Isu Agama Kalahkan Ahok?

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Politik
dipublikasikan 07 Oktober 2016
People Power Menentang Ahok

People Power Menentang Ahok


Tulisan dan Puisi Pilkada Jakarta

Kategori Acak

466.8 K
Isu Agama Kalahkan Ahok?


Analisis Survei LSI, Okt 2016

Isu Agama Kalahkan Ahok?
Denny JA


Akankah isu agama akhirnya menumbangkan Ahok? Akankah Ahok kalah bukan karena kebijakan publik, namun ketidak-pandaiannya mengelola sentimen agama? Pertanyaan ini yang muncul setelah membaca data survei terbaru LSI.

Ini temuan mengagetkan. JIKA PILKADA HARI INI, hari dilakukan survei, dan hanya ada dua pasang, head to head, seperti putaran kedua, pasangan Ahok sudah dikalahkan oleh pasangan Anies. Dan pasangan Ahok sudah dikalahkan oleh pasangan Agus.

Jumlah pemilih muslim di DKI sekitar 85- 90 persen. Dengan sendirinya, siapa yang paling mampu mengelola pemilih Muslim akan menang pilkada DKI. Walau seluruh pemilih non Muslim memilih Ahok, jumlahnya hanya 10-15 persen, dan tak pernah cukup untuk memenangkan Ahok.

Justru di pemilih muslim ini Ahok sedang bermasalah. Dukungan pemilih non Muslim padanya di atas 75 persen. Namun dukungan pemilih Muslim padanya terus merosot, di bawah 35 persen.

Pemilih Muslim yang tak ingin gubernur non-Muslim meningkat dari 40% (Maret 2016) ke 55% (Sept 2016). Hukum besinya: semakin banyak pemilih Muslim tak ingin Ahok, semakin ia tumbang.

Demikianlah kesimpulan hasil survei yang baru saja selesai(28 September-02 Oktober 2016), dengan total respondenberjumlah 440 responden, wawancara tatap muka.

Riset dilakukan dengan metode multi-stage random sampling.Margin of Error plus minus 4,8%. Survei ini dibiayai dengan dana sendiri. Riset dilengkapi pula dengan kualitatif riset (FDG/focus group discussion, media analisis, dandepth interview).

Tentu Ahok tetap mampu bangkit untuk kembali memperoleh dukungan pemilih Muslim yang cukup untuk kemenangannya. Waktu masih tersedia empat bulan.

Namun bisa juga terjadi sebaliknya. Mobilisasi sentimen anti Ahok di kalangan pemilih Muslim meluas. Telebih lagi terjadi dua peristiwa belakangan ini.

Pertama, terbitnya himbauan resmi ketua umum MUI, KH Ma'ruf Amin, agar pemilih Muslim memilih pemimpin Muslim. Ketua MUI juga adalah pemimpin tertinggi ormas NU (Rois Aam), ormas terbesar di Indonesia. Ini ormas yang sebenarnya dikenal sangat moderat untuk ukuran Islam politik.

Kedua, blunder Ahok mengutip surat Al Maidah di kepulauan seribu. Terlepas salah atau tidaknya cara Ahok mengutip, gerakan sentimen anti Ahok agaknya memperoleh momentum terbesarnya.


Politik identitas (agama, etnis, gender) yang dimobilisasi juga terjadi dalam pilpres Amerika Serikat saat ini. Pendukung Hillary memobilisasi etnik Hispanik, Latino, Muslim, wanita untuk kalahkan Donal Trump.

Di Jakarta, hal serupa berlaku. Politik identitas dimobilisasi karena fungsional untuk mengalahkan Ahok.

Kita prihatin atas situasi ini. Namun suka atau tidak, mobilisasi politik identitas hal yang lazim, dan dibolehkan oleh aturan demokrasi modern. Batasannya sejauh ia tidak masuk wilayah kriminal.

-000-


Jika pilkada HARI INI, head to head, hanya 2 pasang seperti putaran kedua, pasangan Ahok-Djarot sudah dikalahkan oleh pasangan Anies-Sandi.

Pasangan Ahok-Djarot mendapatkan 32.1%, dan pasangan Anies–Sandi mendapatkan 38.0%, rahasia/belum memutuskan diangka 29.9%.

Jika pilkada HARI INI, hanya dua pasang, seperti putaran kedua, pasangan Ahok-Djarot juga sudah dikalahkan Head to Head oleh pasangan Agus– Sylvi.

Pasangan Ahok-Djarot mendapatkan 31.9% dan Agus-Sylvi mendapatkan 35.1%, rahasia belum memutuskan 33.0%.

 

Dilihat dari segmen pendukung head to head pasangan Ahok-Djarot vs pasangan Anies-Sandi, masing-masing pasangan unggul dan kalah di segmen yang ada.

Pasangan Ahok-Djarot unggul di segmen non muslim, tionghoa, usia tua, pendapatan atas, pendidikan bawah, dan pemilih partai pendukung minus pemilih partai golkar.

Pasangan Anies-Sandi, juga pasangaj Agus, unggul di segmen pemilih muslim, non tionghoa, usia muda, pendapatan bawah, pendidikan tinggi, dan pemilih partai pendukung plus pemilih partai golkar.

Disegmen pemilih muslim, 40.3% memilih pasangan Anies. Hanya 28.9% yang memilih pasangan Ahok. Untuk non muslim, Pasangan Ahok mendapatkan suara mayoritas di angka 76.7%, dan pasangan Anies hanya 6.7%.

Segmen pemilih Tionghoa pasangan Ahok unggul besar di angka 77.8%, dan Pasangan Anies hanya mendapatkan 11.1%.

Untuk Pemilih diluar tionghoa (Jawa, Betawi, Sunda, dll), pasangan Anies unggul 4-13% dibandingkan denganpasangan Ahok.


Untuk pasangan Ahok-Basuki versus Agus-Sylvie:

Di segmen pemilih muslim, 37.4% memilih pasangan Agus-Sylvi. Hanya 28.4% yang memilih pasangan Ahok-Djarot.

Untuk non muslim, Pasangan Ahok mendapatkan suara mayoritas di angka 80.0%, dan pasangan Agus-Sylvi hanya 3.3%.

Di segmen pemilih Tionghoa pasangan Ahok-Djarot unggul besar di angka 77.8%, dan Pasangan Agus-Sylvih hanya mendapatkan 4.2%.

Untuk Pemilih diluar tionghoa (Jawa, Betawi, Sunda, dll), pasangan Agus-Sylvi unggul 4-19% dibandingkan dengan pasangan Ahok.

Dukungan pemilih non Muslim dan Tionghoa atas Ahok sangat solid di atas 70 persen. Namun dukungan pemilih Muslim dan non-Tionghoa kepada baik Anies ataupun Agus belum di atas 70 persen.

-000-

Ada empat alasan mengapa pasangan Ahok-Djarot menang ketika tiga pasang, Namum kalah ketika Head To Head hanya dua pasang.


Pertama, perpindahan dukungan yang merugikan Ahok. Jika head to head pasangan Ahok-Djarot vs Anies-Sandi pendukung pasangan Agus-Sylvi lebih banyak mengalihkan dukungan ke Anies-Sandi (64.3%) di bandingkan ke pasangan Ahok-Djarot (14.3%) .

Begitu pula, Jika pasangan Ahok-Djarot vs Agus-Sylvi, Pendukung pasangan Anies-Sandi lebih banyak ke pasangan Agus-Sylvi (59.1%), ketimbang ke pasangan Ahok (8.6%).

Segmen pemilih pasangan Anies dan pasangan Agus punya profile yang sama. Ketika pertarungan tiga pasang, segmen ini terpecah kepada dua kubu. Namun di putaran kedua, ketika hanya dua pasang melawan Ahok, segmen ini menyatu di belakang Anies atau Agus.


Kedua, Pemilih Muslim. Pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi unggul di Pemilih Muslim dengan basis pemilih muslim mencapai >90%.

Sementara pemilih yang tidak inginkan non muslim menjadi gubernur angkanya naik dari 40% pada Maret 2016 menjadi 55% di bulan Oktober2016.

Ketiga, pemilih non tionghoa. Pemilih non tionghoa, populasinya mecapai 90%. Pemilih yang tidak ingin dipimpin oleh etnis tionghoa meningkat dari 30% di Maret 2016 menjadi 50% di Oktober 2016.


Keempat, Sentimen Anti Ahok di luar isu primordial. Yaitu sentimen anti Ahok karena kebijakan publik dan personality ahok.

Isu kebijakan publik yang tak disukai adalah penggusuran dan reklamasi. Isu personality yang tak disukai adalah Ahok suka memaki orang di muka publik.

Di Maret 2016 yang tidak setuju dengan kebijakan dan personalitinya di angka 25%, di Oktober 2016 menjadi 38.6%

-000-

Pertanyaannya, mengapa isu agama penolakan gubernur non muslim meningkat ? Di maret 2016, penolakan  di angka 40%. Tetapi di Oktober ini menjadi 55%?

Selama 5 bulan itu berlangsung mobilisasi para tokoh dan organisasi. Antara lain: Istigozah   yang menghasilkan Risalah Istiqlal, Demo Aliansi Peduli Umat dan Bangsa, Himbauan Ketua MUI, dan himbauan Ketua NU Jakarta.

Mobilisasi juga meningkat  sebagian disiram bensin oleh Ahok sendiri. Cara ia merespon politik identitas, dirasakan kurang berempati.

Seperti kasus di kepulauan seribu. Ia  tetap bisa berdialog dengan warga tanpa harus menyinggung  ayat Quran.


Mungkinkah  Ahok  bangkit kembali? Data ini  potret akhir September 2016. Ahok selalu mungkin bangkit kembali jika ia bisa mengurangi semakin meluasnya anti Ahok, terutama untuk isu agama.

Kenyataannya, sentimen anti Ahok dengan isu agama kini semakin luas dimobilisasi.

Ini pelajaran mahal bagi siapapun yang kurang menyukai politik identitas di ruang publik. Di propinsi Kalteng, Kalbar sebenarnya tetap pernah terpilih pemimpin minoritas dalam pilkada.

Pendukung Ahok perlu merenung mendalam, apa yang ikut disumbangkan oleh Ahok? Tentu sentimen politik identitas sudah ada basisnya di Jakarta. Namun mengapa kehadiran Ahok dalam politik Jakarta justru meningkatkan sentimen politik identitas (agama, etnis) itu, bukan mendinginkannya?***





  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Ya memang dalam agama islam tidak boleh memilih pemimpin yang selain muslim, namun apakah ahok akan benar benar kalah? Saya pikir ahok masih punya kekuatan lain Sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti politik .. Tapi menarik ulasan Bapa Denny JA ini

  • Rafi Wisnu
    Rafi Wisnu
    1 tahun yang lalu.
    Kemungkinan maksud ahok menggunakan ayat alquran oleh calon pemimpin lain membuat warga terdoktrin untuk memilih pemimpin seagama,tdk dilihat dr kehebatan bekerjanya,kejujuran.Tdk salah ahok menggusur krn ingin membuat Jakarta lbh baik tp warga dsn termakan isu negatif2 dr TINDAKAN ahok. Semoga rakyat Indonesia tidak terpaku hanya mempriotitaskan atas agama saja.Makasih Sgt menginspirasi sekali