PUISI-PUISI ESAI DENNY J.A: SATU PENELITIAN DAN KESAN SEKILAS

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 20 Maret 2017
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

17.8 K Hak Cipta Terlindungi
PUISI-PUISI ESAI DENNY J.A: SATU PENELITIAN DAN KESAN SEKILAS

Oleh

Prof Madya Ampuan Dr Haji Brahim

Akademi Pengajian Brunei

Universiti Brunei Darussalam

 

  

Saya telah diberikan sebanyak 22 buah buku/puisi karya Denny J.A. yang berjudul Burung Trilili (Oktober, 2015), Naga Seribu Wajah (Oktober, 2015)), Karena Kucing Anggora (November, 2015), Kisah Kitab Petunjuk (November, 2015), Mencari Raja di Raja (November, 2015), Sidang Raya Agama (November, 2015), Balada Wahab & Wahib (November, 2015), Menyelam Ke Langit (Disember, 2015), Terkejut oleh Riset (November 2015), Dua Wajah Ahli Agama (Januari, 2016), Hikmah Singapura (Januari, 2016), Lotre Kehidupan (), Mimpi Sepeda Ontel, Perguruan Bahagia (April, 2016), Balada Aneta (April, 2016), Robohnya Menara Kami (April, 2016), Ambruknya Sang Raksasa (Mei, 2016), Barat Lebih Islami? (Mei, 2016), Berburu Bahagia (Mei, 2016), Mawar yang Berdarah (Jun, 2016), Ustaz yang Gay (Jun, 2016) dan Berburu Tuhan (Jun, 2016). Setiap buku puisi di atas menyentuh tentang isu sosial berdasarkan peristiwa masa silam (sejarah), fakta dan nyata yang pernah terjadi pada sebuah masyarakat atau sebuah komunitas tertentu. Isu sosial yang dibahas selalu mengikuti arus atau perkembangan zaman yang senantiasa berubah dan dinamis.

Puisi-puisi esai Denny J.A adalah puisi yang istimewa karena memenuhi sepenuhnya fungsi karya sastra, yaitu memberikan hiburan dan pendidikan moral kepada khalayak sastra. Karya sastra akan membuat orang terhibur jika karya itu menyenangkan karena isinya yang bermanafaat, bentuk yang sederhana, dan bahasa yang indah dan mudah dipahami. Semua fungsi itu terdapat dalam puisi esai Denny J.A. Hal ini juga satu keistimewaan penyair yang tidak menghasilkan puisi-puisi gelap seperti beberapa penulis lain.

Karya sastra yang baik dikatakan mengandung pemikiran yang mengarah kepada pengajaran moral yang disampaikan dengan cerita yang menarik dan mudah dipahami seperti yang dilakukan oleh Denny J.A dalam karya-karyanya. Ia tidak menyukai puisi-puisi kabur atau gelap seperti yang terdapat pada beberapa puisi yang diciptakan oleh sebagian kecil penyair yang beraliran seni untuk seni. Hal inilah yang menjadikan Denny J.A boleh dianggap sebagai seorang penyair istemewa yang komited terhadap masyarakatnya.

Keistimewaan Denny J.A dibuktikan karena beliau telah menghasilkan puisi dengan gaya dan jenis baru yang disebut Puisi Esai. Kreativitas Denny ini membuat beliau dianggap sebagai pelopor kelahiran Puisi Esai. Beliau memulai menulis puisi esai (bergambar) pada bulan Maret 2012 (Buku puisi berjudul Atas Nama Cinta : Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati).

Puisi Esai ialah puisi yang ditulis berdasarkan fakta peristiwa tertentu dan dituangkan dalam bahasa yang mudah dipahami. Puisi esai (22 buah puisi/buku puisi Denny J.A) berbeda dengan puisi lirik yang biasa kita baca yang kerap menggunakan bahasa simbolik atau metafor yang sulit dipahami. Puisi esai, walaupun ia diangkat dari peristiwa fakta, namun puisi esai tetap fiksi dan peristiwa fakta yang dimaksudkan adalah latar belakang dari cerita yang ingin dibangun oleh penulis. Catatan kaki digunakan pula untuk menegaskan bahwa cerita yang diangkatnya itu adalah cerita manusia konkrit yang terlibat dalam suatu realitas sosial atau peristiwa sejarah (bukan suatu yang tidak ada, asing, dan abstrak sebagaimana yang sering muncul dalam puisi lirik).

Lima platform puisi esai dalam 22 buah puisi/buku Denny J.A seperti yang disebut oleh Denny J.A (2013) sendiri dalam makalahnya yang berjudul “Puisi Esai Apa dan Mengapa?” (Acep Zamzam Noor, Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia, Jurnal Sajak, Terbitan PT Jurnal Sajak Indonesia, 2013) adalah suatu keistemewaan. Hal ini dapat dilihat pada setiap platform dan saya mengambil puisi esai Burung Trilili dan yang lain-lain sebagai contoh bagi setiap platform.

Pertama, puisi esai mengeksplor sisi batin individu yang sedang berada dalam sebuah konflik sosial di mana setiap puisi/buku beliau ini memang terdapat konflik sosial di dalamnya. Konflik sosial yang dimaksudkan itu ialah tajuk kecil bagi setiap puisi tersebut. Contohnya Burung Trilili; konflik sosialnya ialah Bertengkar untuk Persepsi dan dalam puisi ini sisi batin individu yang sedang berada dalam konflik itu ialah watak anak muda/anak cucu yang bertengkar karena masing-masing mempunyai persepsi yang berbeda. Burung Trilili yang hanya rekaan sang Guru semata akhirnya menjadi realitas dalam bentuk berhala/patung yang disembah, dipuja sehingga menjadi anutan/kepercayaan sebagian besar bangsa Indonesia (diwarisi turun-temurun) sehingga terjadi perpecahan/peperangan antara yang beragama Islam dan Kristian.

Mengenai penganut Burung Trilili (Kristian), walaupun mereka sama agama tetapi perbedaan persepsi (pandangan mereka dalam menentukan hukum suatu perkara) tetap berlaku sehingga menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Akibatnya tidak ada lagi sikap toleransi dan kebencian sesama sendiri merajalela (perpecahan yang mengakibatkan banyak nyawa manusia menjadi korban). Akhirnya, Sang Guru menyesal yang tidak berkesudahan karena menjadi penyebab perbelahan dan permusuhan sesama manusia dan agama. Burung Trilili yang mulanya hanya rekaan diajarkan kepada anak cucunya yang kemudian rekaan itu menjadi kenyataan (berhala), telah mengakibatkan perpecahan yang berpanjangan sehingga terjadi pertumpahan darah dan saling bermusuhan warga yang sesama agama dan bangsa mereka sendiri.

Kedua, puisi esai menggunakan bahasa yang mudah dipahami, termasuk semua jenis gaya bahasa seperti metafor, analogi, dan sebagainya. Puisi yang sukar dipahami adalah sebuah puisi yang kurang baik. Sebagaimana kata Denny J.A. bahwa prinsip puisi esai, semakin sulit puisi itu dipahami publik luas, semakin buruk puisi itu sebagai medium komunikasi penyair dan dunia di luarnya (dalam makalahnya yang berjudul “Puisi Esai Apa dan Mengapa?”, hlm. 40; dalam Jurnal Sajak Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia; Acep Zamzam Noor (ed.), Terbitan PT Jurnal Sajak Indonesia, 2013.

Melihat kepada 22 buah buku puisi tersebut, Denny J.A seharusnya menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Penggunaan gaya bahasa yang mudah dan tepat membantu pembaca atau penikmat karyanya untuk memahami puisi tersebut dengan lebih baik. Misalnya perulangan kata ‘Soal’ (anafora) dan kata ‘Trilili’ (epifora) banyak membantu pembaca untuk lebih memahami maksud penulis. Manakala ‘wajah, sayap, kaki, telur dan tahi’ adalah menjadi lambang/simbol bahwa mereka mempunyai persepsi yang berbeda dalam menentukan hukum atau duduk sesuatu perkara:

Namun mereka berbeda persepsi

Soal wajah burung Trilili

Soal sayap burung Trilili

Soal kaki burung Trilili

Soal telur dan tahi Trilili

     (Burung Trilili: rangkap 19)

 

Salah satu aspek yang menarik juga adalah penggunaan gaya bahasa simbolik/perlambangan yang sangat banyak digunakan oleh penulis. Penggunaan gaya bahasa ini sama sekali tidak menyusahkan para pembaca untuk memahaminya, malah puisi itu menjadi lebih menarik karena sifat perlambangannya sangat inspiratif.

Perlambangan itu dapat dipahami dengan makna yang tersurat atau tersirat. Misalnya dalam puisi Terkejut oleh Riset, hasil Riset (hasil penyelidikan) mengenai kebahagiaan akan memberi makna yang lebih jelas kepada pembaca atau memberi kesan imaginatif kepada pembaca. Hasil riset mengenai kebahagiaan melambangkan kebahagiaan itu adalah milik sejagat. Kebahagiaan dicapai oleh manusia dengan berbagai cara dan bahagia itu tidak statis dan bukan milik agama tertentu saja. Tetapi manusia yang beragama itu akan mencari dan mencapai kebahagiaan yang hakiki dan sejati (kekal/abadi) bukan saja di dunia bahkan juga bahagia di akhirat.

“Ha? Gile? Makdikipe?Ape bener?

Ustaz Jaka kakinya gemetar

Ia membuka berita dari Reuter

Hasil riset orang pinter

(Terkejut oleh Riset: rangkap 2)

 

Ketiga, puisi esai sifatnya tetap fiksi. Maksudnya puisi esai boleh memotret/melukiskan tokoh riil tetapi realitas itu diperkaya dengan aneka tokoh fiktif dan dramatisasi. Contohnya puisi Burung Trilili, yang ceritanya memang wujud dalam sejarah dan merupakan perang yang terpanjang (berlaku sebanyak 123 kali) dan banyak memakan korban. Salah satunya ialah perang salib antara umat Islam dan Kristian pada abad ke-11 hingga abad ke-13 yang membunuh sekitar 3 juta manusia. Namun kisah Sang Guru, Burung Trilili dan anak-anak muda dalam Puisi esai Burung Trilili adalah fiksi. Watak itu diwujudkan hanya untuk mendramatisasikan isu agama untuk menambah ilmu pengetahuan kita. 

Keempat, puisi esai bukan saja hasil ide penulis tetapi isu yang dibangkitkan oleh penulis adalah hasil dari penyelidikan atau kajian (riset) sesuatu perkara yang menyentuh tentang isu sosial. Maksudnya, puisi itu memberi repon terhadap isu sosial yang dialami oleh inidividu atau dalam sesebuah kumpulan masyarakat atau komunitas tertentu. Setiap puisi dalam 22 buah puisi esai Denny JA memang terdapat isu sosial di dalamnya.

Isu sosial itu didasarkan kepada peristiwa yang pernah terjadi, lalu dipindahkan ke dalam bentuk fiksi. Misalnya, puisi Burung Trilili merupakan sebuah puisi esai yang merespon isu sosial yang menyangkut agama dan diskriminasi berdasarkan sejarah lampau yang pernah terjadi di antara umat Islam dan Kristian. Puisi Lotre Kehidupan mengemukakan isu nasib untung dan malang seseorang. Masing-masing saling menyalahkan takdir atas nasib malang yang menimpa mereka.

Hal seperti ini banyak terjadi di kalangan masyarakat di sekitar wilayah penulis berada, terjadi di seluruh negara. Dan puisi Terkejut oleh Riset, mengisahkan tentang konflik batin yang melibatkan rohani seorang individu. Hal ini berlaku pada sosok Ustaz Jaka, seorang pendakwah desa (pembimbing di mushola). Ustaz Jaka tidak dapat menerima hakikat bahwa hasil penyelidikan (riset) menunjukkan bahwa beberapa negara yang penduduknya paling bahagia di negara itu tidak ada agama dan tidak diajarkan dan tidak mengajar agama. Untuk menjawab persoalan yang menganggu akal dan jiwanya, Ustaz Jaka telah menemui Profesor Daus:

Di bawanya berita itu ke kampus

Tempat sohibnya Profesor Daus

“Coba elo lihat, masak ini negara paling bahagia?

Negara yang kagak ade agama?”

(Terkejut oleh Riset: rangkap 8)

 

Profesor Daus mengambil sebuah cerita mengenai Nazarudin yang sedang mencari kunci biliknya. Cerita mengenai Nazarudin yang kehilagan kunci ini sebenarnya membuat manusia berfikir bahwa kebahagiaan itu boleh dimiliki oleh siapa saja dengan berbagai cara tetapi sifatnya hanya di dunia (sementara) tetapi kebahagiaan yang kekal dan abadi itu hanyalah kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Tetapi pada akhir puisi, Ustaz Jaka masih mengalami konflik jiwa dan rohani. Dia banyak merenung dan berfikir sehingga sakit kepala, di mana logikanya cerita Nazarudin dan membandingkan cerita itu dengan hasil penelitian mengenai bahagia.

Kata Nazaruddin, “Hilangnya di dalam sana

Tapi kan di sana gelap gulita

Lebih enak cari di sini

Terag dan mudah mengamati”

(Terkejut oleh Riset: rangkap 27)

  

“Jadi Jaka,” ujar Profesor dengan dingin

“Sangat mungkin kita semua menjadi Nazarudin

Kita mencari bahagia

Tapi mencarinya bukan di tempatnya.”

(Terkejut oleh Riset: rangakp 29)

 

Dan kelima ialah puisi esai itu berbabak dan panjang. Pada dasarnya, puisi esai itu adalah drama atau cerpen yang dipuisikan. Tokoh utama digambarkan secara dinamis atau menurut perubahan sebuah realitas sosial. Dengan kata lain, puisi esai itu mempunyai alur/plot atau jalan cerita yang tersusun, yaitu bermula pada plot awal, kemudian plot tengah, dan plot akhir sebagai penutup cerita. Setiap puisi esai disisipkan dengan sebuah konflik yang berakhir dengan sebuah puncak/klimaks tertentu. Hal inilah yang membuat sesebuah puisi esai menjadi panjang dan berbabak. Contoh plot puisi esai Burung Trilili; plot awal (permulaan manusia mengenal/belajar agama), plot tengah (puncak atau klimaks: isu sosial - isu agama dan diskriminasi) dan plot akhir (akibatnya perpecahan/permusuhan yang berkepanjangan).

Selain itu, plotnya bukan saja dalam bentuk yang tesusun (syncronize) bahkan penulis sangat bijak mengacak susunan plot dalam setiap puisi itu. Terdapat puisi yang meletakkan peristiwa akhir (penyelesaian kepada sesebuah konflik) di bagian plot awal dan terdapat juga puisi yang meletakkan peristiwa tengah (isu: konflik) di bagian plot awal. Contoh bagi plot awal (penyelesaian konflik), puisi Lotre Kehidupan (Mujur dan Malang) yaitu dari rangkap pertama hingga rangkap kelima adalah plot awal dengan mengemukakan peristiwa akhir (penyelesaian cerita) dan plot tengahnya ialah permulaan cerita (rangkap keenam dan seterusnya):

   

Namun sebaliknya terdapat juga puisi-puisi yang meletakkan peristiwa di tengah pada plot awal (permulaan). Salah satunya ialah puisi Mimpi Sepeda Ontel (berani beda). Plot awal (pertengahan cerita) tersebut bermula dari rangkap pertama hingga rangkap ketiga. Plot tengah (rangkap 4) pula ialah awal cerita.

Sudah dua hari ini

Sepeda itu datang di mimpi

Nenek almarhum di sebelah kanan sepeda

Nadia di sebelah kirinya

Mereka berdua saja berjalan di desa

Dengan sepeda menjadi bertiga

(Mimpi Sepeda Ontel: rangkap 3)

Itu adalah antara lain permainan plot yang diterapkan oleh penulis dalam puisi-puisinya. Selain itu, penulis juga selain menggunakan urutan plot biasa (misalnya puisi Mencari Raja di Raja). Walaupun begitu, permainan plot itu sama sekali tidak menimbulkan kesukaran untuk memahami jalan cerita setiap puisi tersebut bahkan ia menjadi lebih menarik dan berkesan.

Satu lagi keistimewann puisi Denny J.A adalah dari segi bentuknya sebagai puisi esai dengan catatan kaki sebagai penjelasan lanjut. Puisi esai Denny J. A sangat menarik walaupun rangkap, baris, dan rimannya masih pada dasarnya meneruskan tradisi penulisan puisi tradisional. Puisi esai tetap dalam bentuk yang berangkap namun jumlah rangkapnya agak panjang yang berbeda sekali dengan puisi lirik yang biasa kita temui. Jumlah rangkap puisi esai sebenarnya ditentukan oleh panjang dan pendek cerita yang disampaikan penulis dalam puisinya. Jumlah baris dalam setiap rangkap adalah bebas (tidak terikat). Begitu juga jumlah kata dalam setiap baris, dan jumlah suku katanya juga bebas.

Jumlah rangkap paling sedikit ialah sebanyak 28 rangkap yaitu puisi Burung Trilili dan Naga Seribu Wajah, dan jumlah rangkap paling banyak ialah sebanyak 107 rangkap yaitu puisi Berburu Tuhan. Sementara jumlah baris bagi setiap rangkap, nampaknya penulis lebih suka menghasilkan rangkap-rangkap puisi yang terdiri dari 4 baris setiap rangkap. Misalnya, dalam puisi Mencari Raja di Raja terdapat 28 rangkap yang terdiri dari 4 baris serangkap, dan dalam puisi Sidang Raya Agama pula terdapat 34 rangkap yang terdiri dari 4 baris serangkap. Puisi esai Berburu Tuhan secara keseluruhan terdiri 4 baris serangkap. 

Meskipun ciri rima akhir tertentu tidak termasuk dalam salah satu platform puisi esai namun penggunaan rima akhir yang seimbang dalam 22 buah puisi esai tersebut adalah sangat menarik. Pemilihan kata oleh penulis pada rima akhir memperlihatkan tahap kemampuan penyair bagi menghasilkan satu kesatuan dan kepaduan dalam puisi yang boleh memberikan kesan keindahan kepada pembaca, sekaligus maksud/persoalan yang dikemukakan lebih mudah dicapai. Ada dua jenis rima akhir yang sering digunakan oleh penulis yaitu(a/a/a/a) dan (a/a/b/b). Misalnya dalam puisi Menyelam Ke Langit :

“Ada apa dan apa artinya?” Joni Penasaran (a)

Ini suara hati yang membuatnya gemeteran (a)

“Adakah ini caraMu bicara padaku, Tuhan? (a)

Yang Maha, berikan aku pencerahan!” (a)

(rangkap 4)

 

Tiga hari ini Joni bimbang (a)

Pikirannya malang-melintang (a)

Ia berniat pindah agama (b)

Keputusan harus segera diambilnya (b)

(rangkap 5)

 

“Ayah dan ibu, hormatku padamu (a)

Tapi ini agama, bukan pilihanku (a)

Kau yang mewariskannya sejak ku kecil (b)

Kau yang mengajarinya dicicil-cicil” (b)

(rangkap 6)

 

“Kini aku sudah dewasa (a)

Kuingin alam semesta yang berbeda (a)

Dan tentukan sendiri soal agama (a)

Mohon pasrahkan di dada.” (a)

(rangkap 7)

Rima akhir a/a/b/b yang saya rasa sangat menarik ialah irama/ritmanya seperti berikut:

Seharian ini Ahmad mengurung diri (a)

Merenung saja ia menyepi (a)

Hatinya resah melulu (b)

Hasil riset yang sungguh terlalu (b)

(Barat Lebih Islami?: rangkap 23)

 

Sang guru dihormati semua (a)

Burung Hijau nama perguruannya (a)

Di sana diajarkan ilmu bela diri (b)

Namun bukan untuk berkelahi (b)

(Berburu Bahagia: rangkap 3)

 

Keistimewaan puisi esai Denny J.A selanjutnya adalah pernyataan nilai dan pengajaran sosial yang terdapat di dalam puisi-puisinya. Menurut Kimball Young, nilai sosial adalah unsur-unsur abstak dan sering tidak disadari tentang benar dan pentingnya. Sementara A.W.Green merumuskan nilai sosial sebagai kesadaran yang berlangsung secara relatif disertai emosi terhadap objek dan idea orang perorangan. Jadi nilai ialah konsepsi (pemikiran) abstrak dalam diri manusia tentang apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk, yang mengambarkan soal norma, tradisi, aturan atau kepercayaan yang dianuti atau dilakukan oleh sesuatu masyarakat. Sosiologi dan sastra memiliki objek yang sama yaitu manusia dalam sebuah masyarakat dan masyarakat itu pula adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. 

Sastra adalah lembaga sosial yang menampilkan gambaran kehidupan yang mencakup hubungan antara masyarakat, manusia, dan peristiwa yang terjadi di dalam batin seseorang. Nilai-nilai sosial dalam 22 buah puisi esai Denny J.A mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat dan nilai-nilai itu ada yang dianggap baik, dan ada yang dianggap buruk oleh masyarakat. Puisi-puisi Denny J.A memperlihatkan bagaimana mereka harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah (konflik) dan menghadapi situasi tertentu. Tindakan tersebut dilakukan adalah semata-mata untuk mencapai tujuan sosial dalam sebuah masyarakat. Penulis banyak mengetengahkan nilai agama dan moral dalam puisi-puisinya. Dua nilai tersebut menjadi isu utama dalam hidup bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman yang sentiasa berubah dan dinamis.

Sebenarnya, semua puisi esai karya Denny J.A (22 karya) tersebut memenuhi fungsi umum nilai sosial, yaitu: pertama menyumbang seperangkat alat dipakai untuk menetapkan patokan/tonggak sosial pribadi atau kelompok. Kedua, mengarah atau membentuk cara berfikir dan tingkah laku. Ketiga, nilai sosial itu berfungsi sebagai patokan/tonggak bagi manusia dalam memenuhi peranan sosialnya. Keempat, sebagai pengawasan sosial, mendorong, menuntun, bahkan menekan/menyerukan manusia untuk berbuat baik. Dan, fungsi kelima ialah sikap solidaritas (perasaan setia kawan/saling memerlukan) di kalangan masyarakat. Terdapat tiga jenis nilai sosial yaitu material, vital, dan kerohanian. Aspek kerohanian yang disentuh oleh penulis anta lain ialah kebenaran, keindahan, moral dan keagamaan.

Dari segi keagamaan yang merujuk kepada akidah atau kepercayaan atau keyakinan dapat dilihat pada puisi Burung Trilili, Kucing Anggora, Balada Wahab dan Wahib, Hikmah Singapura, Menyelam ke Langit dan Kisah Kitab Petunjuk. Misalnya, dalam Karena Kucing Anggora, kucing anggora (hanya sebuah assessori yang akhirnya menjadi penting) dalam kisah ini menjadi penyebab kepada keruntuhan akidah umat Islam sehingga terjadi perpecahan menjadi beberapa kelompok/aliran. Hal ini dapat dilihat melalui watak Badu dan Amir yang mempunyai satu paham yang sama tetapi mengambil jalan yang berbeda.

Jika Badu menolak kehadiran jenis kucing anggora (penghalang agama) dan menurutnya kucing anggora saja dihapuskan. Ia berbeda dengan Amir. Amir menolak sepenuhnya kehadiran semua jenis kucing termasuk kucing anggora. Perpecahan atau perbedaan pendapat itu disebabkan oleh kisah kucing anggora. Puisi ini sebenarnya mempersoalkan tentang sejauh mana keyakinan kita terhadap Tuhan pencipta seluruh alam semesta dan isinya. Nilai agama (akidah) yang disentuh dalam puisi ini ialah umat Islam yang berpegang kepada ajaran agama Islam dengan berpandukan kiblat (arah yang betul; berdoa) sebagai pedoman hidup dan memberantas semua jenis kesesatan yang menjadi penghalang terhadap keutuhan agama Islam.

Polan punya paham yang beda

Guru memang kiblat kita

Batin yang utama tujuan berdoa

Kita tak perlu kucing anggora

(Karena Kucing Anggora: rangkap 19)

 

Pengajaran yang dapat kita ambil dari kisah Karena Kucing Anggora ini ialah keteguhan akidah dan pegangan kita terhadap Allah SWT dengan sentiasa melakukan suruhanNya dan meninggalkan segala laranganNya. Janganlah hanya karena kucing anggora yaitu suatu perkara yang sama sekali tidak penting (hanya sebuah assessori) kita berpaling dari-Nya dan sesungguhnya hanya kepada Allah SWT saja tempat kita bermohon dan berdoa meminta pertolongan.

Dalam rangkap yang berikutnya (rangkap 20 dan 21), kelihatan penulis ingin menyampaikan pesan atau nasihat agar agama Islam itu harus sentiasa diperkukuh kedudukannya dalam diri setiap individu dan kalangan masyarakat yang berbilang bangsa dan agama, walau dalam kondisi atau keadaan apa pun.

Setia pada Guru perlu

Tak semua kondisi harus ditiru

Ambil sisi batin saja

Sisi lahir jangan sekaku meja

(Karena Kucing Anggora: rangkap 20)

 

“Tak perlu cari kucing anggora

Niatkan hati, berdoa saja

Jangan buang waktu

Lupakan kucing anggora”

(Karena Kucing Anggora: rangkap 21)

 

Puisi Menyelam Ke Langit bercerita tentang tokoh Joni yang telah diajarkan agama oleh orang tuanya sejak kecil hingga beliau muda remaja. Seiring dengan peredaran waktu dan perubahan zaman, keyakinan Joni terhadap agama semakin longgar. Timbul keraguan terhadap agamanya sendiri dan berniat untuk pindah agama.

Joni berdoa dan terus berdoa agar diberikan petunjuk dan hidayah. Setiap hari setelah berdoa, Joni mengalami mimpi. Hari pertama berdoa, Joni diberikan mimpi sejarah manusia pertama. Hari kedua berdoa, Joni bermimpi berubah menjadi internet, hidup bersama google dan Youtube. Hari ketiga berdoa, Joni diberi mimpi berubah menjadi peri memasuki sebuah negeri seribu satu malam. Melalui mimpi ketiga, Joni mendapat petunjuk yang utuh dan pasti. Akhirnya, Joni membuat keputusan, dia untuk tidak berpindah agama.

Apa yang penting dari kisah Joni ini ialah sejak kecil Joni telah diberikan didikan dan diajarkan nilai akidah/kepercayaan terhadap agama dan Tuhannya. Konflik yang terjadi dalam dirinya terjadi setalah zaman semakin berubah dan dinamis yang menyebabkan akidahnya terganggu. Nilai akidah yang diterapkan oleh orang tua Joni sejak Joni kecil dapat dilihat melalui rangkap 6:

“Ada apa dan apa artinya?” Joni penasaran

Ini suara hati yang membuatnya gemetaran

“Adakah ini caraMu bicara padaku, Tuhan?

Yang Maha, berikan aku pencerahan!”

(Menyelam Ke Langit: rangkap 4)

 

“Ayah dan ibu, hormatku padamu

Tapi ini agama, bukan pilihanku

Kau yang mewariskannya sejak ku kecil

Kau yang mengajarinya dicicil-cicil”

(Menyelam Ke Langit: rangkap 6)

 

Pengajaran yang dapat diambil dari kisah ini ialah pegangan seorang terhadap Islam (akidah) itu adalah bermula dari pendidikan sejak kecil. Akidah yang diyakini itu haruslah seimbang dan sejalan dengan zaman yang berubah. Pengajaran kedua dari kisah ini ialah sebagai manusia yang hidup di muka bumi yang sementara ini, kita harus sentiasa belajar dan terus belajar mendalami arti kehidupan sesuai dengan tuntutan zaman. Manusia itu sentiasa mampu menyesuaikan dengan tuntutan kehidupan pada masa kini dan pada masa akan datang tanpa mempersoalkan akidah agama yang dipegangnya.

Dari segi keagamaan, hidup merujuk kepada musyawarah dan mufakat. Musyawarah ialah proses pembahasan suatu persoalan dengan maksud mencapai keputusan bersama. Semantara mufakat adalah kesepakatan yang dihasilkan setelah melakukan proses pembahasan dan perundingan bersama. Jadi musyawarah mufakat merupakan proses membahas persoalan secara bersama demi mencapai kesepakatan bersama. Puisi Naga Seribu Wajah adalah antara puisi yang jelas memperlihatkan proses pembahasan suatu persoalan demi mencapai keputusan/kesepakatan bersama. Penduduk kampung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Guru yang telah mendapat firasat/petunjuk bahwa ada naga di dalam sungai dan penduduk kampung dilarang jika ingin selamat. Penduduk kampong akur.

Penduduk mulai teryakinkan, koor serentak

Mereka bersorak puas dan kaki dihentak

“Nyi nyi nyi nyi....

Ada NAGA sembunyi

Sembunyi di sungai yang sunyi”

Nyi nyi nyi nyi....

Sembunyi di sungai yang sunyi”

(Naga Seribu Wajah: rangkap 11)

 

Pengajaran yang dapat diambil daripada kisah ini ialah setiap umat Islam haruslah bijak bertindak dalam menyelesaikan setiap masalah dengan meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT dan bermohon supaya diberikan hidayah dan petunjuk supaya setiap masalah itu dapat diselesaikan dengan baik. Umat Islam mestilah berprasangka baik bahwa setiap yang berlaku itu ada hikmah dan rahmat yang tersembunyi di baliknya. 

Dari segi moral, Denny J.A banyak menyentuh aspek moral dalam karya puisi esainya. Salah satu dari nilai moral itu adalah dari segi persahabatan, persaudaraan, dan saling memaafkan (Lotre Kehidupan), kasih sayang dan kekeluargaan (Balada Wahab dan Wahib), bertanggungjawab (Kisah Kitab Petunjuk), Kebenaran (Mencari Raja di Raja , Hikmah Singapura, dan Terkejut oleh Rise) dan menghormati ketua agama (Perguruan Bahagia) adalah antara contoh puisi yang mempunyai nilai persahabatan, persaudaraan dan saling memaafkan.

Puisi ini mengisahkan dua sahabat baik yang sebaya usia yaitu Aba dan Abi. Mereka bersahabat baik dari kecil, hidup miskin di desa, menerima pendidikan yang sama, dan juga menerima rezeki yang lebih kurang sama. Persahabatan mereka terlalu erat seperti saudara kandung sehingga mereka hidup bertetangga dan ketika dewasa dan berusia mereka sama-sama dikurniakan lima orang anak. Aba dan Abi sama-sama menginginkan menjadi kaya.

Setiap hari mereka berdoa dan berpuasa agar diberi kekayaan dan kesenangan. Namun, permusuhan mulai berlaku setelah doa dan permohonan Abi dan keluarga dikabulkan (mendapat lotre). Aba dengki dan iri hati lalu berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengapa doa Abi saja yang dimakbulkan sedangkan mereka sama-sama berdoa. Beberapa hari selepas berdoa, Abi memang mendapat kesenangan dan Aba ditimpa kesusahan tetapi kesenangan itu tidak bertahan lama. Selepas menikmati kesenangan, Abi mendapat kesusahan dan Aba pula menikmati kesenangan. Lalu Abi berdoa memohon dan berdoa lagi dan kemudian diberi kesenangan dan sebaliknya Aba pula ditimpa kesusahan. Begitulah seterusnya yang terjadi antara mereka secara selang-seling. Mereka sering menyalahkan takdir di atas setiap kesenangan dan kesusahan yang menimpa mereka. Walau bagaimana pun, kisah ini berakhir dengan baik di mana mereka berdua kembali berdamai dan menyadari kelemahan diri.

Kini keluarga Abi berteriak ke langit

“Burung Trilil

Kami sama berdoa

Mengapa hanya mereka

Yang kau kabulkan

Di mana keadilan?

(Lotre Kehidupan: rangkap 18)

 

Kini keluarga Abi berteriak ke langit,

“Burung Trilili

Kau kirimkan mobil honda

Kami kira itu berkah

Ternyata membawa bencana

Di mana keadilan?”

(Lotre Kehidupan: rangkap 24)

 

Melalui watak Aba dan Abi, banyak pengajaran hidup yang mereka peroleh daripada peristiwa susah senang mereka. Mereka kini sadar bahwa rezeki sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, dan sebagai hamba-Nya kita seharusnya mensyukuri apa yang telah diberikanNya, seperti mereka bersyukur diberikan umur yang panjang atau kehidupan yang aman dan sejahtera. Hikmahnya, tidak ada lagi rasa dendam, sakit hati, marah dan sebagainya, yang ada hanyalah rasa sukacita penuh kebahagiaan dalam ketulusan cinta kasih, tidak ada lagi jurang pemisah, semua menyatu sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan.

“Terima kasih burung Trilili

Mukjizatmu sudah kami terima

Bukan atas mujur yang KAU kirim

Bukan atas malang yang KAU cobakan

Tapi atas hikmah yang kami dapat

Atas Kearifan yang makrifat”

(Lotre Kehidupan: rangkap 78)

 

Puisi Balada Wahab dan Wahib adalah contoh puisi yang mempunyai nilai kasih sayang dan kekeluargaan. Kisah dalam puisi ini sangat menarik untuk dihayati dan dijadikan pedoman dalam menempuh arus kehidupan yang sentiasa berubah. Watak Wahab dan Wahib adalah dua beradik kembar yang dibesarkan oleh seorang ibu dengan pendidikan agama sehingga mereka berdua berjaya melanjutkan pelajaran di luar negeri, namun dalam dua jurusan/bidang yang berbeda. Wahib di Amerika dan Wahab di Timur Tengah. Setelah keduanya pulang dari luar negeri, semuanya berubah. Pendirian dan paham mereka mengenai agama turut berubah. Wahib dan Wahab saling bertentangan pendapat, saling bertengkar untuk menegakkan persepsi dan pendirian masing-masing sehingga mengakibatkan permusuhan dan pertengkaran yang hebat antara keduanya. Sang ibu yang melihat keadaan tersebut ikut bersedih dan kecewa.

“Bu, agama di atas negara

Sesat itu Islam Nusantara

Walau presiden di belakangnyaWahab teriak naik darah

(Balada Wahab dan Wahib: rangkap 5)

 

“Wahab kamu yang salah

Agama dan negara beda wilayah

Kita dukung Islam Nusantara,”

Bantah Wahib membahana

(Balada Wahab dan Wahib: rangkap 6)

 

“Sudah. Sekali lagi sudah!

Ibu sudah lelah,”

Suara ibu terbata

Di pipi menetes air mata

(Balada Wahab dan Wahib: rangkap 7)

 

Pengajaran dari kisah ini ialah pendidikan agama itu harus berjalan seiring dengan waktu karena tuntutan zaman juga akan turut berubah. Kita harus menerima persepsi bangsa lain di negara lain dengan pandangan yang berbeda tetapi hati, iman, dan akidah kita harus tetap teguh dengan ajaran agama Islam yang sebenarnya karena agama kita juga ada persepsi yang tertentu. Agama Islam itu tidak menyusahkan umatnya. Dengan kata lain, kasih sayang diungkapkan bukan hanya kepada ‘kekasih’ (apa yang nyata di dunia) tetapi juga kepada Allah, orang tua, keluarga, teman, serta makhluk lain yang hidup di bumi ini.

Nilai moral yang lain dan juga penting ialah menghormati ketua agama. Nilai ini terdapat dalam puisi Perguruan Bahagia. Puisi ini mengisahkan tentang guru mulia yang sudah tua dan beliau merasa sudah tiba saatnya untuk pensiun. Dua calon yang dipilih ketua adalah Amin dan Amen. 

Mereka diberi satu ujian dan akan dibuat penilian oleh guru bahwa siapakah di antara mereka yang paling dapat membuat bahagia. Amin pergi ke kampung utara dan Amen ke kampung tenggara, mereka membawa puluhan kitab mulia. Amin mengenalkan setiap inci, isi luar dan dalam kitab suci kepada seluruh penduduk kampung. Selain itu beliau mengajar mengaji dan menghafal kitab suci. Walaupun mendapat berbagai tentangan dan halangan, Amin tetap meneruskan perjuangan dakwahnya bersumberkan hanya kitab suci. Berbeda dengan Amen. Amen menjalankan hijrahnya adalah dengan membuka mata, telinga, dan hatinya. Amen mendengar segala keluhan dan masalah yang dihadapi penduduk kampung tenggara. Amin juga mencuba untuk menyelesaikan setiap masalah dan kekeliruan yang mereka hadapi asalkan mereka mencapai kebahagiaan hidup (“asalkan mereka terus mencari mutiara”).

Setelah tamat masa ujian, amin dan amen menceritakan dari awal hingga akhir perjalanan dakwah mereka kepada guru mereka. Akhirnya, setelah guru mendengar laporan keduanya, Amen dipilihnya menjadi pengganti (ketua). Kumpulan murid yang menyokong Amin tidak setuju dengan keputusan ketua. Guru memberi penjelasan demi penjelasan dan penerangan demi penerangan mengapa beliau memilih Amen dan bukan Amin. Namun murid-murid marah dan tetap tidak berpuas hati. Akhirnya mereka durhaka kepada guru mereka dan saling salah menyalahkan antara satu sama lain sehingga tercetus peperangan dan pertumpahan darah antara keduanya.

“Amin menjadikan kitab sebagai tujuan

Menjadikannya satu-satunya kebenaran

Menyeragamkan lingkungan

Menafikan warna-warni kehidupan

Tak heran jika terjadi pergolakan.”

(Perguruan Bahagia: rangkap 41)

 

“Amen menjadikan kitab hanya sebagai cara

Yang dipentingkan adalah hati manusia

Cara tak harus seragam

Karena lingkungan juga beragam.”

(Perguruan Bahagia: rangkap 42)

 

“Amen mengambil api dari kitab

Menghidupkan api yang sama

Dari mana pun asalnya

Tak peduli bagaimana pun berbeda

Sejauh membuat manusia bahagia.”

(Perguruan Bahagia: rangkap 43)

 

Pengajaran yang dapat diambil ialah untuk mencapai kebahagiaan, setiap keputusan yang diambil oleh ketua/guru hendaklah dipatuhi karena keputusan itu dilakukan adalah untuk kebaikan semua (murid-muridnya). Ketua/guru paling tua adalah yang paling arif yang patut dihormati dan lebih berpengalaman dibandingkan murid-murid yang lebih muda. Maka dengan yang demikian, sikap hormat kepada ketua dapat menghindari kejadian yang tidak diinginkan, contohnya permusuhan.

Pendukung Amen bereaksi sebaliknya

“Hormati guru, hormati keputusan

Bersama rapatkan barisan

Juga martabat perguruan.”

(Perguruan Bahagia: rangkap 51)

 

Hormati guru, hormati keputusan

Di belakang guru, rapatkan barisan”

Pendukung Amen koor tak kalah

Guru tak salah

(Perguruan Bahagia: rangkap 51)

Nilai moral dan pengajaran dalam lima puisi yang diambil secara rambang adalah seperti berikut:

Judul Sajak

Nilai Moral

Pengajaran

Kisah Kitab Petunjuk

Kasih sayang dan kebersamaan

Pelajaran/pendidikan agama bukanlah menjadi sebab utama berlakunya keretakan hubungan kekeluargaan yang memisahkan silaturrahim antara ayah dan anak gadisnya.

 

Mimpi Sepeda Ontel

Saling hormat dan menghormati

Menghormati keyakinan dan kepercayaan setiap manusia (sesama menganut agama yang sama atau berlainan agama)

 

Menghormati hak asasi manusia karena di setiap negara juga tinggal beberapa bangsa dan kaum lain.

Hikmah Singapura

Keterbukaan (ilmu sejagat –nilai universal)

Pelajaran agama memang menjadi keutamaan tetapi perlu selaras dengan pendidikan dunia sejagat (pelajari juga ilmu-ilmu umum/sains yang lain). Keduanya amat perlu bagi menghadapi keadaan dan zaman dunia yang semakin berubah.

 

Mencari Raja di Raja

Ikhlas dan rela

Setiap manusia yang hidup pasti akan mati. Tidak ada makhluk Allah SWT yang kekal dan abadi sifatnya. Kita sebagai hambaNya mesti menerima ketentuan/qada qadar Illahi.

Terkejut oleh Riset

Sumber kebahagiaan/mencari arti kebahagiaan yang hakiki

Menuntut ilmu biarlah ibarat pepatah “Tuntut ilmu sampai ke Cina”:

Agama adalah sumber kebahagiaan, dan

Ilmu adalah benteng untuk menegakkan sumber kebahagiaan. Oleh itu agama dan ilmu lainnya saling memerlukan di zaman ini.

 

Sebagai kesimpulan, 22 puisi esai karya Denny JA adalah karya sastra hasil ciptaan dari proses kreativitas penulis dengan menggunakan Bahasa yang mudah dan tepat yang sarat dengan pesan-pesan moral baik secara implisit mahupun eksplisit seperti kejujuran, kebaikan, keikhlasan, redha, bertimbang rasa (toleransi), kesabaran dan ketulusan serta kebersamaan.

Karya Denny JA ini bersifat unik dan murni karena penulis ini mempunyai style atau gaya yang berbeda dibandingkan kebanyakan karya puisi yang ada. Setiap puisi esai tulisan Denny JA diselipkan sebuah isu sosial berdasarkan peristiwa nyata dengan mengandungi nilai sosial di dalamnya. Penulis menyelipkan banyak pengajaran atau pesan-pesan sosial kepada masyarakatnya atau khalayaknya. Hal ini memperlihatkan Denny JA adalah seorang penyair yang luar biasa, mengahasilkan puisi-puisi komited dengan gaya baru dan sangat terikat dengan status sosial di sekelilingnya.

  • view 769