SMA Tertua, Riwayatmu Kini

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Maret 2017
SMA Tertua, Riwayatmu Kini

Buku TOREHAN KAMI MEWARNAI NEGRI (71 Tahun SMAN 1 Jakarta)

SMA Tertua Indonesia, Riwayatmu Dulu
Denny JA

Apa yang perlu dikerjakan agar ada SMA di Indonesia masuk menjadi satu dari list 50 SMA terbaik dunia? Atau satu dari 10 SMA terbaik Asia? Perlukah ditambah dosis kualitas mata pelajaran science dan teknologi? Atau justru perlu ditingkatkan kualitas gurunya, teknologi pengajarannya, fasilitas belajarnya? Atau justru perlu ditingkatkan kualitas citizenship dengan aneka kelas ilmu sosial, demokrasi, dan keberagaman?

Pertanyaan ini datang seketika membaca berita ulang tahun SMA 1 Jakarta. Itu tempat saya bersekolah di tahun 70 an akhir dan 80an awal, 37 tahun lalu.

13 Maret 2017, 71 tahun sudah usia SMA 1. Ini resmi SMA tertua di indonesia. Tak sampai setahun setelah merdeka, sebuah SMA didirikan pemerintah. Angka satu setelah kata SMA menandakan memang ia urutan pertama dari sejumlah SMA lain yang akan didirikan pemerintah.

Saya termasuk yang tak percaya jika bangunan SMA 1 berdiri tahun 1946. Bangunan gedungnya begitu kuno dan corak arsitekturnya jauh lebih lama.

Ternyata memang bangunan SMA 1 hanya kelanjutan dari sekolah yang lebih tua, yang sudah ada sebelumnya. Tahun 1946, ia hanya berganti nama saja karena pemerintah RI baru dideklarasikan merdeka.

Dari data sejarah, ternyata memang gedung yang dipakai SMA 1 Jakarta di jalan Budi Utomo itu bangunan yang sudah berdiri sejak 1889. Kini usia bangunan itu sudah hampir 130 tahun. Saat itu sekolah tersebut bernama PHS (Prins Hendrik School).

Ia beberapa kali ganti nama hingga akhirnya menjadi SMA 1 Jakarta. Ketika berdiri, SMA 1 juga tak selalu menetap di jalan Budi Utomo. Sampai tahun 1947, politik Indonesia masih labil. Sekolah SMA 1 itu sempat ditutup, dan dipindahkan pengajarannya dari rumah ke rumah, menumpang rumah guru yang bersedia.

Walau negara saat itu masih harus berjuang, dan ada kemungkinan diambil kembali oleh Belanda, tapi sekolah harus terus berjalan. Para guru dan murid ikut mencari cara agar SMA 1 tetap berdiri.

-000-

Sekelompok alumni SMA mempunyai cara unik untuk merayakan sekolahnya. Mereka membuat buku berjudul "Torehan Kami Mewarnai Negri." Ini buku mengenai 13 alumni SMA 1 Jakarta yang dianggap sukses. Dalam setiap kisah 13 alumni itu ada cerita hal apa yang bekesan di masa SMA yang mempengaruhi hidupnya hingga sukses.

Dari 13 alumni SMA 1 Jakarta itu ada JB Sumarlin. Ia dikenal arsitek ekonomi era Orde Baru. Ketika Orde Baru tumbang dan diganti era reformasi, arsitek ekonominya berubah. Satu di antaranya tetap alumni SMA 1 Jakarta: Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.

Tak hanya ekonomi, sisi politik era Orde Reformasi juga berubah. Politik menjadi demokratis dengan pemilihan umum yang bebas. Politik era demokrasi diwarnai kampanye berbasiskan science dan marketing. Ada pula alumni SMA 1 Jakarta di sana, ikut mewarnai politik dengan membangun profesi baru konsultan politik berbasis survei. Saya, Denny JA, dimasukkan pula oleh team penulis dalam list 13 alumni itu.

Bisnis dan dunia usaha tumbuh berkembang. Alumni SMA 1 Jakarta tercatat termasuk satu dari 10 orang terkaya di sana. Chairul Tanjung.

Peran wanita jangan pula dilupakan. Majalah wanita mewarnai perjalanan negeri. Ada pula alumni SMA 1 Jakarta di sana: Pia Alisjahbana. Ia mendirikan dan memimpin Majalah Wanita utama: Femina.

Dunia perbukuan juga berkembang. Ada alumni SMA 1 Jakarta pula di sana: Lusi Andam Dewi yang pernah memimpin IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia).

Dalam list 13 alumni itu ada pula mantan gubernur Jakarta Soerjadi Soerdirja. Anggota DPR Adang Daradjatun. Gus Solah (Salahudin Wahid) kiai yang memimpin pesantren besar Tebuireng. Dan banyak lagi lainnya.

Di luar list 13 alumni itu, sebenarnya masih banyak alumni SMA 1 Jakarta lain yang ikut "torehan kami mewarnai negeri," seperti judul buku tersebut. Misalnya Verawati ratu bulu tangkis Indonesia. Atau Adnan Buyung Nasution, pejuang hukum. Juga Siswono Yudo Husodo, pengusaha yang juga politisi.

-000-

SMA 1 Jakarta pernah menjadi begitu idola di zamannya. Namun zaman berubah dan SMA 1 tak berkembang cepat mengantisipasi perubahan zaman itu.

Saya melihat list 10 SMA terbaik Jakarta yang dikeluarkan Mendikbud 2016. Saya tidak kaget melihat SMA 1 tidak masuk dalam list itu. Dalam jumpa teman sesama alumni, sudah sering saya mendengar keluhan dan problem atas semakin merosotnya SMA paling tua di Indonesia itu.

Jangankan menjadi bagian terbaik di dunia, di Asia, di Indonesia, hanya di Jakarta saja SMA 1 tak masuk dalam list itu.

Namun saya mendengar juga para alumni mulai juga melakukan aneka kontribusi. Saya sendiri tak bisa juga terlalu banyak memberikan kritik karena apa pula yang sudah saya kerjakan untuk SMA 1 ini?

Selamat ulang tahun SMAN 1 Jakarta. Tiga setengah tahun saya tumbuh di sana. Masa SMA masa ketika kita semua berusia 17 tahunan. Itu masa ketika mengenal dunia yang baru: dunia penuh romansa, pubertas remaja, dan mulai mengembangkan cita cita.

Saya buka kembali buku itu: Torehan Kami Mewarnai Negeri. Ibarat kereta api, SMA 1 Jakarta terus berjalan. Saya hanya naik di satu stasiun dan turun di stasiun lain. Namun kereta itu terus meluncur mengangkut penumpang baru, menuju stasiun lain.

Masa SMA itu sudah menjadi satu bab dalam buku hidup saya. Perkembangan terbaru SMA paling tua itu selalu berbunyi, seperti lonceng dalam memori saya.

***

  • view 154