MENGENYANG MAKNA RELIGIUS DALAM PUISI DENNY JA

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 20 Maret 2017
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

16.3 K Hak Cipta Terlindungi
MENGENYANG MAKNA RELIGIUS DALAM PUISI DENNY JA

 

Oleh; Dr. Phaosan Jehwae

(Dosen di Universitas fathoni, Thailand)

 

Puisi karya Denny JA, bukanlah puisi yang biasa-bisa saja. Bukan pula puisi yang dapat dipahami dengan sekali baca. Apa lagi bagi orang awam atau masyarakat biasa. Mereka kemungkinan agak sulit untuk memahami makna-makna yang tersirat dalam puisi itu. Namun, bukan berati puisi Denny tidak dapat dipahami.

Hanya saja, bagi siapa pun yang ingin mengapresiasi karya sastra (terutama puisi), maka terlebih dahulu perlu menyadari dan menyetujui bahwa puisi adalah sebuah karya seni (seni sastra). Karya seni selalu berangkat dari hasil imajinasi seorang penyair yang melakukan proses perenungan terhadap peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat atau pengalaman spiritual yang pernah dialami sang Penyair. Sementara itu, puisi juga sebuah karya seni yang menggunakan bahasa estetis sebagai media untuk menyampaikan gagasan penyair kepada pembacanya.

Perlu ditegaskan bahwa puisi merupakan karya yang bersifat imajinatif dan dituangkan ke dalam media bahasa yang estetik, namun tidak kosong dari nilai-nilai luhur atau berbagai pesan yang akan disampaikan kepada pembaca. Bahasa yang estetis adalah alat bagi seorang penyair untuk menyampaikan pesan melalui puisi. Bahasa estetis itu, bisa berbentuk simbol, lambang maupun gaya bahasa: metafora, alegori, simile, dan sebagainya. Dengan demikian, puisi menjadi menarik, bermakna, dan hidup. Demikian juga dengan aneka puisi yang ditulis oleh Denny JA.

Melalui bahasa yang estetis tersiratlah berbagai makna dan pesan sebagaimana menjadi gagasan penyair yang ingin menyampaikan lewat puisinya. Namun sayangnya, tidak semua orang dapat memahami bahasa puisi yang indah dan bermakna itu. Barang kali tepat dengan apa yang dikatakan oleh Bisri (2014: 61)1 puisi yang baik adalah puisi yang sulit dipahami. Jika Anda termasuk orang kebanyakan, jangan harap bisa mengerti puisi. Puisi yang gampang dipahami seperti koran atau pidato bukanlah puisi sebenarnya. Demikianlah anggapan atau olok-olok atau keluhan yang sering kita dengar. Namun, boleh jadi hal itu bukan sekadar anggapan, olok-olok atau keluhan. Siapa tahu, memang demikianlah hakikat puisi yang baik itu. Dengan demikian, sulit dipahami justru menjadi enak dan menarik untuk bisa menelaah bermacam-macam penafsiran.

Membaca puisi yang ditulis oleh Denny JA sangatlah sayang, jika pesan atau nilai-inilai yang tersirat dalam tubuh puisi tidak dapat dipetik oleh pembaca. Apa lagi puisinya berupa puisi esai dan disampaikan dengan model cerita. Oleh karena itu, agar dapat memahami makna sekaligus memahami konsep secara umum dan dalam puisi Denny JA, terlebih dahulu patutlah membaca sebuah analisis atau sebuah apresiasi yang terpapar di bawah ini:

 

/1/

SIDANG RAYA AGAMA

Yang Tampak dan Yang Hakekat

Kehidupan seharusnya seperti bertemu dan berpisah, antara tampak dan hakekat. Begitulah gagasan Denny JA yang tertuang dalam puisi Sidang Raya Agama (yang tampak dan yang hakekat). Sejak berabad-abad lalu, agama telah menjadi inspirasi bagi kehidupan berjuta umat manusia. Bahkan, agama dijadikan sebagai way of life yang bisa menuntun semua umat manusia memahami setiap aspek kehidupan. Menyoal tentang agama, tentu yang tampak tidak dapat dipisahkan dari yang hakekat tak terkecuali dalam Islam.

Hakekat merupakan kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya. Dalam Islam, manusia perlu mengenal hakekat dirinya agar akal yang digunakan untuk menguasai alam dan jagat raya mampu dikendalikan oleh iman. Di lain sisi manusia juga perlu memahami ayat-ayat Allah agar mampu memberi arti dan makna hidup sehingga taat pada perintah-perintahNya. Memaknai arti kehidupan dilakukan dari yang tampak dan yang hakekat. Kedua hal itu harus berjalan beriringan.

Dalam puisi Denny JA, Ahmad digambarkan sebagai sosok polisi agama yang dihadapkan pada persoalan kehidupan: Membela kebenaran dan menolong yang lemah dengan mengatasnamakan agama yang merupakan pinsip hidupnya. Melalui sosok Ahmad, Denny JA menyampaikan bahwa tidak semua perilaku manusia sesuai dengan hakekat keagamaan, meskipun manusia bertindak atas nama agama. Hal itu terungkap dalam penggalan puisi berikut; // “Ampun, ya, Tuhan. Ampun Ilahi” // Seorang gadis dipukul hampir mati // Ani melindungi dagangannya // Ahmad bertindak atas nama agama // Ani tergeletak berdarah // Di antara botol minuman keras yang pecah // “Ya, Allah, bukan maksudku membunuh” // Ahmad terguncang basah berpeluh // Ya ya ya… Ahmad namanya Tiga tahun menjadi polisi agama //. Dalam fragmen tersebut nampak fundamentalisme agama yang kental.

Berangkat dari hal tersebut, Denny JA berupaya mengungkap fundamentalisme dalam agama. Fundamentalisme agama sebagai dua tarikan berseberangan antara problematika ideologis dan politis2. Agama selalu akan berada di tengah-tengahnya. Manusia tak paham sesuangguhnya akan perkara itu, bahwa fundamentalisme secara serampangan dipahami sebagai bagian dari substansi agama. Demikian pula dengan fundamentalisme Islam, tarikan politik dan dogma fanatis telah membangun konstruksi ideologis dalam pikiran manusia. Itulah yang menyebabkan beberapa manusia bertindak semena-mena melupakan hakekat agama.

Kuasa dan lupa merupakan dua entitas berpengaruh dalam perbincangan pemanusiaan manusia. Mengupayakan kebenaran lewat peleburan agama dan kuasa selalu memihak pada satu pihak. Hal itu, layaknya Islam yang tercerabut dari akar keimanannya, sehingga mejadi tak jelas dan kehilangan makna. Hal itu juga disampaikan Denny JA melalui fragmen puisinya; // Di usia yang muda belia belum dilezatkan warna dunia // Ia memakai kaca mata kuda // Keras kaku menerapkan norma // “Hanya satu kata: Lawan! // Bagi pelanggar hukum Tuhan // Dengan lidah atau kekerasan // Dunia harus diselamatkan!” // Demikianlah Ahmad memimpin divisi // Ingin menyeragamkan penduduk negeri // Beberapa kali berurusan dengan polisi // Iman membuatnya tak takut mati //. Itulah salah satu bentuk peleburan agama dan kekuasaan. Manusia bertindak semena-mena melupakan norma.

Melihat kondisi tersebut, sebenarnya agama tidak pelu ditarik dalam persoalan politik. Islam cukup terpahami sebatas sebuah ajaran keagamaan, dan keberimanan. Demikian juga dengan kuasa, cukuplah melingkupi tindakan politik dan keingina untuk berkuasa. Akan tetapi, kondisi tersebut bertolak belakang dengan realitas. Hal itu dikarenakan, manusia adalah makhluk kontradiktif dalam dirinya sendiri. Di tengah kesadaran yang diupayakan lewat penerapan akal budi dan keluhuran iman agama, manusia tak sepenuhnya paham tentang keluhuran agama3.

Keluhuran iman manusia, kerap kali muncul saat menyaksikan perilaku memprihatinkan. Naluri kemanusiaan akan muncul saat manusia disadarkan pada peristiwa tak terduga. Hal itu pula yang nampak pada puisi Sidang Raya Agama (yang tampak dan yang hakekat). // Namun si Ani yang hampir mati // Mengguncangkan Ahmad punya hati // Ia seolah melihat ibunya sendiri // Ia merasa batas sudah terlampaui // Sudah tiga hari Ahmad menyendiri // Meminta ampunan Ilahi // “Ampun, ya Allah. // Ampuuuunnnn // Berikan pencerahan sebelum pikun” // Sesalnya yang dalam bergema // Kamar penuh air mata //. Dalam fragmen tersebut Denny JA mampu mengetuk pintu hati manusia, meskipun manusia kerap bertindak melampaui norma.

Apa yang dikatakan Goenawan Muhammad disebut sebagai “iman sebagai suluh” merupakan agama yang hidup dalam iman bersama. Iman dari kebenaran yang selalu akan terus dikoreksi, karena kebenaran selalu retak, mengalami goncangan. Seperti suluh yang mencerap realitas dari cahaya tak cukup terang. Begitu juga iman agama. Orang selalu berada pada kondisi suasana yang terus “memanggil” kebenaran untuk menghadirkan kebaikan dan menghormati perbedaan. Bukan tidak mungkin, iman digerakkan hingga menyentuh persoalan hati nurani. Di sinilah peran antara iman dan hati nurani muncul.

Keimanan seseorang terus-menerus diuji melalui segala persoalan kehidupan yang ada. Di era modern ini, manusia akan ganjil tanpa keimanan yang kuat. Di sisi lain, modernisasi juga memunculkan perdebatan antara agama dan kekuasaan. Perdebatan di antara keduanya lebih kepada simbol agama yang dijadikan alat merengkuh kekuasaan. Penjelasan itu terpresentasi dalam fragmen puisi berikut; // Yang membuat Ahmad terkejut terpana // Yang didagangkan di kios itu adalah agama // Mereka berlomba-lomba Menonjolkan keunggulannya // Di kios satunya: “Ayo, antri tertib berbaris ini agama paling baru // Dijamin tiada lebih baru lagi // Harga bisa negosiasi.”// Di pasar malam ini Agama merosot nilainya // Ahmad terkejut alang kepalang Inikah yang terjadi kini?//.

Konsepsi agama yang memiliki kecenderungan untuk memberikan keselamatan dan kedamaian, justru mengabaikan nilai dan hakekat ajaran agama. Realita itu berbenturan dengan istilah Jhon Caputo yang menjelaskan agama apapun akan lebih baik “tanpa” gagasan bahwa ia adalah “satu-satunya” agama yang benar dan yang lain bukan, seakan-akan beberapa agama sedang berada dalam konteks menyingkirkan satu sama lain demi kebenaran religius. Mereka harus membuang gagasan sebagai agama yang paling benar4. Pada hakekatnya agama bukan politik dan kekuasaan. Jadi antara agama, politik, dan kekuasaan sudah memiliki divisi masing-masing. Ketiga hal tersebut memiliki hakekat masing-masing.

Hakekat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang beragama. Dalam menjalani kehidupan hakekat agama dan yang tampak harus sinkron. Segalanya akan tampak sia-sia jika manusia melakukan segala sesuatu dengan akan (yang tampak) tanpa memperhatikan hakekat kebenarannya. Hal itu terdapat dalam fragmen berikut; // “Adakah guru suci ini simbol para nabi? // Dari pakaian dan guci yang dibawa // Para guru suci datang dari abad berbeda Membawa air untuk masing masing umatnya”// Satu guru membawa air merah // Dengan guci tembaga // Guru yang lain membawa air biru // Dengan guci tanah liat // Tapi apa yang terjadi berabad kemudian? Rakyat di bumi sana berperang // “Air hidup itu dibawa guci bertanah liat. // Kalian salah! Guci pembawanya asli dari tembaga // Salah semua, yang benar gucinya berlapis emas”// Ahmad tersentak // Mereka hanya meributkan yang tampak Bukan yang hekekat//. Pusi Denny JA menyiratkan bahwa substasi kerap dilupakan manusia karena menilai luarannya saja.

 

/2/

TERKEJUT OLEH RISET

Bahagia dan Agama

Puisi Terkejut Oleh Riset (Bahagia dan Agama) karya Denny JA secara umum memang ditulis sebagai suara lirih tentang ikhwal dunia dan manusia, di mana dunia sehari-hari menawarkan banyak ilham: tentang bahagia dan agama, madah (sanjungan) bagi Tuhan, atau hakikat kebahagiaan yang dimaknai melalui perspektif ilmu pengetahuan. Jika merujuk pada ungkapan Aidh al-Qarni maka salah satu tanda kebahagiaan seorang hamba adalah menyembunyikan rahasia dirinya dan merencanakan jalan hidupnya5. Hubungannya dengan masalah kebahagiaan adalah bahwa siapa saja yang menyebarkan keburukan, maka umumnya mereka akan mengalami penyesalan.

Keburukan dan kebahagiaan bak dua sisi mata uang. Keduanya selalu berdampingan, tetapi hanya satu saja yang dapat nampak. Berkaitan dengan hal itu dalam puisinya Denny JA mengisyaratkan bahwa kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman hati, senantiasa berawal dari agama dan ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena agama dan ilmu pengetahuan mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyikap yang tersembunyi. Selain itu, naluri dan jiwa manusia selalu ingin mengetahui hal baru dan mengungkap sesuatu yang menarik.

Agama, ilmu pengetahuan, dan kebahagiaan kerap berdampingan. Penjelasan itupun menimbulkan peribahasa yang akrab ditelinga masyarakat Indonesia. Bahkan, dalam penggalan puisinya Denny JA mengungkapkan keberdampingan antara ilmu agama, pengetahuan, dan kebahagiaan. // “Tuntut ilmu sampai ke Cina // Itu perintah agama! // Bersyukur membuatmu bahagia Itu juga suruhan agama.” // Sering diulang-ulang oleh Ustaz Jaka Di luar kepala Di luar dan di dalam mushola //. Agama menaungi ilmu pengetahuan juga menumbuhkan kebahagiaan. Ketiga hal itu saling bertautan, dan memiliki pengaruh besar bagi setiap individu.

Hubungan agama, ilmu pengetahuan, dan kebahagiaan sungguh merupakan realitas yang kompleks. Masing-masing merupakan jaringan yang rumit dan berpijak pada dua aspek realitas yang berbeda yaitu abstrak ideasional dan aspek konkrit operasional. Ketiga aspek tersebut saling mengandaikan sehingga telaah terhadap hubungan antara agama, ilmu pengetahuan, dan kebahagiaan mau tidak mau harus mengandalkan hubungan antar aspek. Mengabaikan salah satu aspek hanya akan menghasilkan telaah yang timpang. Hal itu pula yang dijelaskan oleh Dr. Suryo Ediyono tentang tidak ada pemecahan sederhana terhadap suatu hubungan dari realitas yang kompleks6.

Dalam puisi Terkejut Oleh Riset (Bahagia dan Agama) Denny JA menyampaikan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak mampu menembus tolak ukur kebahagiaan. Apakah keyakinan yang dianut oleh individu mampu mendatangkan kebahagiaan, ataukah kebahagiaan dapat dirasakan individu sekali pun ia tidak memiliki agama. Hal itu terpresentasi dalam penggalan puisi berikut; // Diulang-ulang dibacanya // Hasil riset soal bahagia // Dari negara sedunia Ia kaitkan dengan agama // Dibawanya berita itu ke kampus // Tempat sohibnya // Profesor Daus “Coba elo lihat, masak ini negara paling bahagia? // Negara yang kagak ade agama?” //. Fragmen tersebut mengisyaratkan bahwa kebahagiaan tidak memiliki tolak ukur yang pasti. Kebahagiaan tidak dapat dibenturkan dengan aspek apapun.

Meminjam istilah Socrates bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kelebihan lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. Kebahagiaan sejati terletak pada ketidaktegantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Karena kebahagiaan keuntungan-keuntungan semacam ini, semua orang dapat meraihnya7. Hal itulah yang juga diungkapkan Denny JA dalam puisinya. // “Negara Switzerland negara paling bahagia // Diikuti Iceland, Denmark, dan Canada // Yang diukur bukan uang semata // Kejujuran dinilai juga // Rasa adil dan kebebasan ditimbang pula // Lalu, apa masalahmu, Jaka?”//. Bahagia tidak dapat dikur melalui hal yang tampak saja.

Melalui gagasannya, Denny JA mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk pencari kebenaran. Kebenaran acap kali berbenturan dengan realita. Di sinilah agama dan ilmu pengetahuan berperan penting untuk menelaah kebenaran. Ilmu pengetahuan digunakan manusia untuk memahami suatu sistem kenyataan, struktur, dan hukum-hukum tentang hal ikhwal. Sementara itu, agama dalam konteks ini dimaksudkan sebagai tata keimanan atau keyakinan manusia. Agama dan ilmu pengetahuan memiliki visi yang sama, yaitu kebenaran. Agama dengan karakteristiknya memberi jawaban atas persoalan asasi yang dipertanyakan manusia termasuk kebahagiaan.

Realita dan kebahagiaan terkadang tidak sejalan. Manusia tidak dapat menilai segala sesuatu melalui apa yang tampak saja. Hal itulah yang menyebabkan berbicara soal kebahagiaan sulit ditelaah. Melalui penggalan puisinya Denny JA menyampaikan hal tersebut // “Ya, Jaka itu faktanya // Apel jangan kau harap menjadi kurma // Bola jangan kau lihat buah kelapa // Terima realita, apa adanya.” // “Di Switzerland sampai Canada // Publik semakin tinggalkan agama // Tapi peduduknya lebih berbahagia // Apa mau dikata?”. Idealisme dalam pemikiran terkadang tidak sebanding dengan kenyataan. Akan tetapi, menerima suatu kenyataan juga mampu mendatangkan kebahagiaan.

Ikhwal agama dan kebahagiaan sulit menemukan ujungnya. Denny JA memiliki analogi yang menarik tentang kebahagiaan dan agama yaitu; //“Berjam-jam ia mondar-mandir // Merunduk-runduk seperti pandir // Tetangganya datang menghampiri // Hai, Nazarudin. Apa yang kau cari?” // “Aku mencari kunci kamarku // Dari tadi kok tak ketemu?” // “Tetangga kembali bertanya Kuncinya hilang di mana?” // Kata Nazarudin, “Hilangnya di dalam sana // Tapi kan di sana gelap gulita // Lebih enak cari di sini // Terang dan mudah mengamati.” // “Ha ha ha ha ha ha…” // Sang Profesor dan Jaka tertawa terpingkal // Kisah Nazarudin yang salah akal // Hilangnya kunci di mana // Dicarinya di mana. Makna yang terdapat dalam analogi tersebut adalah bagaimana mungkin kebahagiaan menghampiri hidup seseorang, jika dicari pada tempat yang salah.

Jika agama tak mampu membuat manusia bahagia, itu adalah persepsi yang salah. Yang salah bukan agamanya, melainkan manusia dalam menjalani syariat agama. Pemahaman setengah-setengah terhadap agama menimbulkan persepsi negatif dalam diri manusia. Itulah sebabnya anjuran memahami agama dengan sepenuh hati perlu diterapkan, agar manusia dapat mencapai kebahagiaan sejati. Demikian pula, hal yang diungkapkan Denny JA dalam akhir puisinya; // Kata Jaka, “Nanti dulu! Itu yang saya kagak setuju. // Masak agama // Kalah membuat orang bahagia?” // Jaka lalu mengutip aneka ayat // Dengan hati tersayat // Betapa agama sumber bahagia // Mata air tiada dua // Jawab profesor, “Itulah pokoknya // Jika agama kalah membuat orang bahagia // Ada yang salah // Bukan dengan agamanya // Tapi dengan cara kita beragama.”//. Artinya, kebahagiaan tergantung pada cara manusia memandang segala sesuatu yang ada. Di sisi lain, kebahagiaan juga dapat diperoleh dari pemahaman yang utuh terhadap agama dan ilmu pengetahuan.

 

/3/

MIMPI SEPEDA ONTEL

Berani Beda

Menulis puisi itu tidak sekedar memilih kata-kata indah. Menulis puisi juga tidak hanya sekedar mengekspresikan gagasan melalui tipografi supaya dianggap memiliki nilai estetika. Lebih dari itu, menulis puisi juga merekam jejak sejarah. Berbicara ikhwal realitas yang ada. Oleh sebab itu, kepekaan sosial, kemahiran mengolah bahasa, dan kecerdasan olah pikiran perlu dimiliki penulisnya. Hal itu pula yang ditemukan dalam puisi Mimpi Sepeda Ontel (berani beda) karya Denny JA.

Denny JA yang dikenal sebagai enterpreneur intelektual banyak melakukan terobosan di dunia sastra dan budaya Indonesia. Salah satunya ialah melahirkan puisi esai. Puisi esai Denny JA dinarasikan dengan indah sehingga membentuk satu cerita yang sarat makna. Begitu pula puisi Mimpi Sepeda Ontel (berani beda) yang memuat pesan “lebih baik hidup sendiri ketimbang hidup bersama, tetapi berada pada kerumunan orang yang tidak tepat”.

Denny JA memilih Nadia sebagai tokoh yang berperan dalam puisi esainya. Kegelisahan seorang perempuan berusia 21 tahun lantara bimbang memilih antara mengikuti kata hati, atau memihak pada organisasi agama yang digelutinya. Nadia, dikisahkan sebagai gadis yang bekerja menjadi bendahara dalam suatu organisasi Islam. Ia gelisah, karena apa yang dilakukan kerap berbeda dengan kondisi hatinya. Penyimpangan yang dilakukan organisasi tempat ia bekerja, menjadikan Nadia gundah dan ingin segera mengundurkan diri. Sementara itu, orang-orang di sekeliling Nadia seperti ayah, ibu, dan kekasihnya lebih memihak pada organisasi agama.

Melalui Nadia, Denny JA ingin menyampaikan bahwa beberapa tahun belakangan ini, banyak perilaku manusia yang menistakan agama. Mereka berselimut agama, namun melakukan tindakan semena-mena, sehingga lupa pada hakekat agama yang sebenarnya. Ini catatan Denny JA dalam penggalan bait puisinya; // Rumah ibadah aliran sesat pernah mereka tutup dan pampat // Tempat tinggal aliran sesat pernah mereka serbu dengan laknat // Di antara rasa takut dan sedih kaum itu Mereka bahanakan nama Tuhan yang satu // Bagaimana dengan negara dan polisi? “Kami adalah polisi agama. Mau apa?”//. Melalui penggalan puisinya tampak bahwa Denny JA menyampaikan sebuah heroisme berkedok agama.

Religi sebagai suatu jalan ketuhanan, mengarah pada suatu mekanisme antara tiada dan percaya. Religi dan spiritualitas berbeda namun korelatif. Religi sendiri didefinisikan sebagai yang mengacu pada partisipasi ritual atas kepercayaan beserta pengalaman yang dialami suatu komunitas beragama. Sementara itu, spiritualitas mengandung makna lebih luas dari religi. Spiritualitas mengacu pada pandangan personal mengenai arti hidup dan hubungannya dengan transendental dalam upaya pencapaian tujuan. Adanya kekacauan makna di antara keduanya tidak jarang menimbulkan perbedaan persepsi.

Fenomena politik bernilai negatif yang menyita pehatian khalayak salah satunya adalah kasus kekerasan bernuansa agama pada Mei 20148 di daerah Sleman Yogyakarta. Penyerangan dilakukan kelompok radikal berjubah gamis terhadap jemaat Katolik yang tengah menggelar doa bersama berujung tragis. Peristiwa yang tidak jelas motifnya itu menimbulkan kerusakan dan kerugian besar. Seorang anak kecil menjadi korban penyiksaan oleh sekelompok yang menyatakan dirinya sebagai ormas. Peristiwa tersebut merupakan salah satu bukti praktik tak berprikemanusiaan yang mengatasnamakan agama.

Agama adalah hal yang sangat sensitif. Begitulah Denny JA merekam kiprah agama dalam kehidupan publik melalui puisinya. Nadia, sosok yang menjadi pelaku dalam puisi Mimpi Sepeda Ontel (berani beda) digambarkan mengalami gejolak. Inilah penggalan puisinya; // Lama Nadia merenung berhari-hari // Dibawanya selalu di hati // Kadang terbawa mimpi // Sanubarinya berdenting dibakar api // “Cukup sudah,” Nadia yakinkan diri “Hatiku tak di sana lagi” // Namun keluar dari organisasi // Ternyata bukan perkara gampang // Oh, sungguh malang Ayah, guru ngaji dan kekasih jadi penghalang //. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan Nadia dan keinginan ingin berontak.

Mengenai kiprah agama yang berbenturan dengan nilai-nilai religi menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat. Dalam puisi Denny JA Nadia merupakan sosok yang khawatir terhadap adanya perilaku yang menyimpang dari agama. Jika dikaitkan dengan realitas kehidupan, ada kalanya pihak tertentu merusak pandangan masyakat luas tehadap agama tertentu. Sekelumit contoh misalnya, kerusuhan yang terjadi di Ambon dan Poso. Sedikit contoh lain ialah peristiwa Bom Bali tahun 2002, Bom yang mengguncang pasar tradisional babi di Palu, 2005. Bagaimana mungkin peristiwa yang mengorbankan masyaakat luas dapat dibenarkan untuk alasan panggilan nurani atas dasar agama?Ketika batin dan pikiran bertolak belakang. Itulah julukan yang pantas diberikan pada sosok Nadia dalam puisi Denny JA. Kegiatan yang dilakukan dalam oganisasinya kerap mengatasnamakan agama. Membela agama dengan semena-mena dan perilaku yang condong merenggut hak asasi manusia kerap dilakukan organisasi tertentu. Itulah alasan yang mendasari Nadia sehingga ingin keluar dan lepas dari organisasinya. Berdasarkan Garis Besar Haluan Negara, misi organisasi bertolak belakang dengan tugas dan tanggung jawab agama9. Tugas dan tanggung jawab agama ialah meletakkan landasan moral, etika, dan spiritual yang kokoh bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Agama selalu berdekatan dengan akidah dan akhlak. Itu pula yang nampak pada penggalan puisi Denny JA. // Soal Nadia ingin fokus kuliah dulu Ingin benar-benar mendalami ilmu // “Jangan Nadia,” bentak Ayah // “Ini organisasi untuk akidah // Ilmu memang penting sekali // Tapi amal lebih penting lagi.”// “Apa daya ilmu tanpa amal? Itu organisasi adalah amal // Ayah yang mengajakmu dulu kesana Ayah pula yang menjaga”//. Bergabung dengan mereka merupakan bentuk amalan dalam agama. Itulah pemahaman kaum tertentu yang mengatasnamakan agama untuk melakukan segala hal. Di sisi lain, memutuskan untuk keluar dari organisasi besar bukanlah perkara yang mudah. Orang-orang terdekat Nadia kerap menghalanginya.

Dalam puisinya Denny JA menjelaskan begitu besar kekuatan doa melalui cerita yang dialami Nadia. Nadia mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara berserah dan berdoa meminta petunjuk jalan keluar. Melalui usaha yang dilakukan Nadia, penyair Denny JA mengutarakan gagasannya tentang petolongan Tuhan yang diperoleh manusia melalui mimpi. Hal itu terpresentasi dalam penggalan puisi berikut; // Di malam gelap dan gaib // Nadia panjatkan doa untuk nenek yang sohib // Menangis ia tiada henti // Membayangkan nenek datang di hati // Malam itu // Malam sesudah malam itu // Kepada nenek ia kirim doa yang sama // “Ya, Tuhan, berikan tanda Buka hatiku punya mata.” // Nadia tenggelam dalam air mata // Berharap terbuka mata air // Saat itulah muncul sepeda ontel // Ia, nenek, sepeda onthel, bertiga saja // “Mimpi sangat simbolik // Semoga dari Sang Khalik”//.

Puisi Mimpi Sepeda Ontel (berani beda) tersebut berbicara tentang pertolongan Tuhan yang diperoleh dalam sebuah isyarat. Jalan keluar itu diisyaratkan dengan sepeda ontel. // Di desa satunya, Nadia dan nenek boncengan berdua // Mengayuh sepeda ontel ringkih dan tua // Penduduk desa melihat mereka Tetap menghardik dan mencela // Di desa selanjutnya, sepeda hanya dituntun // Nenek berjalan di kiri // Nadia berjalan di kanan // Peduduk desa melihat mereka Juga menghardik dan mencela // “Kok, serba salah?” ujar nenek dan Nadia //. Mimpi yang dialami Nadia mengisyarakat bahwa segala sesuatu yang dipilih manusia selalu ada resikonya. Apalagi bicara soal agama dan kebenaran. Perlu diingat bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran yang hakiki. Kebenaran dapat terjadi tergantung manusia melihat dari sudut pandang mana.

Berangkat dari hal itu, Nadia memandang Islam bukanlah agama yang identik dengan kekerasan. Keyakinan tersebut berhasil memengaruhi persepsinya, sehingga Nadia mampu mengambil keputusan. // Pagi itu juga Nadia niatkan diri menulis surat // Mengundurkan diri penuh seluruh // Dari organisasi agama yang keras itu // Namun bayangan 3 lelaki perkasa // Masih bercokol kuat di hati // Baru baris pertama ditulis // Tangannya terhenti // “Beranikah aku untuk berbeda? Di antara warna hijau // Beranikah aku menjadi jingga? Di antara kebun melati // Beranikah aku menjadi mawar?//. Penggalan puisi tersebut menyiratkan bahwa menjadi diri sendiri lebih baik dari pada berada di sekerumunan orang yang salah.

Sekali lagi, Denny JA dalam puisi esainya mengungkapkan agama adalah masalah kepercayaan yang sulit sekali diubah. Agama apapun tidak mengajarkan umatnya tentang kekerasan. Organisasi bukan bertujuan membentuk agama yang tumpang tindih. Jika hal itu ada di sekitar kita, jangan takut menjadi berbeda.

 

Catatan Kaki:

1Bisri, A. Mustofa. 2004. Koridor. Jakarta. PT Kompas.

2Goenawan Muhammad. Ekstopi, Tentang Kekuasaan, Tubuh dan Identitas. Jakarta: Temprint. 2007. hlm 45

3Fouda, Faraq. Kebenaran Yang Hilang. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. 2007. hlm 221

4Muhammad Ali. Kemasan Agama demi Kekuasaan. Kompas, 5 Agustus 2012.

5Aidh al-Qarni. La Tahzan. Jakarta: Anggota IKAPI. 2004. hlm. 67

6Suryo Ediyono. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Kiliwangi. 2015. hlm 165

7Jostein Gaarder. Dunia Sophie. Jakarta: Mizan. 2010. hlm. 342

8www. tempo.co

9Gugun El-Guyanie dkk. Kekuasaan dan Agama. Purwokerto: STAIN Press 2008. hlm143

  • view 196