Mimpi Tuhan dan Karl Marx Menghantuinya

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 Januari 2016
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

60.8 K Wilayah Umum
Mimpi Tuhan dan Karl Marx Menghantuinya

Mimpi tentang Tuhan dan Karl Marx selalu menghantuinya

Apa yang harus ia lakukan menghadapi Revolusi Islam Iran 1979? Sebagai seorang wanita remaja yang punya semangat menentang dan berpikir kritis tiba tiba dikekang oleh rezim baru yang ingin mendisiplinkan publik berdasarkan Al-Quran.

Semalam saya menonton film lama, Persopolis, yang menjadi co-winner festival film CANES 2007. Ini film diangkat dari autobiography Marjane Satrapi, berkisah tentang perjalanan batin dirinya berjumpa dengan aneka life style dan ideologi besar dunia, termasuk Islam Syiah di Iran.

Sejak kecil, ia dididik di sekolah di Iran untuk memuja-muji Shah Iran. Lalu ketika Shah ditumbangkan dan Khomeini memimpin Iran, kini ia diajarkan di sekolah untuk membenci Shah Iran dan memuji negara Islam Iran.

Pamannya baru saja selesai masa penahanan karena menganut paham Komunisme yang terlarang. Iapun akhirnya dekat dengan pamannya secara personal. Dari pamannya ia tumbuh mengenal dan mencintai Karl Marx.

Namun konflik batin akibat begitu banyaknya gagasan yang dijejalkan padanya saling berebut pengaruh. Kadang ia bertanya, mana yang harus ia jadikan pegangam hidup? Beberapa kali gantian Karl Marx dan Tuhan datang dalam mimpinya mengajarkan yang mana jalan yang harus ditempuhnya.

Karena sifat dirinya yang rebelious, justru dalam ketatnya negara Islam Iran, ia mulai menyukai musik barat seperti punk dan Michael Jackson. Karena kwatir ditangkap pemerintah Iran, ayah dan ibunya akhirnya mengirimkannya sekolah ke Perancis.

Di Perancis, semakin terbuka matanya mengenal begitu banyak life style yang berbeda. Ia sempat tinggal bersama para sister katolik, jatuh cinta pada lelaki yang homoseksual, mendalami musik heavy metal, merasakan kehidupan asmara yang berapi-api lalu dihianati, hidup dan tidur di jalanan berhari-hari.

Kekerasan hidup dan pertarungan aneka gagasan, membuatnya semakin rindu cinta sejati yang dirasakannya dari nenek. Kasih sayang nenek itulah yang kini selalu dirindukan dan dibawanya serta.

Film ini membuat kita merenung. Di balik kecanggihan dan keragaman aneka filsafat dan life style yang saling berebut pengaruh, kehangatan cinta yang dialami secara personal itulah yang paling bertahan dan dibutuhkan seorang pemberontak sekalipun. The power of love.***