Sisi Bisnis dan Markering Karya Sastra Indonesia

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 19 Oktober 2016
Sisi Bisnis dan Markering Karya Sastra Indonesia

Sumbang Saran Peserta:

Sisi Bisnis dan Marketing Karya Sastra
Denny JA

Musyawarah nasional para sastrawan Indonesia harus mulai pula mengeksplorasi sisi bisnis dan marketing karya sastra. Dengan demikian, karya sastra yang ada akan lebih diupdate sesuai dengan perkembangan baru zamannya, lebih luas dibaca, dan tak usah malu: menambah penghasilan secara signifikan para sastrawannya.

Isu ini yang terasa kurang bahkan tidak disinggung dalam sesi pengantar dan pembuka dari munas itu (Oktober 2016, penyelenggara Badan Bahasa)

Gufron Ali Ibrahim mewakili suara pemerintah cukup strategis menggariskan empat isu yang akan dilakukan terutama oleh pihak badan bahasa. Pertama, penghargaan kesastraan untuk mengapresiasi dan mensimulasi karya puncak sastra (sastrawan) secara reguler. Kedua, bengkel sastra bagi guru dan siswa. Saatnya mengajarkan bahasa melalui sastra.

Ketiga, pengiriman sastrawan berkarya. Pemerintah memfasilitasi sastrawan bertemu komunitas lain di daerah ataupun luar negeri, agar sastrawan bersentuhan dengan realitas yang lebih luas. Keempat, penyusunan pangkalan data (database) sastrawan dan pegiat sastra. Pemerintah mendata siapa saja sastrawan dan karyanya, untuk mudah diakses publik, agar sastrawan tak hanya Jakarta-sentris.

Musyawarah nasional sastrawan bulan Oktober 2016 ini adalah yang pertama dilakukan. Dari para sastrawan ingin didengar usul tambahan memperkaya empat isu itu. Selesai musyawarah nasional ini, pemerintah melalui salah satunya: badan bahasa, akan membuat action plan yang lebih menyerap aspirasi para pelakunya sendiri, para sastrawan.

-000-

Saya menekankan pentingnya program keempat: bengkel data para sastrawan. Namun data bukan hanya untuk data. Seperti umumnya dalam manajemen strategis, data itu hanyalah basis untuk menyusun sebuah gerakan yang lebih signifikan bagi dunia sastra Indonesia.

Saya mencoba mengketik di Google Search: Top 10 penerima royalti terbesar sastra Indonesia. Tak ada data itu sama sekali di sana.

Lalu saya ketik Top 10 biggest royalty in literature USD. Muncul 10 penulis yang mendapatkan royati terbesar di tahun 2012-2013. Data ini tidak disediakan oleh pemerintah. Pembuat data pihak swasta: Forbes Magazine.

Kitapun melihat 10 penulis yang mendapat royalti terbesar. Penghasilan mereka dalam satu tahun saja sekitar 20 juta USD sampai 95 juta USD. Jika dirupiahkan, penghasilan penulis ini berkisar dari 260 milyar rupiah hingga 1,2 trilyun rupiah setahun. Betapa berlimpahnya penghasilan para penulis yang berhasil.

Di antara 10 pengarang itu adalah E.L James yang mengarang novel The Fifty Shades of Grey. Suzana Collins yang melahirkan The Hunger Games. Dan Brown yang menulis Da Vinci Codes. Kesamaan paling sederhana di antara mereka adalah menulis sastra dalam bahasa Inggris. Umumnya novel mereka menjadi skenario film layar lebar populer atau serial naskah drama televisi.

Memang TIDAK tersedia data mengenai siapakah penulis penerima rolyalti terbesar di Indonesia. Tak ada data apa yang mereka kerjakan sehingga menerima royalti sebesar itu. Ketiadaan data ini menyulitkan siapapun untuk membuat action plan berdasarkan realitas yang ada.

Rencana pangkalan data yang ingin dilakukan pemerintah terasa penting. Sayangnya dari penjelasan yang diberikan, belum terdengar satu isu strategis itu. Sisi bisnis, marketing dan enterprenership karya sastra harus juga dibicarakan.

Ini tak berarti para sastrawan harus menjadi ahli bisnis, atau ahli marketing bagi dirinya sendiri. Namun sastrawan itu perlu juga dibantu brainstorming agar terbuka pandangannya. Betapa karya sastra itu bisa membuat karya mereka dibaca dunia internasional, misalnya. Atau dibaca oleh lebih banyak pembaca Indonesia. Sekaligus juga membuat mereka sangat berkecukupan secara ekonomi.

Dipahami bukan uang atau kaya raya yang menjadi tujuan bersastra. Namun itu efek saja jika karya sastra yang baik mendapatkan marketing yang juga brilian.

-000-

Apa yang mesti dilakukan agar sastra di Indonesia juga berkembang menjadi industri? Dari percakapan sepintas saya dengan peserta, berapa para penulis semakin merasa terpinggirkan. Semakin sulit mereka menerbitkan karya sastra melalui penerbit besar.

Betapa semakin kecil royalti sebagai penulis yang mereka terima. Banyak yang hanya menerima 5 persen saja dari penjualan. Jika beruntung bisa meningkat menjadi 15 persen. Belum lagi pembayaran royalti pada mereka sangat tersendat.

Akibatnya banyak penulis yang menerbitkan karyanya secara individual. Dan semakin pula karya mereka semakim terpinggirkan.

Masuk pula mereka ke dalam lingkaran setan. Karena penghasilan ekonomi tak cukup hanya melalui menulis, merekapun harus bekerja. Karena harus bekerja mereka semakin kurang intens dengan dunia penulisan.

Karena semakin kurang intens mencurahkan waktu untuk menulis, semakin sulit mereka menghasilkan karya baik. Karena karya mereka kurang baik, semakin sulit hidup hanya dari menulis. Mereka semakin harus mencari dana tidak dari kegiatan menulis. Dan seterus berputar di sana.

Mungkin kurang dari 5 persen dari penulis sastra saja yang tidak masuk dalam lingkaran itu. Tak ada mengenai ini.

Remy Sylado yang juga menjadi pembicara awal sudah pula membuka satu isu penting. Saatnya karya sastra Indonesia semakin banyak diterjemahkan ke bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Lalu karya itu dipasarkan dengan gaya amerika.

Tapi menurut Remy, ini sering terganjal oleh sedikitnya dan mahalnya penerjemah profesional yang mengerti rasa bahasa Indonesia.

Pangsa pasar Indonesia sendiri sebenarnya cukup luas. Populasi Indonesia ada 250 juta. Berapa banyak karya sastra Indonesia yang pernah dibaca oleh 1 juta rakyat Indonesia? 1 juta itu hanyalah 0,4 persen dari populasi.

Bagaimana sisi marketing, bisnis dan enterpreneurship dunia sastra Indonesia sebaiknya?

Ini isu yang seharusnya juga dibicarakan. Demikianlah sumbangsih saya sebagai peserta.

Untuk pertama kali saya diundang pemerintah tidak sebagai akademisi, konsultan politik, ahli survei, tapi sebagai sastrawan. Saya tak tahu apakah agak keterlaluan bicara sisi bisnis dunia sastra? Namun justru karena menghargai undangan itu, saya sampaikan saja apa adanya.***

  • view 1 K