Menunggu Inovator Teater Indonesia

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Budaya
dipublikasikan 25 September 2016
Menunggu Inovator Teater Indonesia

Inovator Untuk Teater Indonesia
Denny JA


Suatu hari di bulan Juli 2011. Saya dan keluarga sudah tiga hari menunggu. Akhirnya, kamipun mendapatkan tiket menonton di Lyceum Theater London. Harga per-tiket resminya 155 dolar Amerika. Atau sekitar sejuta empat ratus ribu rupiah, untuk kurs saat itu.

Namun karena di minggu itu
semua tiket sudah sold out, dan saya membeli lewat tour guide yang punya koneksi khusus, harga yang saya bayar jauh lebih mahal. Theater penuh sesak dengan penonton yang begitu bersemangat.

Itulah petunjukan teater The Lion King Musical. Lebih dari 5000 pertunjukan sudah dibuat sejak tahun 1997 berdasarkan kisah ini. Aneka negara sudah dilintasinya. Total omzetnya dicatat sebagai rekor terbesar sepanjang sejarah pertunjukan teater.

Sampai Agustus 2012, tercatat sekitar 850 juta dolar amerika atau setara dengan delapan trilyun rupiah telah dihasilkan oleh The lion King Musical. Omzet trilun rupiah telah dihasilkan dari bisnis pertunjukan satu judul teater saja! Saya beruntung ikut menyaksikan teater yang kini tercatat sebagai rekor sejarah itu.

Sejak malam itu, saya minta pemandu tur mencarikan lagi tiket teater yang sama hotnya dari segi jumlah pengunjung. Hampir setiap malam, kami menonton teater: Mama Mia, We Will Rock You, dan Thriller.

Aneka pertunjukan itu memiliki platform pertunjukan teater yang sama. Penonton
dimanjakan oleh musik, tarian dan atraksi panggung. Kisah dramanya sederhana dan sangat mudah dicerna.

Pesan dari pertunjukan itu juga jelas dan mudah diduga. Teater itu juga mewarnai pertujukannya dengan “warna warni” yang dekat dengan penonton, spt melantunkan aneka lagu top hits yang digemari. Yang populer memang adalah yang ngepop
dan semarak, memanjakan mata, menyamankan telinga penonton, akrab dengan publik, dan tidak
membuat dahi kita mengkerut untuk menebak kisah drama.

-o0o-

Memori ini yang terekam di benak saya ketika ingin ikut membuat karya budaya. Sejak menjadi aktivis mahasiswa di tahun 80an, isu demokrasi, hak asasi dan diskriminasi sudah menjadi obsesi. Sudah lebih dari 1000 kolom saya tulis untuk isu itu di aneka media nasional.

Sayapun sudah berkelana, mengecam pendidikan resmi sampai Ph. D di Amerika
Serikat mempelajari isu itu. Namun kali ini, saya ingin mengekspresikan isu itu tidak lewat kolom. Tidak juga dituliskan
isu itu dalam paper ilmiah. Saya justru ingin menyampaikannya lewat karya budaya yang
menyentuh hati. Yaitu lewat puisi, lagu, novel, film dan juga teater.

Karya budaya pertama sudah saya buat lewat puisi esai, dalam buku Atas Nama Cinta (2012). Aneka isu diskrimasi (agama, etnis, gender, orientasi seksual) dikemas dalam kisah cinta, diekspresikan lewat lima puisi esai.

Di luar dugaan, web puisi esai online ini sudah diklik hampir 4 juta (di akhir Agustus 2012). Tibalah saatnya puisi esai itu diterjemahkan ke dalam naskah teater. Jika di puisi, saya berekspresi lewat puisi esai, bentuk apa untuk dunia teater?

Bayangan sukses the Lion King Musical dan teater musikal lainnya di London itu terus membayangi.

-o0o-

Teater di Indonesia tentu tidak semarak seperti di Inggris atau Amerika. Hampir tak ada pertunjukan teater yang menjadi pembicaraan publik luas saat ini, di luar komunitas seni. Sangat jarang sekali antrian panjang di loket untuk menontonnya. Tak ada pertunjukan yang bisa digelar setiap malam selama misalnya setahun penuh.

Hanya Teater Koma yang mungkin bisa menjaga jadwal rutin pertunjukannya. Itupun saya ragu apakah secara komersial bisa profit jika tak ada sponsor utama?

Dalam kondisi seperti ini, supermanpun tak bisa membangkitkan teater Indonesia. Teater
dalam kondisi ini tak bisa bangkit hanya karena hadirnya sebuah naskah teater baru. Atau karena ada sebuah genre teater baru. Atau karena hadirnya seorang sutradara berbakat yang baru. Atau karena lahirnya seorang aktor atau aktris yang fenomenal.

Teater Indonesia hanya bisa tertolong dengan hadirnya para inovator. Yaitu beberapa entrepreneur yang mampu membawa teater memasuki industri dan dunia komersial.

Saya pernah mengambil peran inovator untuk dunia saya yang lain: ilmu sosial politik. Sebelumnya ilmu sosial politik dikenal sebagai dunia “air mata” dan “sepi.” Riset di bidang itu tak menghasilkan dana komersial, karena itu disebut dunia “air mata.” Hasil risetnya pun
sepi dari publikasi, dan tidak mewarnai wacana publik.

Momen datang melalui perubahan politik di tahun 1998. Demokrasi membawa perubahan politik. Pemimpin politik nasional dan daerah untuk pertama kali dipilih langsung. Saya ikut mengubah riset ilmu sosial, yaitu survei opini publik, dari kajian akademis menjadi industri bisnis.

Sebanyak 500 wilayah seluruh Indonesia melakukan pilkada (pemilihan kepada daerah). Belasan partai serta capres ikut dalam pemilu nasional. Survei opini publik kini menjadi rujukan. Sekarang hampir tak ada pilkada atau pemilu tanpa kehadiran suvei opini publik.

Dalam waktu lima tahun (2004-2009), saya ikut mengubah ilmu sosial dari “air mata”
menjadi “mata air.” Kini riset ilmu sosial itu memberikan kelimpahan ekonomi. Riset itu juga tak lagi sepi, tapi hot, berkali-kali menjadi headline media nasional. Survei opini publik juga ikut membuat trend dan wacana.

Yang saya kerjakan secara praktis sebenarnya complicated. Tapi secara konsep, operasinya sederhana. Yaitu saya membuat riset opini publik dibutuhkan oleh pasar, seluas mungkin. Atau saya ingin merespon kebutuhan pasar di bidang riset opini publik.

Semua strategi disusun untuk target itu.
Pertanyaan sama kini mengendap di kepala saya. Bagaimana membuat teater dibutuhkan pasar seluas mungkin?

Apakah bisa kita membuat teater seperti riset ilmu sosial, dari dunia “air mata” (kering secara ekonomi, sepi penonton, tak lagi menjadi wacana publik) menjadi “mata air” (memberikan kelimpahan ekonomi, ditonton banyak orang, mempengaruhi
wacana publik)? Apa yang mesti diubah? What should be done?


-o0o-

Sekitar bulan Juni saya intens berjumpa dengan Isti Nugroho, yang mewakili komunitas teater di Yogjakarta. Saat itu saya sedang mengembangkan puisi esai menjadi aneka film pendek yang dikerjakan Hanung Bramantyo. Putu Wijaya juga mengerjakan video pusi esai, yg dibacakan antara lain oleh Sutardji Calzoum Bachtri dan Niniek L Kariem.

Seniman serba bisa Sudjiwo Tedjo mengerjakan video puisi esai yang lain bersama Fatin Hamama. Saat itu saya sedang mencari partner di dunia teater untuk mengembangkan tema puisi esai
ke dalam naskah teater.

Perjumpaan dengan Isti Nugroho dan kawan kawan ternyata mudah untuk klik. Sudah sejak lama, Isti Nugroho dan Indra Trenggono bersama komunitasnya mengembangkan apa yang ia sebuat genre baru teater monoplay.

Detail mengenai konsep teater monoplay sudah dituliskan secara baik oleh Indra Trenggono dalam pengantar buku ini.

Namun bagi saya, sekedar teater monoplay tidak cukup. Yang kita butuhkan sekarang
memang tak sekedar genre baru teater atau apapun namanya. Yang kita butuhkan adalah
inovasi yang lebih merespon selera zaman.

Teater itu harus menarik segmen publik luas di luar komunitas seniman yang lazim. Yaitu komunitas eksekutif muda, anak-anak gaul, mereka yang bersilancar di dunia maya. Jika dunia teater tidak menarik mereka, kembali teater terkucil, walau menggunakan sebuah genre baru.


Segmen luas di Indonesia saat ini sama dengan publik di Amerika Serikat ataupun London ataupun dunia bagian manapun. Mereka semua sedang terjangkit budaya pop global.

Mereka ingin sesuatu yang lebih “crispy”, ringan dan lucu,: dan tidak terlalu
mengerenyitkan dahi. Mata mereka, telinga mereka butuh dimanjakan oleh pertunjukan
musik dan tari. Dalam kemasan yang menghibur itu, tetap bisa dimasukkan satu tema yang membawa kita pada pencerahan kesadaran.

Suasana batin zaman ini membutuhkan naskah teater yang lebih
pas. Isinya tetap mencerahkan. Tapi bungkus dan kemasannya menghibur. Secara cepat saya merespon bahwa teater monoplay harus juga musikal.

Harus dimainkan juga dalam pertunjukan itu bunyi musik yang akrab dengan penonton. Dipentaskan juga tarian yang memikat penonton. Branding teater yang harus ditawarkan tak hanya monoplay tapi juga musikal.

Saya menyadari monoplay dan musikal itu hanya akan melayani segmen penonton yang lebih ngepop. Jenis teater yang lebih berat dan abstrak tentu punya pasarnya sendiri.


Puisi esai saya, yang dijadikan bahan dasar kelima naskah drama, juga penuh data dan
catatan kaki. Saya tak ingin dimensi sejarah dan aneka data hasil riset dalam puisi esai itu hilang di naskah teater.

Namun saya menyadari juga sulit sekali memvisualkan aneka dimensi sejarah dan data itu. Solusinya, di setiap naskah harus ada narator yang memverbalkan aneka nuansa atau data yang tak bisa divisualkan dalam pentas.

Narator itu bisa dalam bentuk dalang, bisa presenter TV, bisa juga saksi sejarah yang dihadikan dalam naskah.

Inovasi selanjutnya adalah marketing. Apa lagi yang mesti dibuat agar kelima naskah
“Teater Monoplay dan Musikal” heboh? Apa yang mesti dikejar agar publik luas, anak-anak muda yang gaul, eksekutif muda, komunitas virtual tertarik untuk menontonnya?

Sengaja pertanyaan ini tidak dijawab di sini karena saya juga belum tahu solusinya. Biarlah pertanyaan itu dijawab secara kolektif, berdasarkan trial dan error di lapangan praktis.

Kita menunggu datangnya beberapa
inovator baru teater Indonesia. Atau kita harus mencari segala cara agar juga menjadi
bagian dari inovasi itu. Jika tidak, lesunya teater Indonesia diperpanjang.***

(2013)

 

  • view 293

  • Ray Raymond
    Ray Raymond
    8 bulan yang lalu.
    Saya dulu pernah bekerja di theme park di bandung sebagai performer, disana dipertotonkan pertunjukan drama yang dibalut aksi akrobat. Tapi ketika saya berada diluar theme park untuk membuat sebuah garapan theater yang dibalut dengan aksi-aksi akrobat terkadang harus terbentur dengan perijinan, gedung yang tidak memadai, peralatan pendukung yang sulit dicari dan tidak bisa dipungkiri dengan tidak adanya sponsor membuat nafas theater kami menjadi tertahan. Maka untuk menghibur diri saya selalu bilang pada diri saya sendiri, "apa yang sudah saya berikan pada theater? bukan, apa yang sudah saya dapat dari theater?" Setidaknya itu membuat saya dan kawan-kawan tetap bersemangat menggeluti theater yang sekarang sedang lesu di indonesia.