Setelah Demo Adili AHOK: Talk Show Imajiner

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 15 Oktober 2016
People Power Menentang Ahok

People Power Menentang Ahok


Tulisan dan Puisi Pilkada Jakarta

Kategori Acak

465.2 K
Setelah Demo Adili  AHOK: Talk  Show Imajiner

Setelah Demo ADILI AHOK
(Pendukung Versus Penentang Ahok)
Talk Show Imajiner

Denny JA

Aksi massa damai Jumat 14 oktober itu termasuk demo terbesar sejak Reformasi 1998. Ribuan warga, lebih banyak berbaju putih, selesai sholat Jumat, turun ke jalan.

Mereka bergerak untuk satu isu: Adili dan Tangkap Ahok. Alasannya, ia menista agama Islam dan Ulama. Review MUI dijadikan sandaran aksi mereka.

Massa yang demo teramat banyak. Isu yang diangkat teramat sesensitif. Namun demo bisa berlangsung relatif damai, (di luar hate speech yang tak seharusnya terjadi), ini sudah sebuah kemajuan dari sisi manajemen demo.

Saya membayangkan sebuah talk show. Hadir pendukung dan penentang Ahok membahas aksi itu. Juga mereka membahas isu pilkada DKI dan prospek politik keberagaman di Indonesia.

-000-

 

PRESENTER:

Pemirsa, aksi demo sudah selesai. Tapi masalah besar bangsa justru baru dimulai. Setelah MUI menyatakan Ahok menista Islam dan ulama, untuk politik keberagaman Indonesia ke depan, apakah Ahok sebaiknya terpilih kembali sebagai gubernur? Atau justu untuk kepentingan lebih besar, Ahok sebaiknya tidak terpilih sebagai gubernur.

Bersama kita sudah hadir wakil dari pendukung Ahok dan penentang Ahok. Mereka berdua akan membahas yang lebih jauh.

Ini diskusi yang hot. Anda boleh ikut mengajukan pertanyaan. Jangan kemana-mana.

Kita mulai dengan isu pertama, sentimen agama anti Ahok semakin luas. Untuk Jakarta yang lebih baik, apakah sebaiknya Ahok terpilih kembali atau jangan terpilih kembali sebagai Gubernur DKI 2017-2022?

Anda berdua diberi waktu menjawab pertanyaan yang sama. Silahkan dari anda dulu.

PENDUKUNG AHOK:

Tentu publik Jakarta yang harus memutuskan. Namun saya berpendapat, jika Ahok kembali terpilih itu bagus untuk politik keberagaman Indonesia. Mata kita terbuka bahwa lebih banyak warga yang lebih mementingkan kinerja pejabat negara.

Tentu sentimen agama tetap penting. Namun untuk kebaikan Indonesia yang beragam, jangan isu agama mengalahkan isu kesejahteraan warga, kota yang tertata bersih, dan kesempatan sama bagi warga menjadi pemimpin.

Kita hanya memilih gubernur yang bekerja sebagai city manager. Masalah agama jangan terlalu dominan diangkat.

Kita pahami Ahok membuat blunder di kepulauan seribu. Tapi kita harus cepat Move ON. Banyak isu lain yang harus kita tuntaskan.

 

PENENTANG AHOK:

Sepakat, tentu warga Jakarta yang akan memutuskan. Tapi kita ingin Jakarta yang stabil. Ini ibu kota negara. Jika terlalu banyak gunjang ganjing di Jakarta, seluruh Indonesia bisa terganggu.

Ahok sebaiknya tak terpilih sebagai gubernur. Jakarta bukan Singapura atau New York. Sentimem agama punya sentuhan mendalam pada warganya.

Ahok sudah terlalu jauh. Terlepas benar atau salah, MUI sudah menganggap ia menista Islam dan ulama. Besarnya massa yang ikut demo jumat itu mustahil bisa sebesar ini tanpa girah agama.

Indonesia tentu tetap harus memelihara politik yang beragam. Di Solo, di Kalbar, di Kalteng, juga masih ada dan pernah ada wilayah mayoritas Islam dipimpin oleh kepala daerah agama minoritas. Di situ tak ada masalah karena kepala daerahnya tidak dianggap oleh MUI menista Islam dan ulama.

Mungkin 25 tahun mendatang Jakarta bisa stabil walau dipimpim oleh kepala daerah dari agama minoritas. Tapi sekarang agaknya belum saatnya. Apalagi dipimpin oleh orang yang sudah dicap menista agama. Jangan memaksakan yang belum saatnya.

PRESENTER:

Apakah MUI menjadi satu satunya penentu siapa yang menista Islam atau ulama? Apakah tak ada spektrum dalam opini, perbedaan tafsir?

PENDUKUNG AHOK:

Saya menghargai MUI. Namun MUI bukan satu satunya penafsir Islam. sudah banyak juga ahli Islam yang memberikan tafsir berbeda. Ahok juga sudah minta maaf. Biarlah pemilih Muslim secara individual yang memberikan responnya di hari pencoblosan.

Namun sekali lagi, kita memilih seorang manajer kota. Kita tidak memilih pemimpin agama. Ahok sudah membuktikan kinerjanya.

Kita harus move on.

PENENTANG AHOK:

Tentu saja MUI bukan satu satunya penafsir Islam. Namun MUI sebagai perhimpunan ulama dari aneka Ormas Islam adalah yang paling legitimate. Setiap pemilih Muslim boleh setuju atau tidak.

Tapi menurut saya, apa iya kita memaksakan Tokoh yang sudah dilabel menistakan Islam oleh MUI tetap menjadi gubernur. Jakarta tak akan stabil. Jangan biarkan Jakarta disandera seorang Ahok

PRESENTER:

Kehadiran Ahok sendiri sebagai gubernur Ibu Kota Jakarta, apakah selama ini memberi efek baik atau buruk bagi keberagaman?

PENDUKUNG AHOK:

Kehadiran Ahok jelas positif untuk Indonesia yang beragam. Ahok adalah pengejawantahan dari Bhineka Tunggal Ika, Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Apapun agama, etnis, gender, dll, semua warga Indonesia yang punya kesempatan sama dipilih menjadi pemimpin. Ahok menjadi contoh kongkretnya.

Indonesia harus bangga sudah mencapai ke taraf itu.

PENENTANG AHOK:

Ahok itu memberi pengaruh buruk bagi politik keberagaman. Saya mengutip survei LSI: di bulan Maret 2016, hanya 40 persen pemilih Muslim yang tak ingin gubernur non- Muslim. Sept 2016, angkanya melonjak menjadi 55 persen.

Apalagi dengan kasus Ahok mengutip Al MAidah, saya menduga, pemilih Muslim yang tak ingin Gubernur non Muslim potensial melonjak lagi.

Kan gubernur itu punya pengaruh dong. Ia bisa membuat keberagaman itu bertambah harmoni, bertambah adem, atau sebaliknya: bertambah panas.

Karakter Ahok ikut membuat isu agama bertambah panas. Ini masalah Ahok pribadi bukan pemimpin minoritas. Karena kepala daerah di Solo misalnya, yang juga pemimpin minoritas, berhasil membuat Solo adem-adem saja.

PRESENTER:

Sebagian masalah Ahok karena ia spontan, terus terang, ceplas ceplos, berani, tapi ia jujur. Karena gaya leadeship seperti ini ia kadang blunder.

Bukankah ini gaya yg bagus sejauh kinerjanya teruji, ketimbang yang seolah sopan tapi korupsi?

Sekarang gantian ke anda dulu selalu penentang Ahok.

PENENTANG AHOK:

Saya tak melihat itu sebagai gaya. Tapi itu karakternya. JIka hanya ceplas ceplos itu masih oke.

Tapi Ahok ini karakter yang tumpul empatinya. Di kompas TV, maaf, ia beberapa kali bilang Taik-Taik. Ia memaki seorang ibu dengan sebutan maling di depan publik.

Ia juga plintat-plintut. Sekali waktu bilang tak akan mencalonkan diri jika tak dengan teman Ahok, calon independen. Setelah itu ia tinggalkan calon independen untuk ikut lewat partai.

Lihat rekornya. Ia melompat dari partai PIB, melompat ke Golkar, melompat ke Gerindra.

Apa yang harus kita katakan ke anak- anak kita? Mereka ingin seperti Ahok, memaki orang di publik, dengan kata kotor. Jika kita larang, anak anak menjawab itu Ahok boleh kok seperti itu dan menjadi pahlawan.

Karakter seperti ini jangan menjadi kepala daerah. Apalagi di ibu kota negara. Tak bagus bahkan untuk teladan anak- anak.

PENDUKUNG AHOK:

Kita ingin pemimpin seperti apa? Pemimpin yang kadang kasar, tapi tidak korupsi, kinerjanya bagus, berani melawan mafia ATAU pemimpin yang sangat sopan, seolah sangat beragama, tapi ia korup dan bagian mafia?

Tentu Ahok ada kekurangannya. Tapi ia jujur. Ia bekerja. Ia berani. Kita sudah melihat bukti.

Kadang kita memang butuh pemimpin yang agak urakan seperti Ahok. Sudah terlalu banyak korupsi yang dilakukan kepala daerah yang seolah sopannya minta ampun.

Gaya bukan isu. Kinerja gubernur seharusnya menjadi isu, bukan gaya memimpin.

-000-

Talk show terus berjalan. Mereka juga mengupas kebijakan publik Ahok, indikator sukses atau gagal sebagai pemimpin, dan sebagainya. Para pemirsa yang menonton LIVE, di sesi terakhir juga berpartisipasi.

Tak terasa waktu sudah 50 menit. Di akhir talk show presenter berkata:

Pemirsa demikianlah kita sudah melihat Ahok. Di mata pendukung dan penentangnya, Ahok tampil berbeda.

Mungkinkah ada dua Ahok? Ahok dengan A besar. Yaitu Ahok di mata pendukungnya yang serba bagus? Dan Ahok dengan a kecil. Yaitu Ahok di mata penentangnya yang serba buruk?

Pilkada Jakarta akan menentukan yang mana lebih menonjol di hari pencoblosan: Ahok dengan A besar? Atau Ahok dengan a kecil.***

 

 

 

  • view 6.7 K