Cintai Manusia Saja: Kumpulan Puisi Soal Diskriminasi, Agama dan Cinta

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 17 September 2016
Puisi Agama dan Diskriminasi

Puisi Agama dan Diskriminasi


Kategori Puisi

19.2 K Tidak Diketahui
Cintai Manusia Saja: Kumpulan Puisi Soal Diskriminasi, Agama dan Cinta

Pengantar

CINTAI MANUSIA SAJA

(Kumpulan Puisi Soal Diskriminasi, Agama dan Cinta)

Denny JA

Jika kau besar nanti, anakku
Ingat pesan ibu selalu

Dimanapun dirimu berada
Apapun agama dan etnis di sana
Apapun paham yang ada
Cintai manusia saja

Ini cuplikan puisi berjudul Puisi Kaum Minoritas. Spiritnya mewarnai aneka gagasan dalam kumpulan puisi di buku kecil ini. Spirit puisi itu bahkan juga menjadi benang merah hampir seluruh karya budaya yang saya buat empat tahun terakhir: dua film layar lebar, lima film pendek, 25 buku puisi, 1 lagu, 44 lukisan digital, karya teater, 50 video opini dan satu buku riset Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Saya berangkat dari jejak seorang aktivis yang tergetar oleh gagasan hak asasi manusia dan demokrasi. Setelah 18 tahun era reformasi, Indonesia tercatat sebagai satu dari tujuh negara terburuk dunia soal toleransi.

Pew Research Center 2014 mengukur itu berdasarkan dua kategori. Pertama dilihat dari kebijakan pemerintah (government policies). Ratusan perda (peraturan daerah) diskriminatif bertebaran di aneka kabupaten, kota dan propinsi Indonesia.

Kedua, dilihat dari toleransi antar komunitas (social hostilities). Dalam tahun belakangan ini betapa segregasi dan diskriminasi semakin ketara, tak hanya di arus bawah, namun juga di kampus berwibawa. Serangan terhadap minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, kristen di wilayah Muslim, atau Muslim di wilayah Kristen, semakin menyala.

Saya ikut berikhtiar memimpikan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Namun ikhtiar yang bisa saya lakukan sebatas yang saya mampu. Salah satunya lewat karya budaya: puisi, lukisan digital, film, teater dan lagu.

Sudah begitu banyak riset akademik yang saya buat melalui LSI. Sudah ratusan kolom saya tulis sejak aktivis mahasiswa. Namun karya seni lebih cepat menyentuh hati.

Saya mengapresiasi aneka variasi puisi yang ada. Namun saya memilih puisi dengan gagasan untuk agama yang ramah dan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Dalam taman puisi yang kaya, saya sengaja memilih dan membatasi diri untuk lahan itu saja.

Sudah 25 buku puisi saya tulis dengan tema itu. Sebanyak 23 buku gagasan itu dituangkan dalam bentuk puisi esai: puisi panjang, berbabak sebagaimana cerpen, berdasarkan riset dan banyak catatan kaki.

Satu buku dalam bentuk puisi mini multi media. Ini jenis puisi era digital. Jumlah katanya tak melebihi 144 karakter menyesuaikan dengan dunia twitter. Namun puisi ini dimulti-mediakan, agar tak hanya ada kata, tapi juga gambar, suara dan gerak.

Buku puisi yang sekarang ada di tengah: tak sepanjang puisi esai, dan tak sependek puisi mini multi media. Ia seperti puisi pada umumnya.

Rentang waktu penulisan puisi ini sejak tahun 2014-2016. Seringkali puisi ini ditulis untuk merespon situasi yang sedang berlangsung. Misalnya kasus pembakaran rumah ibadah. Atau kasus personal soal seorang sahabat pejuang yang wafat. Atau juga renungan agama ketika Idul Adha.

Semula 32 puisi ini tersebar saja di social media. Namun saya terpikir ada baiknya 32 puisi ini dikumpulkan dalam satu buku kecil. Awalnya untuk memudahkan pembacaan puisi peringatan hari toleransi 16 november, hari hak asasi manusia 10 desember, dan hari sumpah pemuda Indonesia yang bhineka 28 oktober.

Aneka puisi saya acapkali dibacakan mengawali pertemuan komunitas. Dengan adanya buku ini, lebih mudah puisi tersebut diakses, terutama versi onlinenya.

Seperti Nabi Ibrahim
Berkurbanlah kamu
Sembelihlah hewan
Yang bersembunyi dalam hatimu

Di samping gagasan sosial, renungan personal soal hidup juga mewarnai buku puisi kecil ini

September 2016

 

  • view 564