Sentimen Anti Ahok Masih Mayoritas

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 18 Januari 2017
People Power Menentang Ahok

People Power Menentang Ahok


Tulisan dan Puisi Pilkada Jakarta

Kategori Acak

467.6 K
Sentimen Anti Ahok Masih Mayoritas

Survei LSI Terbaru, Januari 2017

Sentimen Anti Ahok Masih Mayoritas
Denny JA

Sebulan kurang dari hari pencoblosan, sentimen anti Ahok masih mayoritas. Jika pilkada hari ini, Ahok kesulitan mendapatkan dukungan mayoritas untuk menang. Data terbaru menunjukkan Ahok mungkin lolos dari putaran pertama. Namun Ahok dikalahkan telak di putaran kedua.

Ahok menjadi fenomena unik dunia pilkada. Sebagai pertahana, di atas 70 persen publik puas dengan kinerjanya. Publik yang puas dengan pertahana setinggi itu umumnya cenderung memilih kembali pertahana.

Kasus Ahok berbeda. Ada "semacam ganjalan hati" yang menyebabkan tingginya kepuasan publik tidak serta merta menjadi keunggulan elektoral. Di pilkada Jakarta, Ahok justu menjadi cagub yang tingkat kesukaannya terendah. Justru sentimen anti ahok mendominasi mayoritas pemilih Jakarta.

ibarat remaja, pemilih Jakarta merasakan cinta yang terbelah kepada Ahok. Mereka puas dengan Ahok tapi soal hati lain perkara. Bagi pemilih Jakarta, ibarat remaja, ternyata urusan hati lebih menentukan.

Pemilih menengah atas yang sering disebut rational voters umumnya masih memilih Ahok dibanding kandidat lain. Tapi pemilih menengah bawah yang lebih menggunakan hati, mayoritas meninggalkan Ahok. Problem buat Ahok karena pemilih menengah bawah itu jumlahnya dua kali lipat dibanding pemilih menengah atas.

Ini ISU KEDUA dari TIGA ISU hasil survei LSI-Denny JA. Survei dilakukan pada tanggal 5-11 Januari 2017 di Jakarta.

Survei ini berdasarkan wawancara tatap muka dengan 880 responden. Responden dipilih melalui metode multistage random sampling. Margin of Error survei ini plus minus 3.4%.

Survei ini dibiayai dengan dana sendiri, dan dilengkapi pula dengan kualitatif riset (FDG/focus group discussion, media analisis, dan indepth interview).

-000-

Pertanyaannya, mengapa di kala mayoritas publik puas terhadap Ahok, kesukaan atas Ahok justru paling rendah? Mengapa di saat mayoritas publik bersetuju dengan prestasi kerja Ahok, sentimen anti Ahok justru mayoritas?

Team LSI mencoba menelaah data, bahkan sejak survei pertama bulan Maret 2017.
Ibarat dunia pendekar, Ahok itu baru menguasi separuh ilmu persilatan. Ahok sudah menguasai ilmu yang "teknis," dan sudah kuat motif ingin membela yang benar. Tapi ada ilmu "tingkat batin" yang belum dikuasainya yang membuat Ahok tidak dicintai penduduk di sana.

Ahok gemilang sebagai manajer kota, tapi ia punya problem dengan apa yang disebut kecerdasan emosional. Ahok kurang piawai menghadapi emosi publik. Rangkaian blunder dan komentar yang tak perlu dari Ahok justru mengikis dukungannya sendiri.

Ketika Ahok menyeletuk soal banyak hal, ia lolos saja. Namun ketika ia menyeletuk wilayah agama, perkara menjadi beda. Ia terkena batunya.

Perlu dicatat karena ini sangat penting. Bukan karena Ahok minoritas, ia tidak didukung mayoritas pemilih. Di bulan maret 2016, Ahok pernah didukung sekitar 59.3% pemilih Jakarta. Itu Ahok yang sama, yang juga berasal minoritas agama dan minoritas etnis. Itu juga pemilih Jakarta yang sama yang mayoritasnya Muslim. Toh Ahok tetap didukung mayoritas di bulan Maret 2016 itu.

Lalu dari rekaman survei LSI-Denny JA, pelan-pelan dukungan Ahok menurun ke angka 49,1 % (Juli 2016), turun lagi ke angka 31,4 % (Oktober 2016), turun lagi ke angka 24,6% (November 2016).

Di survei yang sama di bulan November itu, sebelum Ahok diputus tersangka, ketika responden diberi pertanyaan simulasi jika Ahok tersangka, ada efek kejut yang membuat Ahok jatuh ke angka 10,6%. Itulah angka terendah yang pernah terekam oleh survei LSI Denny JA.

Ibarat harga saham komoditas premium, harga bisa turun naik secara cepat tergantung pula oleh persepsi publik. Kini pelan-pelan, Ahok kembali recovery. Survei bulan Desember Ahok menaik kembali ke angka 27.1%. Di bulan Januari 2017, Ahok kembali rebound ke angka 32, 6%.

Di bulan Januari 2017, Ahok membayangi Agus yang di angka 36, 7%. Mereka berdua meninggalkan Anies dengan selisih di atas 10 persen. Elektabilitas Anies di angka 21,4 persen.

Namun recovery Ahok ada batasnya jika sentimen anti Ahok masih mayoritas. Ahok beruntung di putaran pertama akibat sentimen anti Ahok terbelah kepada dua pasang calon: pasangan Agus dan pasangan Anies.

Di putaran kedua, sentimen anti Ahok bersatu kembali melawan Ahok. Jika Ahok berhadapan dengan Agus, Ahok hanya mendapatkan 33,9%, Agus 48, 1%. Agus unggul telak melawan Ahok di putaran kedua di atas 15 persen.

Bahkan jika dibuat simulasi Ahok versus Anies di putaran kedua, Anies memperoleh 41,8%, Ahok 29,7%. Anies juga mengalahkan Ahok di atas 10% di putaran dua. Padahal di putaran pertama Ahok mengalahkan Anies di atas 10 persen, yang membuat Anies potensial tersingkir di putaran pertama.

-000-

Bagaimana detailnya anatomi dan data kuantitatif penyebab ketidak sukaan publik? Ada dua sumber ketidak sukaan publik kepada Ahok.

Pertama, ketidak sukaan yang bersumber dari kebijakannya. Dua kebijakan yang menonjol.

Ada isu penggusuran. Bukan penggusuran itu sendiri yang dimasalahkan. Tapi oleh sebagian, apalagi oleh korban, prosesnya dianggap kurang manusiawi.

Juga secara prosedural untuk beberapa kasus, pengusuran itu dilaksanakan dengan melanggar hukum. Mereka yang menuntut Ahok secara hukum dimenangkan pengadilan, seperti kasus warga Bukit Duri.

Ada isu reklamasi. Aneka LSM yang bergerak pada isu lingkungan hidup, bersatu dengan para nelayan yang dirugikan oleh kebijakan itu. Sebagai kebijakan, pro dan kontra memang tak terhindari. Namun gugatan atas nama lingkungan hidup punya pesona publik.

Kedua, ketidak sukaan yang bersumber dari sebut saja karakter. Aneka gaya, pilihan kata, tone dalam komunikasi Ahok tentu bersumber dari karakter.

Dengan substansi yang sama, sebenarnya dapat dibuat gaya bicara dan pilihan kata yang berbeda. Ahok acapkali membuat celetukan yang bukan saja tak perlu. Lebih dari itu, ia menyatakannya dengan tone, pilihan kata, dan gaya yang merugikannya sendiri.

Jika kita lihat video di pulau seribu, ketika Ahok menyinggung surat Al Maidah, tak ada keperluan Ahok mengutip ayat itu. Manajer kota yang handal yang juga cerdas secara emosional tak akan "nyeletuk" seperti yang dilakukan Ahok. Kini gara celetukan itu Ahok menjadi terdakwa penistaan agama yang menggerus dukungannya secara signifikan.

Dari 100 persen ketidak sukaan atas Ahok, 47,2 persen disumbangkan oleh kemarahan atas kasus Al Maidah itu.

Itu bukan celetukan pertama. Ahok juga pernah "memaki" seorang ibu di depan publik dengan sebutan ibu maling tanpa ada bukti terlebih dahulu ia maling. Bicara di TV dan berulang menyebut Taik, Taik.

Para ibu yang menangis karena rumahnya digusur, ia komentari ibu-ibu sedang main sinetron. Menghadapi para pendemo yang dibolehkan konstitusi, ia nyeletuk siram saja dengan water canon diisi bensin supaya terbakar. Atau dengan gagah nyeletuk bersedia membunuh 2000 orang untuk menyelamatkan 10 juta.

Dari 100% ketidak sukaan atas Ahok, komentar miring Ahok di luar kasus Al Maidah, di luar soal agama, menyumbang 28,9%.

Hanya dari komentar publiknya yang buruk, itu sudah menyumbang 47, 2% + 28,9% sama dengan hampir 80% ketidak sukaan publik padanya. Sisa 20 persen lebih akibat arah kebijakan publiknya.

Inilah fenomena prilaku pemilih. Bahkan komentar tak perlu bisa memberikan efek negatif 4 kali lebih banyak ketimbang kebijakan publik yang dianggap negatif.

Jika hanya tak suka kepada kebijakan publiknya saja, sentimen anti Ahok kadarnya hanya 20 persen dari kadar yang ada sekarang. Padahal kebijakan publik itu yang substansial, bukan celetukan negatifnya.

Akibatnya, tingkat popularitas Ahok memang paling tinggi dibanding kandidat lain, 99.10 %. Namun tingkat kesukaan terhadap Ahok justru paling rendah. Hanya 58 % pemilih yang suka Ahok. Bandingkan dengan tingkat kesukaan atas Agus, 76.60 %. Atau tingkat kesukaan atas Anies, 73.10 %.

Jika pertahana menjadi tokoh yang tingkat kesukaan publik atasnya paling rendah dibandingkan dengan calon pesaing, ada yang salah dengan pertahana itu. Pertahana lain yang berhasil seperti Risma di Surabaya, atau Jokowi waktu di Solo, atas Anas di Banyuwangi, memiliki tingkat kesukaan publik yang jauh di atas kompetitornya.

Umumnya tingkat kesukaan publik pada pertahana yang dicintai rakyatnya di atas 80%. Ahok hanya 58% saja.

-000-

Kita seperti melihat dua jenis Ahok. Pertama Ahok dengan A besar. Kedua ahok dengan a kecil. Ahok dengan A besar adalah manajer kota yang handal, berani membuat terobosan, tegas dan tanpa basa basi.

Tapi ahok dengan a kecil adalah tokoh yang kasar celetukannya, enteng saja memaki orang di muka publik, kadang ceroboh membuat keputusan sehingga dikalahkan pengadilan, dan bagi sebagian dianggap arogan dan pongah.

Kita menyaksikan ahok dengan a kecil menggerus dukungan Ahok dengan A besar. Ahok dengan A besar dikalahkan oleh ahok dengan a kecil.

Bisakah Ahok mengurangi sentimen anti Ahok yang mayoritas? Waktunya kurang dari sebulan untuk hari pencoblosan? Dan kurang dari tiga bulan untuk putaran kedua jika ada?

Survei LSI Denny JA akan terus merekamnya. Namun jika akar dari komunikasi buruk itu bersumber dari karakter, dan ada isu agama mayoritas yang diyakini pemeluknya telah dinistakan oleh Ahok, ini sebuah mission impossible.

Dalam film layar lebar, Tom Cruise selalu berhasil menjalankan the Mission Impossible. Tapi problemnya Ahok bukan Tom Cruise. Dan pilkada Jakarta bukan film Holywood.***

Januari 2017

  • view 347