Trauma Yang Meretakkan Asmara (Review Film Salesman, 2016)

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 31 Maret 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

61.7 K Wilayah Umum
Trauma Yang Meretakkan Asmara (Review Film Salesman, 2016)

Trauma Yang Meretakkan Asmara
(Review Film Salesman, 2016)

"Kami memboikot tak datang menerima piala Oscar. Ini solidaritas kami menentang kebijakan Donald Trump yang rasis." Pernyataan itu dilontarkan film maker Iran Asghar Farhadi dan aktris utama film terbarunya, Taraneh Alidoosti.

Untuk kedua kalinya, Asghar mendapatkan penghargaan Oscar selaku film asing terbaik: Salesman (2016). Sebelumnya ia mendapatkan Oscar untuk filmnya yang lain dengan kategori sama: Separation (2012).

Asghar semakin mengokohkan diri dalam jajaran film maker elit dunia. Namun kali ini hadih Oscar datang ketika negaranya, Iran, termasuk yang yang terkena pembatasan Donald Trump masuk ke Amerika. Ia ingin bersikap di bidang yang ia bisa: menolak datang menerima piala Oscar, piala yang merupakan impian pembuat film di seluruh dunia.

-000-

Film Salesman dibuka dengan retaknya bangunan apartemen. Emad dan Rana, pasangan muda suami-istri kaget luar biasa. Bangunan apartemen itu sedang dievakuasi. Mereka bergegas keluar, dan akhirnya harus mencari apartemen baru.

Retaknya bangunan apartemen itu ternyata tak seberapa dibandingkan retaknya hubungan asmara mereka akibat kejadian dalam apartemen yang baru. Di sini terasa skill dan kehalusan Asghar selalu sutradara dan penulis mengolah dilema moral seorang suami, dan lelaki dalam masyarakat patriarkal Iran.

Tak ada peristiwa besar dalam film itu yang menjadi settingnya seperti revolusi atau perang. Sebagaimana dalam filmnya yang lain: Separation, About Elly, Salesman juga bertutur seputar masalah biasa yang ditemukan dalam kehidupan yang normal. Namun di dalam peristiwa biasa itu tetap tersimpan aneka dilema moral yang besar bagi hidup seorang individu.

Baik Emad dan Rana, keduanya pemain teater. Mereka sedang mementaskan naskah teater terkenal: The Death of Salesman, karya Arthur Miller. Dalam naskah itu, Emad sang suami sedang menghayati perannya sebagai Willy Loman, pribadi yang rapuh yang banyak hidup dalam imajinasinya sendiri. Kadang ia hidup dalam ilusi.

Peran itu sangat dihayati Emad. Murid-muridnya terkesan dengan penampilan Emad dan memanggilnya Salesman. Tak sadar, pribadi salesman yang kadang berilusi mempengaruhi pula kehidupan rumah tangganya.

Melalui koleganya di teater, Emad dan Rana mendapatkan apartemen yang baru. Tak diinfokan oleh pemilik apartemen, dulu yang tinggal di sana sebelum mereka seorang pelacur. Tetangga secara diam diam sering membicarakan. Tapi tak pernah ada kasus yang membuat pelacur itu dihakimi secara terbuka misalnya.

Drama dimulai ketika Emad pulang ke apartemen yang baru. Ia tak melihat istrinya ada di sana. Sedangkan di kamar mandi terlihat banyak bercak darah. Di tangga ke luar apartmen juga terlihat bercak darah.

Emad terkejut. Secepat kilat Emad mencari tahu dimana istrinya. Ia ke rumah sakit dan terlihat istrinya sedang tergolek dengan luka di beberapa bagian wajah. Tetangga bercerita ia menemukan istrinya pingsan. Menurut sebagian tetangga, itu semata mungkin istrinya tergelincir di kamar mandi.

Problem muncul karena sang istri mengalami trauma akibat kecelakaan di kamar mandi. Ia hanya bercerita sedikit-sedikit. Bahkan kadang kisahnya berbeda. Yang mana yang benar menjadi kabur di mata suaminya.

Pengakuan pertama istri sudah membuat Emad kaget. Ia tidak terjatuh di kamar mandi. Namun ada lelaki yang masuk ke kamar mandi dan menyerangnya.

Mengapa lelaki bisa masuk ke kamar mandi? Apakah ia mengenali wajah lelaki itu? Apa saja yang dilakukan lelaki itu di kamar mandi? Keterangan Rana tak pernah tuntas. Awalnya Emad berupaya empati. Namun akhirnya ia marah karena tak pernah jelas apa yang sebenarnya terjadi. Egonya sebagi lelaki dan suami sangat berguncang.

Ini semua akhirnya menjadi sumber pertengkaran. Namun berdua sepakat untuk tidak melaporkan kisah ini ke polisi. Di tangan polisi Iran kala itu, mereka kuatir akan berkembang gosip dan isu baru yang justru membuat buruk situasi.

Problem berikutnya datang ketika diketahui lelaki yang masuk itu meninggalkan uang. Rana mengira itu uang dari suaminya, Emad. Uang itu sudah dipakai Rana berbelanja.

Tapi Emad tak pernah meletakkan uang di sana. Emadpun berspekulasi ini uang lelaki yang masuk ke kamar mandi, yang seolah membayar kepuasan atau rasa bersalah. Konflik Emad dan Rana semakin menjadi.

Selanjutnya film menjadi kisah detektif mencari siapa lelaki yang masuk itu. Ada dua jejaknya. Pertama, pelat mobil yang diparkir di dekat rumah walau kemudian mobil itu menghilang. Kedua, jejak darah di tangga yang mungkin berasal dari kaki lelaki yang terluka ketika peristiwa di kamar mandi.

Emad mencari jejak itu dengan bantuan pihak lain yang bukan polisi resmi.

Ujung dari pencarian itu sebuah kejutan dan kembali memunculkan dilema moral. Lelaki yang masuk ke kamar mandi itu ternyata lelaki tua berpenyakitan. Lelaki itu sangat disayang keluarganya, tempat keluarganya bergantung. Dan lelaki tersebut ternyata pelanggan dari pelacur yang tinggal di apartemen itu sebelumnya.

Emad dan Rana bertengkar hebat soal apakah lelaki tua itu perlu dipermalukan di depan keluarganya sendiri. Lelaki itu mengaku mengira Rana yang di kamar mandi pelacur langganannya. Ia tak tahu jika pelacur itu sudah pindah. Ia memohon agar kisahnya jangan diungkap di depan keluarganya. Penyakit jantungnyapun kambuh.

Ujar Emad, keluarganya perlu tahu siapa ia sebenarnya. Ia bejad dan tak layak mendapatkan respek keluarganya sebesar itu. Ujar Rana, motifmu bukan lagi melindungiku tapi samata balas dendam dan ego kelaki-lakianmu terganggu. Ia tak sejahat yang kau duga.

Dalam film kita menyaksikan bercampurnya peran Emad dalam teater dan dalam kehidupan nyata. Kadang kisah dalam kehidupan nyata, oleh Emad dimasukkan ke dalam teater sehingga ucapannya berbeda dengan skenario asli. Kadang perannya di teater selaku lelaki yang penuh ilusi mempengaruhi pula lakonnya dalam kehidupan nyata selaku suami.

Namun Emad menghadapi hidup yang tak lagi mudah. Selaku kepala rumah tangga ia tak bisa terlalu dominan lagi. Ia hidup di masyarakat Iran yang juga mulai berubah, dimana peran istri juga semakin menentukan.

Retak trust suami istri di apartemen yang baru itu memang lebih sulit diatasi ketimbang retaknya dinding apartemen mereka yang lama. ***

  • view 109