hidupku, sangat jarang aku bisa menemukan seorang jenius untuk naskahnya aku edit. Aku harus total dan juga berkorban."

Dengan tekun selaku editor Max menemani perjalanan hidup Tom. Selesai novel pertama yang sukses besar, masuk ke novel kedua. Max harus pula turun tangan ketika dua penulis besar yang ia asuh tidak rukun. Tom dengan gaya urakan menyerang menurunnya kualitas tulisan Scot di depan istrinya Scot.

Tak jarang Max terdiam melihat ulah Tom. Setelah terkenal, Tom acapkali mengejek Max. Seolah Tom kemudian melupakan jasa Max.

Max ikhlas saja. Sebagai editor, Max merasa dirinya hanya membantu sebuah karya untuk tampil terbaik di hadapan pembaca. Ia tak terlalu peduli jika penulis yang ia temukan, ia besarkan kemudian meninggalkannya dan malah mengejeknya.

-000-

Di balik sifat urakannya, dan kesan suka mengejek, Tom menyimpan rasa hormat dan rasa sayang yang besar. Max baru menyadarinya setelah Tom menjelang ajal. Tulisan terakhir Tom justru dialamatkan padanya.

Max duduk lama merenung mengenang Tom. Tak ia duga jika pengaruh dirinya selaku editor begitu dalam pada kehidupan pribadi Tom.

Setelah Tom wafat, hidup Max selaku editor terus berjalan normal. Ia kembali mencari, menemukan dan membentuk penulis besar lain. Ia acapkali mengulang-ngulang ucapannya kepada calon penulis yang datang. Sebagai editor ia tak boleh muncul. Buku yang akan terbit bukan bukunya, tapi buku sang penulis.

Begitu ikhlas seseorang memilih bekerja di balik layar. Ia ikhlas tepuk tangan itu bukan untuk dirinya.

Namu zaman berganti. Kini dalam buku A Scot Bergh dan dalam film Genius, tepuk tangan itu justru untuk Max Perkins sang editor. Tepuk tangan itu justru untuk ia yang memilih menjadi "the person behind the gun."***

  • view 84