Agama Cinta: Jalaluddin Rumi dalam Lukisan Digital

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Agama Cinta: Jalaluddin Rumi dalam Lukisan Digital

AGAMA CINTA:
JALALUDDIN RUMI dalam Lukisan Digital

Denny JA

Mengapa Jalaluddin Rumi menjadi penyair paling populer di Amerika Serikat (AS) saat ini? Padahal Ia sudah wafat lebih dari 800 tahun lalu. Ia juga berasal dari komunitas Muslim. Sementara Islam kini menjadi agama paling tidak populer di AS, dibandingkan agama besar lain.

BBC Culture Oktober 2014 mencoba mengulasnya, walau hanya sepintas. Buku puisi Rumi terjual jutaan kopi di AS, melampaui penyair kontemporer paling hebat dunia barat sekalipun. Puisinya dibacakan bukan saja di mesjid, tapi juga di gereja, sinagog dan universitas.

Yang membaca puisi Rumi bukan hanya komunitas sastra serius. Para selebriti dunia ikut membacanya, seperti Madona, Demi Moore, Depak Chopra.

Ada apa dengan Rumi? Namun yang lebih penting lagi, ada apa dengan kita yang tetap menyukai penyair dari abad pertengahan itu?

-000-

Andrew Harvey seorang akademisi agama banyak menulis soal Jalaluddin Rumi. Ujarnya, Rumi mengkombinasikan tiga hal sekaligus. Ia mempunyai visi spiritual yang mendalam sekelas Budha atau Jesus. Ia juga memiliki renungan intelektual yang luas seperti Plato. Dan Ia juga mahir dalam menemukan kata-kata indah seperti Shakespeare.

Gabungan ketiganya membuat Rumi bukan saja relevan bagi dunia modern. Namun kedalaman visi spiritualnya, keluasan daya jangkau intelektualnya, dan keindahan puisinya tetap sulit terlampaui oleh penyair lain.

Rumi lahir di tahun 1207, di kota Balkh, yang sekarang ini menjadi wilayah Afganistan. Di usia 37 tahun, ia berjumpa dengan Shams Tabrizi, seorang mistikus. Selama tiga tahun mereka intens sekali berhubungan. Setelah itu, Shams menghilang tanpa jejak dan berita.

Aneka analisa dibuat untuk menjelaskan hubungan Rumi dan Shams Tabrizi. Sebagian menyatakan Shams adalah guru spiritual yang sangat dikasihi Rumi. Kepadanya Rumi banyak sekali belajar. Perjumpaan keduanya sering dikisahkan dengan aneka hal gaib.

Satu versi menyatakan Shams datang ketika Rumi sedang membaca buku. Shams bertanya apa yang anda baca. Dengan tak peduli Rumi menjawab, "anda tak akan mengerti."

Lalu oleh Shams buku itu ia buang ke Sungai. Terburu Rumi menyelamatkan buku itu yang terendam di sungai. Ia kaget bukan kepalang. Ternyata buku itu sama sekali tidak basah.

Rumi balik bertanya kepada Shams: mengapa buku ini tidak basah? Padahal buku ini kau ceburkan ke sungai? Shams menjawab seperti jawaban Rumi sebelumnya: Anda tak akan mengerti.

Hubungan Rumi dan Shams begitu intens dan mesra. Sebagian menyatakan Shams adalah kekasih homoseksnya. Hilangnya Shams bahkan digosipkan karena ia dibunuh oleh orang dekatnya Rumi akibat kisah cinta homoseksual itu. Tapi tak pernah ada kepastian kebenaran soal homoseks tersebut.

Perjumpaan dengan Sham dan hilangnya sang guru secara misterius menjadi api dan bara dua buku penting Rumi: Divan-e Shams dan Masnavi. Dua buku puisi ini buah perjalanan batin Rumi hampir 30 tahun, dari saat ia berusia 37 tahun, saat pertama berjumpa dengan Shams, sampai kematiannya di usia 66 tahun.

Divan- e Shams buku cinta Rumi kepada Sang Guru. Kadang Sang Guru di sini berbentuk Shams Tabrizi. Kadang Sang Guru itu kiasan dari Tuhan. Buku ini terdiri dari 3,229 puisi dengan jumlah kalimat sebanyak lebih dari 40 ribu.

Sementara Masnavi puncak dari karya Rumi tentang perjalanan spiritual yang lebih umum. Masnavi dikerjakan Rumi lebih dari 15 tahun. Ia terdiri dari enam buku. Buku keenam tak kunjung selesai ketika Rumi wafat. Total buku Masnavi terdiri lebih dari 50 ribu baris.

-000-

Tapi mengapa Rumi penyair yang wafat 800 tahun lalu tetap menjadi penyair paling populer di masa digital kini?

Tentu analisa bisa beragam. Salah satunya manusia modern era digital semakin menjadi desa global. Mereka membutuhkan landasan spiritual dan moral universal bersama untuk semua. Ilmu pengetahuan sudah memberikan banyak. Namun kebutuhan meaning of life bagi sebagian tak bisa dipenuhi semata oleh ilmu pengetahuan.

Dunia modern tetap menyediakan agama dan aneka kepercayaan. Tapi ketika agama yang ada semakin menjadi formal dan melahirkan sekat-sekat primordial, sebagian membutuhkan spiritualitas yang mengatasi sekat itu.

Rumi menjadi suara spirtualitas universal yang melampaui sekat. Walau datang dari tradisi Islam, Rumi mampu membuatnya universal, tanpa batas  primordial. Dalam bahasa Rumi, ia menyelam jauh ke akar dari akar dari akar agama sehingga sampai pada hati yang menyatukan semua manusia.

Puisinya tidak memihak satu agama, seperti, "Agamaku adalah cinta. Setiap hati rumah ibadahku." Atau ketika Rumi menulis, "Kucari Tuhan di Candi, Gereja dan Mesjid. Namun kutemukan Tuhan justru di dalam hatiku." Bahasa cinta Rumi gunakan. Itu membuatnya universal melampaui formalitas agama.

Banyak pula penyair dan pemikir lain menyatakan hal yang sama dengan Rumi. Namun Rumi tetap yang paling mampu merumuskannya dengan sederhana, dalam dan indah.

-000-

Persoalannya dimana mencari buku Divan dan Masnavi itu? Seandainyapun ia mudah ditemukan di era internet, siapakah yang cukup menyediakan waktu membaca total sekitar 100 ribu baris puisi?

Padahal banyak sekali renungan indah dalam dua buku besar itu. Selama ini dua buku besar itu hanya dibaca oleh akademisi yang berminat atau penikmat sastra yang serius saja.

Bagaimana dengan jutaan orang awam yang tak punya minat sebesar itu? Mereka tak punya waktu sebanyak itu? Namun mereka tetap memerlukan pencerahan yang sama?

Tiada yang mengatur atau merekayasanya. Setiap kebutuhan akan melahirkan responnya. Kini bertebaran di internet aneka kutipan dan potongan puisi Rumi. Bahkan sebagian sudah divideokan.

Sayapun ikut ikhtiar ini. Awalnya ia menjadi hobi belaka dan pengisi waktu luang saja. Namun semakin saya intens bersentuhan dengan Rumi, semakin saya ingin mengerjakan sesuatu di sana secara lebih serius.

-000-


Saya bukan pelukis, tak berniat dan tak pula berbakat menjadi pelukis. Saya hanya membutuhkan medium yang pas, sebagai ekspresi batin saja.

Sayapun tak bermasalah jika keseluruhan karya yang disajikan dalam buku kecil  ini disebut coretan digital belaka, yang belum bernilai seni. Atau ada yang mengkategorikannya sebagai lukisan digital, atau seni editing foto, atau puisi bergambar, atau gambar berpuisi. Namun saya lebih senang menyebutnya Lukisan Digital Berpuisi.

Semua karya yang saya buat tak pula dimaksudkan untuk aneka target besar: mencerahkan dunia, dan sebagainya, dan sebagainya.

Karya ini dibuat hanya sebagai ekspresi batin saja. Setelah melalui aneka tahap, bentuk seperti sekarang itu yang paling sesuai dengan kebutuhan ekspresi saya.

Di dalam 44 karya itu, selalu ada kutipan puisi dari Jalaluddin Rumi. Kutipan puisi posisinya paling sentral sebagai pesan karya.

Walau sebagi teks kutipan saja, isi puisi sudah sangat kuat. Namun tambahan visualisasi akan semakin memperkaya. Apalagi gambar dapat menceritakan seribu kata, ujar peribahasa.

Saya tak melatih diri dengan ketrampilan melukis, memakai kuas, pensil, atau apapun. Namun software komputer sudah memudahkan siapapun untuk berkreasi dengan foto, warna, bentuk, dengan begitu cepatnya.

Toots komputer bisa menggantikan sapuan kuas dan arsir pensil. Layar handphone bisa menggantikan kanvas. Cak minyak, teknik arsir atau tinta air bisa digantikan oleh ikon warna di software.

Obyek foto juga tersedia dengan aneka topik dan aneka ragam di internet. Saya menggunakan semua obyek yang ada di internet selaku perpustakaan terlengkap yang pernah ada. Semua foto yang digunakan dalam 44 karya ini juga bukan karya saya. Mereka dari internet dan saya olah, gabungkan, edit, untuk mendapatkan imaji baru, agar sesuai dengan pesan puisi.

-000-

Siapakah yang disasar oleh karya ini? Saya bahkan tak memikirkan kepada siapa karya ini diperuntukan. Ibarat burung, saya berkicau saja menikmati pagi dan sore. Saya hanya mengekspresikan suasana batin saja setelah membaca puisi Rumi.

Namun setelah karya selesai, tergambar segmen publik bagaimana yang sesuai dengan karya ini. Tentu pastilah  pasar yang sesuai bukan komunitas seni yang serius. Bukan pula para kritikus yang sudah matang dengan tekak tekuk teori dan sejarah lukisan. Itu semua jatahnya para seniman sejati, yang hidupnya memang total untuk seni.

Yang mungkin paling bisa menikmati karya saya adalah publik awam biasa. Mereka tak tak punya waktu panjang untuk membaca utuh Karya Rumi. Namun renungan Rumi harta tak ternilai untuk santapan rohani.

Mereka memang tak bisa hidup hanya dengan roti belaka. Mereka butuh renungan, sentuhan hati, inspirasi dan meaning of life.

Namun mereka hanya punya waktu 3-10 menit untuk menikmati sebuah karya. Mereka tak bisa dan tak bersedia misalnya menghabiskan 5 jam untuk intens membaca sebuah buku puisi atau novel.

Segmen ini asyik didekati dengan kutipan renungan yg diperkaya oleh photo Art, atau visual art.

Tapi apakah karya yang saya buat ini ada gunanya? Adakah manfaatnya? Ada guna atau tidak itu biarlah menjadi "kesunyian masing-masing." Seperti kata Rumi: "Berkicaulah seperti burung. Tak usah peduli apakah ada yang mendengar. Tak usah peduli apa yang mereka pikirkan."

Karya ini awalnya memang hanya hobi saja. Namun alhamdulilah jika bisa menyentuh hati satu orang sekalipun.***

Agustus 2016