Balada Pendakwah MT

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Project
dipublikasikan 15 September 2016
Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya

Kumpulan Puisi Soal Cinta dan Lainnya


Kategori Puisi

101.4 K Tidak Diketahui
Balada Pendakwah MT

Balada Pendakwah MT
(MT: Maryo Teddy)
Denny JA

Anak-anak sedunia
Bersatulah!
Kita lawan para ayah durhaka
Tak akui anaknya
Padahal mereka membesarkannya
Padahal belum ada test DNA

Demikianlah berita itu
Sejak kemarin terus menyerbu
Menyerang ke segala penjuru
Termasuk ke rumah Dudu, Sang Guru

Orang- orang berkumpul ke depan
Mereka rapatkan barisan
Garang koor bersama:
Bersatulah!
Lawan ayah durhaka!

Sebagian dari mereka juga pendosa
Ada koruptor
Ada penzinah
Ada tukang copet
Namun mereka pernah menjadi anak
Ada pula sudah menjadi ayah
Mereka benci ayah durhaka
Sebagaimana anak durhaka

"Kami juga pendosa,"
ujar mereka
"Namun menjadi ayah durhaka
atau anak durhaka
Itu ibu dari segala dosa
Melawan yang durhaka
Wajib hukumnya"

Ada yang membawa batu
Ada yang pegang kayu
Semua ingin menyerang
ingin terjang, ingin serang

-000-

MT namanya
Maryo Teddy kepanjangannya
Ia seorang pendakwah
Pesohor di seluruh dunia

Nasehat menjadi mantra
Itulah kekuatannya
Ingin bahagia?
Ingin masuk surga?
Ingin ubah derita?
MT punya kuncinya

"bla-bla- bla"
Demikian MT bersabda
"Yang penting itu cinta
Tanggung jawab itu utama"

Semua penggemar
Koor sampai nanar
Ikut MT punya mantra
"bla bla bla
Yang penting itu cinta
Tanggung jawab itu utama"

MT sang pendakwah
Disukai dimana-mana
Dari selatan hingga utara
Ia malaikat yang menjelma

-000-

Sampai suatu era
Seorang gadis tampil dimuka
Ia mengaku MT ayahnya
Namun MT tak menyantuninya
Bahkan tak mengakuinya

Ia tunjukkan fotonya bersama Ayah
Ia tunjukkan akte kelahirannya
Ia tunjukkan ibunya
Yang juga ditingal ayahnya

Gadis itu bercerita
dengan linangan air mata
Betapa MT sang pendakwah
Beda perbuatan dan kata

Pro dan kontra terjadi
Ramaikan seluruh negri
Benarkah sang gadis yang malang?
Ia Anak MT, pendakwah tersayang?

Publik yang sayang anak
Terus saja bergerak

Para pewarta
Mengkorek berita
Makin terkorek itu berita
Makin bopeng MT punya wajah

Para pebisnis
Mulai sinis
MT punya bisnis ikut dikikis
Harta MT mulai habis

Para ahli hukum
dengan senyum yang dikulum
mencari lubang jarum
agar MT dihukum

MT mencoba melawan
Mulutnya mulai sariawan

Ia sampaikan mantra
Yang dulu mempesona
"bla-bla-bla
bli-bli-bli
blu-blu-blu
blo-blo-blo"

Namun tiada lagi yang peduli
"Lihat prilakumu sendiri"
ujar yang ini
"Buka topengmu"
ujar yang itu

MT terkaget: astaga
Ia pun terkencing di celana

-000-

Hari berganti hari
Di malam yang sepi
MT menyelinap pergi
Ia menghadap Dudu, Sang Guru
Lidahnya kelu

MT juga manusia
Ia teteskan air mata
"Ampun guru," ujarnya
"Berikan petunjukmu," pintanya

"MT, anakku"
Ujar sang guru
"Bukan dirimu pribadi
Yang tak mereka sukai"

Ini peradaban yang marah
Tak suka semua yang durhaka
Tak suka anak durhaka
Tak suka ayah durhaka
Tak suka ibu durhaka
Tak suka politisi durhaka
Tak suka ulama durhaka
Tak suka negeri durhaka

Apa arti durhaka, guru?
bantah MT ragu
KItab suci sudah kubaca
Sudah kusimak kamus bahasa
Perkara durhaka
Dengan kasusku berhubung tiada

Ujar Sang Guru teduh
"Nak, baca pula hati nuranimu
Itulah sumber yang asasi
Itulah yang menjadi inti"

Durhaka itu sikap hidup
Dari zaman yang redup
Yang utamakan hal duniawi
Yang kalahkan hal manusiawi

Kening MT diciumnya
Bisiknya bertenaga
"Kembalilah ke inti
Utamakan yang manusiawi"

Meja, kursi dan pintu
Lampu, jendela dan tungku
Semua di rumah Dudu Sang Guru
Koor bersama:
"Kembalilah ke inti
utamakan yang manusiawi"

MT terpana
Menangis sejadinya

Air matanya tumpah
Menjadi samudra

MT hanyut dalam air bah
Mesin waktu membawanya ke masa silam
Masa yang lama

Ketika tersadar
Ia tengah mengendong gadis itu
yang mengaku anaknya
gadis itu masih bayi
baru sebulan usianya

MT menangis
Dipeluknya bayi itu
Tak ingin ia lepas lagi
Ia teringat petuah Sang Guru
"Kembali ke inti
Utamakan yang manusiawi"


Sept 2016
(Hanya sebuah fiksi)

 

 

 

 

 

  • view 372