Che Guevara di atas Motor (Review Film Motorcycle Diary, 2004)

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 30 Maret 2017
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

62 K Wilayah Umum
Che Guevara di atas Motor (Review Film Motorcycle Diary, 2004)

Che Guevara di atas Motor
(Review Film Motorcycle Diary, 2004)

Denny JA

Tahun 1967, Fidel Castro berpidato mengabarkan kematian Che Guevara.

"Jika ditanya, siapa manusia yang layak dijadikan teladan? Che jawabnya.
Apa yang layak diajarkan pada anak-anak sekolah? Didik mereka mempunyai spirit Che Guevara"

Nelson Mandela tak kalah memuji: Che Guvara memberikan kita inspirasi hidup seorang pejuang kebebasan. Bahkan seorang sastrawan kritis Jean Paul Satre ikut menyatakan hal yang melambung: Che bukan saja seorang intelektual, ia menampilkan sosok manusia paling lengkap di era kita.

Sebuah film dibuat jauh sebelum Che Guevara menjadi tokoh revolusioner dunia. Dalam film ini, Che yang masih lebih sering dipanggil Fuser, di tahun 1952, masih tumbuh sebagai anak muda hura hura. Ketika itu ia masih berusia 23 tahun.

Yang unik dalam film ini, bukan saja kisahnya ditulis oleh Che sendiri. Tapi ini true story kisah perjalannya dengan motor bersama sahabat, mengelilingi aneka negara amerika latin. Ia menghabiskan waktu 4,5 bulan dan menjelajahi tak kurang total 14 000 km.

-000-

Masa muda Che yang dipanggil Fuser awalnya seorang petualang biasa, sebagaimana anak muda pada umumnya. Alberto sahabatnya membujuknya dengan menunjuk seorang tua yang duduk mengantuk di ujung sana.

"Coba kau lihat lelaki tua itu Fuser. Apa kau ingin hidupmu berakhir seperti itu? Ia ngantuk, letih dan bosan? Ayo kita bertualang. Kita nikmati aneka gadis Amerika Latin." Kita naik sepeda motor saja menyusuri keindahan Amerika Latin!

Lalu Alberto menunjukkan peta. Dengan spidol ia gambarkan rute aneka negara yang akan mereka lalui. Bermula dari negara mereka Argentina hingga ke Peru. Alberto sangat ingin sampai ke Peru dan nanti bekerja di sana.

Fuser awalnya ragu. Ia digambarkan sebagai anak mama, yang sangat dekat dengan keluarga, dan hobi menulis buku harian. Sekolahnya di bidang kedokteran belum selesai. Lebih dari itu ia terkena penyakit asma.

Ibu begitu memperhatikan Fuser. Dengan berat hati keluarga melepas Fuser berpetualang dengan motor. Hanya satu pesan ibu, jangan lupa obat asma.

Awalnya tak ada yang istimewa dalam petualangan motor itu. Fuser mengunjungi aneka tempat. Mereka datang pada kenalan lama. Fuser nikmati pesta dansa. Tak lupa ia bercumbu dengan sang gadis. Semua serba hura hura, mencari kesenangan, menikmati masa muda.

Pelan-pelan situasi berubah. Fuser dan Alberto semakin menunjukkan karakter yang berbeda. Alberto lebih lincah bergaul, pandai memikat wanita, lihai berdansa, dan asyik berbasa-basi, tipu sana dan sini untuk menyenangkan aneka tempat yang dikunjungi.

Fuser lebih kaku, tak bisa berdansa, tak ingin berbasa-basi. Ia memilih terus terang walau membuat tak nyaman orang yang mereka temui. Mereka acapkali bertengkar. Gara gara keterus terangan Fuser, banyak kenikmatan yang seharusnya mereka peroleh menjadi batal.

Mereka misalnya pernah dijamu oleh seorang dokter yang sangat ingin menjadi novelis. Berdua mereka diberikan novel itu untuk dibaca. Dengan hati bangga, penulis novel minta komentar. Alberto memberikan pujian yang berbunga-bunga. Tuan rumah sangat senang.

Namun Fuser menyatakan apa adanya: novelmu membosankan. Mengapa dirimu tidak fokus menjadi dokter saja. Melihat tuan rumah agak tersudut, Fuser menyatakan ia harus berterus terang karena itu cara ia menghormati tuan rumah.

Dalam perjalanan, Alberto menegur Fuser mengapa ia tak mau sedikit berbohong. Perjalanan mereka membutuhkan penerimaan orang banyak. Namun Fuser menolak berbohong. Ia harus jujur menyatakan isi hatinya, apapun resikonya.

-000-

Petualangan perjalanan itu akhirnya sampai pada suasana yang mengubah hidup Fuser. Setidaknya ada tiga tempat dan tiga peristiwa yang kemudian mengubah Fuser menjadi Che Guevara.

Mereka menyaksikan banyak kemiskinan dan ketidak adilan. Begitu terenyuh hati Fuser melihat sebuah keluarga miskin yang diperlakukan semena-mena oleh perusahaan tambang. Tanpa kuasa, keluarga ini hanya bisa menerima ketidak adilan itu jika ingin survive.

Ia juga menyaksikan suku yang sangat arif dan ahli merawat tradisi dan gaya arsitektur ratusan tahun. Namun semua menjadi rusak karena masuknya kapitalisme. Segala hal dikomoditikan dan dikomersialkan. Yang tak ikut kultur komersial, akan tersingkir.

Iba fuser pada kaum papa dan tersingkir semakin tumbuh. Suatu ketika ia melihat dua masyarakat yang dipisahkan oleh sungai. Di seberang sana tinggal komunitas penyakit lepra yang menular dan miskin. Mereka diasingkan agar tidak menularkan penyakit pada komunitas lain.

Fuser mulai menunjukkan kapasitas emosi, komitmen dan kepedulian yang tak biasa. Ia mengajak Alberto melayani komunitas lepra itu. Ia bahkan menolak memakai sarung tangan. Mereka datang di pagi hari. Lalu malam hari kembali menyebarang tinggal di sebrang sungai.

Dilayaninya mereka yang terkena lepra dengan hati. Ia ajak bicara dari hati ke hati.

Di suatu malam, para dokter dan suster merayakan ultah Fuser yang ke 24. Selesai perayaan, Fuser ke pinggir sungai. Ditatapnya kembali komunitas lepra di seberang sungai itu. Nekad ia berkata, ia akan berenang menyebrang sungai untuk tidur dengan mereka. Itu caranya merayakan ulang tahun.

Alberto mati matian mencegahnya. Tak pernah ada orang yang bisa menyebrangi sungai itu malam hari. "Ibumu akan membunuhku. Please Fuser, jangan lakukan." Alberto sangat kwatir apalagi Fuser terkena asma yang mudah sekali kambuh jika kedinginan. Dalam perjalanan beberapa kali Fuser kambuh asmanya dan fatal.

Namun tak ada yang bisa mencegahnya. Iapun terjun ke sungai dan menyebrang. penduduk gempar. Semua melihat Fuser berenang tanpa bisa menolong dan lainnya. Malam hari tak ada perahu.

Fuser sampai ke seberang dalam kondisi yang hampir pingsan. Iapun bermalam di rumah penduduk lepra itu hingga pagi.

Sejak malam ini Alberto merasa Fuser bukan orang biasa. Ada api yang membuatnya mampu melakukan hal yang tak terbayangkan.

-000-

Perjalananpun sampai ke Peru. Motor tak bisa digunakan sejak separuh jalan. Kadang mereka berjalan kaki. Kadang menumpang truk. Sepanjang perjalanan, Fuser menyaksikan dan mendengar kisah kemiskinan dan ketidak adilan.

Alberto memilih tinggal dan bekerja di Peru. Ia mengajak Fuser bergabung. Fuser menjawab: perjalanan ini sudah mengubahku. Ada panggilan lain yang harus aku jalani. Merekapun berpisah.

Fuser dengan pesawat kembali ke Argentina. Setelah itu iapun menjelma menjadi legendaris Che Guevara.

Selesai menonton film ini lama saya merenung. Banyak hal tak terduga bisa mengubah anak muda yang awalnya hura hura menjadi gerilyawan revolusioner.

Beruntunglah mereka yang terus membuka diri. Beruntunglah mereka yang berpetualang, dan akhirnya berani memilih jalan hidup penuh passion, walau beresiko sekalipun.

***

  • view 106