Agama dan Diskriminasi Tantangan Budaya Global

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2016
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

16.3 K Hak Cipta Terlindungi
Agama dan Diskriminasi Tantangan Budaya Global

Review 22 Buku Puisi Denny JA

AGAMA DAN DISKRIMINASI TANTANGAN BUDAYA GLOBAL

S.M. Zakir

(Sastrawan Malaysia, Pemenang Sea Write Award 2011)

 

 

Perjanjian Westphalia pada tahun 1648 merupakan titik balik bangunnya doktrin pemisahan agama dengan urusan politik. Perjanjian ini menandai perang agama berakhir. Perang itu telah berlansung hampir seratus tahun dan menghancurkan negara-negara di Eropa. 

Sebelumnya pada abad ke-11, Perang Salib berlangsung ratusan tahun dan menelan korban sekian juta nyawa. Diskriminasi karena agama dan kepercayaan yang berbeda telah menciptakan sejarah peperangan demi peperangan hingga hari ini.

Mengapa agama yang tujuannya mendatangkan kesejahteraan itu berbalik mendatangkan peperangan dan kesengsaraan? Persoalan ini tidak bisa dijawab dengan mudah. Bahkan pemisahan agama dengan urusan politik dan duniawinya juga bukan jawaban yang dapat menyelesaikan persoalan. Sampai hari ini perbedaan pendapat, agama, dan kepercayaan selalu menampilkan tangan-tangan kasar hegemoni dan despotik sebagai dukungan penyelesaiannya. Namun seperti lazimnya tangan hegemoni dan despotik akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Denny JA sosok manusia multitalenta dengan keberaniannya menyatakan fikiran dan keyakinannya tentang agama dan diskriminasi. Denny JA menggunakan medium puisi dalam bentuk media baru untuk mengembangkan dasar-dasar filosofisnya yang begitu terencana. Sebanyak 22 puisi Denny JA ditransformasikan dalam bentuk 22 buku bergambar. Ini merupakan hasil luar biasa pada dekade baru ini.

Semua puisi itu ini menyampaikan pesan sosial yang ditunjang oleh dasar-dasar filosofis yang kukuh. Puisi di buku ini merupakan puisi panjang, berbabak, dan diuruti plot selayaknya karya prosa. Lebih kukuh, puisi-puisi yang menyodorkan fikiran-fikiran ini ditunjang oleh fakta dan data yang ditempatkan di catatan kaki. Ia sepertinya kelihatan aneh bagi puisi. Tetapi puisi yang disajikan dalam media baru ini dilengkapi catatan-catatan kaki untuk memperkuat dasar-dasar filosofis ini menjadi konkrit dan kukuh.

Lebih jauh puisi jenis ini lahir untuk masyarakat pengguna media baru, media sosial, dan internet. Ia menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak rumit.

Puisi Denny JA tergolong puisi terang. Ia hadir untuk melawan puisi gelap yang penuh dengan kata-kata dan lambang serta metafora yang sulit dimengerti. Tujuan Denny JA memilih puisi terang hanya satu, yaitu agar pesannya mudah sampai dan dapat difahami oleh masyarakat luas. 

Revolusi teknologi yang datang sebagai era pencerahan baru abad ke-21 telah menyusutkan dunia nyata ke dalam memori komputer dan gadget. Revolusi ini membuat dunia kehilangan batas waktu dan ruang. Sehingga puisi juga mudah dan cepat dikirimkan ke khalayak pembaca tanpa batas waktu dan ruang.

22 puisi Denny JA adalah bricolage dari rupa bentuknya, yaitu campuran dari teks puisi, visual, web, dan internet yang dipadukan untuk menjadi medium penyampaian fikiran yang penuh arti. Lebih dari itu, 22 puisi ini melibatkan usaha dan tujuan untuk mencapai nilai dan identitas baru tanpa nilai autentik puisi yang dicetak di atas kertas.

Bricolage ini memunculkan nilai autentik baru dalam konteks dunia teknologi informasi hari ini. Gaya dan penyajiannya berbentuk puisi terang – bahasa yang sangat mudah dibaca dan difahami. Tetapi tetap membawa makna yang dalam – sekaligus perlawanan bentuk terhadap puisi gelap yang bersembunyi di balik makna kata yang rumit.

Khalayak pembaca media internet memang memerlukan bacaan yang mudah, cepat, ringkas dan padat makna. Pola pembacaan di zaman ini menuntut gaya penulisan yang akomodatif dengan kebutuhan yang serba cepat dan mudah.

Di sini Denny JA hadir dan mempersembahkan puisi-puisi yang mewakili kebutuhan budaya baru ini. Ia menampilkan bricolage yang membawa fikiran melalui puisi dalam format penyampaian yang benar-benar berbeda. Itu dari sudut bentuknya yaitu form. Sementara isinya, terlihat bagaimana Denny JA dengan 22 puisinya membentuk suatu gaya penyelesaian intelektual terhadap pencarian dan penggalian gaya baru dengan menggunakan pengetahuan bidang lain serta idea yang ada dalam kesadaran akumulasi masyarakat (collective social consciousness).

Pernyataan fikiran 22 puisi ini dibentuk oleh perpaduan aneka disiplin bidang pengetahuan dan idea yang ada dalam dalam kesadaran masyarakat. Disiplin falsafah, sejarah, agama, sosial, politik, dan budaya berpadu dalam aliran fikiran yang dikeluarkan oleh Denny JA. Puisi-puisi avant garde Denny JA ini akhirnya menjadi ‘pengumpulan simbolis tanda-tanda yang ada untuk digunakan dalam memadamkan set tanda atau kod lama dan autentik; untuk digantikan dengan sistem penandaan baru’.

Perbincangan yang lebih inti mendalam tentang 22 puisi Denny JA ini adalah melihat karya ini sebagai bricolage yang menjadi representasi budaya global. Substansinya adalah usaha untuk penentangan terhadap arus hegemoni – dalam hal ini diskriminasi atas nama agama. Amat jelas inti dan sifat budaya global itu adalah kontra-hegemoni dan inilah yang dibawa dalam 22 puisi Denny JA.

Ia menentang diskriminasi atas nama agama, malah atas nama apa pun. Ia hadir untuk merebut, menentang dan menentang sisi-sisi yang mendirikan hegemoni serta diskriminasi. Pada suatu keadaan ia bergerak untuk mencari keseimbangan baru melalui ‘penyelesaian intelektual dalam menelaah dan menemukan sistem penandaan baru yang lebih akomodatif dengan suasana hari ini’.

Puisi-puisi Denny JA menyajikan buah fikiran dengan langsung, mudah, cepat dan padat makna, sejajar dengan sifatnya sebagai representasi budaya global yang bergerak dalam skala yang dinamik. Fikiran ini yang dituangkan dalam bentuk puisi mendiskusikan hal-hal yang membelenggu masyarakat terkait soal diskriminasi atas nama agama. Denny JA juga sekaligus menampilkan sifat kontra hegemoni sebagai representasi budaya global.

Puisi-puisi ini jelas-jelas menentang diskriminasi tetapi pada waktu yang sama memiliki solusi intelektual yang sangat harmonis. Ia menemukan sifat hibridnya dalam bentuk dan juga dalam subjek dengan penyelesaian yang harmonis.

Burung Trilili: Bertengkar untuk Persepsi mengungkapkan tentang Sang Guru yang pada awalnya bercerita tentang Burung Trilili untuk memberi kata yang dapat memuaskan rohani. Tetapi akhirnya ia menjadi sabda yang dipercayai sebagai kebenaran dari langit sehingga menimbulkan persepsi tentang zat Burung Trilili. Persepsi demi persepsi menjadi pegangan yang berbeda dan akhirnya menumbulkan perseteruan mempertahankan pegangan masing-masing. 

Puisi ini ternyata memberikan ironi tentang perbedaan mazhab dan aliran agama yang berawal dari persepsi akhirnya menimbulkan pertikaian dalam mempertahankan siapa yang paling benar. Sedangkan apa yang dipercayai sebagai kebenaran dari langit itu hanya adalah cerita rekaan Sang Guru. Sang Guru tentunya tidak salah. Yang salah adalah para murid dan penafsir. Mereka saling berebut pengakuan siapa yang paling berhak dan berkuasa atas kebenaran, meskipun kebenaran itu sendiri hanyalah persepsi masing-masing. Cerita ini menjadi titik awal tentang munculnya diskriminasi atas nama agama – oleh sikap manusia yang ingin menjadi yang paling berkuasa atas kebenaran dan kemudian melakukan penindasan atas nama kebenaran.

Untuk menyelamatkan umat yang menjadi korban di sungai, maka Sang Guru mencipta khayalan tentang naga yang ada di sungai dan siap menunggu korban. Naga Seribu Wajah: Khayalan Menjadi Kenyataan memberikan cerita yang sama tentang bagaimana mudahnya umat tersesat oleh hal yang tidak tampak tetapi hanya diyakini yang berasal dari perkataan orang.

Karena Kucing Anggora: Hal Sepele Menjadi Pokok memperlihatkan bagaimana persepsi atau tanggapan yang belum tentu benar tiba-tiba menjadi pokok kebenaran. Praktek yang dilakukan oleh Guru hanyalah kebiasaan yang tidak apa-apa, tetapi persepsi para murid menjadikannya sebagai kewajiban yang menjadi pokok kebenaran. Dan, akhirnya menjadi penyebab perselisihan.

Kitab yang hanya dikarang untuk mengisi fikiran pujangga akhirnya dijadikan sebagai sabda suci yang tidak boleh sama sekali dilanggar muncul sebagai cerita dalam puisi Kisah Kitab Petunjuk: Yang Tercetak Kalahkan Yang Hidup. Puisi lain bercerita dalam Mencari Raja Di Raja: Yang Ada dan Yang Ilusi bagaimana manusia atas nama agama membunuh anak-anak yang tidak berdosa.

Lalu ibu yang bocahnya mati mempertanyakan Burung Trilili Penguasa Langit dan Bumi mengapakah dibiarkan bocahnya yang tidak berdosa dibunuh kejam. Akhirnya si ibu berkelana mencari jalan abadi yang bukannya jalan kepada Burung Trilili yang ilusi.

Atas nama agama juga kekerasan dilakukan oleh manusia yang mengangkat dirinya menjadi polisi agama. Ini cerita yang lain dari puisi Sidang Raya Agama: Yang Tampak dan Yang Hakekat, bagaimana sekelompok manusia membikin undang-undang di tangan mereka sendiri mengatasnamakan kesucian agama yang mereka punya. Tetapi hakekatnya kebenaran dan kesucian itu mengalir dari sumber yang satu. Lalu mengapa hanya satu jalan sahaja satu-satunya yang benar. 

Puisi-puisi Denny JA terus berjalan kepada cerita-cerita yang aneh dan berani; mempertanyakan tentang kebenaran apakah ia benar sebuah kebenaran. Balada Wahab dan Wahid: Islam vs Islam bercerita bagaimana agama boleh berubah di tanah dan udara yang berlainan. Malah kedegilan untuk masing-masing mempertahankan akidah yang mereka percaya benar dari tanah dan udara yang berbeda boleh sahaja membunuh hubungan persaudaraan.

Menyelam ke Langit menampilkan puisi yang bercerita panjang tentang kebenaran bukan hanya pada satu jalan di mata roda tetapi di inti yang menggerakkan roda. Puisi ini membawa filosofis yang dalam. Juga keberanian mempertanyakan tetapi kemudian mengharmonikan dengan jawaban yang lunak dan penuh pengertian.

Apakah benar penduduk di negara yang tidak beragama lebih bahagia dibandingkan dengan warga dari negara beragama. Puisi Terkejut oleh Riset: Bahagia dan Agama menggabungkan fakta dari riset yang terpercaya. Realitas yang menampilkan sinis seperti Nazarudin Khoja mencari kunci di tempat yang salah. Tetapi kesimpulannya bukan agama yang membuat umatnya kalah tetapi cara umatnya beragama itu yang membuat mereka salah.

Ahli agama adalah manusia yang juga tidak terlepas daripada salah. Mereka bukan maksum dan puisi Dua Wajah Ahli Agama bercerita tentang sifat manusia alami itu persis Dr. Jekyll dan Mr Hyde.

Hikmah Singapura: Agama di Sekolah menceritakan agama yang diajar di sekolah bukan penentu kebaikan negara. Bahkan, negara yang tidak mengajarkan agama di sekolah terbebas dari korupsi. Sedangkan negara yang tegar mengajarkan agama di sekolah penuh korupsi sana-sini. Tentunya ia satu sinikal yang tajam dan pedih, tetapi kebenarannya tidak mungkin juga dinafikan.

Puisi terus membawa fikiran-fikiran yang membentur keras tembok diskriminasi agama. Menyoal apakah agama benar-benar membawa kebahagian kepada umatnya. Jika agama tidak salah, tentu yang salah adalah umatnya. Mujur dan malang nasib manusia punya mukjizat yang tidak mampu diketahui manusia. Lotre Kehidupan: Mujur dan Malang lebih melihat kebesaran Tuhan menimpakan mukjizat-Nya kepada manusia. Agama mampu membahagiakan jika umatnya tahu mensyukuri setiap perkara baik dan tidak cepat menghukum atas segala yang buruk.

Mimpi Sepeda Ontel: Berani Beda menampilkan puisi yang bijak dan jernih bahwa manusia harus mengikuti jalan pilihannya tanpa perlu peduli kata orang karena hidup kita yang punya dan bukan mereka yang punya.

Puisi panjang yang penuh filosofis Perguruan Bahagia: Api atau Abunya?; tentang dua calon pengganti guru. Murid yang satu mengambil api dari kitab mengajarkan hikmahnya, dan murid yang satu lagi mengambil abu dari kitab mengajarkan kata per kata. Lalu yang dipilih adalah calon yang mengajarkan hikmahnya.

Manusia tidak lepas dari membuat kesalahan, tetapi kesadaran daripada kesalahan membuat manusia menuju kebaikan yang lebih tinggi. Balada Aneta: Kesadaran dari Kesalahan tidak kalah filosofisnya.

Keinginan atau ego untuk sering menempatkan kebenaran yang kita punya lebih tinggi seringkali juga terbentur dengan fakta yang sebaliknya. Robohnya Menara Kami: Pemurnian Agama atau Sinergi? memberikan fakta betapa sumbangan ilmu dari umat agama yang paling benar itu adalah paling kecil dan tersisih. Dunia Islam yang jauh terpencil dari segi ilmu hanya punya kenangan lampau yang agung. Makanya Barat dan non Islam yang maju tidak harus dimusuhi; adalah lebih tuntas jika bersinergi. 

Ambruknya Sang Raksasa: Gagasan vs Rupiah sebuah lagi puisi esei yang dipenuhi fakta. Ia menyatakan budaya untung rugi bukan hanya datang dari dunia pasar tetapi juga gagasan besar dari jiwa dan fikiran.

Puisi-puisi Denny JA sifatnya bercerita. Puisi Denny JA juga bisa disamakan dengan sebuah cerpen yang punya babakan cerita.

Puisi-puisi ini tepat dinamakan puisi esei, kerana sifatnya yang informatif. Lebih dari itu, ia juga filosofis. Maka puisi-puisi terus langsung bercerita dengan fikiran yang luas. Puisi Barat Lebih Islami: Substansi atau Label? terus menyelak data dan fakta tentang Barat lebih Islami dari negara Islam itu sendiri. Jujur tanpa korupsi, toleransi agama, amanah, rasional, dan takwa membawa bahagia adalah lima nilai dalam Islam. Tetapi sayangnya negara Islam kehilangan nilainya sendiri. Sebaliknya, negara kafir itu menduduki tangga teratas dari yang punya nilai-nilai ini. Umat Islam kehilangan cinta yang jadikan hidup bahagia kerana mereka beragama dengan cara yang salah dan bukan lagi ikut cara para nabi.

Berburu Bahagia: Kisah Timun, Telur dan Rempah memberikan fikiran yang cukup filosofis tentang pengetahuan, kekuasaan, dan kekayaan. Semua itu hanya bisa membuat manusia bahagia jika dibentuk oleh dan kepada lingkungan yang betul. Oleh karena itu yang penting bukan apa yang kita punya tetapi apa sikap kita atas apa yang kita punya. Pengajaran yang terkandung pada puisi ini dalam sekali. 

Puisi terus bercerita dengan babakan cerita yang cukup ternikmati. Mawar yang Berdarah: Persepsi vs Realita benar-benar memberikan babakan cerita yang bergerak dari plot. Mawar, gadis yang terlibat cinta tiga segi, memiliki pilihan cinta atau agama. Dan, akhirnya tamat riwayatnya. Namun matinya dipenuhi persepsi tanpa diketahui realitasnya. Persis seperti kehidupannya sendiri yang digalang persepsi dan tidak ketemu realiti.

Ustaz yang Gay: Nature vs Nurture bercerita panjang tentang sikap natural alami dan lingkungan. Makanya manusia harus belajar menerima realitas dan tidak diskriminasi atas sesuatu yang terjadi secara alami. Berburu Tuhan: Petuah Tiga Guru adalah sajak filosofis tentang zat yang berprisma ke dalam pelbagai jalan kebenaran. Maka sesuatu yang benar tidak harus merasa sentiasa yang paling benar dan yang paling baik.

Puisi-puisi Denny JA ternyata mengasyikkan. Ia puisi-puisi esei yang bercerita lewat masukan fakta dan data serta falsafah yang menggugah fikiran. Memang ia adalah pesan-pesan sosial lewat kehidupan yang penuh persepsi, malah prasangka dan bias. Keyakinan yang sentiasa ingin meletakkan kebenaran mereka adalah yang paling benar dan langsung menutup jalan diskusi maupun kompromi.

Kehidupan seperti ini tidak menemui realita dan hakekat sebenarnya tentang apa itu kebenaran yang penuh cinta. Pengajaran yang diberikan ialah agama itu tidak salah tetapi yang sering salah ialah cara beragama. Maka lewat puisi-puisi berupa bricolage yang menjadi sifat budaya global ini, Denny JA membuka pertanyaan demi pertanyaan yang perlahan-lahan membawa pembaca ke dalam ruang awam.

Ruang awam adalah konsep yang diperkenalkan oleh Jurgen Habermas yang pada mulanya mempersoalkan representasi budaya yang lebih dilihat mewakili budaya yang ditentukan oleh kekuasaan. Maka Habermas mengemukakan konsep tentang ruaan awam atau public sphere yang disebut sebagai Offentlichkeit; yaitu mewakili ruang diskursif yang bebas daripada kontrol kekuasaan.

Di dalam ruang ini budaya berkembang dalam diskursif yang matang dan bebas lepas dari setiap kontrol dan kepentingan kekuasaan negara maupun pengaruh pihak yang berwewenang.Budaya dalam ruang awam dikarakterisasi individu yang bebas memberikan buah fikiran dan berhujat atas dasar rasional. Di sini fikiran-fikiran bebas dan lepas saling bertemu untuk memberikan pendapat-pendapat umum atau rakyat yang punya hak sama – kritik, saran, dan rasio menjadi pemuka. Maka tanya jawab dilunasi oleh para rakyat, individu yang punya hak membuat pilihan.

Denny JA mencipta sebuah ruang awam dalam web inpirasinya yang ternyata memuatkan tanggapan dan fikiran bebas melalui 22 buah buku puisinya yang termuat di situ. Fikiran-fikiran Denny JA tidak berniat untuk menjadi paling benar apatah lagi menghukum. Tetapi ia mempertanyakan tentang wajah-wajah kebenaran yang dibina oleh persepsi.

Ini ruang awam, dan ruang ini adalah ruang untuk mempertanyakan. Ia bukan ruang hukum yang memberi vonis atas setiap perkara. Kebalikannya juga pembaca yang memasuki ruang awam ini juga harus bersikap seperti sikap mereka yang memasuki ruang awam. Ada pandangan dan fikiran yang mungkin tidak menyenangkan, bahkan dianggap salah. Tetapi di dalam ruang ini pembaca harus bersikap diskursif, dan tidak boleh memberikan vonis yang terus membunuh segala fikiran dan diskusi. 

Banyak pertanyaan Denny JA yang membuka cakerawala fikiran. Puisi-puisinya disampaikan dengan bahasa yang mudah, seperti katanya melawan ‘puisi gelap’. Karena tujuan beliau ialah untuk mendatangi semua pembaca dengan fikiran yang jelas dapat difahami dan ditanggapi. Namun bahasa yang mudah ini diisi dengan filosofis yang dalam dan penuh makna. Malah apa yang lebih menarik ialah puisi-puisi ini menghadirkan fakta dan data, membuat setiap fikiran yang datang itu bukan persepsi kosong semata-mata, jauh sekali khayalan yang berapungan. Puisi-puisi ini lengkap fakta, bergabung dengan lahan-lahan falsafah yang luas membuatkan pembaca persis memasuki dunia intelektual yang konkrit dan tegar, tetapi penuh warna warni.

Memasuki dunia fikiran Denny JA melalui 22 puisinya yang dibikin buku bergambar ini seperti memasuki sebuah taman terdapat dua orang lelaki yang sedang bercakap. Tidak lain dua lelaki itu ialah Socrates dan Phaedrus yang sedang berdialog melahir tanya jawab yang akhirnya melahirkan dialogika. Socrates menyampaikan falsafahnya dengan pertanyaan demi pertanyaan, melahirkan dialog demi dialog dan akhir menemukan fikiran-fikiran yang besar dan kukuh berdiri. 22 buah puisi Denny JA bukan hanya ruang awam yang membicarakan fikiran bebas, tetapi juga taman dialogika yang menemukan daerah filosofis dan realitanya yang konkrit. 

Jika tidak Socrates atau Habermas, dia adalah Denny JA.

  • view 263