Karya-karya Puisi Denny JA

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2016
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

16.8 K Hak Cipta Terlindungi
Karya-karya Puisi Denny JA

KARYA-KARYA PUISI-ESAI DENNY J.A.

Oleh Ashadi Siregar (Novelis dan Jurnalis)

 

Tulisan ini adalah review atas 22 karya sastra di laman http://dennyja-world.com/ tentang Agama dan Diskriminasi yang dijuluki puisi-esai kreasi Denny JA. Tinjauan saya bersifat sporadis, tidak semua karya dapat saya bahas. Perlu disampaikan catatan, bahwa review ini saya bikin tidak dimaksudkan untuk “mengganggu” serapan audiens. Sebab manakala suatu karya sudah terpublikasi, dia adalah subyek yang dapat mengungkapkan dirinya sendiri, dan terserah pembaca untuk menafsir, menikmati dan menghayatinya. Jadi pembahasan ini hanya tangkapan subyektif saya, kedudukannya tidak lebih berharga dibanding dengan serapan audiens. Dengan kata lain, jika Anda selaku pembaca karya-karya Denny JA ini sudah mendapatkan penghayatan sendiri dan sudah nyaman dengan suasana yang terserap, sementara tujuan membaca karya sastra adalah untuk mencapai penikmatan subyektif, tidaklah perlu lagi membaca review ini. Mungkin review yang sok analitis ini malah merusak kenikmatan Anda.

***

Dengan nama puisi-esai tentu sebagai suatu genre penulisan yang khas. Secara kategoris biasanya teks dibedakan atas 3 macam, yaitu karya jurnalisme, karya intelektual, dan karya ekspresif. Pertama, karya jurnalisme mengaktualisasikan fakta; seperti berita, features dan lainnya. Kedua, karya intelektual mengaktualisasi atau merefleksikan fakta; seperti karya akademik, artikel opini dan lainnya. Ketiga, karya ekspresif berupa artikulasi fiksi; seperti puisi, cerita, esai.

Begitulah dalam garis besarnya komunikasi akan memanfaatkan fakta dan fiksi. Dalam pelajaran elementer penulisan, selalu diingatkan agar penulis memilah secara tajam antara ranah faktual (factual domain) dengan ranah fiksional (fictional domain). Kedua ranah ini tidak boleh dikompromikan yang sampai menyebabkan kerancuan antara fakta dan fiksi. Mungkin ada fiksi yang mengambil fakta-fakta kehidupan personal atau sosial, melahirkan novel biografi atau pun film doku-drama (film drama dengan basis kejadian sebenarnya). Atau mungkin ada laporan jurnalisme yang mengikutkan sedikit imajinasi penulisnya menyangkut suasana. Namun semua tidak boleh sampai mengubah substansi fakta, sehingga fiksi dalam alam pikiran penulis tidak boleh mengkhianati fakta.

Fakta diurus oleh akademisi dan jurnalis, dan keduanya ini bertolak dari metodologi sebagai proses untuk menyampaikan fakta secara obyektif untuk mencapai kebenaran. Kebenaran diwujudkan dalam kaidah faktualitas dan obyektivitas. Dari sini metodologi membawa fungsi obyektifikasi (objectification) bagi audiens. Secara sederhana obyektifikasi dapat dilihat sebagai proses untuk mencapai pemahaman obyektif terhadap dunia-luar (outer-world). Adapun kenyataan bersifat obyektif diperlukan seseorang sebagai landasan dalam memahami kehidupan sosial, untuk kemudian dia dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam kehidupan tersebut.

Fiksi merupakan dunia imajiner, membawa fungsi subyektifikasi (subjectification) yang dimaksudkan untuk membangun subyektifitas bagi dunia-dalam (inner-world) seseorang. Ranah fiksi memberikan efek psikhis kepada penerimanya yang dapat menumbuhkan penghayatan nilai dan untuk kemudian ambil bagian (sharing) dalam kehidupan kultural. Proses penghayatan ini bergerak dari tingkat kesenangan pragmatis psikhis, sampai ke tingkat penghayatan estetis sebagai dasar untuk sharing dalam kehidupan kultural. Dengan kata lain, setiap fiksi diharapkan dapat mengasah penghayatan melalui perasaan penerimanya, sehingga dapat menghargai kehidupan manusia.

Informasi faktual dan fiksional memiliki fungsi masing-masing. Keduanya sama penting, tetapi seorang akademisi dan jurnalis dituntut hanya menulis atau menyampaikan fakta. Tetapi tidak semua fakta akan bernilai untuk dijadikan karya intelektual dan jurnalisme. Atau bisa juga fakta yang dihadapi oleh seseorang menggugah imajinasinya. Imajinasi merupakan potensi dan kekayaan manusiawi yang perlu dikembangkan terus-menerus. Dengan disiplin dalam pengembangkan imajinasi, diharapkan seorang penulis dapat betul-betul menghayati dan menghargai fakta kehidupan manusia.

***

Bicara tentang puisi-esai. Puisi berasal dari teks verbal atau visual yang dapat memberikan suasana yang melingkupi penghayatan, sedang esai berupa prosa yang membawakan gagasan otentik dari subyektivitas. Kekuatan puisi adalah suasana yang dapat dihayati, sedang esai dihargai dari otentisitas subyektif dari sang kreator. Dengan begitu dari genre puisi-esai dibayangkan akan memberikan suasana penghayatan audiens yang dapat mengatasi teks sebagaimana saat menikmati puisi, dan menangkap kekuatan subyektivitas kreator yang dapat menanggalkan obyektivitas saat menghadapi esai.

Bagaimana dengan karya-karya Denny JA, dimana tempatnya di tengah kancah teks sastra? Keunikan karya-karya ini agaknya tidak boleh dilepas dari kediriannya yang perlu dilihat secara utuh.

Denny Januar Ali, atau biasa disapa Denny JA, lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963; adalah seorang intellectual entrepreneur dan penulis best seller. Dia memegang rekor dalam akademik, politik, media sosial, sastra dan dunia budaya di Indonesia. Dia bergelar PhD bidang Comparative Politics and Business dari Ohio Universtiy Amerika Serikat. Denny JA juga dikenal sebagai aktivis sosial mempromosikan dan berkampanye gerakan non-diskriminasi dan pendanaan gerakan ini dengan uang sendiri setelah ia sukses sebagai pengusaha. Denny JA dinobatkan majalah TIME pada tahun 2015 sebagai salah satu dari 30 orang paling berpengaruh di Internet. Termasuk dalam daftar adalah Presiden AS Barack Obama, Presiden Argentina Christina Fernandez de Kirchner, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan beberapa selebriti dunia seperti Shakira, Taylor Swift, dan Justin Bieber. Pengakuan itu diberikan untuk perannya di bidang media sosial, opini publik dan jajak pendapat dalam pemilihan presiden 2014 di Indonesia.   (http://id.wikipedia.org/wiki/Denny_Januar _Ali)  

***

Agaknya kiprahnya sebagai pengamat sosial-politik sangat mempengaruhi proses kreatifnya dalam berfiksi. Ini biasa terjadi pada diri intelektual yang terikat (engaged) kepada fakta fenomenal yang dihadapinya. Dengan metodologi sosial pengamat harus “dingin” dalam menghadapi subyek yang dikaji, tetapi selain itu dikenal pula engaged form analysis dalam studi kultural, metodologi dapat dijalankan dengan “hangat” yang melahirkan laporan yang prosais. Tetapi untuk Denny JA lebih jauh, bukan sekadar “hangat” melihat fakta, bahkan sampai pada kerisauan atau kegelisahan. Karenanya dalam membaca karya puisi-esai ini dapat dimulai dengan menelusuri tema yang diangkatnya, yang berasal dari fakta fenomenal yang merisaukannya. Sebagai intelektual, tentu dia dapat menulis artikel opini yang bersifat analitis yang akan menyentuh aspek kognisi audiensnya, tetapi akan berbeda dengan puisi atau esai, atau sekaligus puisi-esai yang ditujukan untuk aspek afeksi yang merasuk ke dalam diri audiens.

Dengan begitu 22 karya Denny JA dapat dibaca melalui fakta yang diolah sebagai suatu esai, untuk kemudian diekpresikan sebagai rima bersajak. Urutan semacam ini kiranya akan menjelaskan kedudukan teks-teks yang disajikannya. Apakah berhasil menumbuhkan suasana puitik, boleh dipertengkarkan panjang lebar. Untuk itu perlu diingat, bahwa suasana puitik dialami secara subyektif, karenanya tidak akan didapat kesamaan penghayatan di antara audiens. Berikutnya sebagai olahan bersifat esais, merupakan format yang tepat untuk menampung kerisauan seorang penulis. Tetapi yang paling penting adalah pretensi untuk mengajak audiens untuk bersama-sama menghayati kerisauannya dalam menghadapi fakta yang melingkupi kita dalam kehidupan bersama di ruang publik (public-sphere).

Tentulah saya tidak akan tahu persis kadar kerisauan subyektif Denny JA. Namun dapat dibayangkan suasana batin yang dialami oleh kaum intelektual secara umum. Untuk itu, marilah kita tengok dari dasar, melalui kerangka pemikiran kategoris, dengan melihat manusia sebagai jasmani dan rohani, atau raga dan sukma, dua dimensi yang tidak boleh meniadakan satu sama lain. Paralel dengan itu, dengan cara lain, kesemuanya ini dapat dimasukkan dalam dalam dua kategori: pertama dunia pragmatis yang berurusan dengan fakta/realitas, dan kedua dunia kultural yang berurusan dengan makna bagi alam pikiran (termasuk rasa).

Pada dunia pragmatis ini kehidupan dapat dilihat melalui dimensi politik, ekonomi, dan sosial, setiap tindakan manusia berada dalam kerangka nilai-guna. Kehidupan pragmatis memiliki dinamika berdasarkan aspek-aspek: tujuan, pengetahuan dan metode. Tujuan pragmatis menggerakkan manusia bertindak; pengetahuan memberi arahan bagi tujuan,; dan metode menjadikan manusia dapat bertindak efisien dan efektif. Pendidikan format berfokus pada pengajaran pragmatis, entah apa pun nama sekolah dan disiplin keilmuannya, pada dasarnya memberi dan meningkatkan ketiga aspek itu. Dari situ kehidupan pragmatis dalam berbagai kegiatan sektoral dipelihara sebagai landasan kehidupan bersama.

Orientasi pragmatis penting dalam kehidupan manusia. Pragmatisme menjadi landasan dalam kebijakan yang dijalankan oleh negara secara sektoral, merupakan upaya yang signifikan dalam kehidupan bernegara. Karenanya persoalan kebijakan negara yang sifatnya pragmatis ini perlu dilihat dalam pertanyaan kunci, apakah kebijakan dimaksudkan untuk memperkuat atau memperbesar institusi-institusi politik, ekonomi dan sosial, dan berikutnya apakah tujuan institusionalisasi itu hanya untuk orientasi kekuasaan (power) atau permodalan (capital), ataukah lebih dari itu, yakni untuk kehidupan manusia yang bermakna? Krisis pada dunia pragmatis adalah manakala tindakan personal hanya berorientasi pada kekuasaan dan permodalan dalam lingkup tertutup suatu institusi, sehingga institusi lepas dari konteks pada manusia. Dalam bahasa populer disebut sebagai teknokratisme yang mengabaikan humanisme, menjauhi makna kultural.. Dan lebih parah lagi jika kehidupan pragmatis bersifat patolois, yaitu tindakan korupsi sebagai penyalah-gunaan kekuasaan untuk kepentingan subyektif. Korupsi tidak hanya merupakan perilaku yang merugikan dalam hidup bernegara, tetapi juga menjadi pembusukan dalam kehidupan kultural.

Pada dunia kultural, ada upaya untuk mencari, meneguhkan, dan mengembangkan makna kehidupan. Makna kultural pada hakikatnya mengandung nilai positif bagi kehidupan, dikembangkan dalam 3 dimensi nilai (values), yaitu epistemologi, etika, dan estetika. Dimensi epistemologi dengan nilai rasionalitas, melalui capaian-capaian pengetahuan dan teknologi; etika dengan penghayatan dan praksis nilai kebajikan kemanusiaan universal dalam kehidupan; dan estetika dengan apresiasi nilai keindahan yang diekpresikan dari dan untuk kehidupan manusia. Manusia menghayati ketiganya, mungkin dalam gradasi berbeda antara satu dimensi dengan lainnya, tetapi tidak dalam dimensi tunggal: epistemogi saja, atau etika saja, atau estetika saja. Menjadi manusia dengan dimensi tunggal merupakan krisis pada tingkat diri (keakuan) manusia.

Dimensi kultural dapat dilihat bagaimana manusia berbuat sesuatu yang bermakna, sebagai suatu praktik maupun melalui hasil (produk). Manakala praktik dan produk dicitrakan melekat pada kolektivitas suatu bangsa, disebut sebagai kultur (kebudayaan) bangsa (nasional). Tetapi tataran ini hanya dimungkinkan tercapai melalui kreativitas dan ekpresi personal. Secara personal manusia harus tergugah untuk menjalankan peran dalam dimensi ini, yakni bersastra. Sastra bukan sekadar penggunaan bahasa verbal sebagai teks dalam konteks estetika, terlebih dipersempit lagi hanya sebagai puisi dan prosa. Sastra, sebagaimana dalam tradisi arkais kita, lebih luas dari bahasa verbal berestetika. Sastra, tak lain merupakan seluruh ekspresi dari dinamika kehidupan kultural. Pustaka kuno yang memuat sejarah penciptaan leluhur, pengetahuan perbintangan, pengobatan, sampai mantera magis, tersurat di bilah bambu atau lembar kulit kayu dan hewan, adalah sastra; dia merupakan ekspresi kultural komunitas pendukungnya. Dan kultur jangan pula dipersempit hanya sebagai salah satu sektor kehidupan.

** *

Peran Denny JA dalam dimensi pragmatis kiranya sudah teruji. Sukses dalam dunia politik-ekonomi ternyata tidak membenamkannya dalam kepuasan diri. Ada kegelisahan sebab merasakan bagaimana perjalanan dunia pragmatis yang berlangsung di ruang publik telah melahirkan kehidupan yang penuh sikap ekstremisme dan tindak kekerasan, suatu kehidupan yang kehilangan makna kultural.

Kaum intelektual engaged tentu dapat merasakan dan akan merasakan gerah akan kondisi ruang publik di Indonesia. Kehidupan beragama semakin semarak, tetapi keagamaan malah menunjukkan diskriminasi dan kekerasan terhadap perbedaan. Karya-karya sastra Denny JA pada dasarnya bertolak dari pertanyaan kunci, pertama, apakah beragama dapat menjadikan manusia hidup bahagia; kedua, apakah beragama mermbentuk perilaku yang baik dalam kehidupan nyata; dan ketiga, mengapa umat beragama (Islam) di Indonesia kehilangan orientasi inklusif, menjadikan kekerasan sebagai ideologi di ruang publik? Artinya, perilaku beragama sebagian umat Islam dengan menjadikan tafsir atas ajaran agama sebagai idelogi di ruang publik. Disini nilai agama kehilangan spiritualitas, direduksi sebagai idelogi dalam perebutan dominasi dan hegemoni di ruang publik. Artinya beragama telah menjadi dasar membentuk suatu komunalisme untuk memusuhi dan mengalahkan komunalisme yang berbeda.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dicari melalui konsep dan data, untuk kemudian disajikan dalam format sastra. Ini keunikan karya Denny JA, PhD.

Dalam garis besar karya-karya Denny JA dapat dilihat dari aspek teknis kreasinya. Di antaranya ditandai dengan penggunaan sejumlah metafora dan kontras. Metafora yaitu ungkapan simbolik untuk fakta atau konsep beragama, semacam burung, naga, kucing, dan sebagainya. (“Burung Trilili [karya 1], “Naga Seribu Wajah [2], “Karena Kucing Anggora” [3]) Selaku metafora yang bersifat implisit maka pembaca akan diajak menafsir maknanya melalui penghayatan otentik atas kondisi yang dialami sendiri.

Aspek teknis juga ditemukan melalui kontras dalam berbagai karya, dengan menghadirkan dua dunia yang kontradiktif seperti saudara kembar berbeda orientasi, komparasi antar negara, dan lainnya (“Balada Wahab &Wahib” [7], “Terkejut oleh Riset” [9], “Dua Wajah Ahli Agama” ([10], “Hikmah Singapura” [11], “Lotre Kehidupan” [12], “Barat Lebih Islami” [18], “Ustaz yang Gay” [21]). Karya-karya yang memanfaatkan kontras ini memerlukan pemahaman referensial untuk menangkap perbedaan di antara subyek yang dikontraskan terutama untuk karya yang disertai sampiran data.

Selain itu juga terdapat karya yang menggugat fanatisme beragama dengan menunjukkan bahwa suatu permahaman berasal dari persepsi yang bersifat multi tafsir. Karya-karya yang menggunakan metafora pada dasarnya mempersoalkan tema ini. Begitu juga karya semacam “Sidang Raya Agama” [6], “Berburu Bahagia” [19], “Mawar yang Berdarah” [20]) yang mengolah tema persepsi manusia.

Dengan teknik karya sastra ala Denny JA dapat dibaca dalam 2 garis besar, yaitu ekplorasi atas spiritualitas, dan perilaku beragama di ruang publik. Spiritualitas melampaui batas agama, sebab bersifat transendental. Ini berbeda dengan perilaku beragama yang ternampak dalam kehidupan sosial. Maka spiritualitas akan relevan bagi siapa saya yang melakukan pencarian nilai ini. Karya seperti “Mencari Raja Diraja” [5], “Balada Aneta’ [15], “Berburu Tuhan” [22]) dapat dibaca untuk tema semacam ini.

Karya yang mengolah perilaku patologis dalam beragama di ruang publik, tersebar di antero puisi-esai Denny JA. Perilaku ini ada yang bersumber dari kehidupan beragama yang kehilangan spiritualitas, tetapi umumnya diakibatkan tafsir yang bersifat mutlak dengan kehilangan konteks dari ajaran agama.

Keunikan karyanya juga ditunjukkan dengan catatan kaki sebagai referensi untuk berbagai gagasan. Begitu pula di antara karyanya ada yang tegak menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi isu kontroversial. Sajak ini unik sebab menampilkan diagram konseptual, seperti ini:

 

Konsep Kinsey memaparkan orientasi seksual yang bersifat gradual, tidak dalam dikhotomis absolut seiring jenis kelamin.

 

“Kinsey punya skala

Ini riset bukti ilmiah

Rating seksual manusia

lebih dari sekedar pria dan wanita”

...

“Kinsey memberi skor nol sampai enam

Skor nol untuk yang murni hetro seksual

Skor enam untuk yang murni homo seksual

Skor tiga untuk yang biseksual

Ini bisa menimpa semua

Ini normal belaka”

 

Sembari itu Denny JA berani secara eksplisit membuat pembelaan pada kelompok yang mengalami diskriminasi ini:

 

“Seorang bayi tak meminta ingin jadi pria atau wanita

Ingin kulit putih dan kulit merah

Ingin hetro seks atau homoseks

Itu datang begitu saja”

...

“Mereka yang homo, yang LGBT itu

Mereka juga manusia

Ingin dicinta

Ingin mencinta.”

 

“Mereka juga manusia

Bisa kesepian

Bisa menangis

Mereka hanya berbeda

Karena susunan genetika.”

(Ustaz yang Gay-Nature vs Nurture, http://dennyja-world.com/buku/read/14653623849354)

 

Dalam berbagai karyanya Denny JA tidak memberikan bait pengunci, dengan begitu menyerahkan kepada pembaca untuk menyimpulkan sendiri. Saya tidak akan menunjukkan sajak-sajak yang bersifat implisit semacam itu, untuk tidak mengurangi kesenangan pembaca menemukan sendiri apa yang diinginkan kreator. Komunikasi yang bersifat implisit dengan sendirinya akan bersifat multi-tafsir, sesuai dengan referensi dan pengalaman otentik dari pembaca.

Disini saya ingin mengutip dari beberapa karya Denny JA yang secara ekplisit merumuskan tesisnya untuk tema yang diolahnya sebagai sajak.

 

“Pengetahuan, kekuasaan, kekayaan

ho ho ho ho ho... itu penting untuk peradaban

Sangat bagus sudah kau kuasai

Sungguh penting sudah kau alami”

 

“Namun ilmu bahagia itu ilmu batin, Anakku

Tak tergantung dari apa yang kau simpan di saku

Tak tergantung seberapa kau berkuasa

Tak tergantung seberapa kau punya harta

Tak tergantung sedalam apa ilmu kau punya

(Berburu Bahagia-Kisah Timun, Telur dan Rempah, http://dennyjaworld.com/buku/read/14642589936680)

 

Persoalan persepsi juga disimpulkan seperti ini:

 

Ayah teringat kembali

Pernyataan Mawar suatu hari

“Semoga Tuhan membukakan mata

Semoga Tuhan menembuskan mata”

 

“Apakah ini maksudnya?,” ujar ayah goyah

Jika satu peristiwa kongkret saja

banyak persepsi tercipta,

Apalagi soal kebenaran yang abstrak?

(Mawar yang Berdarah-Persepsi vs Realita http://dennyja-world.com/buku/read/14653620209168)

 

 

Makna hidup tertinggi

Kehidupan punya inti

Ia peroleh bukan dengan pergi

Bukan meninggalkan hidup sehari-hari

Bukan membuang hal-hil yang duniawi

 

Tapi justru ia harus hidup seperti biasa

Hanya dengan hati yang beda

Hidup secara normal

Tapi dengan hati yang merekah

 

Hati yang membuka lahan

bagi bersemayamnya Tuhan

 

Tuhan yang diburu

Ternyata dekat sekali

Ia tak dimana

Ia ada di hati

(Berburu Tuhan-Petuah Tiga Guru, http://dennyja-world.com/buku/read/14653625275492)

 

***

 

Sebagai catatan akhir, saya kira penghayatan yang lebih kuat dalam menikmati karya-karya Denny JA ini akan lebih terasa jika diwujudkan dalam medium lain. Dengan menampilkan dalam medium digital dengan format teks verbal dan visual, serta audio-visual, beberapa sajak memang dapat disampaikan secara kuat. Tetapi gagasan dan rima dalam beberapa karya ini memiliki kekuatan teatrikal, karenanya pasti akan sangat berefek jika dipanggungkan. Sambil membaca buku digitalnya, saya membayangkan seandainya dibawakan oleh teaterwan, terutama dalam dialog dan koor yang disiapkan oleh kreator, sungguh akan kuat menerpa penghayatan audiens. Jadi setelah membaca, mendengar dan melihat ilustrasi visual dalam medium digital, akan sangat menggugah manakala dapat ditonton. Medium spektakel akan memperkaya gagasan-gagasan yang terkandung dalam karya-karya Denny JA ini. ***

  • view 1.5 K