Seberapa Besar Pengaruh Debat TV Cagub Jakarta kepada Pemilih?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 14 Januari 2017
People Power Menentang Ahok

People Power Menentang Ahok


Tulisan dan Puisi Pilkada Jakarta

Kategori Acak

467.7 K
Seberapa Besar Pengaruh Debat TV Cagub Jakarta kepada Pemilih?

Seberapa Besar Pengaruh Debat Cagub Jakarta?

Denny JA

Berapa banyak pemilih yang akan terpengaruh oleh debat tiga cagub Jakarta di televisi? Itulah pertanyaan pertama saya ketika menyiapkan diri menonton debat Cagub Jakarta pertama 13 Januari 2017 yang secara resmi digelar KPUD.

Saya bersama teman LSI saat itu baru saja selesai menganalisa data survei Januari 2017. Survei itu belum mencatumkan pertanyaan soal debat. Survei awal Febuari 2017 baru akan memasukkan pertanyaan detail soal hal ihwal debat.

Bersama team di LSI, kami nobar di layar lebar di kantor LSI. Di layar ukuran sekitar 3 meter X 5 meter, biasa kami nobar El Clasico ataupun Final Bola Dunia. Acapkali di layar pula ditampilkan data ketika konferensi pers hasil survei dan quick count.

Suasana hati kami seperti siap menonton sebuah show. Tak lupa kopi dan pempek tersedia sebagai hidangan.

-000-

Tapi seberapa besar pengaruh debat itu terhadap pemilih? Debat capres Amerika Serikat: Hillary vs Clinton yang pertama bulan Sept 2016 dicatat AC Nielsen sebagai debat yang paling banyak ditonton pemilih sepanjang sejarah Amerika.

Debat itu disiarkan oleh 13 saluran TV dan ditonton total oleh sekitar 84 juta audience. Itu debat mematahkan jumlah audience yang selama ini dipegang oleh debat Capres Reagen vs jimmy Carter tahun 1980. Saat itu jumlah audience sekitar 80.4 juta.

Dari total jumlah pemilih Amerika tahun 2016, yang menonton debat yang disebut "paling banyak ditonton dalam sejarah amerika itu" hanya 33 persen saja. Dengan kata lain, mayoritas pemilih sekitar 67 persen, sudah pasti tidak dipengaruhi debat kandidat karena mereka tidak menonton debat itu.

Dari yang menonton debat, strong voters atau pemilih yang sudah menetapkan hatinya akan melihat dan menilai debat secara berbeda. Mereka sudah punya semacam filter dan selektor. Akibatnya apapun yang muncul di layar kaca tetap tak mengubah pilihan. Kecuali jika ada blunder yang fatal.

Yang mampu diubah oleh debat televisi hanyalah swing voters yang menonton debat televisi. Tapi berapa banyak jumlah mereka? Survei LSI-Denny JA awal Febuari 2017 akan menjawab itu karena tema itu akan muncul dalam pertanyaan.

Sementara ini bisa diberikan angka proksimasi saja. Per hari ini dari survei LSI bulan Januari 2017, yang belum menentukan pilihan sekitar 9-10 persen. Ditambah dengan yang sudah memilih tapi bukan strong supporters, sekitar total 20 persen. Swing voters yang bisa dipengaruhi sekitar 30 persen.

Katakanlah penonton debat Cagub Jakarta itu prosentasenya sebanyak penonton debat Trump vs Clinton yang memecakan rekor. Jumlah pemilih yang menonton: 33 persen. Total pemilih yang bisa dipengaruhi oleh debat cagub itu hanya 33 persen dikali 30 persen swing voters (yg belum memilih plus pemilih yang masih ragu) sama dengan 10 persen.

Hanya sebanyak 10 persen saja dari pemilih yang bisa terpengaruh oleh debat TV! Jumlah yang bisa mengubah dukungan hanya 10 persen saja!

Dalam debat yang tertata oleh moderator, dan ada aturan cara berdebat, tema sudah diketahui masing masing team calon sejak lama, debat dibagi dengan aneka sesion, sangat jarang sekali yang hasilnya jomplang. Dalam format itu hampir tak ada yang bisa menang mutlak, misalnya mengambil swing voters seluruhnya.

Paling jauh jika dua calon, hasil kemenangan 60 persen verus 40 persen. Jika tiga calon katakanlah bisa 50 persen versus 30 persen versus 20 persen. Jarak yang terbaik dan terburuk jika tiga calon berdebat hanya 20 persen.

Selisih terbanyak perubahan dukungan setelah menonton debat berarti 20 persen selisih kemenangan dikali 10 persen pemilih yang bisa dipengaruhi sekaligus menonton debat. Debat kemenangan atau kekalahan teburuk yang bisa terjadi hanya mampu mengubah margin dukungan sebanyak 2 persen saja dibanding sebelum menonton debat di TV.

Katakanlah jika sebelum debat dukungan A vs B berselisih 6 persen. Yang paling jauh bisa dicapai setelah debat selisihnya menjadi 8 persen (jika plus) atau 4 persen saja (jika minus).

Tidaklah heran walau Hilary Clinton diklaim menang seluruh debat sebanyak tiga kali itu, tapi yang menang pilpres Amerika adalah Donal Trump. Trump yang selalu dikatakan media Amerika kalah debat, kalah ketiga-tiganya, tapi akhirnya justru terpilih sebagai presiden Amerika.

-000-

Saya sendiri menilai debat cagub DKI kali ini lebih menguntungkan Agus Harimurti. Itu bukan karena Agus unggul dalam kualitas debat, tapi Agus melampaui ekspektasi publik. Sementara Anies dan Ahok kemampuannya yang baik itu sudah diduga dan diketahui publik.

Persepsi publik sebelum debat yang under estimate terhadap Agus justru menguntungkannya dibandingkan jika misalnya persepsi itu justru over estimate.

Agus selalu tidak datang setiap kali diundang TV swasta untuk berdebat dengan alasan ia hanya akan datang jika diundang KPUD secara resmi saja. Di luar KPUD, ia lebih baik menggunakan waktunya bergerilya lapangan berjumpa pemilih langsung.

Ini adalah strategi yang cerdas. Berdasarkan survei LSI, mayoritas pemilih lebih senang cagub berjumpa tatap muka langsung dengan mereka di lapangan, ketimbang debat cagub di televisi.

Yang tak suka pilihan Agus yang menolak debat kandidat di luar acara KPUD menciptakan opini negatif. Ujung opini negatif itu adalah persepsi under estimate. Justru persepsi ini yang menguntungkan Agus. Bahkan jika muncul dengan kualiatas yang standar saja, Agus sudah melebihi harapan publik. Apalagi jika ia tampil di atas standard. Persepsi awal itu sangat penting dalam dunia opini publik.

Survei cepat yang dibuat Hanta Yuda (Poll Tracking) yang disiarkan TV One setelah debat, Agus Harimurti tetap unggul nomor satu. Itupun dengan catatan: Hanta Yuda tidak menampilkan data uji sampel untuk mengetahui apakah sampelnya kongruen dengan populasi pemilih.

Misalnya apakah prosentase kelas menengah- bawah terwakili dalam proporsi yang benar. Jika kelas menengah bawah itu kita klasifikasikan dengan penghasilan 3 juta ke bawah per bulan, total prosentase mereka 65 persen. Apakah jumlah mereka yang terwakili dalam sampel survei cepat Hanta Yuda juga 65 persen?

Dukungan paling kuat untuk Agus itu dari segmen menengah bawah. Gerilya lapangan dengan tiga program rakyatnya: bantuan sementara 5 juta setahun untuk KK kurang mampu, dana bergulir untuk usaha 50 juta, program 1 milyar per RW-RT untuk pengembangan komunitas, membuat Agus menang telak di segmen menengah bawah.

Jika segmen menengah bawah itu terwakili secara proporsional dalam survei cepat Hanta Yuda, saya menduga kemenangan Agus dalam survei itu akan lebih besar.

Ahok dan Anies tampil cukup prima. Namun karena persepsi publik atas kemampuan debat mereka yang baik sudah diketahui, mereka tidak mencapai apa yang disebut melampaui ekspektasi awal.

-000-

Akankah debat cagub kedua dan ketiga nanti akan mengubah dukungan secara signifikan? Jika semuanya normal, dan debat pertama itu dapat menggambarkan apa yang juga akan terjadi di debat kedua dan ketiga, debat ini hanya asyik menjadi show saja.

Elektabilitas dan dukungan tak banyak dipengaruhi oleh tiga kali debat itu. Yang penting kandidat tidak membuat kesalahan atau blunder yang fatal saja. ****

 

 

 

  • view 1 K