Bunga Penutup Abad, Pramudya Ananta Toer

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Review Film

Review Film


Merenungkan isu besar film

Kategori Fiksi Umum

61.2 K Wilayah Umum
Bunga Penutup Abad, Pramudya Ananta Toer

Bunga Penutup Abad
Denny JA

(Dengan tulisannya, Sang Pemula, ikut mengawali kebangkitan Indonesia)

Semalam saya berjumpa kembali dengan Pramudya Ananta Toer lewat lakon teater Bunga Penutup Abad persembahan Yayasan Titian Penerus Bangsa.

Kembali saya berjumpa dengan tokoh Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, tokoh dalam 4 novel utama Pram: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Jejak Langkah.

Saya teringat masa mahasiswa, tiga puluhan tahun lalu. Dulu di ujung tahun 80-an, membaca novel itu harus diam-diam, rahasia. Tidak lewat buku aslinya, tapi lewat foto kopi yang beredar di kalangan aktivis mahasiswa. Maklum saat itu, Orde Baru sedang di puncak cengkraman. Novel Pram menjadi buah terlarang.

Yang membuat karya Pram bernilai tinggi karena ia tidak hanya bercerita tentang drama, tapi sejarah awal kebangkitan bangsa Indonesia. Minke dalam novelnya itu adalah fiksi dari Tirto Adhi Soerjo, Sang Pemula.

Jauh sebelum Soekarno-Hatta, dan sebelum HOS Tjokroaminoto, Minke (Tirto) medirikan organisasi pertama: Serikat Priyayi. Ia juga mendirikan pers pribumi yang pertama: Medan Priyayi.

Karena perlawanannya yang keras terhadap kolonial Belanda, juga idealismenya membongkar bobroknya bupati pribumi, ia disingkirkan. Ia berselisih dengan suami RA Kartini dan keluarganya, bupati Rembang Djojo Adiningrat. Ia dibuang ke Ambon, usaha medianya bangkrut, dan namanya dihapuskan dari memori publik.

Pramoedya mengangkat kembali tokoh ini lewat fiksi Minke. Pelan-pelan Tirto Adhi Soerjo dihargai kembali, kini diakui sebagai pahlawan nasional. Ia pun ditasbihkan sebagai bapak pers nasional.

Tentu saja kisah sejarah ini tak muncul dalam drama teater semalam. Lakon Bunga Penutup Bangsa hanya mencuplik satu babak dari kisah Minke - Annelies- Nyai Ontosoroh.

Cukup tergambar di sana gagasan besar novel Pram: betapa sehebat hebatnya wanita pribumi (Nyai Ontosoroh) ia tak berdaya menghadapi hukum kolonial yang diskriminitif kepada wanita lokal. Betapa hanya dengan belajar dan menulis, kaum pribumi dapat meningkatkan status sosialnya.

Juga perubahan orientasi politik Minke. Awalnya Minke hanya ingin menulis baik saja. Disentak oleh sahabatnya yang pelukis, Minke mulai berpikir membangkitkan kesadaran kaum pribumi untuk melawan situasi. Menulis baginya berubah menjadi alat perjuangan.

Seandainya ada yang perlu dikritik dari lakon ini, ia belum berhasil menggugah emosi penonton lebih dalam. Dramatisasinya kurang berhasil untuk novel sebesar Novel Pram. Juga peran sosial Minke yang besar kepada lingkungannya kurang diberi porsi cukup.

Namun secara keseluruhan, ia tetap menjadi pentas yang enak ditonton. Walau bagi penonton yang belum membaca novel Pram, terlalu lama meraba-raba untuk akhirnya "tune-in" dengan lakon.

Sebelum pertunjukan, di meja resepsionis, digelar aneka buku Pramudya. Saya membeli semua buku yang ada. Teringat masa mahasiswa, begitu susah buku ini ditemukan. Kini buku itu tersaji bebas saja.

Tapi sayapun tersenyum. Seandainya dulu buku ini bisa mudah dicari, mungkin saya juga memilih meminjam dari teman saja. Maklum sebagai aktivis kere saat itu, membayar uang kuliah saja harus menabung dulu dari honor tulisan di koran.

Dari Pramudya, kutipan itu yang selalu saya ingat: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kutipan Pram itu membuat saya selalu mencari waktu untuk terus saja menulis, seperti burung yang berkicau.

Pulang dari menonton lakon Pram: Bunga Penutup Bangsa, duduk di mobil, banyak memori masa aktivis mahasiswa, muncul kembali.

Agustus 2016

  • view 422

  • Simfoni Negeri
    Simfoni Negeri
    1 tahun yang lalu.
    Keren sekali Mas Denny. Saya baru membaca sampai Jejak Langkah. Pram sungguh luar biasa. Tiada setiap paragraf yang tidak menggambarkan karakter penulis. Tidak ada kata dan kalimat sia-sia.
    Walaupun novel 700an halaman, saya tetap tidak lelah membacanya berhari-hari.