Puisi 2 Desember: Ketika Dewi Keadilan Memanggil

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 08 Januari 2017
People Power Menentang Ahok

People Power Menentang Ahok


Tulisan dan Puisi Pilkada Jakarta

Kategori Acak

465.9 K
Puisi 2 Desember:  Ketika Dewi Keadilan Memanggil

Ketika Dewi Keadilan Memanggil
Denny JA

Anwar tercekik terpana
Ia terkencing di celana
Dari ujung sini sampai ujung sana
Jalanan dipenuhi manusia
Tak bisa lagi dikira
Mungkin sejuta jumlahnya

Mereka koor bersatu suara
Berkumpul dari banyak daerah
Ada yang menjual sawah
Ada yang pinjam uang tetangga
Ada yang dibiayai pengusaha
Ada didanai pencari tahta
Semua berupaya
Hadir berjuang bersama

Astaga, ludah Anwar tertelan
Di langit dilihatnya Dewi Keadilan
Di singgasana yang gaib
Dewi keadilan bekerja dengan ajaib

Tunggang langgang Anwar berlari
Melapor pada penguasa negeri

Sambil menggigil keras
Dengan wajah memelas
Anwar sampaikan pandangan mata
Laporkan getaran jiwa

Paduka, bukalah hati
Ini celaka buat negeri
Paduka memang punya kuasa
Tapi paduka tak akan berdaya
Dewi keadilan adalah raksasa

Paduka melompat dari kursi
Tak diduganya separah ini
Ia pun terpana
Tahu artinya itu apa
Jika Dewi keadilan telah datang
Jika Dewi keadilan memanggil
Jika Dewi keadilan menghampiri
Jika Dewi keadilan menyapa

Paduka memberikan perintah
Kumpulkan ahli sejarah
Kumpulkan ahli agama
Kumpulkan penafsir budaya
Keringatnya keluar sebesar pepaya

Saudara-Saudari, ujar paduka
Mohon ditafsir ini pertanda

Ujar Ahli sejarah
Jika dewi keadilan memanggil, wahai paduka
Sebaiknya kita menyerah
Itu terjadi sepanjang sejarah
Tiada yang berdaya
Percuma angkat senjata

Dinding tinggi Berlin pun punah
Super power Sovyet pun sirna
Tiran aneka negara pun musnah
Tiada yang bisa

Ujar penafsir budaya
Jika dewi keadilan memanggil, ya paduka
Sebaiknya kita berserah
Utamakan sikap pasrah
Ancamam bom nuklir tiada berguna
Ancaman penjara tiada daya
Siksa hingga mati justru memberi makna

Di semua budaya
Dewi keadilan adalah Raja
Paduka memang Raja
Tapi Dewi keadilan Raja di Raja

Ujar Ahli agama
Jika dewi keadilan memanggil, duhai paduka
Saatnya paduka intropeksi
Berdiam diri ke pucuk nurani

Ada yang salah dengan paduka
Selama ini kurang peka
Dikritik dengan cara biasa
Paduka menutup mata

Datanglah Dewi keadilan
Semata menjaga keseimbangan
Ia sudah ada sebelum peradaban
Dan tetap ada setelah peradaban

Kerja dewi keadilan tak berperi
Ia hanya menyentuh hati
Menyelinap di malam hari
Menyentuh kesadar diri
Membangunkan anak negeri

Apa yang harus kulakukan, tanya paduka?
Meja, kursi dan pintu
Lampu, kulkas dan jendela
Tiba -tiba bersuara
Koor bersama

"Buka mata
Buka telinga
Buka hati"

Lantai, plafon dan dinding
TV, cangkir dan piring
Ikut bersuara
Koor bersama

"Buka mata
Buka telinga
Buka hati"

Anwar langsung menghampiri
Ayo paduka tetapkan hati
Kini paduka tak bisa lagi lari
Jika masih lari
Selamanya paduka dipaksa lari

Anwar kembali melihat langit
Dewi keadilan bertahta di sana
Tetap di sana
Sepanjang masa
Tersenyum padanya


2 Desember 2016

 

 

 

 

  • view 137