Indeksikalitas Fiksional Denny J.A.

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2016
Review 22 Buku Puisi Denny JA

Review 22 Buku Puisi Denny JA


Review 22 Buku Puisi Denny JA

Kategori Non-Fiksi

17.3 K Hak Cipta Terlindungi
Indeksikalitas Fiksional Denny J.A.

(Oleh Narudin, Kritikus Sastra)

 

“La réalité dépasse la fiction.”                                          

(Kenyataan lebih keras daripada fiksi.)

—Anne Scheepmaker (dalam van Zoest, 1991)   

 

Tidak berhenti sampai di situ, Anne mengimbuhkan ungkapan yang mendebarkan jantungnya itu dengan kalimat memantik daya nalar lainnya: “Kenyataan (nonfiksi) tidak ada tandingannya (fiksi).” Kendatipun demikian, di lain pihak, Fellini menafikan perkara begitu dengan pernyataan lain. Ia berujar, “Kebohongan (fiksi) justru selalu lebih menarik daripada kebenaran (nonfiksi).” Oleh sebab itulah, dan ini tampak wajar saja diutarakan bahwa seorang pengarang Prancis kenamaan, Simenon, tidak mau membaca fiksi lagi di hari tuanya. Hingga taraf pengertian demikian, maka kita butuh mengejar sejauh mana realitas fiksional itu berperan dalam sebuah karya sastra sebagai bukti objektif (tekstual).

Membaca buku-buku puisi Denny J.A.—realitas fiksional yang termaktub—tentulah bahan yang menarik minat untuk dikaji secara agak jeli. Menurut van Zoest (1991), realitas fiksional itu merupakan dunia fiktif yang mengandung indeks. Sedangkan Dresden (1985), seorang ahli sastra Belanda menegaskan bahwa dunia fiktif ialah dunia yang ditimbulkan oleh teks fiksional atau “dunia dalam kata-kata” (wereld in woorden). Tambahan pula, kritikus sastra kondang asal Belanda, A. Teeuw (2013), dalam salah satu buku teori sastranya mengistilahkannya dengan “heterokosmos” (kosmos yang pelbagai-bagai atau dunia dalam kata-kata).

Kembali ke pokok perbincangan, yakni 22 buku puisi karya Denny. Denny dikenal sebagai penggagas Indonesia Tanpa Diskriminasi, meluncurkan 22 buku puisi (bergambar) sekaligus 22 video buku puisi itu yang berdurasi masing-masing sekitar 15-36 menit. Diduga, seluruh buku itu merupakan kontemplasi Denny dalam bentuk puisi. Ia menggali pengalaman agung manusia (?) baik soal filsafat hidup, agama, maupun perihal anasir-anasir sosio-politik. Demikianlah pembacaan yang diambil dari beberapa sumber. Dengan bekal informasi selayang pandang itu, kita kini telah dapat menghubungkan trikotomi Charles Sanders Pierce (1965, Collected Papers, vol. I and vol II), yakni indeks, ikon, dan simbol. Ketiga fungsi semiotik ini takkan dibahas secara menyeluruh untuk semua buku puisi Denny di tempat yang terbatas ini. Namun, sekurang-kurangnya, kita akan menelaah segi indeksikalitas fiksional-nya dari beberapa buku puisi yang cukup representatif atau bersifat mewakili “pengikiran pemikiran” dan “perasan perasaan” Denny. Untuk keperluan definitif, ketiga fungsi semiotik itu kita uraikan saja secara seperlunya.

Pertama, ikon. Ikon menjanjikan kenikmatan estetis, gariah yang meletup-letup secara visual. Inilah alasan kenapa Denny berhasrat meluncurkan 22 buku puisi bergambar sekaligus 22 video buku puisi itu. Perhatikan kedua kata ini “bergambar” dan “video”. Dua objek ini terang sekali dimaksudkan demi mengukuhkan buku-buku puisinya secara simbolik. Maka, kedua, simbol. Simbolisitas-lah yang membuat kita mendapatkan kepuasan intelektual (akal budi). Denny di sini telah cukup sebelumnya menyuguhkan sajian buku-buku puisinya sebagai simbol spesifik, yakni agar para pembaca terpengaruh atau tersentak akal budinya, dan diharapkan mereka memperoleh kepuasan yang “bukan akal-akalan”. Sedangkan indeksikalitas? Indeks diupayakan oleh Denny agar kita dibawa kepada suatu “wilayah ideologis” atau secara bersahaja, kita “disuruh oleh jari telunjuk otoriter Denny agar berjalan ke arah situ”. Suatu tempat fiksional yang bersifat ideologis. Inilah yang akan kita bahas sewajarnya dalam kesempatan baik ini lewat beberapa buku puisinya yang mewakili buncahan akal budi Denny itu.

Sebelum melangkah gontai ke tempat bergelora itu, sebaiknya kita mendefinisikan apa itu “puisi esai” lantaran 22 buku puisi ini pada hakikatnya berupa puisi-puisi esai yang diaku oleh Denny sebagai genre sastra mutakhir. Secara substansial, puisi dan esai memiliki daerahnya masing-masing sebagai genre sastra konvensional. Puisi ialah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan baris dan bait atau sebaliknya apabila definisi puisi itu ingin disebut sebagai puisi bebas. Sementara, esai ialah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya, demikianlah arti dua kata tersebut menurut hemat KBBI (terakhir diakses 7 September 2016, pukul 15:18 WIB). Jadi, puisi esai merupakan gabungan dua genre sastra itu, yakni puisi dan prosa (esai). Dahulu, di Rusia, cerpenis dan novelis Anton Chekhov acap kali menggubah cerita-cerita yang puitis. Oleh karena itu, kritikus Wellek dan Warren dalam buku termasyhurnya, Theory of Literature (2013), menggelari Chekhov sebagai pengarang prosa-puitis atau sebaliknya penulis puisi-prosais. Kebingungan istilah ini kiranya dapat menolong genre sastra baru Denny, yaitu puisi esai: puisi yang di dalamnya terdapat cerita dramatis yang emosional dilengkapi dengan aksesoris catatan kaki sesuai kebutuhan. Agar kebingungan itu sirna, saya mengajukan istilah “puisi dramatik” saja sebagai pengganti istilah “puisi esai” karena di dalam puisi-puisi esai Denny selalu terdapat pertikaian emosional dan situasi yang tegang. Dua kata sifat ini, yaitu “emosional” dan “tegang” pada taraf tertentu agaknya beraneka intensitasnya. Selera ini bersifat personal dan tak bersifat urgen, namun lebih kepada arah alternatif peristilahan. Sungguhpun begitu, secara posmodern, nama “puisi esai” dengan kerancuan definitif-nya itu dapat dibantah secara resiprokal. Dan produk keputusan terminologis-nya kita serahkan kepada khalayak ramai dengan bimbingan ahli sastra yang tak sesat lagi menyesatkan.

Tema 22 buku puisi esai Denny digarisbawahi oleh dua sub-judul ini: Agama dan Diskriminasi. Jika kita membaca 22 buku puisi esainya, maka secara umum, memang 22 buku puisi esainya merujuk kepada tema utama itu: agama dan diskriminasi dalam perspektif liberal. Kita akan mulai menganalisis indeksikalitas fiksional Denny dari buku-buku puisi esainya ini menyangkut tema sentral agama dan diskriminasi dalam perspektif liberal.

Kita dengarkan pengakuan Denny dalam salah satu tulisannya, "Saya merasa cukup terganggu dengan semakin digunakannya agama untuk mengotak-kotakkan manusia."

Begitulah tutur sapanya. Denny mengaku ia menggali pengalaman batinnya sebagai seorang aktivis dan juga penjelajah dunia spiritual. Ihwal dunia spiritual ini, seorang Amerika pernah berujar, “I am spiritual, but I am not religious.” Artinya, saya seorang yang spiritual, tapi bukan seorang yang religius. Dikatakan bersifat spiritual, berarti bersifat rohaniah atau berwatak kejiwaan. Sebuah realitas batin manusiawi yang secara imanen sangat rawan kalau tak ditundukkan secara dasar teguhnya keimanan.

Dua data di bawah ini diasumsikan mendorong Denny menafakuri apa yang keliru dengan “tafsir agama” di zaman kita ini.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Pew Research Center pada 2014, Indonesia termasuk satu dari tujuh negara buruk di dunia soal toleransi beragama. Penilaian itu disampaikan dengan melihat ratusan perda di berbagai daerah yang diskriminatif, serta penilaian dibuat dari kebencian publik terhadap minoritas. Selain itu, tambahan informasi pula, berdasarkan data SDSN (PBB) pada 2015, negara yang paling tinggi indeks bahagianya, justru bukan “negara agama”. Yang tertinggi justru “negara Eropa Barat” (alias “negara non-agama” [?]), seperti Denmark, Swedia, dan Kanada. Terdapat tendensi alamiah, kian giat secara resmi agama berperan di dunia publik, maka kian tidak berbahagia warga negara.

Dua data di atas boleh jadi dianggap Denny sebagai dua objektivitas. Akan tetapi, jangan lupa, seorang pakar analisis wacana (discourse analysis) pernah berpesan bahwa tak ada yang betul-betul disebut objektivitas karena objektivitas itu tak lain tak bukan hanyalah kumpulan subjektivitas. Jadi, formula simpelnya ialah objektivitas sama dengan akumulasi subjektivitas. Dengan mendekonstruksi dua data di atas, maka kita telah siap menelaah beberapa pokok gagasan Denny di dalam buku-buku puisi esainya yang cukup representatif, yakni mengenai indeksikalitas fiksional-nya. Nah, disebut fiksional karena kita akan segera mengetahui bahwa secara impresionistik-induktif, puisi-puisi esai Denny menyiratkan hal demikian.

 

Keberagaman, keberagamaan, dan keseragaman

Tak berlebihan diutarakan hingga dewasa ini bahwa keber-agama-an niscaya ke-beragam-an, namun keber-agama-an niscaya bukan ke-seragam-an. Gagasan ini menyangkal secara tak langsung kerangka berpikir “kesatuan transendental semua agama”.

Kita simak satu bait puisi esai berjudul “Sidang Raya Agama: Yang Tampak, dan yang Hakikat” (2015).

Satu guru membawa air merah

Dengan guci tembaga

Guru yang lain membawa air biru

Dengan guci tanah liat

Guru yang satu membawa air jingga

Dengan guci berlapis emas

Namun semua dari sumber yang sama

Dari mata air yang sama

Dari kedamaian yang sama

Dari kegaiban telaga warna

 

Dari bait puisi esai di atas tampak kesan “kesatuan transendental semua agama” (Trancendental Unity of Religions). Denny, dalam salah satu catatan kaki puisi esai di atas, dengan mengutip pendapat Frithjof Schuon, menegaskan pentingnya kesatuan spiritual semua agama. Baris-baris ini yang menjadi sandarannya: Namun semua dari sumber yang sama/ Dari kegaiban telaga warna//. Padahal menurut hemat Arnold J. Toynbee, agama langit (samawi) disebut sebagai “higher religion”. Sedangkan agama bumi (dibuat manusia) disebut sebagai “lower religion”. Alhasil, secara hierarkis-religius, maka mustahil akan terbentuk kesatuan transendental semua agama atau kesatuan spiritual semua agama apabila ada beberapa agama termasuk ke dalam agama budaya (buatan manusia) selain agama langit (samawi, diturunkan langsung oleh Tuhan)—agama Islam termasuk agama samawi itu.

Kemudian, kalaulah gambaran pentingnya kesatuan transendental seluruh agama itu seperti tercermin dalam puisi esai berjudul “Burung Trilili: Bertengkar untuk Persepsi” (2015), maka ini pun bukan alasan kuat untuk menyelenggarakan kesatuan spiritual seluruh agama karena yang utama terletak pada toleransi antar-umat beragama yang bagus, yakni saling menghormati pemeluk agama lain tanpa menimbulkan luka, permusuhan, dan pertengkaran dungu lainnya. Sebab, seperti dipesankan bahwa tak ada paksaan dalam agama.

Kita simak beberapa bait penting berikut catatan kaki yang menghiasi gejolak pemikiran Denny, diambil dari puisi esai berjudul “Burung Trilili: Bertengkar untuk Persepsi”.

Massa di sebelah sana berteriak

“Inilah persepsi yang benar

Jangan biarkan penyimpangan”

 

Di balas oleh massa di belah sini

“Murtad! Inilah persepsi sejati

Bagi yang berbeda

Halal darahnya”

 

Kemarahan berkobar

Perang terbakar

Darah dan korban muncrat mengalir

Kebencian menjalar di hulu dan hilir

 

Sebagaimana perang antar-penganut Burung Trilili, dalam sejarah, terjadi perang agama minimal sebanyak 123 kali. Pertanyaan yang mengemuka, apakah “Burung Trilili” itu “agama samawi” yang diduga oleh Toynbee di atas? Atau “Burung Trilili” itu “Tuhan”? Jawabannya dapat ditelusuri dengan membaca catatan-catatan kaki dari puisi esai itu seperti tercantum di bawah ini.

Sebagaimana di kalangan penganut Burung Trilili, perang agama justru tercatat sebagai perang terpanjang dan paling banyak korban dalam sejarah. Salah satunya perang salib antara umat Islam vs Kristen di abad sebelas sampai tiga belas (sekitar 200 tahun) yang membunuh sekitar 3 juta manusia. Kecuali itu, dalam puisi esai berjudul “Dua Wajah Ahli Agama” (2016). Kita simak bait-bait berikut.

“Namun perang terbesar juga perang agama”

Perang salib itu dua ratus tahun eranya

Di abad sebelas sampai tiga belas berbalas

Mati sudah jutaan manusia

Antara Islam dan Kristen konfliknya

Itu perang paling lama”

 

“Perang Perancis sama brutal

Abad ke enam belas yang fatal

Antara Protestan dan Katolik

Jutaan tewas menghadap Khalik”

 

“Perang Lebanon tak kalah ngeri

Konflik Islam Syiah dan Sunni

Terjadi di abad dua puluh

Nyawa melayang ratusan ribu”

 

Sampai taraf ini, kita dapat melihat betapa intoleransi-lah yang membuat peperangan ini terjadi dua abad lamanya. Yakni, sikap tidak saling menghormati pemeluk agama lain dengan berpegang kepada “tak ada paksaan dalam agama”. Artinya, semua akan bertanggung jawab dengan agama yang dianutnya dan akan menerima balasannya kelak—apakah agama yang dianutnya benar atau malah salah. Itu sudah jelas dengan keterangan yang jelas pula. Problem aneka persepsi yang menimbulkan pelbagai pertengkaran adalah akibat miskinnya pemahaman makna toleransi yang sesungguhnya tadi.

Selain itu, agama akan rusak jika dikompori oleh kepentingan politik atau kepemimpinan, misalnya, konflik klasik antara Islam Syiah dan Sunni. Selama motifnya tidak untuk mencari keridaan Tuhan—yakni mengikuti apa yang telah diperintahkan serta menjauhi apa yang telah dilarang dalam Kitab Suci Alquran dan Hadis-hadis Sahih—maka Syiah dan Sunni akan tetap keras kepala hingga berdarah-darah menjunjung tinggi pemimpin politiknya, sedangkan Tuhan yang Mahatinggi mudah dilupakan bahkan direndahkan.

Selanjutnya, kita simak beberapa bait puisi esai berikut, berjudul “Menyelam ke Langit” (2015).

Jreng...!

Tiba-tiba di hadapannya

Terpampang roda pedati raksasa

Tampak dari kejauhan berdepa-depa

 

Namun ini bukan roda pedati biasa

Hanya simbol dari realita

Semua agama hadir di lingkaran roda

Yang percaya

Tuhan ataupun yang tak percaya

Juga berada di lingkaran roda

 

Ada yang di atas, ada yang di bawah

Ada yang di kiri, ada yang di tenggara

Semua mengitari INTI roda pedati

Semua mengarah ke INTI. Ya, ke INTI

Seorang peri tanpa jenis kelamin

Cantik dan gagah, bening seperti cermin

Seolah memasukkan pengetahuan

Agar Joni paham sukma kehidupan

 

Sang peri menyatakan hal yang sama

Yang selalu mengganggu di mimpinya

“Menyelam... menyelam... menyelam... menyelam....

 

Seketika Joni paham

Maksud dari seruan panjang: Menyelam

Ia harus menyelam di roda pedati raksasa

Di mana pun Joni berdiri di bagian roda

Di mana pun Joni ambil posisi di bagian roda

Di mana pun Joni mulai di bagian roda

Di atas, di bawah

Di kiri atau tenggara

Jika menyelam

Ia akan sampai di titik INTI yang sama

Itulah titik yang menyatukan roda

Semua jeruji roda pedati di situ

Berujung pada titik INTI itu

        

“Aha! Joni menyimpulkan penuh tanya

Apakah INTI itu simbol Tuhan?

Yang akan kita temui

Jika kita menyelam

Dari mana pun kita memulai?

Tiada jawaban yang diterima di hati

Kecuali jawaban yang harus dibuatnya sendiri

 

Selesai sudah tiga hari berdoa

Ini Joni yang berbeda

Senyum simpul di wajah merona

Keputusan soal agama

Diambilnya segera

 

Sudah ditetapkannya di dada

Ia tiada perlu pindah agama

Yang ia perlukan hanya

Menyelam

Menyelam

dan Menyelam

 

Di mana pun dimulai

Jika menyelam

Akan sampai juga padaNya

Walau dalam wujud dan bahasa yang berbeda-beda

 

Joni tertawa bahagia

Hingga menitik air mata

 

Indeksikalitas fiksional puisi esai ini ialah kata “INTI”, “menyelam”, dan “jawaban”. Apa pun agama yang dianut (yang percaya “Tuhan”) atau bahkan seorang ateis (yang tak percaya Tuhan), jika si penganut agama atau si ateis itu menyelam, maka ia akan sampai kepada “INTI”. Pertanyaan yang hadir ialah apakah “INTI” sama dengan “TUHAN”? Bagaimana mungkin seorang ateis mampu menyelam dan sampai kepada Tuhan sedangkan ia sendiri tak percaya Tuhan? Tuhan mana yang menerima semua agama dengan tuhan-tuhannya yang banyak itu? Mana mungkin monoteisme dikawinkan dengan politeisme? Mana mungkin Tuhan menerima diri suci-Nya dipoligami dengan menyekutukan-Nya dengan bandingan atau tandingan-Nya itu yang memang tak ada? Yang serupa dengan Tuhan tak ada, apalagi yang sama dengan Tuhan? Seluruh pertanyaan ini jawaban antitesis dari tesis puisi esai di atas—puisi esai kontemplatif Denny sesuai dengan keyakinannya saat ini.

Kembali kita kutip satu paragraf pembuka sub-judul di atas demi memperjelas telaah indeksikalitas fiksional-nya.

Tak berlebihan diutarakan sampai masa kini bahwa keber-agama-an niscaya ke-beragam-an, namun keber-agama-an niscaya bukan ke-seragam-an. Gagasan ini menyangkal secara tak langsung kerangka berpikir “kesatuan transendental semua agama”.

 

Hermeneutika, Ortodoksi Religi, dan “Kebahagiaan”

Wolfgang Iser (dalam Eagleton, 1996) menyandarkan dirinya pada ideologi humanisme liberal. Teori resepsi sastra yang diusungnya itu terpengaruh oleh buah pemikiran pakar Hermeneutika, Hans-Georg Gadamer. Dapat segera diutarakanlah bahwa menurut hemat Iser, dalam membaca kita harus fleksibel dan berpikiran terbuka, siap untuk mempertanyakan kepercayaan kita dan membiarkannya mengalami transformasi. Sementara itu, menurut opini Gadamer, pengetahuan diri akan diperkaya apabila kita menjerumuskan diri dalam perjumpaan dengan hal-hal yang tidak familiar.

Nah, demi kepentingan itu, sebagai bentuk “perjumpaan” yang dimaksud oleh dua ahli itu, kita akan memeriksa sisi-sisi defamiliarisasi dari puisi-puisi esai Denny yang cukup representatif guna melihat titik terang indeksikalitas fiksionalnya.

Kita simak bait-bait berikut, diambil dari puisi esai berjudul “Perguruan Bahagia: Api atau Abunya?” (2016).

“Para muridku, dengarkan

Ini mungkin pesanku yang terakhir

Zaman terus berubah

Sebagus-bagusnya kitab kita

Ia adalah kitab lama.”

 

“Banyak hal baru tiba

Banyak perkara yang dulu tiada

Jangan paksakan masa depan

Memakai baju masa silam.”

 

“Kitab untuk manusia

Bukan manusia untuk kitab”

 

“Belajarlah dari listrik

Di daerah panas, ia harus menjadi pendingin

Di daerah dingin, ia harus menjadi penghangat

Walau yang mengalir tetap listrik yang sama.”

 

“Kitab itu ibarat pakaian

Zaman itu ibarat manusia punya badan

Jika pakaian tidak pas dengan badan

Yang dipotong jangan badan

Tapi pakaian yang disesuaikan”

 

“Ayo resapi bersama

Kitab kita yang mulia

Ambil apinya, bukan abunya

Sekali lagi

Ambil apinya, bukan abunya”

 

Bila diperhatikan, bait-bait di atas mengandung defamiliarisasi—atau lebih sederhana sebut saja “kontaminasi tematik” sebagai alat ekspresivitas Denny dalam rangka mendemonstrasikan indeksikalitas fiksionalnya.

Kita lihat bait berikut ini:

“Kitab itu ibarat pakaian

Zaman itu ibarat manusia punya badan

Jika pakaian tidak pas dengan badan

Yang dipotong jangan badan

Tapi pakaian yang disesuaikan”

 

Kitab suci berada dalam realitas skriptural (objektif), sedangkan manusia (pelaku kitab suci) berada dalam realitas behavioral (subjektif). Jika yang objektif (kitab) harus disesuaikan/dipotong, maka di sini telah terjadi kontaminasi tematik, lebih akurat, kontaminasi hermeneutik. Kitab suci, yakni Alquran, bukan disesuaikan atau bahkan dipotong, melainkan manusia si pelaku kitab suci itu harus menyesuaikan diri di zaman apa pun sesuai dengan esensi dasar pesan-pesannya.

Kini kita lihat bait berikut:

“Ayo resapi bersama

Kitab kita yang mulia

Ambil apinya, bukan abunya

Sekali lagi

Ambil apinya, bukan abunya”

 

Secara hermeneutik, ada dua hal yang harus dicamkan dengan baik. Pertama, memahami kitab suci. Kedua, memahamkan kitab suci. Memahami kitab suci berarti kesiapan diri dalam memahami isinya lewat sumber-sumber utama yang autentik (ayat-ayat kitab suci yang relevan dan hadis-hadis sahih). Selanjutnya, tugas memahamkan pada diri orang lain bertolak dari kecukupan pemahaman diri sendiri terlebih dahulu terhadap kitab suci itu. Di sinilah perlunya seorang pembimbing dalam ilmu agama agar tak menyeleweng dari pesan yang telah disampaikan sejak semula. Menghayati teks-teks kitab suci merupakan bentuk pengamalan tekstual-skripturalis. Tahap berikutnya ialah bentuk pengamalan kontekstual, yakni berusaha meneladani sekaligus meneladankan isi kitab suci itu secara konsisten dan konsekuen. Rintangan di jalan saat mengamalkan ajarannya, itu lain soal. Tetap teguhkan pendirian karena itulah ujian keimanan yang nyata. Itu justru tantangan aktual yang harus dihadapi secara bijaksana. Maka, dari pilihan “api” atau “abu” dalam puisi esai di atas, ada yang lupa dituliskan, yaitu “cahaya”. Nah, sekarang tanpa berpikir panjang pilih mana: abu, api, atau cahaya kitab suci?

Problem ortodoksi pun digugat oleh Denny dalam puisi esai lainnya. Misalnya, dalam buku puisi esai “Barat Lebih Islami: Substansi atau Label?” (2016) dan dalam buku puisi esai “Hikmah Singapura: Agama di Sekolah” (2016). Sekali lagi, agama Islam tak dapat disalahkan. Yang salah ialah manusia, si pelakunya yang tidak menghayati ajaran Islam dengan baik dan benar. Apabila Barat maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi itu karena manusia-manusia Barat tekun dalam bidang tertentu itu. Itu bersifat alamiah: siapa yang rajin, maka ia akan mendapatkannya. Atau kata pepatah Arab, “Siapa yang berjalan di jalannya, maka ia akan sampai.” Tidak lantas secara silogisme gegabah, disimpulkan bahwa (agama) Islam lebih buruk dari (agama) Barat. Jelas, tak ada hubungannya dengan Islam sebagai agama dengan huruf “I” kapital. Dan lebih ceroboh lagi, jikalah dikatakan bahwa orang-orang Barat “islami” dengan huruf “i” kecil dinilai dari kerajinannya menggali sains dan teknologi. Ajaran Islam benar, pelakunya yang salah. Islam bukan hanya substansi, tetapi juga esensi. Islam tak sekadar nama sebuah Agama, melainkan pula amal saleh yang nyata. “Aku beramal, maka aku ada,” seru penyair-filsuf Muhammad Iqbal tempo hari.

Kemudian, isu agama di sekolah Singapura. Perhatikan beberapa bait puisi esai ini, dari judul “Hikmah Singapura: Agama di Sekolah”.

Sejak 93, kebijakan itu berlaku

22 tahun kini sudah berlalu

Agama diajarkan tiada perlu

Tidak di sekolah Singapura

 

Hasilnya? Dara tambah terkejut

Ia justru bertambah kalut

Riset terbaru 2014 ini

Transparancy International yang teliti

Singapura sangat minim korupsi

Minimnya, minim sekali

 

Di aneka bangsa dan negeri

yang bersih bebas korupsi

Agama juga tak lagi diajarkan

Di sekolah rendah hingga perguruan

 

Lagi-lagi, agama dijadikan kambing hitam dengan pukul rata statistik, yakni data-data sebagai bukti, yang seolah-olah bersifat absolut. Bait-bait puisi di atas seakan-akan hendak mengatakan bahwa “agama tak penting sebab terbukti sudah, jika agama diajarkan, maka malah menimbulkan korupsi. Ternyata, lebih bagus negara yang di sekolahnya tak ada pelajaran agama. Minim korupsi, bahkan bebas korupsi”. Begitu? Ini termasuk kerancuan logika fallacy of dramatic instance (tergesa-gesa mengambil kesimpulan). Sekali lagi, logika yang sehat dan benar berkata, yang salah bukan agama (Islam)-nya, namun si pelakunya/si manusia yang miskin penghayatan agama serta tak mengamalkan ajaran agama dengan baik dan benar. Nah, problem negara yang tak diajarkan agama di sekolahnya, berdasarkan data pukul rata statistik itu ternyata minim korupsi/bebas korupsi, itu sih karena si pelakunya/si manusianya memilih untuk tidak korupsi saja—tidak berarti tidak perlu agama. Dan siapa tahu data pukul rata statistik itu manipulatif? Dan siapa tahu dosa yang tersembunyi? Ini perlu diteliti lagi secara jujur dan ikhlas.

Selain ortodoksi demikian, ada pula segi kekolotan lainnya, yaitu tercermin dalam buku puisi esai berjudul “Dua Wajah Ahli Agama” (2016). Kita baca secara saksama bait berikut ini.

“Tak usah kau gugup

Departemen Agama paling korup

atau menterinya masuk penjara

Hatimu kau jaga saja

Itu surgamu

Juga nerakamu”

 

Buku puisi esai atau berbicara secara spesifik bait puisi esai di atas justru menegaskan bahwa “si pelakulah yang salah” karena “ia tak menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan baik dan benar”—bukan agama Islamnya yang dicemooh salah atau tak dibutuhkan.

Di dalam buku puisi esai lainnya, berjudul “Balada Aneta: Kesadaran dari Kesalahan” (2016), Denny bahkan menantang ortodoksi agama Katolik. Kita periksa bait berikut.

“Sebelum dirimu bersumpah

Menjadi sister katolik tak menikah

Nikmati dulu kenikmatan duniawi

Termasuk apel terlarang yang surgawi”

 

Salah satu syarat menjadi sister atau nun di Katolik adalah hidup selibat, tidak menikah dan tidak berhubun­gan seks. Namun, ternyata, tokoh kita, Aneta terjerembap ke jurang kenikmatan duniawi, termasuk memakan apel terlarang yang surgawi. Ia bermain seks dengan pacarnya dan tentu saja ia jadi tak perawan lagi.

“Apakah diriku kotor, ibu?

Tak lagi pantas untuk tugasku?

Aku yang tak lagi perawan

Masih sucikah membawa misi Tuhan?”

 

Ini pengakuan si Aneta, sang gadis yang telah ternoda. Maka dijawablah segera oleh Ibu Nun.

“Membuat kesalahan

Yang kemudian berbuah kebaikan

Lebih tertanam di hati

Menuju kebaikan lebih tinggi”

 

Jika dicermati secara khidmat, maka indeksikalitas fiksional Denny dalam puisi ini bukan semata melanggar ortodoksi agama Katolik, pun namun melegalkan perbuatan salah sebagai perilaku manusiawi lazim saja. Rumusan bersahajanya seperti ini: perawan (kesucian dara)à (kecelakaan) tak perawanàtak apa-apa (never mind). Setelah ucapan “tak apa-apa”, perlu kiranya diberi tanda tanya (?).

Masalah gay pun digugat dalam buku puisi esai “Ustaz yang Gay: Nature vs Nurture” (2016). Problem gay atau LGBT secara holistik digugat oleh Denny sebagai bentuk anti diskriminasi. Gay itu masalah genetika yang wajar dan lingkungan berperan tak seberapa dalam memengaruhi ke-gay-an seorang lelaki. Jadi, berilah pengertian yang memadai kepada kaum gay berikut kebebasan dirinya yang menderita secara genetik. Padahal, dalam kajian sosiologis, agen sosial itu terdiri dari 4 pihak: genetika, teman bermain, sekolah, dan media massa. Genetika disepakati hanya berpengaruh sekitar 25% saja terhadap perubahan watak seorang individu. Sedangkan, 75% lainnya dipengaruhi oleh teman bermain, sekolah, dan media massa. Maka isu gay yang diusung oleh Denny dalam puisi esai di atas agaknya perlu diteliti ulang kesahihannya.

Dalam kajian psikoanalisis, seorang lelaki menjadi gay bahkan bukan karena genetika dan lingkungan, tapi secara psikologis lebih kepada merasakan zona-zona erotis (erotogenik [anal]) yang gagal dalam fase kompleks-Oedipus. Menurut Sigmund Freud (dalam Eagleton, 1996), jika anak lelaki tak berhasil mengalahkan kompleks-Oedipus, kapasitas seksualnya untuk peran demikian bisa saja hilang: ia bisa saja menjunjung citra ibunya di atas semua perempuan lain, yang bagi Freud dapat mengakibatkan homoseksualitas. Atau kesadaran bahwa semua perempuan “dikastrasi” mungkin telah membuatnya trauma dengan begitu dalam sehingga ia tidak sanggup menikmati hubungan seksual yang memuaskan dengan mereka.

Soal bahagia dan agama pun tak lepas dari bidikan Denny dalam buku puisi esainya, yakni berjudul “Terkejut oleh Riset: Bahagia dan Agama” (2016). Dasar pemikirannya telah diungkapkan sekilas di muka. Seyogianya, kita kutip ulang paragraf krusial itu:

Berdasarkan data SDSN (PBB) pada 2015, negara yang paling tinggi indeks bahagianya, justru bukan “negara agama”. Yang tertinggi justru “negara Eropa Barat” (alias “negara non-agama” [?]), seperti Denmark, Swedia, dan Kanada. Terdapat tendensi alamiah, kian giat secara resmi agama berperan di dunia publik, maka kian tidak berbahagia warga negara.

Secara impresionistik, ide pokok paragraf di atas terdapat dalam bait-bait puisi esai “Terkejut oleh Riset: Bahagia dan Agama” (2016). Yang patut dicatat ialah dalam sebuah buku Psikologi Agama, diutarakan bahwa kita harus pandai membedakan mana “kesenangan” (pleasure) dan mana “kebahagiaan” (happiness). Pleasure berkaitan dengan kenikmatan jasmaniah: kekayaan, kemakmuran, makanan, minuman, seksualitas, bahkan nilai-nilai hidup yang bersifat kamuflase atau manipulatif atau tak sungguh-sungguh ikhlas. Bahkan dalam agama Islam kata “kebahagiaan” (happiness) saja masih dipermasalahkan: yakni bahagia di dunia saja atau bahagia di dunia dan di akhirat. Orang beruntung ialah orang yang memilih bahagia dari dunia sampai akhirat. Jadi, data SDSN (PBB) pada 2015 itu sukar dipercaya karena hal-hal yang bersifat rohaniah mustahil dapat dihitung dengan angka-angka/pukul rata statistik karena ini bersifat kualitatif bukan kuantitatif. Sampai derajat penjelasan ini, tentu saja hasil riset itu kini tampak bias, diragukan tingkat validitasnya.

Ada banyak yang ingin diungkapkan. Akan tetapi, kiranya apa yang telah disuguhkan di atas telah cukup menyampaikan berbagai indeksikalitas fiksional buku-buku puisi esai Denny.

Sebagai yang tengah membela perspektif liberal dan nilai-nilai/prinsip hak asasi manusia universal, Denny tampak sedang melakukan dua hal: 1) menggugat kemapanan religiositas secara “antitesis”, dan 2) merayakan sekaligus membagi “kelakar” intelektual dirinya kepada khalayak ramai.

Satu hal, kita ingat pesan filsuf Plato untuk poin 1: “Pemikiran komprehensif selalu bersifat dialektis.” Apakah Denny sudah siap menanggung risiko antitesis-nya itu? Hal lain, untuk poin 2, masih seru Plato: “Orang pandai tak pandai berkelakar, maka diragukan kepandaiannya.” Nah, apakah Denny sedang bersenda gurau terhadap dirinya sendiri?

Jangan cemas, dua pertanyaan terakhir itu dijawab oleh Denny J.A. sendiri lewat bait puisi berikut, diambil dari puisi esai “Menyelam ke Langit” (2015):

Tiada jawaban yang diterima di hati

Kecuali jawaban yang harus dibuatnya sendiri   

 

***

Dawpilar, 10 September 2016

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Eagleton, Terry. 1996. Literary Theory: An Introduction, 2n Edition. Massachusetts: Blackwell Publisher.

Peirce, Charles Sanders. 1965. Collected Papers, Vol. I and Vol. II (edited). Cambridge: Harvard University Press.

Teeuw, A. 2013. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Wellek, Rene, & Austin Warren. 2013. Theory of Literature (terj. M. Budianta). Jakarta: Gramedia.

Zoest, Aart van. 1991. Waar gebeurd en toch gelogen (terj. M. Sardjoe). Jakarta: Intermassa.

 

  • view 898