Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

14.5 K Hak Cipta Terlindungi

Buku Atas Nama Cinta karya Denny JA: Isu Sosial dalam Puisi Indonesia

Buku Atas Nama Cinta karya Denny JA: Isu Sosial dalam Puisi Indonesia Buku Atas Nama Cinta karya Denny JA: Isu Sosial dalam Puisi Indonesia

Oleh Jamal D. Rahman

 

 

Astaga! Dijepitnya leherku

Dibekapnya mulutku

...

Aku rebut pisau itu

Kutancapkan tepat di perutnya.

...

 

Dan lelaki itu pun terkapar. Mati. Aminah nekat melawan majikan Arabnya yang membekapnya, dan telah menyiksanya berulangkali. Kamar yang tadi gaduh itu kini sunyi. Namun perasaan Aminah masih bergolak. Dia coba tahan amarahnya yang masih membuncah. “Ya Allah,” seru Aminah kemudian, lirih sekali. Suaranya memantulkan gebalau sesal meskipun dia sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah tindakan membela diri. “Berguncang-guncang dadaku,” katanya lagi. Lalu dia memohon ampun kepada Tuhan:

aku genggam tasbih itu

Selalu.

Basah kuyup tasbih itu

Oleh airmataku

Selalu.

Tangan dan bibirku gemetar

Menciuminya

Selalu.

 

Tapi Aminah tetap dihukum pancung.

Ini kisah tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Arab Saudi, kisah yang memang seringkali terjadi. Tapi puisi berjudul “Aminah Tetap Dipancung” tak hanya menceritakan nasib tragis seorang TKW yang malang. Yang lebih penting, ia juga mengemukakan gebalau perasaan dan konflik batin keluarga Aminah, terutama Aminah sendiri dan suaminya. Di antaranya adalah konflik batin antara perasaan berat meninggalkan keluarga di satu sisi dan tuntutan ekonomi yang memaksanya pergi ke Saudi Arabia untuk mengais rejeki di sisi lain. Antara perasaan berdosa membunuh majikan di satu pihak dan perasaan bangga telah berhasil membela diri di pihak lain. Juga gebalau perasaan rindu pada anak tercinta di kampung halaman, yang tentulah amat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Juga rindu pada suami. Aminah sadar bahwa mereka —yang sama-sama dibakar rindu dan cinta— tak akan bertemu lagi, selamanya. Sebab, pengadilan telah menvonis: Aminah harus mati di tangan algojo.

Puisi “Aminah Tetap Dipancung” adalah satu dari lima puisi naratif dalam buku Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai (Jakarta: Renebook, April 2012) karya Denny JA. Sebagai puisi naratif, ia mengingatkan kita pada puisi balada Rendra dan Pengakuan Pariyem Linus Suryadi AG dalam puisi Indonesia modern, atau lebih jauh lagi ke belakang, ke bentuk kisah dalam syair-syair Melayu-Indonesia. Puisi Denny JA menghidupkan lagi bentuk cerita dalam puisi, yang nyaris hilang dalam puisi Indonesia sejak beberapa dekade silam. Lebih dari itu, ia mengingatkan juga bahwa cerita tak hanya penting dalam prosa fiksi dan drama, melainkan juga dalam puisi.

 

Yang Tetap dan Yang Berubah

Buku puisi Atas Nama Cinta adalah kumpulan kisah manusia Indonesia bernasib tragis sebagai korban diskriminasi sosial akibat tekanan ekonomi, perbedaan etnis (“Sapu Tangan Fan Yin”), perbedaan aliran agama (“Romi dan Yuli dari Cikeusik”), perbedaan orientasi seksual (“Cinta Terlarang Batman dan Robin”), dan perbedaan agama (“Bunga Kering Perpisahan”). Secara umum ia ingin menegaskan bahwa diskriminasi merupakan sumber konflik yang selalu menelan korban, baik konflik lunak maupun keras. Diskriminasi bahkan mengorbankan cinta antarmanusia, sedalam apa pun cinta mereka. Tapi ternyata cinta tak bisa benar-benar dikalahkan, tak bisa ditaklukkan, tak bisa dihancurkan. Cinta sejati tetap kokoh di hadapan ancaman diskriminasi, betapapun ia seringkali jadi korban yang mengenaskan.

Semua puisi dalam buku ini menempatkan diskriminasi dalam posisi berhadapan dengan cinta. Diskriminasi berada di satu kutub yang sepenuhnya negatif; cinta berada di kutub lain yang sepenuhnya positif namun selalu menjadi korban diskriminasi. Jika diskriminasi memisahkan, maka cinta menyatukan. Jika diskriminasi menghancurkan, maka cinta menyelamatkan. Jika diskriminasi mematikan, maka cinta menghidupkan. Oleh karena itu, meskipun bentuk diskriminasi berbeda-beda, masalah yang timbul relatif sama, yaitu cinta yang terancam oleh berbagai bentuk diskriminasi itu sendiri. Dan dengan diskriminasi yang keras, cinta akhirnya menghancurkan perasaan, hati, bahkan hidup manusia.

Lihatlah kisah cinta dalam “Cinta Terlarang Batman dan Robin”. Adalah Amir, seorang anak muda yang berpendidikan pesantren, lembaga pendidikan Islam tradisional. Sejak muda dia jatuh cinta pada Bambang, demikian juga sebaliknya. Amir tahu bahwa cintanya pada Bambang adalah cinta yang menyimpang. Amir sendiri sebenarnya ingin mencintai perempuan. Demikianlah maka Amir kawin dengan Rini, gadis pilihan ibunya. Namun perkawinan dengan Rini tak menumbuhkan cinta Amir pada sang istri. Amir tetap mencintai pria. Amir pun ingin berterus terang pada ibunya bahwa dia adalah seorang gay. Tapi dia tak ingin menyakiti sang ibu. Begitulah Amir akhirnya tak menyampaikan pengakuannya, hingga sang ibu meninggal dunia.

Sampai Amir merasa tiba waktunya untuk berterus terang pada ibu dan istrinya. Di pusara sang ibu, dengan sedih Amir berkata:

 

Aku seorang homoseks, Ibu!

Sudah kulawan naluriku selama ini

Tapi tak mampu aku!

Aku tetap seorang homoseks!

Maafkanlah aku, Ibu.

 

Lalu Amir ingin menyampaikan pengakuannya dengan jujur kepada istrinya. “Tak ada niat menyakitimu, sayang. Tapi hatiku tidaklah normal —apa daya?” Amir menitikkan air mata, lalu berdoa:

 

Ya Allah, Kau jadikan ragaku lelaki

Tetapi hatiku sepenuhnya perempuan,

Kini ikhlas kuterima semuanya

….

 

Rini pun pergi meninggalkan Amir. Lalu Amir mencari Bambang, kekasihnya yang dulu. Tapi Bambang sudah terbang ke Amerika, kawin secara resmi di gereja, dengan pria pujaannya.

Lihat pula kisah cinta dalam “Bunga Kering Perpisahan”. Adalah Dewi dan Albert yang saling mencintai satu sama lain. Namun perbedaan agama antara keduanya menjadi sandungan cinta mereka. Dewi tumbuh dalam keluarga Islam yang taat. Tahu bahwa Albert adalah seorang Kristen, orangtua Dewi tak menyetujui hubungan mereka. Dewi akhirnya dijodohkan dengan Joko. Sebagai anak yang taat pada orangtua, Dewi menerima Joko sebagai suami, dan sebisa mungkin berusaha mencintainya. Dia melayani Joko sebagaimana seharusnya seorang istri. Tapi cinta tak kunjung terbit, sampai akhirnya Joko meninggal setelah sepuluh tahun menjalankan bahtera rumah tangga. Di puncak malam, suatu kali Dewi berdoa:

Ya Allah, ampunilah aku.
Segala cara telah kutempuh
Segala tenaga telah tercurah
Agar bisa menjadi
Istri yang baik, istri yang setia,
Tetapi mengapa tak kunjung terbit
Nafsu cintaku kepadanya?
Mengapa justru Albert yang selalu ada
Di pelupuk mata?
Ya Allah, aku telah gagal jatuh cinta
Kepada suamiku sendiri!

 

Rupanya, cinta Dewi kepada Albert tidak padam benar. Dewi sendiri masih menyimpan bunga pemberian Albert dulu, yang tak pernah dibukanya selama Dewi mengarungi hidup bersama Joko. Tentu bunga itu kini sudah layu. Dewi sedih tak alang-kepalang setelah tahu bahwa Albert sudah tiada, tanpa pernah mencintai perempuan lain, sebagaimana janjinya kepada Dewi dulu.

Sebagaimana cinta Amir dan Bambang —yakni cinta sesama jenis— tak mungkin mengantarkan mereka ke pelaminan, demikian juga cinta Dewi dan Albert yang adalah cinta-beda-agama tak bisa mengantarkan mereka ke ranjang pengantin. Meskipun Dewi berusaha mencintai suaminya, Joko, dan melayaninya sebagaimana seharusnya seorang istri, dan mereka pun jadi keluarga yang baik, bagaimanapun Dewi tak kunjung benar-benar mencintainya. Pada saat yang sama, meskipun Dewi berusaha melupakan Albert, cinta Dewi kepada Albert tak benar-benar padam. Bunga pemberian Albert memang kering dan layu, tapi tak benar-benar sirna. Sementara itu, tanpa pernah mencintai perempuan lain, Albert akhirnya mengembara dari gunung ke gunung, sampai dia meninggal di sana.

Pilihan atas cinta sebagai subtema puisi merupakan strategi naratif untuk memperkeras konflik cerita dan membangun suasana tragisnya. Kisah cinta jadi dramatis sebagai akibat diskriminasi, sehingga tokoh-tokoh protagonisnya mengalami nasib amat menyedihkan. Ini merupakan teknik yang umum dalam mengaduk-aduk emosi pembaca dan menggugah perasaan mereka, yang dengannya mereka (diharapkan) akan bersimpati terhadap korban-korban diskriminasi tersebut. Nada seluruh puisi sendiri memberikan simpati kepada seluruh korban.

Namun pada titik lain, pilihan atas cinta sebagai strategi naratif itu justru mendistorsi sisi negatif diskriminasi: seakan-akan korban paling serius dari diskriminasi adalah cinta. Korban diskriminasi pastilah lebih serius tinimbang “sekedar” cinta. Dampak diskriminasi tentu saja jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih buruk lagi. Diskriminasi memang bisa mengorbankan cinta, satu hal yang bagi manusia mungkin paling berharga. Namun lebih dari itu, diskriminasi bahkan bisa menghancurkan manusia dan kemanusiaan, sebab diskriminasi pada dasarnya adalah sikap anti-manusia dan kemanusiaan. Oleh karenanya, diskriminasi tak bisa diterima dari sudut apa pun.

Dalam konteks itu, tampak ada yang tetap dan ada yang berubah menyangkut kisah cinta dalam sejarah manusia dan sejarah sastra, khususnya sastra Indonesia. Yang tetap adalah bahwa cinta memang seringkali mengalami nasib tragis dari waktu ke waktu. Ini merupakan repitisi sejarah dalam kehidupan umat manusia, dan merupakan reproduksi literer dalam sejarah sastra di mana pun. Cinta yang berakhir tragis terus terjadi dan direproduksi dari masa ke masa. Demikialah kisah-kisah cinta yang menyedihkan menjadi ingatan banyak orang: Romeo dan Juliet, Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, Corrie dan Hanafi, Hayati dan Zainuddin, dan seterusnya.

Yang berubah adalah sumber-sumber diskriminasi yang mengakibatkan kisah cinta jadi tragis. Di sini, kisah cinta jadi tragis bukan lagi karena persaingan bisnis orangtua (sebagaimana dalam Sitti Nurbaya Marah Rusli); bukan pula karena perbedaan orientasi budaya (sebagaimana dalam Salah Asuhan Abdul Muis); bukan pula karena adat (sebagaimana dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck HAMKA). Alih-alih, kisah cinta jadi tragis karena diskriminasi sosial akibat isu-isu modern: perbedaan etnis, perbedaan aliran agama, arogansi immoral majikan atas pekerja migran, LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), dan perbedaan agama. Dengan demikian, sumber-sumber diskriminasi dalam kisah cinta Atas Nama Cinta ini merupakan isu global —dan semuanya merupakan isu aktual di Indonesia.

Isu-isu tersebut merupakan isu relatif baru di Indonesia, yang tentu saja memperpanjang daftar diskriminasi sosial yang sudah ada, misalnya masalah gender dan disabilitas. Meskipun sebagiannya merupakan isu lama, misalnya sentimen etnis, namun terutama dalam sepuluh tahun terakhir ketegangan bahkan konflik dari semua isu tersebut mengalami eskalasi di Indonesia, dengan dampak-dampaknya yang sangat buruk. Tak syak lagi, buku ini adalah potret fenomena sosial dan agama di Indonesia dewasa ini, sekaligus ekspresi dari kegelisahan penyair atas fenomena tersebut. Itu sebabnya, isu-isu dalam buku ini bukan saja aktual, melainkan juga relevan terutama untuk Indonesia.

 

Pilihan Berisiko

Kecuali isu TKW, isu-isu lain yang diangkat Denny dalam buku puisi pertamanya ini merupakan isu kontroversial, tidak populer, dan sensitif. Di Indonesia, isu-isu tersebut mengandung pro dan kontra dengan tingkat ketegangan yang cukup tinggi. Dilihat dari berbagai segi, kekuatan dua kelompok yang bersitembung tidaklah berimbang. Dibanding kelompok sosial yang pro, kelompok sosial yang kontra terhadap Ahmadiyah, LGBT, dan perkawinan beda-agama jauh lebih besar. Sentimen etnis pun amat rentan dalam dinamika sosial dan politik Indonesia. Pada tataran konkret, korban-korban diskriminasi dalam isu-isu tersebut tentu saja adalah kelompok minoritas yang tak berdaya di hadapan kedigdayaan mayoritas. Oleh karenanya, isu-isu itu tidak populer, bahkan sensitif terutama di tengah kerasnya suara kelompok mayoritas yang menentangnya.

Di tengah kerasnya penolakan mayoritas, mengambil isu-isu tersebut untuk puisi merupakan langkah berisiko di antara pilihan-pilihan isu sosial yang mungkin diambil. Dengan mengangkat isu yang ditampik secara sosial, berarti puisi menyuarakan apa yang ingin dibungkam. Puisi memberi tempat bagi apa yang ingin disingkirkan. Menyuarakan dan memberi tempat bagi apa yang ingin dibungkam dan disingkirkan dapat dipandang sebagai menentang sekaligus menantang suara mayoritas. Lagipula, bukankah begitu banyak isu sosial lain yang populer, yang bahkan lebih menuntut kepedulian dan komitmen sosial puisi, seperti korupsi dan ketidakadilan ekonomi?

Terutama pada isu-isu kontroversial, tak populer, dan sensitif inilah terletak arti penting isu sosial dalam puisi Denny JA. Pada umumnya puisi sosial di Indonesia mengangkat isu-isu populer, yakni isu yang pasti didukung oleh mayoritas, seperti isu korupsi, kemiskinan, atau solidaritas untuk korban berbagai bencana. Ini bukan berarti isu sosial yang tidak populer lebih penting dibanding isu sosial yang populer. Sekali lagi, kecenderungan umum puisi sosial Indonesia adalah memilih isu-isu sosial yang populer. Nah, dengan memilih isu-isu sosial yang tidak populer, Denny JA mengambil kecenderungan lain di antara kecenderungan umum puisi sosial Indonesia.

Dan itu sudah cukup jadi alasan untuk menerima puisi Denny JA dengan bahasanya yang sederhana, betapapun tidak mengesankan sebagai bahasa puisi. Bagaimanapun, puisi tak hanya harus diukur dari kecanggihan bahasanya. Bahkan melulu mengharapkan kecanggihan bahasa puisi bisa terjatuh ke dalam estetisme. Ada kalanya puisi mesti diukur dari relevansi sosialnya, di mana puisi merekam, mengekspresikan, dan merefleksikan semangat zaman dan masyarakat, termasuk bersimpati pada kelompok-kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi sosial.

Dilihat dari struktur ceritanya, puisi-puisi Denny tidak secara langsung membela para korban diskriminasi sosial, melainkan lebih mencoba menyelami perasaan dan konflik batin mereka. Demikian juga, kisah-kisah itu tidak secara langsung melawan para pelaku diskriminasi, baik diskriminasi atas dasar aliran agama, perbedaan agama, perbedaan etnis, maupun orientasi seksual. Tapi pada titik itulah terletak sisi pelik isu-isu kontroversial itu, sebab menyelami perasaan korban bisa dipahami sebagai simpati terhadap kelompok yang pro isu-isu sensitif tersebut, bahkan bisa dipandang sebagai membela pandangan atau paham mereka yang tidak diterima oleh mayoritas.

Menyelami perasaan korban diskriminasi sosial dalam isu LGBT, misalnya, bisa dianggap membela kepentingan kaum LGBT itu sendiri. Bersimpati pada pengikut Ahmadiyah sebagai korban diskriminasi atas dasar aliran agama (Islam), bisa dipahami sebagai membela pengikut Ahmadiyah itu sendiri, bahkan membela ajaran Ahmadiyah yang oleh Islam arus utama dipandang menyimpang. Lebih jauh, membela kelompok-kelompok minoritas ini bisa dipandang sebagai mendukung pandangan, paham, dan ajaran mereka. Di tengah kuatnya mayoritas menyangkut isu-isu tidak populer ini, risiko tersebut seringkali tak terhindarkan.

Tapi tunggu. Bersimpati pada korban diskriminasi tidak dengan sendirinya berarti membela apalagi mendukung pandangan mereka. Sebab, bersimpati pada korban adalah satu hal, sedangkan mendukung pandangan mereka adalah hal lain. Bersimpati pada seorang gay yang menjadi korban diskriminasi sosial tidak selalu berarti mendukung orientasi seksual mereka. Demikian juga bersimpati pada pasangan beda-agama yang menjadi korban dogmatisme agama dan sosial tidak selalu berarti mendukung perkawinan beda-agama.

Alih-alih, dengan menggali perasaan para korban, puisi itu menunjukkan betapa kompleksnya cinta manusia di hadapan dogmatisme sosial. Betapa rumitnya dunia batin manusia di hadapan dogmatisme agama. Juga betapa rumitnya dogmatisme itu sendiri, yang dampaknya justru bisa bertentangan dengan prinsip-prinsip atau nilai-nilai dasarnya sendiri. Jika kawin sesama jenis dan kawin beda-agama menyalahi kehendak Tuhan, bukankah seorang gay dan penganut agama-berbeda yang saling jatuh cinta bagaimanapun memiliki kesadaran relijius, sebagaimana diartikulasikan dalam kutipan puisi di atas? Jauh di dasar kesadaran relijius Amir dan Dewi, mereka mengadukan masalah pribadi mereka masing-masing kepada Tuhan.

Pada titik itulah, puisi mencoba melihat sesuatu bukan dari sudut pandang umum, melainkan dari sudut pandang mata puisi sendiri. Mata puisi melihat suatu nilai pada hal-hal yang oleh umum dianggap tak bernilai. Mata puisi melihat harga pada sesuatu yang oleh umum dianggap tidak berharga. Dengan cara itu, puisi memberi nilai dan harga pada hal-hal yang dianggap remeh-temeh, misalnya perasaan dan dunia batin seseorang. Demikianlah maka bagi puisi, alangkah berartinya pergolakan batin seseorang menghadapi dogmatisme di tengah lanskap sosial yang pengap dan sesak. Dengan melihat perasaan dan dunia batin seseorang sebagai sesuatu yang bernilai dan berharga, ia menguji sejauhmana dogmatisme dan berbagai orientasi dominan memenuhi rasa keadilan manusia.

Bagaimanapun, korban diskriminasi layak mendapatkan simpati, bahkan harus dibela. Orang tak boleh dikucilkan baik secara mental maupun sosial atas dasar orientasi seksual atau orientasi keagamaan mereka, betapapun orientasi seksual dan keagamaan mereka tak dikehendaki secara sosial. Orang tak boleh didiskriminasi hanya atas dasar pilihan-pilihan mereka yang merupakan hak mereka.

Lebih dari itu, korban-korban diskriminasi bagaimanapun adalah manusia. Manusia saja sudah cukup untuk dibela dari berbagai bentuk diskriminasi. Dalam konteks itu, kalaupun puisi Denny JA dapat dipandang sebagai sebentuk pembelaan terhadap korban diskriminasi, apa yang dibelanya bukanlah apa yang secara sosial atau dogmatis dianggap menyimpang. Yang dibelanya adalah manusia. Dalam posisi terdiskriminasi, manusia bagaimanapun memang harus dibela, apa pun (aliran) agama, etnis, atau orientasi seksualnya. Karena manusia adalah makhluk mulia, maka membela manusia dari berbagai bentuk diskriminasi merupakan panggilan moral bahkan juga relijius. Itu sebabnya, korban-korban diskriminasi harus selalu dibela. Juga oleh puisi.

 

Cara Pandang Ilmuwan Sosial

Sebagai penyair, Denny JA adalah pendatang relatif baru dalam puisi Indonesia. Namun dia menunjukkan keseriusannya dalam menulis puisi sebagai ekspresi renungan, perhatian, dan kepeduliannya terhadap isu-isu sosial. Setelah buku puisi pertamanya ini, dia produktif menulis puisi dengan tema-tema yang kian luas, dan sudah terbit beberapa buku lagi. Yang juga penting adalah usahanya agar puisi-puisinya —yang berarti gagasan dan renungannya— sampai tidak saja kepada publik sastra, melainkan juga kepada publik seluas mungkin. Untuk itu dia tak hanya menggunakan media cetak, melainkan juga multimedia. Di samping terbit sebagai buku, puisi-puisinya difilmkan, didramakan, dimusikkan, dibacakan, dijadikan lukisan, dan lain-lain, yang semuanya bisa diakses di media-media online. Dengan cara itu, gagasan-gagasannya sampai tidak hanya kepada publik sastra, melainkan juga publik film, drama/teater, musik, dan seni lukis, bahkan juga publik-publik lain yang luas.

Denny menyebut puisinya dalam Atas Nama Cinta dengan puisi esai. Apa beda puisi esai dengan puisi yang biasa kita kenal? Denny sendiri menetapkan kriteria puisi esai, yang secara garis besar dapat dirumuskan sebagai puisi yang mengemukakan sisi batin seorang tokoh (atau lebih) dalam larik-larik yang puitis, dan secara langsung mengaitkannya dengan konteks, data, dan fakta sosial lewat catatan kaki. Dengan demikian, puisi esai menghadirkan fiksi dan fakta sekaligus: fiksi dalam puisi; fakta dalam catatan kaki. Karenanya, puisi esai dilengkapi dengan catatan kaki yang berfungsi menjembatani fakta dengan fiksi. “Kehadiran catatan kaki dalam karangan [puisi esai] menjadi sentral,” tulis Denny dalam Pengantarnya.

Sebagaimana diyakini misalnya dalam orientasi kritik mimetik, puisi tentu saja mengekspresikan dan merefleksikan keadaan suatu masyarakat. Maka dalam puisi esai, segi-segi faktual dari kehidupan masyarakat yang diacu puisi esai atau merupakan konteksnya —yang diekspresikan dan direfleksikan dalam puisi— dihadirkan dalam catatan kaki. Puisi esai tak hanya merefleksikan suatu fenomena dan fakta sosial, melainkan juga menampilkan fakta sosial yang diimajinasikannya. Ia menghadirkan pula fakta sosial yang darinya sebuah kisah fiksional dibangun sekaligus merupakan konteksnya. Dengan demikian, keadaan atau fenomena sosial yang diekspresikan dan direfleksikan dalam puisi tampak demikian konkret.

Pada hemat saya, Denny JA menulis puisi dengan cara pandang seorang ilmuwan sosial —sebab dia memang seorang ilmuwan sosial. Bagi seorang ilmuwan sosial, fakta, data, dan fenomena sosial tentu bersifat primer. Sedangkan fiksi dan imajinasi bersifat sekunder. Karena primer, maka fakta sosial tak boleh diabsenkan dalam puisi. Ia harus hadir, di ranah fiksi atau imajinasi sekalipun. Demikianlah maka meskipun puisi esai merupakan ranah imajinasi dan fiksi, fakta dan data sosial tetaplah harus dihadirkan, yaitu dalam catatan kaki puisi esai itu sendiri.

Ini berbeda dengan cara pandang seorang penyair. Bagi penyair, yang primer adalah fiksi (imajinasi), sedangkan fakta (sosial) bersifat sekunder. Dalam hubungannya dengan puisi, fakta sosial hanyalah sumber inspirasi. Sekali penyair berhasil menimba inspirasi dari sebuah fakta sosial, dia akan mengabaikan fakta sosial itu sendiri dalam puisinya. Dia mungkin menyamarkannya, menyembunyikannya, mengubahnya, menguranginya, menambahinya, atau menjadikannya sebagai fiksi. Setelah seorang penyair menemukan fiksi atau imajinasi dari sebuah fakta sosial, dia bahkan mungkin sepenuhnya mengabsenkan fakta sosial tersebut dalam puisinya.

Di samping itu, apa yang dianggap fakta dan menjadi perhatian seorang ilmuwan sosial tak lain adalah fakta sosial. Tidaklah mengherankan kalau kelima puisi Denny dalam buku ini memiliki konteks dan berkaitan dengan fakta sosial tertentu. Sementara bagi penyair, apa pun sejauh menarik perhatiannya akan menjadi fakta penting sebagai sumber inspirasi puisinya. Bahkan, sebagai sumber inspirasi puisi, bagi seorang penyair sepotong rembulan atau setangkai bunga bisa lebih berarti tinimbang suatu kejahatan sosial. Namun bagi seorang ilmuwan sosial, isu-isu sosial tentu lebih menarik dibanding sepotong rembulan atau setangkai bunga.  

Dalam pada itu, Denny adalah juga aktivis sosial. Dan ini tampaknya membawa konsekuensi lebih jauh. Sebagai aktivis sosial, maka perhatian dan kepeduliannya dibidikkan ke arah korban isu-isu sosial. Seluruh puisi dalam buku ini adalah kisah korban-korban diskriminasi sosial, tanpa satu pun kisah korban bencana alam misalnya. Ini bisa dipahami, karena bagi ilmuwan sosial yang juga aktivis sosial, korban diskriminasi sosial pastilah lebih menarik perhatiannya ketimbang korban bencana alam yang paling dahsyat sekalipun. Demikianlah maka korban diskriminasi sosial akibat perbedaan aliran agama (“Romi dan Juli dari Cikesik”) lebih menarik perhatiannya tinimbang korban tsunami misalnya. Seorang gay sebagai korban diskriminasi sosial (“Cinta Terlarang Batman dan Robin”) lebih menggugah kepeduliannya tinimbang misalnya korban gempa bumi 9,7 skala richter.

Tentu ini tidak berarti dia tidak punya simpati dan solidaritas terhadap korban bencana alam. Korban bencana adalam adalah satu hal, sedangkan korban diskriminasi sosial adalah hal lain. Korban bencana alam bukanlah korban dari suatu sistem sosial yang tidak adil dan diskriminatif. Sudah barang tentu memberikan simpati dan solidaritas untuk korban bencana alam merupakan keharusan moral. Namun simpati dan solidaritas terhadap korban bencana alam tak mengandung perlawanan terhadap suatu kekuatan atau kekuasaan yang menjadikan mereka korban.

Dalam pada itu, spirit seorang aktivitis sosial adalah melawan bentuk-bentuk ketidakadilan, diskriminasi, dan penindasan terhadap manusia dalam relasi kuasa mereka di tengah kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Demikianlah maka di satu sisi, seorang aktivis sosial memiliki simpati dan solidaritas terhadap korban ketidakadilan dan diskriminasi sosial. Di lain sisi, dengan simpati dan solidaritasnya untuk korban-korban diskriminasi, seorang aktivis sosial sesungguhnya sedang melancarkan perlawanan terhadap sumber-sumber ketidakadilan dan diskriminasi sosial itu sendiri. Salam. []

 

 

Jamal D. Rahman, penyair Indonesia, penerima Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) 2016.

Denny JA

Buku Atas Nama Cinta karya Denny JA: Isu Sosial dalam Puisi Indonesia

Karya Denny JA Kategori Project dipublikasikan 20 Maret 2017
Ringkasan
Oleh Jamal D. Rahman
Dilihat 57 Kali