Janji Cinta Seorang Aktivis

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 02 Februari 2016
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

62.1 K Wilayah Umum
Janji Cinta Seorang Aktivis

Janji Cinta Seorang Aktivis
(Review fIlm Surat Dari Praha)

Seberapa lama aktivis politik yang hengkang ke luar negeri bisa memegang janji cintanya pada seorang gadis di Indonesia? Untuk kasus Jaya, hingga menua, ia puluhan tahun memilih tetap tak menikah di perantauan: tetap memelihara kemarahannya kepada Suharto/Orde Baru, dan memelihara cinta sejati pada kekasih yang lama tak ia pernah dengar lagi beritanya?

Cukup lama saya terdiam setelah menonton film Surat dari Praha, garapan Angga Dwimas Sasangko, serta peran yang apik dari Julie Estelle dan Tio Pakusadewo.

Film dibuka dengan sebuah misteri. Ibu yang wafat mensyaratkan satu hal kepada putri tunggalnya. Hanya akan memberikan warisan setelah putrinya Larasati menyampaikan sebuah kotak ke seseorang di Praha bernama Jaya. Lalu sebagi bukti, penerima kotak harus menanda-tangani surat tanda terima.

Sang putri tak mengerti apa arti kotak itu? Yang ia tahu ibunya tak mencintai ayahnya sehingga ayah cukup menderita. Dan ia tumbuh dengan kemarahan terpendam kepada ibunya.

Kotak itu akhirnya membuka kisah lama: kumpulan surat mengenai cinta mendalam yang terputus karena pergolakan politik. Jaya seorang aktivis saat itu bersikap menolak Suharto/Orde Baru. Akibat pilihannya, ia harus hengkang dari Indonesia.

Kepada kekasih, ia sampaikan dua janji cinta. Pertama, ia akan kembali dan menikahinya. Kedua, ia akan mencintai sang kekasih sampai ajalnya. Ia menyesali, situasi politik akhirnya hanya membuatnya bisa memenuhi janji kedua. Ia memilih tak pulang dan menetap di Praha.

Bertahun- tahun sang kekasih menunggu. Namun Jaya tiada kabar berita sedikitpun. Sang kekasih akhirnya menikah. Tapi tak bisa dipungkiri, cinta sejati hanya untuk Jaya.

Film menjadi menarik karena menggambarkan secara wajar perubahan hubungan antara Jaya dan larasati, putri kekasihnya itu. Hubungan dimulai dengan konfliktual, terkesan saling tak menyukai antara keduanya. Perlahan hubungan mereka berubah menjadi persahabatan.

Saya cukup terharu dengan selipan adegan di film itu. Para aktivis politik kiri yang sudah menua di Praha, puluhan tahun tak pulang ke Indonesia, punya waktu kumpul bersama, lalu bernyanyi: indonesia tanah air beta/pusaka abadi nan jaya.

Juga adegan pertengkaran Larasati dengan Jaya. Saya kutip dari ingatan, tanya Larasati: mengapa anda pengecut menghilang tanpa kabar apapun kepada ibu saya yang sampai akhir hayatnya mencintai Anda? Dan mengapa pula setelah puluhan tahun menghilang, dan ibu saya sudah menikah, anda malah mengganggu dengan mengirim surat terus menerus? Karena surat anda yang banyak itu, ibu saya sering menyendiri, dan membuat ayah saya sampai sakit?

Jaya selalu enggan menjawab pertanyaan soal hubungannya dengan ibu Laras. Namun akhirnya ia bercerita. Ia tak mau mencelakakan kekasihnya karena nanti sang kekasih terkena cap "tak bersih lingkungan."

Kisah cinta dengan seting peristiwa sejarah selalu memilki nilai lebih, jika digarap dengan baik. Perubahan kekuasaan di era 60an, bukan saja mengubah peta politik dalam tataran nasional. Namun juga memberikan efek sangat personal termasuk soal kisah cinta para aktivis kiri.

Bisakah kita mencintai seperti Jaya dan ibunya Laras? ***

?

?

  • view 867