MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 04 Maret 2017
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

15.7 K Hak Cipta Terlindungi
MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI

“Berburu Tuhan – Petuah Tiga Guru”

MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI

 

Oleh Bambang Widiatmoko

(Dosen, penyair, dan peneliti tradisi lisan)

 

 

/1/

Setelah mempelopori genre puisi esai di Indonesia, langkah kreatif Denny J.A. kian memuncak. Buku kumpulan puisinya (bergambar dan vcd) berjudul Berburu Tuhan – Petuah Tiga Guru yang diterbitkan oleh Inspirasi Co, Tahun 2016, membuktikan hal itu. Renungan perjalanan spiritualnya melalui “berburu Tuhan” menandakan kekayaan pengetahuan yang mendalam sekaligus endapan pengalaman batin yang amat mengagumkan,

 

Pemilik talenta luar biasa ini adalah Denny J.A. yang dilahirkan di Palembang, 4 Januari 1963. Dia banyak membuat terobosan di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya. Pada tahun 2015 Denny J.A. dinobatkan TIME Magazine sebagai salah satu dari 30 orang paling berpengaruh di internet, bersanding dengan presiden Amerika Serikat Barack Obama. Tahun 2014 dia dianugerahi rekor MURI sebagai konsultan politik pertama di dunia yang ikut memenangkan tiga kali pemilu presiden. Selain itu dia juga dipilih oleh Tim 8 menjadi salah satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh.

 

/2/

Kisah perjalanan Darta sebagai tokoh utama dalam buku ini sangatlah menarik. Disusun dengan kalimat-kalimat sederhana namun tak kehilangan daya pukau: //Ia juga punya keluarga bahagia/Istri yang sehat dan setia/Dua anaknya rajin sekolah/Keluarga yang sakinah. Sosok Darta yang direpresentasikan berusia 55 tahun bermaksud mencari jati diri. Dalam kehidupan Darta secara lahiriah telah terpenuhi – bahkan telah mencapai puncaknya – tetapi kehidupan batinnya merasa dahaga. //Pencapaian dunia sudah diraihnya/Tak puas, ia tinggalkan semua/”Hidup hanya sekali,” ujarnya/”Harus kutemukan hikmah tertinggi”//.

 

Begitulah pada akhirnya Darta mulai mencari, siapakah sebenarnya Sang Guru Sejati? Lalu perjalanan memburu Tuhan pun dimulai. Dia sadar betul bahwa kehidupan seseorang di dunia ini hanya sekali. Seperti halnya penyair besar Chairil Anwar mengatakan dalam puisinya, “hidup hanya sekali – sudah itu mati”. Darta pun tidak mau kalah dan mengatakan: //Mencari hidup punya inti/Sudah itu mati//.

 

Tentu perjalanan pencarian jati diri untuk menemukan hidup sejati tidaklah mudah. Apalagi sosok Darta berasal dari kehidupan dunia terkini. Segala pencapaian kebutuhan hidup secara lahiriah sudah terpenuhi: //”Sudah ia kecup puncak kuasa/Jabatan tertinggi sebuah wilayah/Banyak orang sudah dipimpinnya/Mencapai mimpi bersama//. Namun batinnya tetap saja dahaga sehingga dia memutuskan “berburu Tuhan”. Tentangan pertama pasti datangnya dari keluarga: //Sejak awal keluarga menentang/”Kok aneh ingin menghilang?”/Namun hidup Darta yang tegang/Oh…Darta yang malang//. Pembelaan pun diperoleh dari kakaknya: //Kakaknya datang membela/Membantu meyakinkan keluarga/Lima tahun tidaklah lama/Biarkan Darta mencari makna//.

 

Keluarga pun akhirnya pasrah dan melepas Darta untuk mencari oase penghapus dahaga jiwanya. //Lahir batin Darta pun hijrah/Ditinggalnya hidup yang lama/Dimulailah perjalanan/Mencari makna tertinggi kehidupan//.

 

Kegelisahan Darta memaknai kehidupan ini tidak dapat dicegah. Selalu terngiang-ngiang suara yang menggedor jiwanya dan membuatnya gelisah. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat Darta “galau” dan memaku perasaannya. //Tuhan, mohon buka mata batinku/Aku ingin memahami-Mu/Aku dilahirkan ke dunia, mengapa?/Aku hidup di bumi, untuk apa?”//.

 

Darta pun mulai berkelana dan ibaratnya lirik lagu sampai ke ujung dunia. Berkelana untuk mencari jawab tidak bisa tidak harus mempelajari semua agama yang ada. Bagaimana pesan-pesan yang disampaikan Tuhan melalui agama? Darta harus mengkajinya lewat laku yang panjang untuk mencari jawabnya.

 

Perjalanan sunyi pun dimulai: //Dipelajarinya Hindu di India/Ini agama yang paling tua/Ia berendam di sungai Gangga/Dibacanya Veda dan Bhagawad Gita//. Setahun lamanya Darta mempelajari agama Hindu namun jiwanya tetap tak terpuaskan. Sentuhan “kenakalan” penyairnya pun dapat kita rasakan://Tuhan ditampilkan banyak wajah/Muncul dalam figur dewi dan dewa/Kadang ia bertanya/Mungkinkan dewa dewi berkelahi?//.

 

Kita harus memahami bahwa pada masyarakat Yunani Purba menganut paham polytheisme dan menyembah banyak dewa. Dewa dewi itu diberi nama sesuai dengan kekuasaannya. Dewa dewi inilah yang menguasai hidup manusia melalui kematian dan segala aspek kehidupan seperti kelahiran, kematian, cinta, dan sebagainya. Masyarakat Yunani Purba merasakannya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menyerupai manusia. Dewa dewi tidak luput dari sifat-sifat buruk di samping sifat-sifat baik seperti halnya manusia. Dewa dewi memiliki kelebihan dan mereka berkuasa atas kehidupan manusia. Oleh karena itu Darta tidaklah salah mempertanyakan dalam perjalanan batinnya, mengapa Tuhan ditampilkan dalam banyak wajah dalam figur dewa dewi?.

Darta tampaknya menyenangi pilihan kata dewa dewi sehingga muncul pula dalam bait: //Semua tekun ia hayati/Ke gereja ia di minggu pagi/Tapi tak ada dewa dewi di sini/Semua mengacu pada konsep trinity//.

 

Perjalanan Darta berpindah ke Jerusalem untuk mempelajari agama Kristen. Agama yang menurutnya terbesar dan pengikutnya tersebar di seluruh dunia. Darta menceritakan bagian ini terlalu sedikit dan kurang mendalam. Kembali dia gelisah karena belum menemukan yang dicari. //Konsep dosa asal ia pelajari/Ia juga hidup selibasi/Apa makna di balik salib yang suci?/Apa arti kembangkitan kembali?//.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang terus berusaha mencari jawabannya membawa Darta ke Mekah. Islam agama terbesar kedua diambil intisarinya untuk menemukan jawaban. Dia masuk ke dalamnya sesuai tuntutan dalam ajaran Islam. //Di bulan Ramadhan, Darta ikut puasa/Dipelajarinya Quran dan sira/Umroh ia juga tak lupa/Salat lima waktu dan bersedekah ia//.

 

Menapak jejak perjalanan Islam di masa silam hingga kini dilakukannya: //di kabah ia sempat terpana/Ratusan ribu orang berputar tiada henti/Berebut mencium batu yang suci/Ziarah ke makam Nabi//. Darta tetap merasa tidak puas. Dia menemukan perbedaan dalam ajaran agama dan secara tegas menyimpulkan Tuhan pun berbeda://Tuhan di Islam juga berbeda/Tauhid konsep yang sangat esa/Tiada dewa dewi di masjidnya/Tritunggal kudus tiada pula//. Hal itu menjadikan pertanyaan yang menggantung: //Darta semakin bingung/Kok Tuhannya berbeda-beda?//.

 

Seperti halnya setahun Darta di Jerusalem, di Mekah pun hanya setahun pula. Darta selanjutnya pergi ke Burma untuk mempelajari agama Buddha. //Didalaminya konsep nirwana/Reinkarnase apa artinya?/”Kendalikan pikiran,” katanya/”Itu sumber penderitaan”//. Darta terpana karena menemukan” //Namun di rumah suci Pagoda/Tiada disebut Tuhan yang esa/Tiada pula dewi dan dewa/Tiada Tri Tunggal kudus jua//. Darta pun bertanya: //”Atheis kah agama Buddha?”/Tanyanya suatu ketika/Ujar biksu, “Tuhan tak bisa diajarkan/Karena tak usah dibicarakan/Pahami saja asal muasal penderitaan”//.

 

Setahun di Burma, Darta kembali melancong ke aneka wilayah. Dipelajarinya Krishnamurti hingga Theosophy. Dikajinya ajaran menurut pemahaman SUBUD dan Ki Ageng Suryamataram. //Tuhan dan alam satu,” ujar mereka/”Kita bagian Tuhan,” ujar yang lain/”Tuhan itu kumpulan hukum fisika,” ujar satunya/Beda aliran/Beda pula konsep Tuhan//. Semua itu justru membuatnya semakin bingung menyoal Tuhan.

 

Darta lalu “berburu Tuhan” ke dunia barat sampai di Inggris dan Amerika. //Darta lalu ke dunia barat/Ke Inggris dan Amerika/Ia dalami juga new atheismam Harris punya isme/Dari neuro science/Hingga evolusi//. Namun apa yang ditemukan oleh Darta?: //Di sana bahkan Tuhan dianalisa/Dikisahkan Tuhan itu berevolusi/Didendangkan sejarah lahirnya Tuhan/Sebagaimana manusia punya ciptaan//. Semakin banyak Darta mempelajari malah membuatnya bingung sendiri://Semua agama punya pengikut/Semua paham punya alasan/Semua mengklaim paling benar/Namun semua saling beda//.

 

Idiom-idiom dalam puisi Denny J.A. sangatlah cerdas dan menarik. Unsur irama dia pertimbangkan betul. Misalnya: //Oh, Tuhan. Kau tidak sederhana/Semakin aku buru, semakin aku kelu”//. Juga pada: //Ia inginkan makna yang lebih/Agar hidup lebih gurih//. Selain itu: // Bedil dijawab dengan perang/Beragam dijawab dengan pedang//. Perulangan kata yang dihadirkannya pun menarik dari unsur bunyi: //Yang satu merasa lebih/Yang lain merasa paling/Yang satu merasa paling/Yang lain merasa lebih//. Namun tentunya masih ada kekurangcermatan dalam memilik diksi: //Batinnya mengeong dan bertanya/”Apakah hanya ini isi kehidupan?”//. Kata “mengeong” tampaknya kurang pas sebagai sebuah diksi yang dipilih di dalam penulisan puisi.

 

Alangkah sempurnanya jika Denny J.A. bertahan pada bentuk pengucapan dengan pola kuatrin atau empat baris. Beberapa bait pada akhirnya lepas dari pola kuatrin, misalnya: //Namun di suatu malam/Itulah malam yang gaib/Pintunya diketuk ajaib/Seekor burung dara hinggap/Membawa sepucuk surat//. Selain lepas dari pola kuatrin yang terdapat pada bait-bait puisinya, pada bait itu pun terasa kekentalannya mulai mencair.

 

Saya menemukan ungkapan yang menarik bahwa Darta menyenangi angka lima dan kelipatannya. Angka lima bagi masyarakat di Indonesia memiliki nilai khusus. Dalam ranah politik angka lima memiliki makna kekuasaan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya pemilu Presiden dilakukan lima tahun sekali. Apakah secara tidak sadar angka lima ini muncul karena Denny J.A. dikenal sebagai konsultan politik? Kita baca saja kutipannya: //Usia Darta 55 tahun/Sejak 5 tahun lalu ia pensiun//. Dan juga: //Berkali-kali ia berupaya/meyakinkan istri dan anaknya/Agar merelakan ia berkelana/lima tahun sahaja//. Angka itu muncul kembali dalam bait puisinya: //kakaknya datang membela/Membantu meyakinkan keluarga/Lima tahun tidaklah lama/Biarkan Darta mencari makna//.

 

Bahasa Burung

Sepucuk surat yang dibawa oleh seekor burung dara membuat Darta semakin gamang mencari di mana seharusnya “berburu Tuhan?”. Kita baca kutipan puisinya: //Namun di suatu malam/Itulah malam yang gaib/Pintunya diketuk ajaib/Seekor burung dara hinggap/Membawa sepucuk surat//. Ketika surat itu dibuka tertera hanya tiga alamat: //”Apa maksudnya?”/Darta tak paham/Siapa pula yang paham untuk ditanya?”//.

 

Darta memutuskan untuk mengunjungi satu per satu alamat yang tertera://Alamat pertama ia sampiri/Ternyata sebuah taman burung/Ia disambut seorang yang welas asih/Seolah sudah saling mengerti//.

 

Pencarian Tuhan pun kembali dimulai melalui pesan semiotika yang disampaikan oleh para burung. Di sinilah kita perlu menganalisisnya dengan pertanda lewat cerita fable. Kisah yang tersurat maupun tersirat berisi pesan moral di dalamnya. Fabel yang menggunakan binatang sebagai gambaran kehidupan manusia diciptakan oleh Aesop dan berasal dari Yunani. Tanda yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda bagi orang yang berbeda pada waktu yang berbeda dan dalam konteks yang berbeda pula. Sebuah tanda adalah sesuatu yang dapat diterima secara fisik oleh panca indera, yang melambangkan, atau menandai sesuatu (the referent) bagi seseorang (the interpreter) dalam suatu konteks.

 

Teori tentang tanda dikembangkan ahli bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure (l857 – 1913). Ia berpendapat bahwa bahasa adalah fenomena budaya, dan bahasa menghasilkan makna dalam cara yang khusus. Bahasa memproduksi makna melalui sistem hubungan dengan menciptakan jaringan persamaan dan perbedaan. Para pengikut Saussure mengembangkan studi tentang tanda (semiotika) untuk memapankan sifat dasar tanda dan menjelaskan cara kerja tanda dalam kehidupan sosial.

 

Menurut Saussure, tanda selalu mempunyai tiga wajah: Pertama, tanda itu sendiri (sign); kedua, aspek material (baik berupa suara, huruf, bentuk, gambar, atau gerak) dari tanda yang berfungsi menandakan atau yang dihasilkan oleh aspek material (signifier), dan ketiga, aspek mental atau konseptual yang ditunjuk oleh aspek material (signified). Ketiga wajah ini sering juga diformulasikan sebagai berikut: sign – sign vechile – meaning. (Sunardi, 2002: 47-48).

 

Semiotika melihat pesan sebagai konstruksi tanda-tanda di mana melalui interaksi dengan penerima/pembaca pesan tanda-tanda memproduksi makna. Penekanan komunikasi lebih pada teks dan bagaimana teks itu dibaca sehingga melihat merupakan proses menemukan makna-makna yang terjadi pada saat pembaca pesan berinteraksi atau bernegosiasi dengan teks.

 

Tradisi semiotika sangat menaruh perhatian pada keyakinan bahwa lambang-lambang yang mana pun senantiasa memiliki peluang untuk dimaknai secara beragam oleh orang yang berbeda-beda. (Pawito, 2007: 23).

 

Saussure menyatakan bahwa tanda, termasuk bahasa memiliki peraturan-peraturan. Tanda adalah konvensi-konvensi yang dikelola oleh peraturan. Tanda adalah konvensi-konvensi yang dikelola oleh peraturan. Bahasa dipandang sebagai sebuah sistem terstruktur yang mempresentasikan kenyataan. Apa yang diketahui oleh seseorang dalam dunia ditentukan oleh bahasa. Tanda, oleh Saussure dianggap tidak menunjuk objek tapi mengatur objek. Tidak mungkin terdapat objek yang terpisah dari tanda yang digunakan untuk menunjuknya.

 

Analisis semiotik modern dipelopori oleh Ferdinand de Saussure, ahli linguistik dari Swiss (1857 – 1913) dan Charles Sanders Peirce, filosof Amerika (1839-1914). Menurut Saussure bahasa merupakan sistem tanda yang terdiri dari dua sisi, yaitu signifier (penanda) dan signified (petanda) yang tidak dapat dipisahkan. Signifier (penanda) adalah bentuk material atau fisik dari tanda, yaitu sesuatu yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dicium atau dirasakan. Sedangkan signified (petanda) merupakan konsep mental yang mewakili tanda dan dikenal oleh seluruh anggota masyarakat yang memiliki kesamaan budaya dan bahasa (Hoed, 1994: 8).

 

Kita mencoba menelusuri makna tanda dalam puisi Denny J.A. Kita baca: //Beberapa burung bisa bicara/Itu bangau putih bersuara/”Semua buluku putih/Lebih cantik dari bulu burung gagak hitam”//. Pada bait selanjutnya: //Di pojok sana ada kakak tua/Ia tertawa pongah/”Lihatlah aku punya dua warna/Lebih cantik dari bangau putih yang satu warna”//. Tidak cukup hanya itu warna sebagai penanda dihadirkan lebih lanjut oleh Darta: //Di kandang ujung burung merak mekar/Ia juga sombong berkelakar/”Lihatlah aku banyak warna/Lebih cantik dari kakak tua yang dua warna”//.

 

Warna bulu burung menjadi petanda bahwa setidaknya warna putih dipandang merujuk makna yang lebih baik dari warna hitam. Dari sudut pandang burung banyak warna dimaknai lebih baik dari dua warna. Perdebatan tentang makna warna yang secara simbolik disampaikan oleh para burung membuat Darta semakin murung. //Lalu sang guru welas asih/Mengajak Darta ke luar kebun burung/Ke alam bebas/Di sana jumpa gagak hitam//.

 

Begitulah sesama burung pun merasa lebih baik dari burung yang lain. Begitu juga agama yang dipelajari Darta dalam ”berburu Tuhan”. Agama yang satu merasa lebih baik daripada agama yang lain. Tetapi apa yang terjadi? Darta menemukan alasan pembenaran: //Mereka saling hebat-hebatan/Tentang konsep Tuhan/Tentang inti agama/Yang mereka bunyikan/Justru perbedaan. Kesimpulan yang didapat Darta adalah: //Itulah gambaran agama/Sepanjang sejarah//.

 

Pada perjalanan menemui alamat kedua, Darta mulai menemukan pencerahan. Sang guru mengajak Darta ke beranda untuk menikmati warna-warni pelangi. //”Apa arti ini?” Darta bertanya/Namun sang guru hanya tersenyum/Setelah itu ia mengantar Darta pulang/Hanya satu kalimat yang diucapkannya/”Warna pelangi itu/Dari zat yang satu”//. Darta pun mulai merasa lega namun tetap menyimpan perasaan untuk bertanya: //Inikah hikmah kedua?/Beragama di kalangan sang pencerah?/Berbeda dengan orang awam?’//. Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan seperti halnya yang dikatakan Darta. //”Yang awam tonjolkan perbedaan/Beresiko dengan kekerasan/Para pencerah mencari persamaan/Mereka mencari kedamaian//.

 

Kembali Darta melanjutkan perjalanannya untuk mendatangi alamat ketiga dan merupakan alamat terakhir. Simbol apa lagi yang didapat Darta yang membuatnya semakin penasaran?. Kita kutip bait puisinya: //Ia hanya mengajak Darta ke sawah/Menunjukkan seorang suci/Yang sedang bekerja di sana/Ia hanya ucapkan dua kalimat//. Darta tertegun ketika diucapkan dua kalimat yang menjadi intisari dari seluruh rangkain perjalanannya ”Berburu Tuhan – Petuah Tiga Guru” yakni: //”Orang suci tetap menanam padi/Pembawa hikmah tetap menyangkul sawah”//.

 

Betapa sederhananya petuah guru ketiga tersebut yang membuat Darta bingung menafsirkan artinya. Pesan ini paling lama dipahaminya: //Sudah tiga malam Darta merenung/Hikmah di balik itu pesan/Ia hubungan dengan berburu Tuhan/Ia hubungan juga dengan hidupnya sendiri//.

 

Pada akhirnya Darta memperoleh wahyu (kecil) bahwa orang suci sekali pun tetap harus hidup normal: //Orang suci itu/Tetap saja berkerja/Tetap saja berkeluarga/Tetap menanam padi/Tetap menyangkul sawah//. Pemahaman ini membuatnya teringat kampung halaman dan dia akan kembali bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat seperti biasa. //Yang berbeda kini/hanya pandangan hidupnya/hanya perilaku hidupnya/Ia sudah hijrah//.

 

/3/

Pada akhirnya tokoh Darta menemukan titik akhir dari pencariannya melalui ”Berburu Tuhan – Petuah Tiga Guru” ini. Bahwasannya: //Makna hidup tertinggi/Kehidupan punya inti/Ia peroleh bukan dengan pergi/Bukan meninggalkan hidup sehari-hari/Bukan membuang hal-hal yang duniawi//. Dalam falsawah Jawa dikenal topo ngrame atau bertapa di tengah keramaian. Hal ini paling sulit dilakukan dibanding dengan melakukan bertapa di tempat kesunyian, misalnya di tengah hutan.

 

Agaknya Darta meyakini hal itu: //Tapi justru ia harus hidup seperti biasa/Hanya dengan hati yang beda/Hidup secara normal/Tapi dengan hati yang merekah//. Melalui falsafah ini Darta menemukan makna hidup yang dicari: //Tuhan yang diburu/Ternyata dekat sekali/Ia tak dimana/Ia ada di hati//.

 

Kedekatan ini dalam falsafah Jawa disebut manunggaling kawula lan Gusti atau berpadunya diri dengan Tuhan. Perjalanan spritual Darta berakhir dengan menemukan bahwa Tuhan tidak di mana-mana melainkan ada di hati.

 

Menurut Zoetmulder, ajaran bahwa Tuhan dan dunia tidak merupakan dua hakikat yang sungguh terpisah dan yang ada di luar yang lain, melainkan bahwa Tuhan sendiri merupakan segala-galanya. Segala-galanya itu Tuhan, Tuhan dan dunia manunggal. Namun untuk mencapai derajat manunggaling kawula lan Gusti tentu tidaklah mudah. Darta memerlukan waktu lima tahun dan terlebih dahulu menyerap petuah dari tiga guru. Sungguh karya yang luar biasa telah dihasilkan oleh Denny J.A. Selamat. (Bambang Widiatmoko)

 

-o0o-

 

 

Daftar Pustaka

 

Barthes, Roland. 1988. The Semiotic Chalengge. New York: Hill and Wang.

Hoed, Benny H.2001. Dari Logika Tuyul ke Erotisme. Magelang: Indonesia Tera.

J.A, Denny. 2016. Berburu Tuhan – Petuah Tiga Guru. Jakarta: Inspirasi Co.

Mulder, Niels. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: PT. Gramedia.

Pawito.2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS.

Sunardi, ST.2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.

 

 

 

Biodata Penulis

Bambang Widiatmoko, dosen, penyair, dan peneliti tradisi lisan. Kritik sastranya pernah dimuat di Kompas, Jurnal Internasionak Aksara, majalah Sagang dan sebagainya. Kumpulan esainya Kata Ruang (2015). Tahun 2016 terpilih mengikuti Kelas Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Kini bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

 
 
 
 
 
 

Dilihat 128