Puisi Denny JA yang Berfalsafah dan Mempunyai Fungsi Sosial

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2016
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

17.4 K Hak Cipta Terlindungi
Puisi Denny JA yang Berfalsafah dan Mempunyai  Fungsi Sosial

 Review 22 Buku karya Denny JA

Puisi Denny JA yang Berfalsafah, Berunsur Keagamaan, dan Mempunyai Fungsi Sosial

 

Oleh

JASNI MATLANI

Penerima SEA Write Award (Malaysia) 2015

 

 

 

PENDAHULUAN 

Karya yang berfalsafah, berunsur keagamaan, dan mempunyai fungsi sosial senantiasa dirayakan merentas zaman di belahan dunia mana saja. Di Indonesia karya sastra seperti ini sudah berkembang sejak awal Abad ke-16, ketika Hamzah Fansuri menjadi buah bibir di kalangan sarjana Nusantara. Mereka memberi label tokoh intelektual dan ahli sufi yang terkemuka kepada Hamzah. Penyair ini juga dianggap perintis tradisi baru dalam dalam penulisan sastra Melayu-Indonesia, khususnya dalam bidang penulisan sastra yang berfalsafah, mempunyai fungsi sosial, dan bercorak Islam Abad ke-16 dan ke-17. 

Syeikh Hamzah Al-Fansuri berjasa memperkenalkan syair ke dunia Melayu, dan menjadikan syair sebagai bentuk pengucapan baru yang turut memperkaya perbendaharaan kata bahasa Melayu. Hamzah juga dikenal berjasa mengintegrasikan konsep Islam dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk melalui seni.

Karyanya terus hidup merentas zaman dan wilayah. Malah, menjadi bunga rampai sastra Melayu warisan Islam yang sangat penting. Seterusnya, karyanya menjadi penanda penting kepada transisi sastra Melayu yang dipengaruhi Hindu-Buddha sebelumnya. Karya sastra sedemikian terus memberi corak hidup masyarakat Nusantara. Pada akhirnya, karya itu mengalami transisi perubahan, seiring perkembangan dakwah Islamiah, melalui penyebaran ilmu dan kesusastraan Islam yang muncul di permukaan ketika itu.

Syeikh Hamzah Al-Fansuri telah menghasilkan beberapa karya syair yang penting. Beberapa di antaranya adalah Syair Burung Pingai, Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Burung Pungguk, Syair Sidang Faqir, Syair Ikan Tongkol, Syair Burung Pipit, dan Syair Perahu. Semua karya itu menjadi titik tolak perkembangan sastra, khususnya genre puisi yang mengangkat falsafah dan keagamaan. Hamzah menyorot fungsi sosial yang dominan kepada masyarakat Nusantara ketika itu melalui karyanya.

Puisi yang mengemban misi seperti itu tidak pernah putus, dan terus berkembang. Penyair selanjutnya yang mengemban misi ini di antaranya Abdul Hadi WM, WS Renda, dan banyak lainnya. Sehingga pada saat ini, bentuk puisi menjadi lebih beragam.

Di tangan Denny JA, penyair yang dikatakan menjadi penggagas gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi ini, puisi menjadi semacam satu bentuk pengucapan yang dibumbui sinisme, sindiran, dan provokasi berkait agama dan sosial. Denny JA menghasilkan 22 buku puisi esai, yaitu Burung Trilili - Bertengkar Untuk Persepsi; Naga Seribu Wajah - Khayalan Menjadi Kebenaran; Karena Kucing Anggora - Hal Sepele menjadi Pokok; Kisah Kitab Petunjuk - Yang Tercetak Kalahkan Yang Hidup; Mencari Raja di Raja - Yang Ada dan Yang Ilusi; Sidang Raya Agama - Yang Tampak dan Yang Hakekat; Balada Wahab & Wahid - Islam vs Islam; Menyelam Ke Langit; Terkejut Oleh Riset - Bahagia dan Agama; Dua Wajah Ahli Agama; Hikmah Singapura - Agama di Sekolah; Lotre Kehidupan - Mujur dan Malang; Mimpi Sepeda Ontel - Berani Beda; Pengurusan Bahagia - Api dan Abunya; Balada Aneta - Kesadaran dari kesalahan; Robohnya Menara Kami - Pemurnian Agama atau Sinerji; Ambruknya Sang Raksasa - Gagasan vs Rupiah; Barat Lebih Islami - Substansi atau Label; Berburu Bahagia - Kisah Timun, Telur dan Rempah; Mawar Yang Berdarah - Persepsi vs Realita; Ustaz Yang Gay - Nurture vs Nurture; dan Berburu Tuhan - Petuah Tiga Guru, yang kesemuanya mencerminkan keintelektualan penyair, mengungkapkan falsafah dan keagamaan, seterusnya mengedepankan fungsi sosial yang menuntut tafsiran mendalam dan sangat luar biasa.

Bentuk penyampaiannya, walaupun mudah dan komunikatif, tetapi sudah jauh berubah dibandingkan bentuk syair Syeikh Hamzah Al-Fansuri. Syair Hamzah lebih dekat kepada bentuk puisi tradisi yang terikat kepada rentak, musik, skema, rima, dan aturan suku kata. Di tangan Denny JA puisi mengalir bebas seadanya, dengan bahasa yang lumrah, digunakan sehari-hari dan sampai pada khalayak pada waktu yang cepat, malah tidak menjadikan kesusastraan sebagai dunia eksklusif bagi pengarang saja dan menggunakan bahasa yang sukar difahami. Sebaliknya, puisi yang dihasilkan Denny JA, jelas maknanya, menumbuhkan kesadaran sosial, mempunyai visi, falsafah, keunggulan, hasanah, dan sesuai dengan tuntutan zamannya.

Denny JA mencoba mencerna keunggulan sastra bangsa Indonesia, dengan pesan dan sindiran atau sinisme sosial yang tajam. Selain itu, puisi Denny JA menuntut renungan yang dalam terhadap agama. Renungan itu intinya, agama semestinya berfungsi menyatukan umat, mengikat tali ukhuwah, dan bukan memecah-belahkan, atau melebarkan ruang diskriminasi, tetapi membangun secara bersama, saksama, dan bertoleransi.

Apabila sastra memiliki keunggulan dan kekuatan sendiri dalam menyatakan hal demikian, maka dunia pasti mencari dan melihat sastra bangsa Nusantara yang seperti itu. Sama seperti Barat yang akur dan merendahkan dirinya menelaah realisme magis di Amerika Latin. Begitu juga dunia yang suatu ketika dahulu menggilai pascakolonialisme, akhirnya terpaksa belajar dan memahami pemikiran besar orang yang berasal bukan dari belahan Barat seperti Edward Said. Justru, Denny JA dalam 22 bukunya ini seperti memberikan isyarat, pesan yang berguna untuk menjadikan kita lebih mempertimbangkan, bijaksana, untuk menjadikan agama sebagai elemen menyatukan, bertoleransi, dan bukan memecah-belahkan.

Hal ini dilihat Denny JA sebagai sesuatu yang positif sisi kemanusiaannya, dan perlu dijaga sebaik mungkin. Denny JA tidak mengangkat perkara yang remeh temeh di sekeliling kita, yang terjadi sehari-hari.

Memang hakikat realitinya, siapa saja boleh memilih menjadi apa saja di dunia ini menurut pemikirannya. Namun, tetap terbuka ruang bagi kita memperkuatkan diri, berpegang kepada falsafah dan faham yang membudaya dan menjadikan kita lebih humanis, toleran, dan tidak berbunuhan antara satu sama lain. Agama Islam dan agama lain juga sebenarnya tidak mengajarkan begitu dan menolak semua bentuk kebencian agama.

Bahkan, di dalam sistem politik Islam, setiap manusia itu, dia beragama Islam atau tidak, tetap mempunyai hak tersendiri dan hak itu mesti dilindungi. Begitu juga, dalam pembentukan sebuah negara Islam, (1993) yang dirintis buat pertama kalinya melalui “Piagam Madinah”, hak istimewa orang Islam dan mereka yang bukan Islam senantiasa terjaga, selagi mereka patuh kepada sunnah dan wahyu Allah. Sehingga banyak peristiwa di mana Rasulullah SAW sendiri berpesan dan menunjukkan contoh berlaku yang baik, tentang bagaimana seharusnya berhubungan antara sesama insan, atau berhubungan dengan Khalik. Justru itu, puisi esai karya Denny JA ini walaupun mudah dan komunikatif sifatnya, tetapi berhasil memperdalam renungan, seterusnya mengekalkan keamanan, keharmonian bersama, menghapuskan kekerasan, ketidakadilan, serta turut mempertahankan hak golongan yang lemah dan miskin.

Sebagian besar, karya puisi esai Denny JA --yang termuat dalam 22 buku yang berwarna warni berserta lukisan terbitan Inspirasi.co (PT Cerah Budaya Indoneesia), yang dipublikasi antara tahun 2015-2016 itu-- sesungguhnya menuntut renungan tentang keberadaan kita sebagai manusia di dunia fana ini.

Malahan, ajaran agama apa pun yang mendasari kehidupan --yang sepatutnya menyatukan kita tanpa melihat warna kulit, bangsa, dan agama ini-- harus dilihat dengan kaca mata jernih. Juga tanpa praduga, dengan idealisme membangun, sesuai dengan momentum kebersamaan sejagat, fisikal, dan rohani.

Masyarakat Indonesia harus melihat dunia dengan cermin yang lebih adil, seimbang, dan membangun secara luar biasa. Mereka harus bangkit dari segala kobobrokan sosial, yang sebenarnya bukan bersumber dari agama. Kebobrokan itu terjadi karena sikap, persepsi, dan perwatakan manusia itu sendiri, yang selalu lari dan menghindar dari kebaikan dan kebenaran yang ditegakkan agama. Apa lagi keboborokan sosial, bahana politik yang menghukum, adalah karena ulah dan tingkah manusia yang senantiasa bersekongkol dengan sisi gelap hidup dan dunia pribadinya.

Bagi Denny JA, sebagai penyair, beliau melihat semua itu dengan agenda besar serta komitmen kepenulisannya. Kemudian beliau melihat skenario itu menjadi pertanda penting sastra bangsanya, dengan tidak mengintertekstual atau memparodi sastra lainnya di belahan dunia ini secara sembrono. Sebaliknya kita harus membina jati diri dan produksi sendiri dan membiarkan dunia menjadi konsumer terhadap teks yang dikerjakannya itu.

 

  1. Burung Trilili Bertengkar Untuk Prsepsi

Dalam puisi esai Burung Trilili-Bertengkar Untuk Persepsi, yang dipersoalkan Denny JA sebenarnya lebih besar dari sekedar Burung Trilili itu sendiri. Burung Trilili boleh menjadi imej atau metafora yang mengundang pelbagai persepsi. Apakah burung Trilili merupakan faham atau ideologi, atau agama atau sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan? Tetapi yang nyata, di sinilah segala-galanya bermula. Kegairahan manusia untuk mendengar cerita tentang burung Trilili dari seorang tuan guru. Namun, justru yang muncul di permukaan adalah kejutan dan misteri tentang Burung Trilili itu sendiri, yang dikatakan penyair sebagai “Mengatur Nafas Kami”, mengatur kehidupan dan nyawa manusia.

Jika dikaitkan dengan agama, penyair juga menyentuh hubungannya dengan perang agama yang berlaku sekurang-kurangnya 123 kali dalam sejarah manusia. Malah sentimen antara agama terus berlangsung merentas zaman. Sehingga kita tidak merasa selamat berada di mana-mana karena tindakan segelintir individu yang meledakkan diri dan melakukan pengeboman, sehingga mengorbankan sejumlah nyawa yang tidak bersalah, konon atas kepentingan agama. Walaupun agama sebenarnya tidak menghendaki seorang pun melakukan hal seperti itu.

Tidak satu orang pun berhak menjentik tubuh orang lain yang tidak bersalah dengan alasaan apa pun. Apa lagi menumpahkan darah orang lain. Bukankah kita berasal dari keturunan yang satu “Adam dan Hawa”. Walaupun berjuta-juta tahun kemudian kita menjadi manusia yang berbangsa-bangsa dan berbeda warna kulit dan bahasa, tetapi Tuhan memberitahu kita, bahwa Dia menjadikan kita sedemikian rupa supaya kita saling kenal-mengenali dan berkasih sayang di antara satu sama lain. Seruan itu sepatutnya difahami lebih daripada kegairahan kita untuk terpecah-belah dan saling berbunuhan di antara satu sama lain.

Sebab itu dalam kehidupan ini kita memerlukan roti untuk hidup. Roti bukan saja untuk kehidupan, secara fisik, tetapi lebih jauh daripada itu. Roti diperlukan untuk santapan rohani. Roti untuk hati dan untuk jiwa. Jiwa yang tidak membinasakan satu sama lain. Jiwa yang tidak terbelah, yang menumbuhkan garisan untuk saling bermusuhan, sehingga hidup itu akhirnya dipenuhi derita. Menurut Denny JA, semua yang dinyatakan itu bukan mimpi, dan bukan juga ilusi. Justeru, apa yang perlu dilakukan ialah memahami kata-kata sinisme penyair ini, “Hiduplah karena Trilili dan Matilah karena Trilili” sehingga diriwayatkan berabad-abad lamanya, manusia terus berbelah karena Trilili, dan masing-masing melahirkan persepsi seperti kata penyair:

 

                        ….mereka berbeda persepsi

                        Soal wajah burung Trilili

                        Soal sayap burung Trilili

                        Soal kaki burung Trilili

                        Soal telur dan tahi Trilili.

 

Perbedaan persepsi itu akhirnya memunculkan penyimpangan, permusuhan, dan kontradiksi yang tidak ada ujungnya. Satu pihak meneriakkan “Murtad!” dan satu pihak menyeru “Jihad!”. Satu pihak meneriakkan kebenaran dan satu pihak lagi menghalalkan darah korban. Tetapi konklusi daripada semua itu, sekali lagi, seperti kata sinis penyair, burung Trilili sudah menyatu dalam darah manusia atau menjadi mentera yang dihafal di luar kepala manusia. “Hidup untuk burung Trilili. Mati untuk burung Trilili”. Apakah itu merupakan faham atau ideologi, atau agama, atau sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan. Perlu diingat, di sepanjang zaman, akan terus terjadi pertikaian, permusuhan, dan peperangan yang akan mengorbankan berjuta-juta jiwa dan nyawa yang tidak berdosa, sehingga bumi ini pun seperti terbakar hangus karenanya.

 

  1. Naga Seribu Wajah-Khayalan Menjadi Kebenaran

Denny JA memang sangat luar biasa ketika menulis puisi tentang naga, lewat puisi esai Naga Seribu Wajah-Khayalan Menjadi Kebenaran ini. Jangkuan imajinasinya sangat jauh. Apakah penyair menemui kebenaran atau tidak, itu adalah persoalan lain. Tetapi jika dihubungkan dengan falsafah, benarlah seperti kata Immanuel Kant, yang kita tidak pernah tahu itu hanyalah hakikat, dan hakikat itu hanyalah fenomena, yang ketika masuk ke dalam indera dan pemikiran manusia, ia akan menjadi bias dan beragam? 

Filsafat Kant menegaskan apa yang disebut filsafat transendental itu adalah filsafat yang memusatkan segala urusannya untuk mengetahui realitas berdasarkan akal budi dan bukan indrawi. Justeru itu yang hendak disampaikan penyair bukan dongeng naga pada makna pertama yang bersifat luaran semata, melainkan satu tanggapan tentang bagaimana seorang guru mengarang suatu cerita tentang naga, tetapi lama kelamaan cerita itu diyakini sebagai sesuatu yang nyata.

Hal ini mungkin remeh dan mendasar dalam piskologi manusia. Tetapi, membawa kita pergi lebih jauh lagi. Misalnya, kita berkhayal tentang Tuhan yang tidak pernah kita lihat. Tetapi, kita memberitahu manusia, Tuhan ada di sana, di dunia yang ghaib. Dia sedang memerhatikan kita, bertitah tentang kebenaran, hakikat, keesaan, dan manusia akhirnya meyakini dan memperhambakan diri kepada-Nya berdasarkan akal budi manusia. Dan, kemudian mendiskusikan: apakah bentuknya seperti analogi si Polan yang mempersoalkan tentang warna mata naga, apakah merah, hijau atau warna kuning.

Begitu juga tentang manusia yang mempersoalkan Tuhan itu begini atau begitu atau harus di sembah cara ini atau cara itu, masing-masing berbeda pendapat dan diskusi yang berlanjutan itu akhirnya seperti kata Denny JA, ternyata melahirkan pelbagai versi dan pendapat yang berbeda.

 

                        Riuh rendah negeri berdiskusi

                        Sang NAGA isu mendominasi

                        Semua berbeda versi

                        Namun semua meyakini di hati

 

Justru, perbedaan versi mesti diurus dengan baik. Jika tidak diurus dengan baik, maka biasanya ia akan melahirkan perpecahan dan pertikaian yang tidak diperlukan, dan hal lain yang mengganggu kita di masa depan. Jika itu terjadi, maka sudah pasti ia akan mempengaruhi manusia dan kehidupan.

 

3. Karena Kucing Anggora-Hal Sepele Menjadi Pokok 

Sama seperti naga dalam puisi esai Naga Seribu Wajah-Khayalan Menjadi Kebenaran, dalam puisi esai Karena Kucing Anggora-Hal Sepele menjadi Pokok, semua bermula dari suatu perkara yang sepele dan esensial sifatnya. Dalam cerita Kucing Anggora, setiap kali seorang guru berdoa, dia mengurung seekor kucing anggora di sebuah kamar supaya dia bisa berdoa dengan khusuk dan hening. Perlakuan itu dilanjutkan anak muridnya. Tetapi ketika guru dan kucing itu mati sesudahnya, maka terjadi kekeliruan pada para pengikutnya.

Kerkeliruan itu adalah manusia menganggap harus ada kucing anggora ketika berdoa. Menurut mereka itu merupakan suatu kewajiban. Lalu mereka berburu kucing anggora di mana-mana hanya semata-mata untuk berdoa.

Kemudian muncul manusia lain yang membawa faham berbeda. Dia mengatakan bahwa tidak semestinya mereka berdoa dengan kucing anggora. Atau kucing apa saja, apa pun jenisnya. Orang lain juga berkata, dalam berdoa yang penting hanya ritual berdoa saja. Tidak perlu seekor kucing apa pun jika hendak berdoa. Hal ini disebutkan oleh Denny JA seperti berikut:

 

                        Polan punya paham yang beda

                        Guru memang kiblat kita

                        Batin yang utama tujuan berdoa

                        Kita tak perlu kucing anggora

 

Hal yang pada mulanya sepele, sekarang menjadi keyakinan. Ironinya menjadi penyebab perpecahan atau perbelahan. Perbelahan yang tidak ada ujungnya. 

Kucing anggora dalam puisi esai ini hanya imej dan metafora yang dipilih penyair, untuk menunjukkan hal yang terjadi dalam kehidupan beragama. Manusia memilih untuk mempersoalkan perkara yang remeh-temeh sehingga mendorong mereka melahirkan persepsi berbeda. Dan karena hal seperti ini muncullah pelbagai kelompok, faham, dan aliran.

Hal ini tidak berhenti di situ saja. Sebaliknya, perbedaan persepsi ini terus berkembang menjadi perbelahan yang seru, melahirkan porak-poranda, bahkan peperangan dan pertumpahan darah. Manusia menjadi gaduh dan saling membunuh. Akibat lebih jauh, negara binasa dan korban semakin banyak.

Meskipun ada manusia yang insaf, mengimpikan perdamaian, tetapi tetap lahir manusia lain yang lebih ekstrim. Di dalam kelompok ekstrim ini termasuk mereka yang menjadi korban sebelumnya. Mereka meneruskan tradisi berbeda pendapat. Akhirnya, lebih tragis lagi, mereka sanggup melakukan apa saja tanpa toleran. Mereka melakukan semua itu, konon, atas nama jihad dan iman yang mendalam. 

Walau bagaimana pun, pada kenyataannya, mereka sedang membangun jurang kehidupan yang dalam. Mereka menghalalkan darah saudaranya hanya semata-mata karena perkara yang sepele. Pada akhirnya mereka memusnahkan dan meruntuhkan peradaban manusia.

Puisi esai ini mudah difahami tetapi tetap meninggalkan pesan yang mendalam untuk direnungkan oleh manusia sejagat.

 

  1. Kisah Kitab Petunjuk - Yang tercetak kalahkan yang hidup.

Puisi esai selanjutnya ialah puisi esai berjudul Kisah Kitab Petunjuk - Yang tercetak kalahkan yang hidup. Puisi esai ini menceritakan kisah kitab petunjuk yang ditulis zaman dahulu kala (baheula). Kitab itu memuat segala perkara tentang kehidupan sebagai panduan hidup manusia. Kitab ini dibaca dan dihayati merentas zaman, sehingga kitab itu jatuh ke tangan seorang ayah yang menghafalnya di luar kepala.

Ketika anak perempuan ayah itu, bernama Lina, berbeda pendapat dengan ayah soal memilih pasangan hidup, sang ayah memaksa anak perempuannya itu patuh kepada ajaran kitab petunjuk. Sebaliknya, sang anak tetap memilih untuk menafikan kemahuan ayahnya. Lalu Sang ayah mengusir anak perempuannya dari rumah.

Kesimpulan dan pesan penyair ini adalah ikatan keluarga bisa putus karena kitab petunjuk dan agama. Inti cerita ini memberi pesan: ternyata sebuah tragedi bisa terjadi dari hal yang sangat remeh, yaitu sang ayah lebih menyintai kitab lama, daripada putrinya yang lara.

 

  1. Mencari Raja di Raja-Yang Ada dan Yang Ilusi

Puisi esai ini bermula dengan latar sebuah tragedi. Senja luka dan menangis. Gambaran kata dan ungkapan bahasa yang sangat menyayat dalam keindahan. Pada puisi ini yang hendak digambarkan Denny JA adalah tragedi pembunuhan kejam terhadap anak kecil, di bawah usia sepuluh tahun. Juga kisah para ibu menangis dengan histeris. Gema tangisan itu digambarkan penyair sehingga menembus langit yang berlapis-lapis. Dan pada akhirnya kisah mencari Burung Trilili yang tega membenarkan segala tragedi itu terjadi.

Manusia mempersoalkan mengapa sang Maha Pelindung, tidak melindungi manusia agar tragedi itu terhindar dan batal terjadi. Atau dalam kata lain, Tuhan tidak campur tangan dalam menangani tragedi yang sepatutnya tidak terjadi.

Di mana Tuhan berada ketika Dia sangat diperlukan? Apakah kegairahan manusia untuk berbunuhan dan berperang itu adalah urusan Tuhan? Justru, manusia menafikan Tuhan untuk berkuasa. Manusia membunuh yang lainnya untuk menjadi Raja yang lebih besar. Manusia menggunakan agama untuk alasan pembantaian yang kerjam dalam sejarah. Ajaran burung Trilili takluk kepada kuasa, apakah seperti politik menguasai agama dan bukan agama yang menguasai politik. 

Akhirnya sepanjang zaman pembunuhan terus terjadi, di saat semakin banyak jumlah masjid, gereja, dan vihara terus bertambah. Mereka semua memiliki ritual yang berbeda dan sebutan Tuhan dan nabi yang berbeda pula, yang pada giliriannya akan terus menumbuhkan perbedaan manusia. Tapi ironinya, manusia yang ditimpa bencana dan musibah itu akan tetap akhirnya kembali memperhambakan dan mengabdikan diri kepada Tuhan, seperti ibu yang kematian anak itu, yang akhirnya seperti kata penyair:

 

                        Umi pergi berkelana, menjadi sufi

                        Percaya pada yang abadi

                        Percaya getaran hati

                        Percaya gaib yang misteri

                        Dan itu bukan burung Trilili

                        Ya, itu pasti bukan burung Trilili.

  

            Manusia sesungguhnya lemah dan terus mencari sesuatu yang lebih berkuasa daripadanya. Yaitu mencari raja dari segala raja. Manusia, walaupun sempat tersentak dan mengingkari dan kehilangan pedomannya, setelah terjadi tragedi, pada suatu saat, akhirnya mereka tetap akan mencari raja di raja itu.

 

  1. Sidang Raya Agama-Yang Tampak dan Yang Hakekat

Dalam puisi esai Sidang Raya Agama-Yang Tampak dan Yang Hakekat ini, yang diceritakan penyair adalah pengalaman seorang ahli agama yang memukul hampir mati seorang perempuan yang bekerja pada sebuah bar. Tetapi, akhirnya dia menyadari betapa tindakannya itu sangat keterlaluan. Dia kemudian mendapat pencerahan. Tiga peristiwa ajaib yang dialaminya di alam mimpi, telah membuka kalbunya yang gaib, tentang semudra alam hakikat yang tiada bertepi dan penuh misteri itu.

Tokoh dalam cerita ini, Ahmad, terkejut di sebuah pasar malam, di mana agama diperdagangkan, seperti Pizza Hut dan Coca Cola. Kemudian Ahmad sampai di suatu tempat yang mempunyai telaga yang berbeda warnanya, tetapi sumber airnya tetap satu. Maka datanglah para guru mengambil air itu menggunakan guci masing masing. Guci itu terbuat dari emas, tembaga, atau tanah liat. Tetapi, ribuan tahun kemudian manusia akhirnya berseteru dan berperang karena guci itu, karena manusia hanya melihat sesuatu yang hakikat.

Setelah itu Ahmad terpana melihat pesawat luar angkasa yang tiba-tiba muncul di sebuah desa. Penduduk yang buta meraba beberapa bagian pesawat itu dengan memberikan tafsiran yang berbeda, sama seperti cerita beberapa orang buta meraba badan gajah mengimajinasikan bentuk gajah.

Ketika tersedar dari mimpinya, Ahmad memutuskan untuk mengundurkan diri daripada menjadi polisi agama dan menyadari Tuhan memberikannya pencerahan lewat mimpinya.

 

  1. Balada Wahab & Wahib-Islam vs Islam

Puisi esai ini mengingatkan kita kepada cerita dua helai daun yang tumbuh pada sebatang pohon. Sehelai tumbuh di ranting belahan Barat dan sehelai lagi tumbuh di ranting belahan Timur. Karena itu, kedua helai daun itu tidak pernah bertemu sejak daun itu tumbuh sampai daun menjadi kuning, layu, dan gugur ke bumi. 

Cerita adik beradik kembar, Wahab dan Wahib juga sedemikian. Wahab belajar di Timur tengah dan Wahib melanjutkan studi di Amerika Syarikat (Barat). Setelah pulang ke tanah air, mereka sering berselisih dan berbeda pendapat dalam segala hal. Padahal mereka lahir dari ibu-bapa yang sama.

Begitulah, hari berganti hari, perbedaan pendapat antara mereka semakin melebar dalam pelbagai isu. Baik isu feminisme, kedudukan Islam dalam agama dan kehidupan, perkawinan sesama jenis (kelamin), malah perbedaan juga terus berlangsung dalam konteks kehidupan sosial mereka, dan pilihan isteri masing-masing. Perbedaan itu tidak ada titik temunya seperti yang dirumuskan ibu mereka:

 

                        Api permusuhan dua anaknya berkobar

                        Hanya fisik mereka yang kini kembar

                        “Ya Tuhan, kau Maha Tahu

                        Kembalikan kembar ke pangkuanku”.

 

            Namun segala doa ibunya itu hanya ilusi. Dalam dunia sebenarnya, hilang sudah makna persaudaraan dan hanya air mata yang mengalir deras.

 

  1. Menyelam Ke Langit 

Puisi Menyelam Ke Langit memaparkan cerita tentang watak Joni yang hendak pidah agama. Dia terpana dengan berita di media social yang menceritakan Lauren Booth memeluk Islam dan Lukman Sardi memeluk agama Kristen. Namun Joni memerlukan pencerahan apakah dia perlu menukar agamanya, di tengah zaman terus beredar? Zaman yang akrab dengan internet, google, dan Youtube dibandingkan Tuhannya. Zaman yang ditandai dengan peradaban tekonologi baru dengan kehadiran Samsung, Iphone, dan Blackberry.

Si penyair mempertanyakan apakah Tuhan hadir bersama peradaban baru itu? Semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala, dalam siklus hidup yang seperti putaran roda itu. Malah semua agama hadir dalam putaran roda berkenaan, yang sesekali di atas, sesekali di bawah, tetapi putarannya mencari Tuhan tidak pernah reda sepanjang zaman.

Joni akhirnya memutuskan dan membulat tekadnya untuk tidak perlu bertukar atau berpindah agama. Kemudian penyair merumuskan, Di mana pun dimulai, jika menyelam, akan sampai juga pada-Nya, Walau dalam wujud dan bahasa yang berbeda-beda.        

 

9.Terkejut Oleh Riset - Bahagia dan Agama

Riset atau kajian yang dilakukan oleh lembaga Sustainable Development Solution Network (SDSN) menjelaskan negara yang paling bahagia adalah Switzerland, kemudian diikuti Iceland, Denmark, dan Canada. Sementara negara yang menjadikan agama sebagai dasar negara India, Saudi Arabia, Itali, dan Israel beada di barisan belakang. Timbul pertanyaan kenapa negara yang berdasarkan agama tidak bahagia? Apa yang salah dengan agama? Dikatakan dalam puisi ini, “…yang salah bukan agamanya, tapi dengan cara kita beragama”.

Puisi ini sangat menarik. Apa lagi Denny JA juga mengaitkan ceritanya dengan kisah Nazarudin yang mencari sesuatu yang hilang di tempat gelap, tetapi mencarinya di tempat lain yang terang benderang. Sama seperti manusia mencari bahagia bukan pada tempatnya. Tetapi menurut penyair, agama tetap sumber kebahagiaan, yang salah adalah orangnya.

 

10. Dua Wajah Ahli Agama

Tajuk puisi esai ini saja sudah mencerminkan perbedaan yang nyata. Dua Wajah Ahli Agama. Dua wajah yang pastinya berbeda dan tidak ada titik persamaannya. Ceritanya bermula ketika tokoh Yayan dalam puisi esai ini membaca berita koran tentang seorang menteri agama yang korupsi. Dia binggung, mengapa menteri agama korupsi? Sehingga dia bertemu Kiai dan terus bertanya mengapa kementrian agama paling korupsi? Soalnya lagi:

 

(Mengapa) Pengadaan quran dikorupsi?

Ongkos haji dicolongi?

Menteri agama di jeruji?

Kok bisa, Kiai?

 

Semua pertanyaan itu dijawab dengan baik dan bijaksana oleh Kiai dengan membuat perbandingan kisah itu dengan cerita Dr. Jekyall dan Mr Hyde: Sesungguhnya agama, ilmu ideologi, teknologi, hanyalah jalan yang wangi, yang bisa ditunggangi oleh hati yang jahat, bisa juga digunakan oleh hati yang sehat”.

 

11.Hikmah Singapura - Agama di Sekolah

 Dalam puisi esai Hikmah Singapura - Agama di Sekolah ini Denny JA bertutur tentang kisah Singapura sebagai sebuah negara paling maju di antara negara ASEAN. Kerajaan Singapura tidak mengajarkan agama di sekolah. Tetapi negara itu menjadi sebuah negara yang paling bebas dari korupsi, dibandingkan dengan Indonesia yang mengajarkan agama di mana-mana. Indonesia menjadi juara korupsi di kalangan negara ASEAN. 

Korupsi sebenarnya bukan karena agama. Malah agama mengharamkan korupsi. Tetapi apabila keadaan ekonomi sesebuah negara itu tidak stabil, kemiksinan merajalela, maka semakin banyak orang mencari kekayaan melalui cara yang salah. Negara tidak mampu memberikan kemewahan kepada rakyatnya, upah dan gaji di negara itu tidak tinggi. Jika negara memberi upah gaji yang tinggi kepada menteri, bisa jadi menteri itu tidak korupsi.

Ini yang dilakukan di Singapura. Pekerja di Singapura menerima upah gaji yang tinggi sehingga rakyatnya tidak terdorong melakukan korupsi. Berbeda dengan Indonesia yang memberikan gaji rendah kepada para pekerja, sehingga peluang dan ruang untuk melakukan korupsi sangat terbuka luas. 

Jadi, ini bukan soal agama. Agama menghalangi, tetapi tuntutan hidup yang mendesak menjadikan sesesorang itu melakukan apa saja, termasuk korupsi, demi survival, kemewahan hidup, dan sebagainya. Sama seperti kata Patricia b Ebrey (1981) tentang rasuah, mata air tidak dapat mengisi cawan yang bocor. Gunung dan laut tidak dapat memuaskan nafsu yang tidak kenal batas. Namun pendidikan tetap penting seperti kata Malala (2013) pendidikan adalah jalan yang menyelamatkan jiwa, membangun perdamaian, dan memberdayakan generasi muda.

 

  1. Lotre Kehidupan-Mujur dan Malang

Membaca puisi esai Lotre Kehidupan-Mujur dan Malang ini mengingatkan kita satu kisah, bagaimana jika sekiranya Tuhan menjadikan semua orang di dunia ini semua kaya dan tidak ada yang miskin. Atau, bagaimana sekiranya hanya semua orang baik yang memenuhi dunia dan sama sekali tidak ada orang jahat. Kehidupan pun mononton. Tidak ada lagi konflik baik buruk. Tetapi justeru dalam puisi esai ini, Denny JA membagikan kisah Aba dan Abi yang menempuh jalan hidup yang sangat berbeda. Lalu salah seorang daripada mereka mempersoalkan keadilan Tuhan:

 

                        Burung Trilili

                        Kami sama berdoa

                        Mengapa hanya mereka

                        Yang kau kabulkan

                        Di mana keadilan?

 

Sesungguhya keadilan itu sangat subjektif, dan apa yang kita lihat adil dan kita anggap sebagai menguntungkan pada hari ini, mungkin sebaliknya pada keesokan hari. Itu juga yang terjadi kepada Aba dan Abi. Seorang dari mereka pergi berperang dan mendapat limpah kurnia setelah pulang. Pada satu sisi adalah sangat ironi orang yang pergi berperang dan membunuh manusia lain, tetapi pulang penuh penghormatan, kemewahan dan kemuliaan. Namun demikian, itulah kehidupan yang nyata. Mujkzizat yang sudah diterima. Bukan atas mujur yang KAU kirim. Bukan atas malang yang KAU cobakan. Tapi kata penyair, atas hikmah yang didapatkan. Atas kearifan yang makrifat.

 

13. Mimpi Sepeda Ontel-Berani Beda  

Puisi esai Mimpi Sepeda Ontel-Berani Beda ini mengingatkan kita kisah orang tua yang menunggang keledai bersama orang muda di tengah padang pasir. Ketika melewati sekumpulan orang, maka kumpulan orang itu berkomenter, sampai hati (tega) orang tua itu membiarkan anak muda itu berjalan kaki sedangkan dia menunggang keledai dengan nyaman. Apabila anak muda itu pula yang menunggang keledai, orang yang ditemui berkata, sungguh kasihan orang tua itu berjalan kaki, sedangkan anak muda itu menunggang keledai dengan santai. Maka akhirnya kedua orang itu menunggang keledai, tapi ternyata orang yang ditemui tetap menyalahkan orang tua dan anak muda itu yang tega menunggang keledai yang lelah tanpa balas kasihan.

Setiap perkara yang dilakukan mesti dipersoalkan. Dalam puisi ini Nadia tidak bisa meninggalkan organisasi yang diwarisinya turun temurun, hanya semata-mata karena memikirkan tanggapan orang di sekelilingnya, terutama 3 orang yang sangat dicintainya, ayahnya, guru dan kekasihnya. Dia kemudian berdoa semoga mendapat kekuatan dan keberanian untuk meninggalkan organisasi dan juga berani berbeda. Tetapi setiap perbedaan akan tetap melahirkan perpecahan dan persengketaan.

 

  1. Pengurusan Bahagia-Api dan Abunya

Puisi ini merakam kerisauan seorang guru yang bingung mencari calon penggantinya. Terdapat dua orang murid yaitu Amin dan Amen, yang mempunyai karakter dan karisma berbeda yang layak menggantikannya. Hanya salah satu dari mereka yang berhak diangkat menjadi penggantinya. Sebuah kapal hanya memerlukan satu nakhoda. Jika dua nakhoda, kapal akan karam.

Maka Tuan guru menguji kedua calon pengganti itu dengan mengajak mereka mengajar kebahagiaan di dua desa yang berbeda, tetapi membawa kitab yang sama, yang diwarisi turun temurun. Amin mengajar penduduk di desa yang didatanginya menghafal kitab, sehingga mereka menghafalnya di luar kepala. Amen tidak mengajar mereka menghafal sebaliknya mengajarkan penduduk membuka mata dan telinga. Dia mendengar masalah penduduk dan berusaha menyelesaikan dan mengajak mereka agar berani berbeda, asalkan mereka terus mencari mutiara dan bahagia.

Guru akhinya memilih Amen menjadi pengganti, karena menjadikan kitab hanya sebagai cara mencapai kebahagiaan. Namun, ini menimbulkan perpecahan dan sengketa yang berpanjangan. Dalam ungkapan penyair, Amen memilih api, tetapi Amin hanya memilih abunya.

 

  1. Balada Aneta-Kesadaran dari kesalahan 

Di dalam puisi esai ini, Denny JA hanya mengisahkan cerita seorang gadis yang bernama Aneta yang memilih hendak menjadi seorang suster Katolik dan mengabdikan dirinya kepada Tuhan, dan tidak menikah. 

Suatu hari dia mengunjungi temannya Ani, di Jakarta dan bertemu seorang lelaki bernama Budi. Setelah melakukan hubungan sex, mereka memutuskan hendak menikah. Tetapi Aneta kembali sadar, dia tidak harus memilih nikmat keduniaan, sebaliknya kembali dengan cita-citanya hendak menjadi seorang suster. Puisi esai ini, adalah sebuah puisi esai yang biasa saja, dengan bahasa yang komunikatif, tetapi akhirnya berkonklusi, betapa cinta juga dikalahkan tafsir agama.

 

  1. Robohnya Menara Kami-Pemurnian Agama atau Sinerji 

Puisi ini merupakan kritikan yang jujur terhadap Islam dan masyarakat Islam hari ini baik di Indonesia atau di mana saja. Islam ketinggalan dalam pelbagai segi kehidupan. Tidak ada yang dibanggakan dari segi pencapaian ilmu pengatahuan dalam dunia Islam hari ini. Banyak kajian atau riset yang menunjukkan negara dan masyarakat bukan Islam jauh lebih maju berbanding negara dan masyarakat Islam.

Barat, Jepang, dan Korea mengalahkan negara Islam dari segi pencapaian teknologi. Sementara orang Islam hanya terkenal sebagai teroris di seluruh dunia. Justru Azis, tokoh dalam puisi ini hendak memberikan pendangan yang berbeda untuk mengubah masyarakat. Dia menginginkan agama disenerjikan dengan elemen tertinggi peradaban, demi kemajuan negara Islam. Langkah Aziz ini mengundang pelbagai implikasi. Dia dipecat dari organisasi yang diikutinya. Dia juga ditinggalkan kekasihnya, Rika, yang berkata lebih kurang begini, “Azis, niatku padamu karena agama, Jika dari agama dirimu menjauh. Berarti dari diriku juga dirimu menjauh”

 

  1. Ambruknya Sang Raksasa-Gagasan vs Rupiah

Di dalam puisi esai ini pula, penyair memberikan tanggapannya tentang konsep ekonomi moden yang selalu tidak diberi perhatian pemikir agama, yang lebih mementingkan jiwa, dan akal budi. Dunia bisnis diabaikan, seperti yang dialami tokoh Farid dalam puisi esai ini.

Namun, setelah mengetahui berita bangkrutnya Yunani, iman dan emosinya tersentak. Segala-galanya bersumber dari keruntuhan ekonomi sehingga bunga hutang negara itu sebesar 23 persen. 44 persen rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan dan 27 persen lagi rakyatnya menjadi penganggur. Semua terjadi karena salah urus ekonomi negara dan sikap yang mengabaikan dunia bisnis. Kajian atau risetnya juga menunjukkan banyak kekuasaan dan kekuasaan besar dalam sejarah dunia akhirnya runtuh, merosot, dan hancurnya karena ekonomi. Justru itu, Farid hendak mengubah persepsi dan pandangan hidupnya, tentang bagaimana dunia perniagaan dan ekonomi ternyata mampu memacu peradaban, dibandingkan bila hanya mengandalkan agama dan akal budi

 

  1. Barat Lebih Islami-Substansi atau Label 

Isu siapa yang lebih Islami atau tidak, banyak disentuh dalam beberapa puisi Denny JA sebelumya. Tetapi puisi esai Barat Lebih Islami-Substansi atau Label ini ternyata perbincanagannya lebih mendasar. Argumentasi dan perbahasannya juga lebih terfokus.

Tokoh Ahmad yang digambarkan sebagai mahasiswa dan aktivis agama yang militan dalam puisi esai ini, tiba-tiba terkejut dengan hasil sebuah riset: 10 negara yang terbaik dan tidak korupsi di dunia adalah negara bukan Islam. Posisi itu diraih oleh negara yang paling toleransi, negara yang paling mempraktikkan demokrasi, dan negara Barat yang kafir. 10 negara yang paling maju ilmunya dan paling bahagia di dunia juga adalah negara orang kafir.

Negara Islam yang berpegang kepada kitab, tidak masuk daftar pendek. Malah umatnya juga terpecah menjadi pelbagai kelompok, dan terbelah antara satu sama lain, seperti Sunni, Syiah, Ahmadiah, Wahabisme, dan sebagainya. Justru itu penyair menyarankan agar manusia hanya kembali kepada roh CINTA. Roh cinta yang ada di dalam setiap sudut hati manusia. Roh CINTA yang menyatukan semua zaman dan Roh CINTA yang menyalakannya. Karena Roh CINTA ini yang melonjakkan puncak peradaban umat Islam di dunia suatu ketika dahulu.

 

  1. Berburu Bahagia-Kisah Timun, Telur, dan Rempah

Kisah dalam puisi esai ini sangat sederhana, di mana tiga orang murid, yaitu Baba, Bibi, dan Bubu ingin mencari bahagia. Sang guru berkata pergilah berkelana mencari bahagia, jika susah bersama, tidak mengapa jika sekiranya memilih jalan yang berbeda asalkan hasilnya yang terbaik dan memuaskan. Justru itu Baba memilih untuk mendapatkan sebanyak mungkin ilmu pengetahuan bagi meraih kebahagiaan. Bibi memilih kekuasaan. Sementara Bubu memilih kekayaan. Tetapi, setelah 20 tahun kemudian dan mereka bertemu sang guru, sang guru berkata:

 

                                    ….ilmu bahagia itu ilmu batin, Anakku.

                                    Tak tergantung dari apa yang kau simpan di saku

                                    Tak tergantung seberapa kau berkuasa

                                    Tak tergantung seberapa kau punya harta

                                    Tak tergantung sedalam apa ilmu kau punya.

           

Lalu sang guru membuat perumpamaan dengan air yang mendidih disiramkan pada timun, telur, dan rempah. Timun akan menjadi lembut, telur akan menjadi keras dan padat, sementara rempah akan mengeluarkan bau harum. Justeru katanya, memburu bahagia itu, sama seperti kita menjadi rempah, kita mengambil air, tetapi memberi keharuman kepada orang lain dan sekeliling. Puisi ini sangat sederhana bahasanya tetapi menyentuh dan mengesankan.

 

  1. Mawar Yang Berdarah-Persepsi vs Realita 

Puisi esai Mawar Yang Berdarah-Persepsi vs Realita ini hanya menghidangkan cerita cinta tiga segi yang biasa, tetapi menjadi suatu yang luar biasa, setelah berakhir dengan satu pembunuhan. Empat saksi yang tampil ke hadapan menceritakan kasus kematian itu menurut versi masing-masing. Tidak ada persamaannya. Hal ini kemudian dikaitkan penyair dengan kebenaran yang abstrak, soal interpretasi agama yang berbeda-beda. Jadi tidak heran jika terjadi terlalu banyak persepsi tentang agama yang lahir, mengelirukan manusia, dan malah mengacaukan pandangan manusia terhadap agama.

 

  1. Ustaz Yang Gay-Nurture vs Nurture

Di dalam puisi esai ini, kita melihat dunia yang semakin berubah. Di beberapa negara perkawinan sejenis dibolehkan, misalnya Amerika Syarikat. Puisi esai Ustaz Yang Gay-Nurture vs Nurture ini, mengisahkan tentang hal ini. Perkawinan sejenis dianggap penghinaan kepada agama Islam, ada juga anggapan sebaliknya.

Penyair memaparkan pula kisah seorang Ustaz bernama Lukman. Ayahnya, Haji Arman Basara merupakan seorang guru, dan mempunyai ribuan murid, di kampus dan di Musala. Tetapi, anaknya adalah seorang Gay yang akut. Ketika ibunya mengetahui Lukman ditemukan terkapar karena mencoba membunuh diri, ibunya memanggil Doktor Pertiwi, seorang ahli psikologi lulusan dari Amerika Syarikat, dan meminta pandangannya tentang dunia Gay, apakah karena keturunan genetik atau bagaimana? Lalu Doktor Pertiwi itu menjelaskan:

 

                                    “Menjadi gay itu bukan tak normal

                                    Itu hanya variasi genetis belaka

                                    Mereka juga normal

                                    Itu bukan penyakit

                                    Itu bukan penyimpangan

                                    Asosiasi psikiater di Amerika

                                    Sudah mengumumkanna

                                    Sejak tahun tujuh puluhan.”

 

            Selanjutnya jelasnya:

 

                                    “Jenis kelamin memang hanya dua

                                    Hanya pria dan wanita

                                    Namun orientasi seksual

                                    Ada enam skala”

 

            Ketika ditanya apakah Lukman bisa dipulihkan? Doktor Pertiwi menjawab, itu sangat tergantung, kepada tahap skala Lukman di mana.

 

                                    Jika ia di skala enam

                                    Mustahil ia bisa berubah total.

 

Sesungguhnya, puisi esai ini merupakan kritikan halus kepada ahli agama. Tetapi realitinya, Lukman juga pasti mahu menjadi manusia dan lelaki normal seperti yang lainnnya, Namun Tuhan melahirkannya dengan keinginan sex yang berbeda.

Puisi esai ini diakhiri secara positif, sang ayah dan sang ibu mengunjungi anak mereka yang dirawat di rumah sakit.

 

  1. Berburu Tuhan-Petuah Tiga Guru. 

Buku puisi esai yang terakhir berjudul Berburu Tuhan-Petuah Tiga Guru ini menceritakan seorang lelaki bernama Darta, berusia 55 tahun, seorang ketua keluarga dihormati masyarakat, berkelana ke segenap lembah memburu Tuhan dan mencari hikmah. Darta pergi ke India memahami agama Hindu di sungai Gangga, dalam perjalanan mencari Tuhan. Ditelusuri agama Kristen, dengan pergi ke Jerusalem dan kemudian selanjutnya ke Mekah memahami Islam, mengerjakan haji, puasa, mempelajari al Quran dan Sirah, salat lima waktu. Lalu katanya:

 

                                    Tuhan di dalam Islam juga berbeda

                                    Tauhid konsep yang sangat esa

                                    Tiada dewa dewi di masjidnya

                                    Tritunggal kudus tiada pula.

 

            Selepas tinggal di Mekah, Darta pergi pula ke Burma, memahami agama Buddha, memahami konsep Nirwana. Selanjutnya, Darta melancong ke pelbagai wilayah. Tetapi semakin jauh perjalanannya, Darta semakin bingung soal Tuhan.

Darta juga pergi ke Amerika dan dunia Barat untuk memahami dunia atheisime. Tetapi akhirnya setelah lima tahun berkelana, dia berputus asa, dan kembali ke keluarganya. Ia menyimpulkan Tuhan itu bukanlah satu zat yang tampil dalam bentuk agama.

Darta kemudian bertemu seorang guru welas asih. Guru membawanya ke kebun burung. Sang guru juga mengajarkan memahami makna pelangi. Terkahir, Guru mengajak Darta ke sawah dan melihat orang suci yang sedang bersawah. Lalu Darta mendapat pelajaran bahwa dia harus menjadi seperti manusia normal yang lainnya, bekerja dan memaknai kehidupan. Hidup normal seperti biasa, karena Tuhan yang diburu itu ternyata ada di dalam hatinya sendiri. Puisi ini menarik, dan perlu menjadi satu renungan dalam kesederhanaannya, dalam usaha kita mencari hikmah dan Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

Sesungguhnya 22 buah buku karya Denny JA ini, walaupun ditulis dalam bentuk bahasa yang mudah difahami, dan seolah-olah penuh kontrovesi, tetapi tetap menyampaikan pesan yang tidak kecil kepada kita semua. Terlalu banyak sumber pemikiran yang bisa direnungkan secara mendalam, terutama dalam konteks hubungannya dengan falsafah, keagamaan, dan juga pesan sosialnya yang sangat berguna kepada manusia sejagat. 

Malah, dapat dirasakan terdapat satu petanda bahwa salah satu tujuan tersembunyi (intrinsik) penyair ini menulis adalah untuk menggerakkan diri dan masyarakat supaya merenung tentang pelbagai isu dalam masyarakat dan kaitannya dengan falsafah dan agama di zaman moden.

Terdapat banyak analogi yang dibuat agar manusia menilai ulang peranan agama dan persepsi masyarakat terhadap agama, walaupun penyair sendiri mengakui bahawa masih ada yang suci dalam agama yang perlu diberikan perhatian dalam membentuk jati diri dan membina kehiddupan yang lebih bermakna.  

 

 

 

 

 

Rujukan

Afzalur Rahman, 1993. Ensiklopedia Sirah: Sunah, Dakwah dan Islam. Jilid 1. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Malal Yousafzai dan Christina Lamb, 2013. I Am Malala. The Girl Who Stood Up for Education and was shot by the Taliban. New York. Little, Brown and Company. 

Patricia b Ebrey. 1981. Chinese Civilisation an Society. Bab 7. The Debate of salt and iron, New York/London. Macmillan. The Free Press. Patricia Ebrey (penterj.) hlm. 25.

Syed Hussin Alatas, 1995. Rasuah: Sifat, sebab dan Fungsi. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka.

  • view 940