Pertunjukkan Sastra dan Puisi Esai Denny JA

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2016
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

16.2 K Hak Cipta Terlindungi
Pertunjukkan Sastra dan Puisi Esai Denny JA

Oleh: Ons Untoro, Penyair dan Kritikus Sastra

 

            Denny JA hadir dengan 22 puisi esai, dan bisa dilihat melalui Youtube. Selain itu, 22 puisi esai dalam judul yang sama bisa dilihat secara on line. Jadi, dua area ditempuh Denny untuk mempublikasikan puisi esai karyanya. Mungkin, kecuali dua area itu, dia juga menerbitkan dalam bentuk buku, sehingga selain hadir secara digital, 22 puisi esainya juga bisa dinikmati dalam bentuk buku yang dicetak. Pada yang terakhir disebut ini saya belum pernah menikmatinya. Saya hanya menikkmati 22 puisi esai dalam bentuk digital.          

            Saya akan melihat karya Denny JA, dalam hal ini puisi esai yang memiliki pro dan kontra, lebih-lebih bukunya yang berjudul ’33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh’. Saya tidak akan membahas buku ini, selain karena diluar konteks tulisan ini, apalagi posisi saya juga menolak buku tersebut. Terutama menolak dimasukannya Denny JA sebagai tokoh sastra, tetapi memberi apresiasi dan menerima Denny sebagai tokoh dibidang lain, terutama di area survey politiik dan quick count.

            Ada 22 puisi esai yang bisa diunduh melalui Youtube yang akan saya telisik, yang diformula dalam pertunjukkan sastra dan teks puisi. Jadi, saya akan menyajikan tigal hal dalam tulisan ini. Pertama: Pertunjukkan sastra, dalam hal ini puisi esai karya Denny JA dibacakan. Kedua: Tema sosial dari puisi esai karya Denny JA. Ketiga: puisi esai, dan sebagai penutup saya akan mencoba mengajak cara lain untuk menumbuhkan puisi tanpa harus menempatkan dirinya menjadi tokoh sentral.

 

Pertunjukkan Sastra

            Pertamakali saya melihat pembacaan puisi. ketika Rendra tampil membaca puisi, kalau tak salah ingat tahun 1977 di Sport Hall Kridosono, Yogyakarta. Ruang pertunjukkan penuh sesak, dan Rendra memang memukau dalam membaca puisi. Sebagai penyair dan aktor, Rendra mampu menghidupkan kata. Dalam pertunjukkan tanpa iringan musik, juga tanpa visual lainnya, tetapi penampilan Rendra dalam membaca puisi memang mempesona dan menyihir semua penonton, sehingga tertegun dan diam sampai puisi selesai dibacakan baru setelah itu tepuk tangan menggema. Tentu, bukan hanya saya yang terpesona, saya kira semua hadirin, yang rela berdesakan dan membeli tiket untuk melihat pertunjukkan Rendra membaca puisi. Kemampuan Rendra membaca puisi sekaligus menghadirkan imajinasi bagi para hadirin yang melihatnya. Jadi, pertunjukkan membaca puisi adalah upaya untuk memproduksi imajinasi sekaligus menghidupkan teks puisi.

            Dari situlah, saya mulai tahu, bahwa pembacaan puisi merupakan bentuk dari pertunjukkan sastra. Puisi yang dibaca sendiri di kamar berbeda dengan puisi yang dibacakan dipanggung. Pada yang disebut kedua adalah apa yang disebut sebagai pertunjukkan sastra, selain membaca cerpen, pentas drama dan monolog atau musikalisasi puisi.

            Selain Rendra, dengan penampilan yang berbeda, tentu ada penyair yang memikat kapan membaca puisi. Sutardji Colzoum Bachri misalnya, yang hadir dengan kredo puisi mantra dan membebaskan kata dari makna, dan memposisikan diri sebagai Presiden Penyair Indonesia, meramu pertunjukan puisi dengan bir, sehingga dalam setiap pertunjukkan Sutardji selalu tidak lepas dari bir. Penampilannya berbeda dengan Rendra, tetapi memiliki daya pikat tersendiri.

            Lain lagi dengan Darmanto Yatman, misalnya dengan puisi ‘Karto Iya Bilang mBoten’ dan puisi karyanya yang lain, mampu menghadirkan daya pikat yang berbeda dari Rendra dan Tarji. Darmanto bisa menghidupkan kata, meski tanpa iringan musik atau bantuan visual lainnya. Darmanto hadir sebagai penyair yang membacakan puisi karyanya. Judul saya sebut di atas hanyalah salah satu dari sejumlah judul puisi lainnya, yang jika dibacakan oleh Darmanto, menjadi sangat hidup.

            Berbeda lagi dengan Emha Ainun Najib, yang hadir dengan, misalnya ‘Puisi Klembak Menyan’ dan dibacakan dengan iringan gamelan, sehingga penampilanya sanngat rancak. Kreativitas Ainun ini memberikan kesegaran dalam pertujukkan sastra, dalam hal ini pembacaan puisi.

            Pertunjukkan sastra saya sebut di atas berlangsung antara tahun 1970-an sampai 1980-an. Para pembaca puisi, bukan hanya penyair, menghidupkan kata dipanggung tanpa ada bantuan visual yang menggunakan perangkat digital. Kemampuan membacanya bisa memproduksi imajinasi bagi orang yang menedengarnya. Hal seperti itu pernah saya lihat pada Landung Simatupang, Butet Kartaredjasa, bahkan sampai sekarang keduanya, kalau membaca puisi tanpa bantuan visual, dan puisi yang dibacakan terasa hidup. Dan aktor yang lebih muda dari Landung dan Butet, seperti Whanny Darmawan, memiliki kemampuan membaca puisi tanpa bantuan visual apapun. Teks puisi menjadi terasa hidup ‘ditangan’ Whanny Darmawan.

            Jadi, saya memahami, pertunjukkan sastra, dalam konteks ini puisi, bagiamana puisi tersebut ‘dihidupkan’ dari teks yang beku dan kaku, sehingga orang bisa menikmati puisi melalui telinga dan memperhatikan ekspresi atau penjiwaan puisi dari pembacanya. Dalam kata lain, kehadiran pembaca di panggung penting bagi penonton, karena hadirin tidak hanya mendengarkan suaranya, melainkan memperhatikan gesture, kostum dan seterusnya, setidaknya seperti pernah diakatan Sutardji Colsoum Bachri, yang ditulis September 1980. Kata Tardji: “Kalau orang membaca sajak di depan hadirin, di depan penonton. Di sini si pembaca tidak hanya menampilkan suara saja, tetapi juga segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya (tubuh) seperti mimik, gerak, postur dan bahkan juga kostum”.   [1]

 

Pertunjukkan Sastra: Puisi Esai Denny JA.

            Di jaman serba digital ini kita bisa melihat pertunjukkan sastra, bahkan pertunjukkan kesenian apapun, tidak harus datang di panggung melainkan bisa melihat dari rumah, karena pertunjukkan disiarkan secara langsung. Atau melihat pertunjukkan yang sudah diselenggarakan beberapa tahun silam, dan kita bisa mengunduhnya melalui Youtube. Saya bisa melihat atau mendengarkan Rendra membaca puisi yang berjudul ‘Rick Dari Corona’ misalnya, melalui Youtube, seperti saya pernah melihat Rendra membaca puisi judul yang sama di Gedung Sport Hall Kridosono, Yogyakarta 30 silam. Atau saya bisa melihat pertunjukkan Deep Purple, Beatles Michael Jackson dan lainnya melalui Youtube, padahal saya belum pernah melihat langsung pertunjukkan tokoh-tokoh muisk dunia itu di panggung manapun.

            Demikian juga yang saya lakukan dengan melihat pembacaan puisi esai Denny JA, yang belum pernah saya lihat pertunjukkannya di panggung, atau mungkin memang belum pernah dipentaskan di panggung konvesional seperti dulu dilakukan Rendra, Tarji, Darmanto, Emha dan yang lain. Tapi pembacaan puisi karya Denny JA khusus untuk direkam dan dipentaskan di panggung Youtube, sehingga siapapun dan kapanpun orang bisa menikmatinya. Kalau menilik pengunjungnya sudah dilihat 11 ribu lebih pertunjukan puisi esai Denny JA di panggung Youtube. Jumlah yang tidak sedikit kalau melihat di gedung, dan jumlah penonton Rendra tidak sebanyak pengunjung panggung Youutbe-nya Denny JA.

            Dalam pertunjukkan puisi esai ini, Denny JA selaku penulis puisi esai tidak tampil membacakan karyanya sendiri, seperti dulu pernah dilakukan Rendra, Tardji, Darmanto Yt, Emha yang membacakan puisi karyanya sendiri. Puisi esai Denny dibacakan oleh orang lain, dan tidak tunggal melainkan ada peran lain, sehingga puisi esai dalam pertunjukkan ini seperti menjadi sebuah pertunjukkan drama. Masing-masing pembaca memerankan sesuai tokoh, sebut saja, yang ada dalam puisi esai. Atau mungkin sebagai dramatic reading.

            Dari segi intonasi suara, penghayatan terasa sekali bahwa pembaca puisi esai ini memang sudah terbiasa pentas di panggung, atau setidaknya, sebut saja orang teater, yang sudah terbiasa bergumul dengan panggung dan penjiwaan bermacam karakter dalam lakon.

            Saya kira, semua puisi esai Denny JA dibaca oleh pembaca yang sama, sehingga suaranya mudah dikenali. Mendengarkan satu puisi esai dibacakan, dan mendengrkan puisi esai yang lain, kita disuguhi cara membaca yang sama, sehingga terasa monoton. Pendengar mudah sekali mengenali suara pembacanya. Karena suara dan cara membacanya sama persis. Akan lain kalau setiap puisi esai dibacakan oleh pembaca yang berbeda-beda. Penghayatan terhadap puisi akan lain, dan lagi suara dan cara membacanya juga tidak sama, sehingga ‘kehidupan’ puisi esai akan terlihat berbeda. Tidak harus setiap satu puisi esai dibacakan oleh orang yang berbeda-beda. Bisa dilakukan dari 22 puisi esai dibacakan oleh 5 orang pembaca, sehingga kita bisa melihat dan mendengar lima warna dari orang yang berbeda-beda.

            Melalui pertunjukkan sastra, dalam konteks ini puisi esai, saya kira Denny tidak mementingkan pertunjukkannya, melainkan pesan dari puisi esai, Betapa begitu kawatirnya Denny, bahwa pendengar tidak akan menangkap pesannya, sehingga setiap alinea dalam puisi, bahkan setiap baris pada puisi perlu diberi visual animasi untuk menegaskan pesan yang akan disampaikan. Seolah, semua orang harus tahu dan mengenali isue sosial, dan jangan sampai terlewatkan, sehingga perlu digiring dalam pehaman yang dikehendaki Denny. Sikap seperti ini, terutama dalam menikmati karya seni, lebih-lebih puisi, merupakan bentuk kekearasan intelektual. Karena ‘memaksa’ orang lain untuk paham. Padahal, watak dari puisi terbuka atas penafsiran, Bahkan, penulisnya sendiri bisa berbeda tafsir dari orang lain. Kalau penyair menjelaskan makna puisi kepada orang lain, dan tidak memberi celah orang lain untuk memiliki tafsir yang berbeda terhadap puisi tersebut, artinya penyair sudah gagal dalam menulis puisi.

            Melihat pembacaan puisi dalam satu pertunjukkan sastra adalah upaya membangun imajinasi antara penyair, pembaca puisi dan publik penontonnya. Masing-masing bisa memliki imajinasi yang berbeda terhadap judul puisi yang sama, dan tidak perlu saling konfirmasi. Dalam pembacaan puisi, meskipun dalam bentuk audio-visual, pembacanya tetap dihadirkan, sehingga orang tahu bagaaimana ekspresi wajahnya, gerak tubuh, mimik muka dan seterusnya pada saat membaca puisi. Kita akan bisa mengenali, apakah puisi dari judul yang berbeda, ekspresinya sama pada saat dibacakan. Kalau hal ini terjadi, akan terlihat bagaimana pembaca puisi tersebut terlihat kedodoran.

            Susahnya, Denny JA tidak menganggap penting pembaca puisi. Karena itu, meski sudah diupload di Youtube pembaca 22 puisi esai karyanya digantikan ilustrasi animasi, dengan gerak dan ekspresi menunjukkan ‘menggiring’ pemahaman pendengarnya agar sesuai kehendaknya. Pendengar, sepertinya tidak diberi kemerdekaan untuk memahami lain dari pemahaman penulisnya.

            Misalnya, pada puisi esai berjudul ‘Burung Trilili-Bertengkar Untuk Persepsi’, ketika dibacakan di panggung Youtube, sebut saja begitu, terdengar suara pembaca puisi esai dengan intonasi suara yang mantap:

                                    “Ayo guru sirami rohani

                                    Beri kami roti untuk hati

                                    Ceritakan apa itu burung Trilili?

                                    yang mengatur nafas kami?”

 

            Visual dari suara ini disajikan dua telapak tangan yang terbuka, seolah sedang minta di ‘sirami rohani’ sekaligus untuk menerima roti, dan untuk ini ada dua potong roti di telapak tangan yang terbuka.

            Berbagai macam visual animasi terus mengalir saban kata dalam puisi esai diucapkan, pendengar seperti ‘dipaksa’ untuk melihat visual animasi ketimbang mendengar orang sedang membaca puisi.

            22 puisi esai karya Denny JA yang dibacakan, semuanya penuh visual animasi. Tak sekalipun saya bisa melihat bagaimana pembacanya memerankan diri, mengekspresikan wajahnya, gerak tubuhnya. Ketika pembaca mengucapkan kata : Siang yang gerah/massa di luar semakin gerah/jiwa mereka gelisah/menunggu guru bertitah, saya tidak bisa melihat ekspresi wajah pembacanya. Bagaimana mengekspresikan suasana gerah dan seterusnya, karena yang tampak visual animasi tiga orang anak muda: satu orang berdiri, dan dua orang duduk. Matanya terpejam seolah gelisah, dan di latar belakang ada kerumunan orang samar-samar. Dari visual itu, saya tidak bisa membayangkan suasana dari puisi esai yang dibacakan.

            Mungkin Denny JA ingin memberi inovasi pada pembacaan puisi, yang selama ini dilakukan di panggung, atau kalau sekarang bisa di ruang publik manapun. Pembacaan puisi sebagai pertunjukkan sastra, memerlukan tata panggung, artistik, kostum dan seterusnya. Oleh Denny semuanya itu dinisbikan. Dia membuat panggung digital, dan menggunakan Youtube untuk mendistribusikannya, sehingga mungkin pembacanya cukup duduk di kursi, mengenakan celana pendek dan sesekali sambil menghisap rokok, meneguk kopi, atau mungkin bir. Sebagai ganti kehadiran pembaca dengan segala ekspresinya dihadirkan visual animasi.

            Atau mungkin, sebenarnya, Denny ingin membuat film animasi dengan tema sosial, agama, diskrininasi, LGBT, dan puisi esai karyanya digunakan sebagai narasi dari film aninasi tersebut.

            Saya merasa, inovasi yang dilakukan Denny JA ‘melecehkan’ pembaca puisi, yang sebenarnya penting dihadirkan. Rupanya, Denny lebih mementingkan menyampaikan pesannya, yang dia anggap memberi ‘pembaruan’ dalam tema dunia sastra Indonesia.

            Sungguh, saya jenuh mendengarkan 22 puisi esai yang dibacakan di panggung Youtube, dan saya memilih berhenti mendengarkan, setelah 20 puisi esai yang saya pilih secara acak, saya dengarkan dan lihat visual animasinya. Padahal, puisi esai tersebut sudah terasa hidup dibacakan, dan akan lebih terasa hidup lagi jika pembacanya dihadirkan, sehingga yang melihat akan menganyam imajinasinya sendiri sambil memahami makna dari puisi esai.

            Tapi, rupanya, Denny lebih memilih ‘mendikte’ pendengarnya melalui visual animasi.

 

Tema Sosial Dalam Puisi Di Indonesia

            Pergulatan tema sosial dalam karya sastra bukan hal yang baru. Ada sejumlah karya sastra, lebih-lebih novel, yang mengangkat tema sosial, misalnya novel ‘Sri Sumarah dan Bawuk’ karya Umar Kayam, novel ‘ Senja Di Jakarta’ karya Mochtar Lubis, yang menyajikan kisah politik, percintaan dan konflik sosial masa antara 50-an sampai 60-an. Novel-novel Pramudya, saya kira sarat dengan tema sosial. “Ronggeng Dukug Paruk” karya Ahmad Tohari juga menghadirkan tema sosial.

            Perdebatan tema sosial dalam karya sastra, saya kira memuncak di tahun 1980-an oleh Arif Budiman dan Ariel Heryanto dengan dihembuskannya apa yang disebutnya sebagai sastra kontekstual. Umar Kayam perlu menanggapi isue tersebut dan menulis di ‘Horison’ dengan judul ‘Sastra Kontekstual Yang Bagaimana?”[2] Alasan Umar Kayam menanggapi, karena Arief Budiman memiliki pengikut, dan dia salah. Karena bagi Kayam, sejak dulu, karya sastra kita sudah kontekstual dengan jamannya.

            Istilah lain dari sastra kontekstual, apa yang disebutnya sebagai sastra terlibat, atau kalau Romo Mangun menyebutnya sebagai sastra kagunan. Istilah-istilah tersebut, dan istilah-istilah lain seperti sastra dang dut, siapa engkau, untuk meneguhkan bahwa tema sosial penting dimasukan dalam karya sastra, baik berupa novel, cerpen maupun puisi.

            Pada puisi, memang, tema-tema religi atau kisah-kisah transendental cukup kuat dalam tema-tema puisi kita, sehingga di tahun 1970-an melalui majalah Aktuil, Remy Sylado merasa perlu membuat puisi mbeling, dan memberi ruang untuk para penyair menulis puisi mbeling dalam rubrik di majalah Aktuil yang dia asuh. Puisi mbeling itu merupakan protes dari Remy Sylado terhadap puisi gelap yang mendominasi dan bagi Remy, puisi seperti itu hanya dipahami oleh penyairnya dan iblis.[3]

            Tapi bukan berarti, pada masa itu tidak ada puisi yang menyajikan tema sosial, termasuk isue soal agama yang ditulis dengan nuanasa puitis seperti puisi karya Subagio Sastrowardoyo, yang ditulis tahun 1975, puisi itu berjudul ‘Seperti Pisau Belati’[4]. Kita petikan penggalan dari alinea terakhir puisi saya sebut di atas:.

 

                                    “di gerbang kuil kata-kata terlalu tajam

                                    --seperti pisau belati        

                                    yang berdering jatuh di atas batu”

 

            Kata ‘kuil’ pada puisi di atas memberikan imajinasi terhadap satu sistem kepercayaan, dan kata ‘tajam’, ‘pisau belati’ dan ‘batu’ memberikan arah pemahaman pada kita akan konflik yang mengeras.

            Kita tahu, puisi-puisi karya Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko, Goenawan Muhammad adalah puisi imaji penuh permenungan, dan saya memahinya sebagai puisi lirik, lebih-lebih puisi karya Linus Suryadi. Berbeda dengan puisi Sutardji dan puisi Rendra yang bersifat Balada. Dalam nuansa puitis dari karya para penyair tersebut, menyertakan tema sosial, dan tidak disampaikan secara gegap gempita. Rendra sendiri, ketika menulis puisi protes sosial disebutnya sebagai puisi pamflet, mungkin untuk membedakan puisi yang bersifat balada dari karyanya yang ditulis sejak tahun 1950-an.

            Penyair yang lebih muda, dan dari segi usia seangkatan Denny JA, ialah Joko Pinurbo, puisi-puisinya menyajikan tema sosial yang dia racik penuh puitis, meskipun tema sosialnya tidak dominan. Penyair yang lain, Wiji Thukul, puisi-puisinya penuh tema sosial dan cenderung diungkapkan secara verbal, tapi enak untuk dibaca. Penggalan dari puisinya yang populer dikalangan aktivis mahasiswa, ialah: “Hanya ada satu kata: Lawan!”.

Satu buku antologi puisi sudah terbit tahun 2015, yang mengambil tema ‘Saksi dan Korban’, buku itu berjudul ‘Jalan Remang Kesaksian’, 40 penyair dari berbagai kota mengikuti workshop mengenai saksi dan korban yang diberikan Abdul Haris Semendawai, Ketua Perlindungan Saksi dan Korban, dan setelah itu penyair diminta menulis puisi dengan tema yang diberikan melalui workshop. Antologi puisi lain, yang menyajikan tema buruh migrant dan trafficking telah terbit dan berkolaborasi dengan seorang perupa, yang melukis tema yang sama, dan antologi puisi rupa ini diberi judul ‘Anakku Saya Ibu Pulang’ karya 9 penyair dari Yogya, Surabaya, Jakarta dan seorang penyair buruh migrant di Singapura.

            Dalam kata lain, yang ingin saya katakan, tema sosial dalam puisi Indonesia khususnya, dan karya sastra umumnya, adalah hal yang sudah dilakukan sejak lama. Hanya saja, yang khusus disebutkan seperti apa yang dikehendaki Denny JA, menyangkut persoalan agama, diskriminasi dan sejenisnya memang belum kuat.

 

Tema Sosial dalam 22 Puisi Esai Denny JA.

            22 puisi esai karya Denny JA, dalam ragam judul, semua dengan penuh sadar diisi tema sosial. Sepenuhnya dibebani persoalan sosial. Ada puisi yang menyajikan kisah seorang Gay, padahal orang tuanya seoang islam taat, lebih-lebih bapaknya seorang ustad. Ada puisi esai yang menyajikan konflik agama. Ada muatan diskriminatif. Melalui puisi esai, saya melihat Denny sedang berseru-seru kepada khalayak menyangkut persoalan sosial yang dia pahami, dan dia perlu memahamkan pada banyak orang. Yang saya kawatir, sebenarnya orang sudah paham soal yang diserukan Denny.

            Saya melihat, Denny merasa perlu memberi beban sosial peda puisi, dan seringkali mengabaikan estetika puisi. Mungkin bagi Denny, beban sosial jauh lebih penting ketimbang estetika. Padahal puisi memerlukan estetika, sehingga meskipun dimuati tema sosial, kaidah estetikanya tidak hilang dan tetap enak untk dinimkmati. Denny, seperti sedang ‘berbicara langsung’ melalui puisi, meskipun dia mencoba menghadirkan irama, namun nuansa puitisnya tidak muncul, sehingga iramanya seperti dipaksakan untuh hadir. Mari kita nikmati satu puisi Denny berjudul ‘Sidang Raya Agama’ yang menyajikan tema agama dan bandingkan dengan puisi Joko Pinurbo, yang menghadirkan tema yang sama dan diberi juul ‘Pemeluk Teguh’.

 

 

Sidang Raya Agama

                                       

Langit marah petir menggelegar

Angin kecang, hujan menyambar

Tengah malam riuh suara alam

Manusia sedang tidur dalam.

 

Namun di pojok kamar yang sepi

Ahmad terdiam duduk sendiri

Merenung hening sudah tiga hari

Menyesali apa yang terjadi

 

“Ampun, ya, Tuhan. Ampun Ilahi”

Seorang gadis dipukul hampir mati

Ani melindungi dagangannya

Ahmad bertindak atas nama agama

 

Ani tergeletak berdarah

Di antara botol minuman keras yang pecah

“Ya, Allah, bukan maksudku membunuh”

Ahmad terguncang basah berpeluh

 

Ya ya ya... Ahmad namanya

Tiga tahun menjadi polisi agama

Ini jabatan yang amanah

Diberikan oleh organisasiny

 

Dua puluh tahun ia punya usia

Dalam hidup harus punya makna

Ia ingin menyelamatkan dunia

Menegakkan perintah agama

 

Di usia yang muda belia

belum dilezatkan warna dunia

Ia memakai kaca mata kuda

Keras kaku menerapkan norma

 

“Hanya satu kata: Lawan!

Bagi pelanggar hukum Tuhan

Dengan lidah atau kekerasan

Dunia harus diselamatkan!”

 

Demikianlah Ahmad memimpin divisi

Ingin menyeragamkan penduduk negeri

Beberapa kali berurusan dengan polisi

Iman membuatnya tak takut mat

 

Puluhan kafe, belasan bar

Puluhan diskusi, belasan seminar

Sudah ia hentikan

Demi agama, atas nama Tuhan

 

Namun si Ani yang hampir mati

Mengguncangkan Ahmad punya hati

Ia seolah melihat ibunya sendiri

Ia merasa batas sudah terlampaui

 

Sudah tiga hari Ahmad menyendiri

Meminta ampunan Ilahi

“Ampun, ya Allah. Ampuuuunnnn

Berikan pencerahan sebelum pikun”

 

Sesalnya yang dalam bergema

Kamar penuh air mata

“Ampun, ya, Allah. Ampun...

Berikan pencerahan sebelum pikun”

 

Antara sadar dan mimpi

Dari botol minuman keluar asap tinggi

Ia teringat film “I dream of Jennie “

Seorang peri cantik menghampiri

 

“Ahmad, sebutkan satu saja permintaan

Apa pun, itu akan kukabulkan”

Terkaget Ahmad berdiri gemetaran

“Apakah ini sungguhan?”

 

“Hi hi hi hi... raksasa peri tertawa geli

Jika kau diam, aku segera pergi”

Jangan, jangan pergi,” ujar Ahmad lagi

“Aku sepi, butuh ditemani”

 

Setelah lama hening dan bisu

Ahmad bicara ragu

“Oke, aku minta satu saja

Berikan aku pencerahan”

 

Sang peri tertawa keras sekali. Hi hi hi hi...

“Oke, kuberi pencerahan hati”

“Abrakadabara, Abrikadabri

Kubawa kau ke alam yang gaib

Lihatlah ini tiga peristiwa ajaib.”

 

Ahmad, “Tiga peristiwa?”

Peri, “Ya, tiga peristiwa pemberi hikmah.”

 

Asap mengepul menutup mata

Waktu berputar, Ahmad mengudara

Seolah keluar dari dunia yang pekat

Masuk ke wilayah hakekat

 

Peristiwa pertama: sebuah pasar malam

Ahmad hadir di sana diam-diam

Ada banyak kios dan pajangan

Gadis cantik menjajakan dagangan

 

Yang membuat Ahmad terkejut terpana

Yang didagangkan di kios itu adalah agama

Mereka berlomba-lomba

Menonjolkan keunggulannya

 

Di satu kios, “Ayo, ibu-bapak, dijual murah

Ini agama yang paling tua

Dijamin masuk surga

Harganya hanya seribu tiga”

 

Di kios lain: “Laris manis, laris manis

Ini agama paling banyak pengikutnya

Sudah teruji dalam sejarah

Seribu dapat lima, seribu dapat lima.

 

Di kios satunya: “Ayo, antri tertib berbaris

ini agama paling baru

Dijamin tiada lebih baru lagi

Harga bisa negosiasi.”

 

Para penjual datang tawar-menawar

Agama didagangkan seperi Pizza Hut

Bersaing dengan Coca Cola

Oh, celaka

 

Di pasar malam ini

Agama merosot nilainya

Tak lagi  air pencerahan

Tapi semata barang dagangan

 

Ahmad terkejut alang kepalang

Inikah yang terjadi kini?

Sebelum kesadarannya hilang

Ia berpindah ke lain bumi

 

Peristiwa kedua: Sebuah telaga warna

Ini tempat terindah ia kunjungi

Hening dan damai sampai ke hati

Inikah surga abadi

 

Telaga air tiada bandingnya

Airnya merah, biru, dan jingga

Dilihatnya guru suci bersama sama

Mengambil air di telaga warn

 

“Adakah guru suci ini simbol para nabi?

Dari pakaian dan guci yang dibawa

Para guru suci datang dari abad berbeda

Membawa air untuk masing masing umatnya”

 

Satu guru membawa air merah

Dengan guci tembaga

Guru yang lain membawa air biru

Dengan guci tanah liat

Guru yang satu membawa air jingga

Dengan guci berlapis emas

Namun semua dari sumber yang sama

Dari mata air yang sama

Dari kedamaian yang sama

Dari kegaiban telaga warna

   

Tapi apa yang terjadi berabad kemudian?

Rakyat di bumi sana berperang

“Air yang benar berwarna  merah

Tidak! Air suci itu jingga warnanya

Bukan!  Yang suci hanya berwarna biru

 

Banyak pula berperang soal guci

“Air hidup itu dibawa guci bertanah liat.

Kalian salah! Guci pembawanya asli dari tembaga

Salah semua, yang benar gucinya berlapis emas

 

Ahmad tersentak

Mereka hanya meributkan yang tampak

Bukan yang hekeka

 

“Astaga, aku menyaksikan sendiri

Para guru suci mengambil air

Dari telaga yang sama

Telaga warna

“Oh, yang kasat mata

dengan hakekat  jauh beda!”

 

Belum selesai Ahmad terpana

Ia sudah berpindah suasana

Masuk ke peristiwa ketiga

“Wah wah wah... pesawat luar angkasa”

  

Di satu lapangan luas terbuka

Mendarat pesawat angkasa raksasa

berduyun-duyun penduduk desa

berkumpul mengitariny

 

Namun semua penduduk matanya buta

Mereka hanya bisa meraba

Sambil menerka-nerka

bentuk dan rupa pesawat angkasa

 

Polan hanya kuasa

memegang ban raksasa

“Ho ho ho ho...,” katanya pongah

“Bentuknya bulat seperti ban,

kasar, dan hitam”

 

Badu hanya mampu

menyentuh pesawat punya tubuh

“Hmm...,” katanya sok tahu dan sok tahi

“Bentuknya licin dari besi”

  

Aminah hanya bisa

Memegang layar monitornya

“Aha,” ujarnya gembira

“Bentuknya persis Tivi rumah saya

 

Ahmad menyaksikannya terpingkal tawa

“Inikah kedunguan manusia?

Yang selalu mampu melihat sebagian

Mengklaim tahu keseluruhan!”

 

Sebelum sempat terbahak tawa

“Dor dor dor...,” diketuk pintu kamarnya

Suaranya kencang sekali

“Ahmad bangun, sudah pagi.”

Ha? semua itu hanya mimpi?

 

Terdiam Ahmad duduk di tepi

“Astaga, semua hanya mimpi

Tapi bukan sembarang mimpi

Karena mampu mengubah hati.”

 

Pagi itu diniatkannya di hati

Mendatangi rumah Ani

Yang sempat dipukulnya hampir mati

Ia ingin minta maaf berkali-kali

  

Ahmad juga akan mengundurkan diri

Dari polisi agama punya divisi

Ia merasa Tuhan memberinya pencerahan

Lewat mimpi semalam

 

Tiga peristiwa yang ajaib

Membuka kalbunya dengan gaib

Tentang samudra misteri

Yang tiada bertepi

Tentang alam hakekat

yang bukan mata punya kasat

 

            Puisinya begitu panjang. Untuk menguraikan asal-usul agama dan perbedaan cara pandang, sehingga melupakan yang hakekat, dan lebih bergulat dengan bungkus. Cara melihatnyapun berbeda, bahkan seperti orang buta dan pesawat terbang. Pada kontkes ini, Denny meniru metafor orang buta dan gajah, dan setiap orang akan bercerita sesuai yang diraba untuk menjelaskan bentuk benda yang dipegangnya. Metafor dan tanda-tanda dalam menguraikan persoalan agama menggunakan tanda-tanda modernitas, bahkan kapitalistik: pizzahut, coca cola, pesawat luar angkasa. Agaknya, Denny ingin berbicara mengenai kebingungan manusia modern dalam hal memeluk agama. Bandingkan dengan puisi Joko Pinurbo berjudul ‘Pemeluk Teguh’. Puisinya pendek, penuh estetika, sederhana dan mengena bagi orang yang membacanya:

  

Pemeluk Teguh

Dalam doaku yang khusyuk, Tuhan bertanya padaku, hambanya yang serius ini
Halo, kamu seorang pemeluk agama?
Sungguh saya seorang pemeluk agama yang teguh Tuhan
Lho, Teguh si tukang bakso itu hidupnya lebih oke dari kamu, gak perlu kamu peluk-peluk
Benar kamu pemeluk agama?
Sungguh saya pemeluk agama, Tuhan
Tapi aku melihat kamu tak pernah memeluk
Kamu malah menyegel, merusak, menjual agama
Teguh si tukang bangso itu malah sudah pandai memeluk
Benar kamu seorang pemeluk?
Sungguh saya belum memeluk, Tuhan
Tuhan memelukku dan berkata:
Doamu tak akan cukup
Pergilah dan wartakanlah pelukanKu
Agama sedang kedinginan dan kesepian
Dia merindukan pelukanmu.

            Mungkin, karena puisi esai, sehingga Denny perlu membuatnya dalam bentuk yang panjang, dan tema sosial dihadirkan penuh dalam puisi esai tersebut. Dan lebih repot lagi, puisinya menjelas-njelaskan kepada orang lain atas persoalan.

 

Puisi Esai: Pilihan Bentuk Denny JA. 

            Saya tidak tahu bagaimana pergulatan Denny terhadap puisi. Tahun 1970-an, atau tahun 1980-an, saya tidak pernah mendengar nama Denny JA di area sastra dan bergumul sangat intens di sana. Pasti dia tidak secara tiba-tiba menentukan pilihan. Sebelumnya, saya kira, sudah bergumul dengan bentuk-bentuk puisi. Persis seperti perupa, sebelum menentukan pilihan abstrak, biasanya bergulat dengan gaya realis, naturalis dan seterusnya, yang akhirnya setelah sejumlah aliran digeluti, dia menemukan bentuk abstrak, dan pilihan itu yang diambil.

            Saya mendengar kegaduhan dunia sastra, ketika tiba-tiba Denny JA muncul dengan kredo puisi esai. Seperti Tarji membawa kredo puisi mantra: untuk membebaskan beban makna dari kata. Kredo puisi esai dia gulirkan, seolah sebagai suatu pilihan bentuk yang baru. Namun sesunguhnya, menurut saya, kegaduhan itu bukan diseabkan kredo yang dibawa, melainkan lebih pada buku ’33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh’ dan Denny salah satunya. Padahal, di dunia sastra selama ini, nama Denny JA tidak pernah ada. Kredo puisi esai sebenarnya bukan hal yang baru, apalgi pada tahun 1980, dan diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan tahun 1981, Linus Suryadi AG menulis puisi panjang yang dia sebut sebagai prosa lirik dan diberi judul ‘Pengakuan Pariyem’[5]

            Prosa lirik Linus Suryadi, yang oleh Umar Kayam disebut sebagai Centhini modern, saya kira oleh Linus Suryadi untuk membedakan dari novel. Karena selama ini, jenis karya prosa, yang bersifat fiksi disebut sebagai novel dan cerpen, dan puisi berbeda dengan novel. Linus menulis puisi, yang menggunakan konvensi novel, ada tokohnya, setting, latar dan sebagainya, dan untuk membedakannya dia sebut sebagai prosa lirik. Apalagi novel biasanya ditulis secara naratif.

            Denny JA, saya kira juga ingin membedakan antara puisi lirik dan esai. Karena pada esai penuh gagasan, ide dan pendapat. Sementara pada puisi, apa yang ada di dalam esai oleh penyairnya diendapkan dulu, agar sublim, untuk kemudian ditulis dalam bentuk puisi, tetapi tidak sebagai esai. Ide dan gagasannya bisa sama, tetapi ‘hasilnya’ berbeda. Pada puisi penuh metafor dan pilihan bahasanya ketat. Irama, diksi dan musik diperhitungkan pada puisi, serta tidak perlu menjelaskan, dan tidak perlu diberi catatan kaki pada puisi. Kalaupun catatan kaki disebutkan biasanya untuk menerangkan bahasa lokal yang digunakan agar orang lain yang tidak mengenal bahasa lokal bisa mengerti. Pada konteks prosa lirik Linus Suryadi, yang sarat menggunakan bahasa Jawa, ada keterangan atau penjelasannya mengenai bahasa Jawanya agar orang yang tidak mengerti bahasa Jawa bisa paham.

            Pada puisi esai Denny JA, lebih kuat pada gaya esai yang ditulis dalam bentuk puisi. Gaya esai yang saya maksud, Denny mengutarakan ide atau gagasan, tetapi tidak ditulis dalam bentuk artikel atau kolom, yang bentuknya prosa, tetapi dia mengambil bentuk puisi sebagai cara dia menyampaikan gagasannya.

            Dan gagasan itu menjadi isue ditengah masyarakat, lebih-lebih seringkali menjadi konsumsi politik, seperti soal diskriminasi, agama, LGBT, ketidakdilan, demokrasi dan seterusnya.

            Mungkin, Denny merasa tidak semua gagasan bisa dituangkan melalui tulisan dalam bentuk artikel. Dia memerlukan pola lain, dan pilihan pola itu jatuh pada puisi. Padahal, dari 22 puisi esai yang dia tulis dengan tema seperti disebut di atas, menggunakan bentuk puisi lirik, tetapi lemah pada imaji, melainkan kuat pada gagasan. Bahkan, puisinya penuh pikiran. Setiap alinea dibebani pikiran. Ini, yang saya kira oleh Denny disebut sebagai puisi esai. Padahal yang terjadi memadukan antara (kehendak) esai dengan puisi. Dua perpaduan yang tidak bisa bertemu sebenarnya, tetapi ‘dipaksakan’ untuk menyatu. Presis seperti ketoprak humor di Jakarta yang sering dipentaskan (alm) Timbul dkk, Jenis kesenian ini tidak dikenali sebagai ketoprak, dan bukan lawak. Pakem dalam ketoprak dilepaskan, dan isinya dagelan, tetapi tidak disebut sebagai lawak. Karena formulanya bimbang, maka jenis kesenian itu tidak bertahan lama.

            Pilihan formula ini penting. Karena bisa memberikan alternatif dari konvensi yang sudah baku, seolah sudah tidak ada lagi alternatif. Persis seperti formula yang dipilih Arswendo Atmowiloto dengan media cetak dalam bentuk tabloid, dan ‘Monitor’ sebagai satu-satunya bentuk tabloid, yang keluar dari mainstream media cetak 9 kolom. Padahal bahan bakunya sama, yakni informasi. Proses kerja jurnalistiknya juga tidak berbeda dengan media cetak yang menggunakan formula 9 kolom. Pilihan formula tabloid ini kemudian melahirkan tabloid-tabloid yang lain sampai sekarang.

            Formula yang lain adalah berita televisi, yang selalu menyajikan berita laiknya disajikan media cetak, hanya saja dalam berita televisi ditayangkan dalam bentuk dibacakan, dalam perkembangan berikutnya muncul formula infotaimen, yang menyajikan berita secara ‘live, dan ada sisi menghiburnya, meskipun bentuknya siaran tunda, dan jenis berita langsung lainnya, yang berbeda dari berita televisi tahun 1980-an, yang disajikan TVRI.

            Puisi esai Denny JA tidak memberikan formula segar, seperti pada formula tabloid untuk media cetak, dan infotaiment untuk berita televisi. Denny berusaha menulis puisi, yang bersifat liris dengan mencoba menjaga irama, sehingga bunyi kalimat diakhir akan selalu sama, misalnya kalimat terakhir ada huruf ‘a’, pada kalimat berikutnya akan diakhiri ‘a’ atau bisa selang seling antara ‘a’ dan ‘i’ atau ‘ah’ dan seterusnya. Coba kita lihat penggalan puisi Denny JA, yang telah saya kutipkan di atas dalam upaya menjaga irama:

“Pagi itu diniatkannya di hati

Mendatangi rumah Ani

Yang sempat dipukulnya hampir mati

Ia ingin minta maaf berkali-kali”

 

Atau penggalan dari alinea yang lain, dan dari judul puisi yang sama, yang telah saya kutip di atas.

 

“Tiga peristiwa yang ajaib

Membuka kalbunya dengan gaib

Tentang samudra misteri

Yang tiada bertepi

Tentang alam hakekat

yang bukan mata punya kasat”          

 

            Pola puisi seperti itu sudah lama dikenal, dan sampai sekarang masih bisa ditemukan pada puisi karya penyair yang lebih muda. Era Amir Hamzah dan sesudahnya, termasuk Chairil Anwar yang membawa ‘pembaharuan’ puisi Indonesia, masih bisa ditemukan bentuk puisinya seperti itu, dan penyair generasi Emha Ainun Najib di tahun 1970-an masih ditenukan pola puisi sejenis itu. Saya cuplikan penggalan puisi karya Amir Hamzah, judulnya ‘Buah Rindu III’[6]

 

                                    “Hatiku Rindu bukan kepalang

                                    Dendam beralik berulang-ulang

                                    Air mata bertjutjur selang-menjelang

                                    Mengenangkan adik kekasih abang”

 

            Atau puisi Charil Anwar, yang juga menggunakan pola yang sama, meskipun huruf terakhirnya berbeda pada baris pertama dan kedua, tetapi sama pada baris pertama dan terakhir. Mari kita lihat penggalan puisi Chairil Anwar yang ditulis Februari 1943 berjudul ‘Sendiri’[7]

                                    “Hidupnya tambah sepi, tambah hampa

                                       Malam apalagi

                                       Ia memekik sendiri

                                       Dicekik kesunyian kamarnya”

 

            Puisi yang lain, dari generasi yang jauh lebih muda dari kedua penyair disebutkan di atas, ialah Emha Ainun Najib, puisinya berjudul: “Tuhan, Inilah Puisi-Puisiku Untukmu”[8] ditulis tahun 1977. Mari kita nikmati penggalan puisi tersebut dalam dua alinea kedua dan terakhir. Puisi ini terdiri dari tiga alinea.

                                       “Puisi-puisi lahir begitu saja

                                         Dari langit hujan pun turun begitu saja

                                         Di luar perhitungan kita

 

                                         Turun di halaman rumahku

                                         Sehingga berkuranglah debu

                                         Yang mengotori pernapasanku”

                        

            Saya kira, puisi esai tidak perlu mengmbil pola liris, tetapi melakukan eksplorasi bentuk puisi yang lain, dan memberikan formula berbeda, meskipun mungkin tidak berkembang, atau tidak diikuti oleh generasi berikutnya. Puisi Afrisal Malna, saya kira mencoba mencari formula lain, dan sampai sekarang masih terus dilakukan, meskipun tidak banyak penyair yang tumbuh menggunakan formula yang dipakai Afrisal Malna.

            Pada puisi esai, Denny masih terjebak pada gagasan yang disampaikan, dan sepertinya gagasan itu yang lebih utama disampaikan. Bentuk puisinya menggunakan formula yang sudah ada, tetapi nuansa puitiknya tidak muncul secara kuat, sehingga puisi esai Denny JA, setidaknya 22 puisi esai yang dipenuhi visual animasi. Antara puisi dan animasi, lebih dominan visual animasinya.

            22 puisi esai tersebut kemudian dipindahkan ke digital dan dipublikasikan di Youtube, hanya bedanya ada suaranya, dan yang satu dalam bentuk teks. Keduanya dipenuhi visual animasi.

            Jadi, puisi esai Denny JA hanya untuk menandai karya sastranya, dalam hal ini puisi, berbeda dengan puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair lainnya. Puisi esai adalah puisi Denny, yang bukan penyair melainkan aktivis. Sementara puisi yang selama ini dikenal adalah puisi karya para penyair: Yang bukan penyair boleh ambil bagian, dan Denny telah ikut ambil bagian dengan formula dia sendiri. Selain itu, saya melihat, melalui puisi esai, Denny JA seperti hendak membuat peta sastra Indonesia, yang selama ini tidak mencatumkan namanya. Dan melalui peta sastra Indonesia versi Denny JA area puisi esai akan dimasukkan dengan tokohnya Denny JA. Bagi saya, ini satu kerja yang irasional, tetapi dirasionalisir dengan kekuatan uang, sehingga seolah-olah masuk akal. Dalam kerja ‘kerasnya’ ini, mungkin secara finansial Denny tidak mendapat keuntungan, tetapi dia akan mendapat keuntungan dari segi yang lain, misalnya pengakuan sebagai seorang sastrawan atau tokoh puisi esai, atau perintis puisi esai atau maecenas sastra Indonesia.

 

Catatan Penutup: Upaya Menumbuhkan Puisi 

            Puisi, dalam peta kebudayaan di Indonesia memang letaknya dipinggiran, meskipun sastra seringkali dimengerti sebagai ‘rumah kebudayaan’, tetapi puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra, tidak mendapatkan tempat ‘semestinya’ di rumahnya. Tapi bukan berarti puisi berhenti ditulis. Malah yang terjadi sebaliknya, puisi masih terus ditulis dan dibacakan, bahkan oleh bukan penyair. Misalnya, suatu kali kita mendengar, pejabat membaca puisi, politisi membaca puisi, selebriti membaca puisi dan seterusnya.

            Selalu saja, ada orang yang tak henti menggeleuti puisi, dan berupaya menumbuhkan puisi pada pribadi-pribadi, meskipun tidak harus menjadi penyair, tetapi memiliki cinta terhadap puisi. Pada akhir tahun 1960-an sampai awal tahun 1970-an, di Yogya ada komunitas sastra, dan di sana diupayakan untuk menumbuhkan puisi. Seorang penyair, yang tidak mau dikenal, tetapi justru malah dikenal, Umbu Landu Paranggi namanya, yang terus berupaya menumbuhkan puisi melalui media yang bernama Pelopor Yogya dan dari lembaran sastra, anak-anak muda ditumbuhkan cintanya pada puisi. Komunitas itu dikenal dengan nama Persada Studi Klub, dan dari komunitas ini, dikemudian hari lahir penyair-penyair atau sastrawan yang dikenal secara luas, diantaranya Emha Ainun Najib, (alm) Linus Suryadi AG, (alm) Korie Layun Rampan dan sejumlah penyair lainnya yang sampai sekarang masih terus aktif menulis puisi seperti Iman Budhi Santosa, Gunoto Saparie dan lainnya.

            Selepas dari Yogya, Umbu Landu Paranggi menumbuhkan puisi di Bali sampai sekarang, dan ada nama-nama penyair mulai dikenal dari Bali. Ketekunan Umbu dalam menumbuhkan puisi dan membina penyair untuk tekun menulis puisi, saya kira bukan kerja yang mudah dan membutuhkan kerelaan serta ketulusan, serta tidak memerlukan untuk dikenal secara luas, lebih-lebih menjadi hero. Yang lebih menarik, Umbu Landu Paranggi tidak membatasi genre puisi, atau menyebut puisinya dalam satu formula tertentu. Umbu membiarkan semua bunga puisi berkembang di taman sastra, dan penyair sendiri yang akan menumbuhkan salah satu bunga, yang mungkin cocok bagi pola pengucapan penyairnya.

            Saya kira, Denny JA juga ingin menumbuhkan bunga puisi di taman sastra. Hanya saja, Denny memilih satu jenis bunga, yakni bunga puisi esai, yang sebenarnya jenis bunga itu belum kuat tumbuh di taman sastra, lebih celaka lagi akarnya tidak menjalar, namun dengan berbagai macam cara, di antaranya dengan ‘pupuk lomba puisi esai’ mencoba menjalarkan akar yang sebenarnya masih tunas, dan belum mengerti apakah kelak akan tumbuh. Lebih celaka lagi belum dikenali, apakah betul yang dikembangkan itu akar dari bunga puisi esai.

            Upaya menumbuhkan puisi di Indonesia, saya kira merupakan kerja yang baik dan menyenangkan, meski secara ekonomis tidak menguntungkan. Pemerintah sendiri melalui Dirjen Kebudayaan tidak peduli terhadap puisi, dan sedikit memperhatikan sastra. Meskipun ada Taman Budaya dibentuk disejumlah Propinsi di Indonesia, tetapi puisi tidak mendapat ruang di sana, Justru puisi tumbuh dan berkembang di komunitas-komunitas dan taman sastra tumbuh dilingkungan yang lebih terbuka, akrab dan cinta terhadap kemanusiaan. Kepedulian Denny JA terhadap puisi, dan upaya dia agar puisi tumbuh di Indonesia, saya kira perlu kita apresiasi. Hanya saja, tidak perlu membatasi pada satu genre puisi, dalam hal ini puisi esai, sehingga puisi yang lain seolah tidak boleh tumbuh.

            Akan leih baik kalau Denny membuka taman sastra dan menubuhkan bunga puisi, yang salah satunya ada puisi esai di sana. Dalam upaya menumbuhkan tidak perlu ‘menonjolkan’ diri akan dikenal secara luas sebagai orang yang peduli pada sastra, tetapi dengan kerelaan dan kesungguhan, taman sastra dikembangkan secara luas dan bunga puisi ditumbuhkan, dan ketika orang menemukan ada bunga puisi yang spesial, misalnya bunga puisi esai, karena memang bunga puisi tersebut berbeda dari bunga puisi yang lain dan memeberikan ‘wangi baru’ dari wangi bunga yang selama ini dikenal.

            Jadi, kerja menumbuhkan bunga puisi adalah kerja yang sunyi dan merugi. Maka, banyak orang –lebih-lebih orang yang kekayaanya melimpah- menghindari. Kalau Denny sungguh-sungguh mendekati, dan bukan untuk performance pribadi, orang akan penuh simpati, dan kelak dikemudian hari, orang akan menandai siapa menumbuhkan bunga puisi.

            Siapa tahu, satu dari bunga puisi itu adalah puisi esai.

 

Ons Untoro, Pegiat Sastra dan penyair, pernah belajar di Program Studi Ilmu Religi dan Budaya, Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

 

[1] Katalog pembacaan puisi Sutardji Calsoum Bachri di Yogya, diterbitkan Masyarakat Poetika Indonesia IKIP Muhammadiyah Yogyakarya (sekarang Universitas Ahmad Dahlan), tanpa tahun.

[2] Maaf saya tidak ingat nomor dan tahun dari majalah Horison, tapi saya masih ingat akan tulisan Umar Kayam tersebut, karena pada waktu itu saya membacanya.

[3] Lihat buku ‘Berguru Pada Empu Kata-Kata’ karya Naning Pranoto, diterbitkan Kosa Kata Kita, Jakarta (2015).

[4] Lihat bab Keroncong Motinggo pada kumpulan puisi ‘Dan Kematian Makin Akrab’ karya Subagio Sastrowardoyo, (Grasindo, 1995)

[5] Lihat ‘Pengakuan Pariyem’ karya Linus Suryadi AG, Penerbit Sinar Harapan. Cet. 1 th 1981, cet, 1984, cet. 3 1988. Setelah itu prosa litik itu diterbitkan Pustaka Pelajar Yogya, dan yang terbaru diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

[6] Kumpulan Puisi ‘Buah Rindu’ karya Amir Hamsah, Penerbit Pustaka Rakyat, cet ke 3 1959

[7] Kumpulan Puisi ‘Kerikikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus’, karya Chairil Anwar, Dian Rakyat, jakarta, cetakan ke 13, th. 1995

[8] Kumpulan Puisi ‘Sajak-Sajak Sepanjang Jalan’ karya Emha Ainun Najib, diterbitkan Majalah Kebudayaan Umum ‘Tifa Sastra’, Jakarta, tahun 1978.

  • view 568