Drama Sosial Politik di Balik Sebuah Lukisan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 04 April 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

60.9 K Wilayah Umum
Drama Sosial Politik di Balik Sebuah Lukisan

Drama Politik Sebuah Lukisan
(Review Film Woman in Gold, 2015)

Denny JA

Sebuah lukisan menjadi legenda bukan saja karena kualitas fenomenal lukisannya. Tapi juga oleh drama sosial politik di seputar lukisan itu.

Ini yang terjadi untuk kasus lukisan Gustav Klimt: The Potrait of Adele (1907). Adele yang menjadi figur sentral lukisan itu seorang bangsawan Yahudi, dari keluarga kaya raya yang kemudian tersingkir oleh perubahan politik.

Perjumpaan saya yang pertama dengan lukisan The Potrait of Adele, terjadi di tahun 2008. Saat itu saya dalam proses membuka bisnis galeri lukisan. Melalui Google saya ketik pencarian lukisan termahal di dunia.

Saat itu yang ada di benak saya lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Karena saya awam lukisan, agak kaget juga ketika yang saat ini muncul rangking 1 justru lukisan lain. Berulang saya baca judul lukisan itu: The Potrait of Adele, karya Gustav Klimt.

Saya baca harga yang tertera di sana. Jika dikurskan dengan kurs saat itu harganya di atas 1 trilyun rupiah.

Lama saya tatap lukisan itu mencari tahu apa yang membuatnya melampaui 1 trilyun rupiah. Saya tatap gambar wajah wanita ningrat dengan lukisan didominasi warna emas. Namun saya tetap tak mengerti mengapa lukisan itu mahal sekali.

Perjumpaan kedua dengan lukisan itu ketika saya menonton film Woman in Gold. Saya tak menyangka ternyata di balik lukisan the Potrait of Adele tersimpan drama politik yang seru. Kasus hukumnya bahkan melibatkan dua pemerintahan: Austria dan Amerika Serikat.

Helen Mirren memainkan dengan baik Maria Altmann. Ia wanita lanjut usia yang menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun untuk kembali memiliki lukisan itu.

-000-

Ini memang kisah yang sebenarnya. Film dimulai dengan Maria Altman. Ia sudah berusia lanjut, berumur d atas 70an, di tahun 1990, hidup menjanda, dan tak lagi kaya. Ia wanita yahudi kelahiran Austria yang mengungsi ke Amerika Serikat ketika Nazi mencaplok Austria. Ini kasus sebelum perang dunia kedua.

Setelah menghadiri pemakaman kakaknya, Maria menemukan dokumen. Ini upaya kakaknya untuk mengambil kembali koleksi benda seni yang mereka punya. Karena dari keluarga Yahudi, aneka benda seni bernilai tinggi itu dirampas oleh Nazi.

Maria Altmann terdiam lama. Yang ia ingat pertama adalah lukisan The Potrait of Adele ketika lukisan itu dipajang di rumah pamannya. Saat itu, ia masih bocah. Adele di lukisan itu ternyata bibinya Maria Altmann.

Ia teringat dipangku oleh bibinya Adele. Ia ditanya bagaimana pendapatnya tentang bibinya di lukisan itu. Pamannya juga menunjukkan padanya aneka koleksi seni yang mereka punya.

Sebagai keluarga Yahudi yang kaya raya, Maria sejak bocah sudah mengenal banyak benda seni. Ayahnya senang memainkan sejenis biola yang sangat besar. Namun memang ayahnya tak sekaya pamannya yang merupakan suami Adele.

Mereka keluarga Yahudi yang dihormati warga di sana. Ketika Nazi masuk ke Austria, suasana berubah total. Mereka menjadi keluarga yang diburu, diperlakukan semena-mena.

Ia sempat menyaksikan aneka benda seni yang mereka punya dirampas begitu saja. Ia sangat sedih melihat lukisan the Potrait of Adele diturunkan oleh polisi Nazi dari dinding untuk dibawa ke tempat lain. Ia mau berteriak tapi takut. Dilihatnya bahkan pamannya yang dulu powerful, kaya raya, bahkan tak berdaya.

Maria teringat betapa ia harus berpisah dengan ayahnya. Bersama suami, ia dengan segala upaya melarikan diri ke Amerika Serikat.


Memori masa silam datang silih berganti. Maria akhirnya bertekad meneruskan upaya yang sudah dirintis kakaknya. Ia ingin mengugat pemerintah Austria untuk mengambil kembali hak keluarga mereka. Terutama lukisan the Potrait of Adele.

Namun ia tak punya banyak uang, tak mampu menyewa lawyer mahal. Untung ada lawyer muda, belum berpengalaman, anak sahabatnya, yang bersedia membantu.

-000-

Selanjutnya film berkisah soal perselisihan paham di pengadilan Austria. Maria beserta pengacaranya harus datang ke Austria. Dijenguknya kembali apartemen mahal itu tempat pamannya tinggal. Kini sudah dimiliki pihak lain.

Beruntung Maria, ia berjumpa dengan wartawan investigatif Hubertus Czernin. Ia juga dikenal karena ikut membongkar betapa presiden Austria Kurt Waldheim itu seorang pengikut Nazi. Ini kasus yang sempat menggemparkam dunia.

Di Galerey di Viena sempat Maria melihat kembali lukisan Potrait of Adele. Beberapa kali hatinya sempat goyah. Lukisan itu agaknya sudah benar disimpan di galery yang bisa dilihat orang banyak. Apalagi pemerintah Austria menyatakan lukisan itu sudah menjadi ikon Austria. Jangan lukisan itu dipisahkan dari rakyat Austria, itu gumamnya.

Maria sendiri sebenarnya pernah menemui langsung Menteri kebudayaannya mengajak kompromi. Maria merelakan lukisan itu diambil oleh pemerintah Austria dengan kompensasi yang pantas.

Namun pemerintah Austria menolak kompromi dan kompensasi apapun. Ia memegang bukti surat wasiat Adele sendiri. Adele pernah menyatakan jika ia mati, ia ingin lukisan itu disimpan di galery.

Kesombongan pemerintah Austia membuat Maria tak jadi menyerahkan lukisan itu. Ia terus melawan. Wartawan itu ikut membantu membawa bukti bahwa surat wasiat Adele tidak sah. Lukisan itu bukan milik Adele, tapi milik pamannya Maria. Ditambah lagi, lukisan itu bukan ditaruh di sana secara suka rela namun dirampas pemerintahan Nazi. Maria pewaris yang sah dari semua harta pamannya.

Namun pengadilan mengalahkan Maria. Ia tetap bisa naik banding dengan membayar sejumlah dana. Maria tak punya dana sebanyak itu.

Pulanglah Maria dan lawyernya dengan tangan hampa kembali ke Amerika. Ia bertekad dan marah tak akan lagi menginjak Austria lagi. Ini negara yang merampas hak mereka.

-000-

Di Amerika, Maria kembali menjalani hidupnya selaku warga senior. Ia menolak membicarakan apapun soal koleksi seninya yang dirampas pemerintah Austria.

Sampailah suatu masa yang kebetulan. Pengacaranya (versi film), atau wartawan Hubertus (versi dokumen lain) menemukan dalil hukum yang mempunyai preseden. Maria tetap bisa menuntut kepemilikannya atas the Potret of Adele dan koleksi lain melalui pengadilan Amerika Serikat.

Dalam perawatannya, lukisan itu juga menerima dana dari sumbangan warga Amerika. Situasi ini membuat lukisan itu bisa menjadi obyek dari hukum Amerika Serikat.

Yang bersemangat untuk memperkarakan kembali kasus tersebut justru pengacaranya. Maria malah pasif dan cenderung tak mendukung. Akhirnya disepakati Maria mengijinkan pengacaranya membuka kasus itu kembali. Maria seolah tak lagi mau tahu.

Di sinil terlihat keuletan dan kecerdasan seorang pengacara muda yang belum berpengalaman. Dengan dana terbatas, pinjam uang sini dan sana, bahkan tak didukung penuh oleh kliennya sendiri, pengacara ini nekad terus bertarung.

Ujung kasus ini, sebuah kejutan yang menggembirakan. Setelah lebih dari 10 tahun menggugat, Maria mendapatkan kembali haknya atas lukisan itu beserta koleksi seni lain.

Oleh Maria lukisan itu dibawa ke Amerika Serikat. Ia kemudian melelangnya. Beserta lukisan lain, Maria mendapatkan dana lebih dari tiga triliun rupiah.

Maria pun mendirikan yayasan amal. Sebagian dana ia berikan kepada pengacara muda itu. Sisa dana untuk badan amal dan kelangsungan hidupnya sendiri untuk kembali menikmati hidup yang nyaman.

Lukisan itu sempat diganti namanya oleh Nazi menjadi Woman in Gold. Kata Adele dibuang dari judul karena berbau Yahudi. Maria mengembalikan nama lukisan itu menjadi the Potrait of Adele.

Lukisan itu kini menjadi jajaran utama lukisan legenda dunia. Lebih dari lukisan lain, drama sosial politik yang mengitari lukisan itu sungguh memberi banyak pelajaran. Ia memberi banyak renungan. ***

 

  • view 99