Jangan Tinggalkan Daku di Pilkada

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 22 November 2016
Puisi Agama dan Diskriminasi

Puisi Agama dan Diskriminasi


Kategori Puisi

18.9 K Tidak Diketahui
Jangan Tinggalkan Daku di Pilkada

Jangan Tinggalkan Daku di Pilkada
Denny JA

Suara gadis itu berbisik perlahan
Ada tangis yang ditahan
Terasa di sayat sembilu
"Jangan tinggalkan daku"

Sidarta meloncat dari kursinya
Tengah malam buta
Pukul setengah dua
Itu suara siapa?
Padahal ia sendiri saja
Di kamar yang serba ada

Sidarta meneruskan kerja
Strategi memenangkan pilkada
Kembali terdengar suara itu
"Jangan tinggalkan daku."

Sidarta bergegas ke pintu
Di lihatnya di sana dan di situ
Hanya sepi dan sunyi
Tiada orang barang sebiji

Lama Sidarta terdiam
Merenung menyelam mendalam
Duhai suara siapakah itu gerangan?
Pesan apa hendak disampaikan?
Tiada orang lain di sini
Itu suara datang dari sunyi

Tiga bulan sudah sidarta
Sibuk mabuk pilkada
Soal strategi ia raja
Soal tarung ia baja

Sudah dimenangkannya semua
Dari pusat hingga daerah
Dari atas hingga bawah
Hampir tiada tersisa

Politik ditatanya seperti catur
Semua gerak serba terukur
Manusia, massa, berita
Dianggapnya seperti pion, benteng dan kuda
Kawan dan lawan
Dilihatnya seperti buah putih dan buah hitam
Dingin ia langkahkan calon
Sedingin ia langkah pion
Hanya ada dua realita
Menang dan kalah

Namun malam itu ia gundah
Suara itu membuatnya lemah
Berulang terdengar pilu
"Jangan tinggalkan daku
Jangan tinggalkan daku
Jangan tinggalkan daku"

Sidarta tapa brata
Tahajud di malam buta
Disadari itu suara tidak dari mana
Itu suara hatinya belaka

Sidarta masuk ke dalam nurani
Ditemuinya gadis bersemayam di hati
Gadis menangis pilu
Kembali dikatakannya yang itu
Jangan tinggalkan daku

Gadis itu keberagaman Indonesia
Gadis itu warna warni agama
Gadis itu Bhineka Tunggal Ika
Gadis itu Indonesia untuk semua
Gadis itu hampir mati tergilas
Oleh pilkada yang ganas

Gadis itu merajuk sepenuh hati
Sedih diperlakukan anak tiri
Tercekik hampir mati
Oleh pasukan penuh benci

Sidarta menangis tersedu
Dipeluknya gadis pilu itu
Kau batinku
Kau nyawaku

Jangan salah paham gadisku
Sidarta jelaskan ini itu
Tapi si gadis hendak pamit pergi
Pindah ke lain hati


Ujar Sidarta kepada gadis itu
Memohon beribu ribu
Tetaplah hidup di hatiku
Tetaplah menyapa
Tetaplah membara
kapanpun aku alpa
Kapanpun aku lupa
Kapanpun aku terlena

Kembali gadis itu lirih berkata
Jangan tinggalkan daku
Kendati pilkada tiba
Kendati pemilu tiba

November 2016

 

 

  • view 823