Marwah Daud dan Kanjeng Dimas

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Marwah Daud dan Kanjeng Dimas

Kisah Marwah Daud dan Kanjeng Dimas: Filsafat VS Common sense

Denny JA

Apa yang terjadi dengan kakanda kita yang tercinta Marwah Daud Ibrahim?

Rasa sayang saya padanya, dan kedekatan bertahun waktu bersama mendirikan Masika, di awal tahun 90-an, membuat saya menggali aneka video pembelaan Marwah atas Kanjeng Dimas.

Marwah tetap menganggap Kanjeng punya kemampuan transdimensi menggandakan uang. Marwah menolak istilah menggandakan, tapi mengadakan uang.

Baik videonya di ILC, atau wawancara TV lain, begitu banyak filsafat dan analogi penemuan ilmu yang Marwah sebut. Aneka argumen mulai dari transdimensi, kisah Galileo yg disalah pahami zamannya, Einstein yg membuka dimensi hidup yang lain, dll, dikutipnya.

Semua untuk membenarkan kemampuan Kanjeng Dimas. Bahwa ada manusia yg salah dipahami oleh zamamnya, namun dibenarkan oleh generasi berikutnya yang punya teknologi baru.

Ujar Marwah, 1000 tahun lalu, siapa percaya bahwa manusia bisa terbang? toh kini ada pesawat udara. Analog dengan itu, wajar jika zaman ini banyak yang belum percaya kanjeng dimas itu memang punya kemampuan, yg oleh orang sekarang, dianggap mustahil.

Di luar penjelasannya yang kadang canggih, kadang tak nyambung, kakanda Marwah melupakan satu hal simpel: common sense. Ini logika sederhana. Cukup dengan mengajukan dua pertanyaan:

1) apakah uang yg digandakan oleh kanjeng dimas itu asli?
2) Ataukah uang yg digandakan itu palsu?

jika asli, pasti uang itu milik pihak lain (pribadi atau lembaga, ataupun pabrik pencetak uang, bank, dll), entah di masa depan, masa kini, atau masa silam. Uang asli adalah uang yg terdaftar dan pasti ada pemiliknya. Tak ada uang asli yang tak ada pemiliknya!!!

Jika itu asli, mengambil uang itu melalui transdimensi, atau apapun, bukankah artinya itu pencurian, mengambil hak orang lain.

Jika itu bukan punya orang lain, berarti itu uang palsu? Itu uang dari antah berantah. Ia palsu karena tidak terdaftar resmi. Dengan sendirinya memang belum ada pemiliknya.

Apapun jawabnya, asli ataupun palsu, bukanlah keduanya kriminal? itu terlepas dari benar tidaknya apa yg disebut transdimensi itu.

Bukanlah ini logika teramat simpel saja.

-000-

Saya juga mencoba melihat gaya kanjeng ketika menggandakan uang. Saya termasuk yang hobi menonton trick sulap dalam serial "Magic's Biggest Secrets Finally Revealed. Aneka trick sulap tingkat dunia dibongkar di sana mulai dari sulap Houdini, David Copperfield hingga Christ Angle.

Sang maestro di balik topeng itu misalnya membongkar bagaimana Christ Angle seolah bisa terbang ke langit. Atau David Copperfield seolah bisa menembus tembok Cina. Atau bagaimana Houdini diikat dan dimasukkan ke kotak yg dikunci, namun bisa lolos.

Saya terpana. Lalu tersenyum setelah tahu aneka tricknya.

Melihat gaya kanjeng dimas, saya menjadi tertawa. Terasa yang ia lakukan adalah main sulap, namun sangat amatiran. Betapa tangan ia sembunyikan ke belakang. Dari belakang itu ia peroleh aneka benda, termasuk uang.

Polisi bahkan sudah menemukan jubah ketika kanjeng demo soal kemampuannya. Jubah itu punya kantong rahasia di belakang, persis di lokasi ketika kanjeng meletakkan tangannya ke belakang.

Seolah ia dari belakang mengambil uang dari udara kosong. Padahal ia merogoh kantong rahasia itu yg sudah ia letakkan uang dan benda lain di sana.

Saya sebelumnya sudah pula menonton guru spiritual yang dianggap dewa di India: Sai Baba. Ia termasuk gurunya para normal terkenal indonesia.

Lebih hebat dari kanjeng dimas, ia seolah dari tangan kosongnya mengeluarkan pasir yg begitu banyak. Juga benda lain, termasuk cincin emas.

Pelan-pelan video mengungkapkan semua hanyalah sulap belaka. Sulap kelas teri pula. Amatiran.

-000-

Namun tetap saya merenung, apakah penyebab orang cerdas sekalipun kadang mati daya kritisnya, atau dimatikannya secara sukarela. Tetap saja ia memilih percaya kepada tokoh yg bahkan sudah menjadi tersangka kriminal.

Ujar Marwah, "Saya tak bisa memaksa orang percaya. Namun seluruh duniapun tak bisa memaksa saya untuk tidak percaya apa yg saya alami sendiri. Saya percaya karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri."

Saya tetap menganggap Marwah Daud sebagai kakanda tercinta, apapun yg diyakininya. Ia punya hak percaya pada apapun selama tidak kriminal.

Namun kadang saya bertanya dalam hati. Adakah di kesepian malam, Marwah kadang meragukan keyakinannya atas kanjeng, misalnya. Keraguan yang sedikit saja. Apalagi setelah ia melihat semakin banyak korban penipuan mengadu.

Ataukah bagi yg memilih percaya (thd apapun), keyakinan selalu tak bisa dibantah fakta. Sebanyak apapun fakta itu.

Bagi yang percaya, common sense dikalahkan oleh aneka penjelasan penuh filsafat (bagi yg tahu filsafat), atau oleh sikap percaya saja.

Semoga kakanda Marwah Daud tetap sehat dan bahagia.***