Kemana Perginya Para Aktivis

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Puisi
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

107.7 K Tidak Diketahui
Kemana Perginya Para Aktivis

Kemana Perginya Para Aktivis?
Denny JA

Ruangan itu bergelora
Ratusan aktivis di sana
Di atas 50-an usia mereka
Hanyut oleh romantika
Gelora tempo dulu era mahasiswa

Silahturahmi aktivis nasional
Resmi dibuka
Tivi, koran dan jurnal kelas dua
Meliput untuk berita


Anwar duduk menyendiri
Di antara kumpulan yang pernah sehati
Tak terasa, seru Anwar meringis
Puluhan tahun sudah aku menjadi aktivis

Yel-yel dibunyikan
Pekik dan slogan digelorakan
Penuh rasa perkawanan
Juga rasa permusuhan
Anwar hadir dalam ruangan
Namun melihat semua dari kejauhan

Ucap Anwar di hati
Beragamnya mereka kini
Ada pejabat tapi korupsi
Ada pengangguran berharap koneksi
Ada yang tetap berteriak Revolusi
Namun tak jelas visi dan misi
Banyak pula menjadi tua
dan kurang gizi

Dilihatnya sebelah sana
Sahabatnya yang pernah satu rumah
Dulu melarat bersama
Gelantungan di bis kota
Antri ke kampus naik kereta

Kini sang sahabat kaya raya
Aneka usaha ia punya
Sebagai aktivis, ia lihai
Berpolitik ia lunglai
Meliuk ke kanan ke kiri
Tergantung angin berlari
Adakah sahabat itu salah?
Jika berpolitik untuk harta?

Di lihat di sebelah sini
Mantan aktivis yang lain lagi
Mata sahabat yang ini masih menyala
Jika bicara, mulutnya berbusa
Tapi hatinya penuh luka
Terlalu sering ia kecewa
Sakit-sakitan di masa tua
Beli obat saja tiada bisa
Anwar peluk ia

Anwar bukan semua mereka
Anwar tetap ingin juara
Ia melihat Nelson Mandela
Ia mendengar Martin Luther King
Ia pencinta Soekarno Muda
Ia pelajari Mohammad Hatta
Mereka aktivis sebenarnya
Seperti mereka kita bermuara
Mimpi itu masih bergelora
Anwar hidup-hidupkan pada ia punya dada

Puluhan tahun sudah menjadi aktivis
Ini era hujan gerimis
Ia merasa kesepian
Dalam perjuangan semakin sendirian

Selesai sudah itu silahturahmi
Setelah sekedar berbasa basi
Anwar undur diri
Pulang ia ke rumah
Kembali ke ia punya bini

Laporan itu datang lagi
Dari bini sehidup semati
Uang sekolah bocah belum dibayar
Tagihan listrik belum dibayar
Kredit motor belum dibayar
Genteng bocor belum diperbaiki
Beras di dapur sudah habis
Obat si sulung belum ditebus

Anwar, sang aktivis senior terdiam
Kemana lagi ia mencari pinjaman
Gagasannya tetap membahana
Namun keok urusan rumah tangga

Terus saja Anwar berdoa
Cahaya itu datang lagi
Menyapa saat ia sepi
Menguatkan ia punya hati
Menyeru agar ia kembali
Kembali kepada khitahnya
Kembali kepada akarnya
Kembali kepada api

Ini apinya sebagai aktivis
Setia pada kebaikan
Berani pada kebenaran
Pilih hidup penuh makna
Walau itu jalan duka
Walau itu jalan luka

Oktober 2016

 

 

 

  • view 2.2 K