Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 24 Juli 2016   08:48 WIB
Donald Trump dan Amerika yang Berubah

Donald Trump dan Amerika yang Berubah?

Denny JA

Apa yang terjadi dengan publik Amerika saat ini? Mengapa Donald Trump, tokoh dengan visi gelap bisa memenangkan konvensi Partai Republik? Mengapa tokoh yang menggaungkan the politics of fear and hatred, bisa mengalahkan 16 calon presiden Republik lainnya, dan menang di 37 negara bagian?

Pertanyaan ini mengganggu pikiran saya saat menonton pidato penerimaan (acceptance speech) Donald Trump dalam Konvensi Partai Republik, 21 Juli 2016. Selama sekitar 1 jam 15 menit, pidato yang termasuk terpanjang untuk sebuah konvensi partai, Trump acapkali mendapatkan standing applause dari ribuan delegasi.

Ketika Trump mencalonkan diri dan mengangkat politic of fear and hatred, politik yang mengekspresikan aneka ketakutan, kekhawatiran, kebencian bahkan rasialis, itu persoalan Trump pribadi. Namun ketika dengan isu itu Trump memenangkan nominasi Partai Republik, itu sudah menjadi soal publik di Amerika.

Terjadi perubahan mendasar dalam batin politik Amerika masa kini karena tokoh seperti Donald Trump bisa menang dan dipilih.

-000-

Politics of fear and hatred mewarnai seluruh pidato Trump. Dalam konvensi partai Republik malam itu, pidato tersebut menjadi kulminasi isu dan agenda yang ia gaungkan di masa kampanye. Sudah sejak 16 juni 2015 tahun lalu, Trump konsiten dengan platform itu.

Struktur argumennya cukup standard. Namun dalam pidato malam itu, visi gelap ini dilengkapi dengan data dan fakta sehingga nampak canggih dan sahih.

Trump selalu memulai dengan paparan Amerika kini sedang dalam krisis ekonomi dan kekerasan. Ruang publik dan komunitas tak lagi aman. Peredaran narkoba, pemerkosan, penembakan membabi buta, hingga terorisme mengancam keluarga Amerika.

Penyebab kondisi ini selalu dtumpahkan kepada empa target: dibiarkannya imigran gelap membanjiri Amerika, dibiarkannya muslim yang tak toleran di ruang publik Amerika, lemah dan buruknya pemerintahan Obama dan calon demokrat Hillary Clinton yang tidak fit memimpin Amerika saat ini.

Ujar Trump: "Serangan kepada para polisi kita, terorisme di kota kita sudah mengancam kenyamanan hidup warga negara. Kita melihat kekerasan terjadi di jalan dan ruang publik. Kita melihat suasana kaos dalam komunitas kita. Bahkan banyak orang yang kita kenal secara pribadi menjadi korban. Pemimpin yang tak sadar hal ini tidak fit, tidak cocok untuk memimpin Amerika."

Hadirin riuh tepuk tangan. Mereka meneriakkan slogan Law and Order, Law and Order atau USA, USA.

Datapun dihidangkan. Pembunuhan tahun lalu meningkat 17 persen di 50 kota terbesar Amerika. Ini adalah kenaikan kekerasan terbesar selama 25 tahun terakhir.

Di ibu kota negara, pembunuhan naik sekitar 50 persen. Bahkan mencapai 60 persen ujtuk wilayah dekat Baltimore. Di kampung halaman Presiden Obama sendiri, Chicago, pembunuhan (korban tembakan) menimpa 2000 korban di tahun ini saja. Dan 4000 orang sudah mati dibunuh sejak Obama menjadi presiden.

Polisi yang terbunuh dalam tugas kini meningkat 50 persen, dibandingkan tahun lalu. Lebih dari 180 ribu imigran ilegal terlibat kasus kriminal. Kini mereka melenggang bebas dan siap mengganggu kedamaian lingkungan kita.

Trump pun bercerita tentang Sarah Root, gadis 21 tahun. Ia baru saja tamat dengan GPA sempurna, rata rata nilai A (4). Sarah dibunuh oleh seorang mantan kriminal. Kini mantan kriminal itu kabur dan menggelisahkam banyak keluarga Amerika yang bisa saja menjadi korban berikutnya.

Sarah Root itulah tipikal keluarga Amerika, bukan para imigran gelap. Tapi Sarah Root sudah melayang nyawanya. Dan akan. muncul banyak kasus serupa jika leadership Obama dilanjutkan Hillary Clinton.

Trump juga mengeritik semakin banyaknya imigran dari Syria. Tahun ini saja mereka masuk ke Amerika meningkat 550 persen. Trump menkhawatirkan mereka membawa apa yang disebutnya dengan Islamic Terrorism.

Lebih dari 4 dari 10 warga Afrika Amerika hidup dalam garis kemiskinan. Dan 58 persen dari mereka kini menjadi pengangguran.

Dua juta populasi Latino hidup dalam kesengsaraan. 14 juta populasinya sudah sama sekali menjadi pengangguran.

Imigran yang miskin, apalagi yang datang secara ilegal, dan tidak menghayati sistem nilai Amerika, mereka menjadi sumber kriminal bagi keluarga Amerika saat ini.


Di bawah leadershipnya nanti, ujar Trump, Amerika akan aman kembali. Amerika akan jaya kembali. Amerika will be great again. Ia adalah kandidat untuk menegakkan law and order. Namun satu hal yang pasti dan selalu menjadi prioritasnya: utamakan rakyat Amerika, bukan imigran!

Hadirin kembali riuh tepuk tangan. Mereka berdiri. Yel-yel itu diteriakkan; Law and Order, USA, Put America First!

-000-

Reaksi pakar dan media utama umumnya negatif terhadap sosok Trump. Washington Post, misalnya menganggap justru Trump yang menjadi ancaman buat demokrasi Amerika, bukan imigran atau Muslim.

Dua hal yang dikritik pada Trump: tone politknya yang kurang positif: bernada mengancam kepada saingan politik, dan menyampaikan data dan fakta yang salah.

Delapan tahun lalu, misalnya, ketika Jhon McCain menjadi calon Partai Republik the politics and fear and hatred model DonaldTrump tak akan laku dan tidak dipilih oleh calon presiden.

John McCain memperlakukan saingannya dengan elegan. Ketika pendukungnya memainkan isu rasial kepada Obama, dan menyebut Obama keturunan Arab dgn agenda tersembunyi, McCain justu menenangkan. Menurut McCain, Obama warga negara Amerika yang bertanggung jawab. Ia hanya memiliki perbedaan mendasar dalam isu sosial saja.

McCain menjaga adab politik agar serangan ditujukan kepada gagasan saja. Jangan ada hujatan kepada pribadi. Itulah standard kompetisi politik tingkat tinggi di Amerika saat itu.

Trump mengubah mood kompetisi politik dengan nada mengancam memenjarakan saingannya jika ia menang. Ini model kompetisi yang mungkin hanya terjadi di Banana Republik, dunia ketiga.

Bahkan dalam serial kampanyenya, Trump beberapa kali menyatakan, jika ia menjadi presiden kelak, Jaksa Agung akan melacak Hillary. Sangat mungkin Hillary masuk penjara.

Dalam pidato malam itu di Konvensi Partai Republik, serangannya pada Hilary menjadi agenda utama.

Tuduh Trump, ketika Hillary menjadi pejabat negara, the secretary of state, secara ilegal Ia memindahkan emailnya ke private server, dan menghapus 33 ribu email. Akibatnya banyak data milik publik hilang dan membawa negara dalam bahaya. Ini sebuah tindakan kriminal yang tak ada preseden sebelumnya. Hilary harus didiskualifikasi sebagai pemimpin negara.

Mood negatif yang dibawa Trump, persoalannya tidak didukung oleh data yang sahih. Bahkan data yang nampak banyak disajikan dalam pidato malam itu, sudah diverifikasi oleh aneka pihak, termasuk oleh Presiden Obama sendiri, sebagai data yang salah, bias atau misleading.

Secara faktual Trump keliru jika menyalahkan imigran gelap sebagai penyebab utama kriminal Amerika. Hasil riset berulang-ulang menunjukkan kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang sejak lahir menjadi warga negara Amerika jauh lebih banyak dibandingkan yang dilakukan imigran, yang gelap sekalipun.

Secara faktual, Trump juga keliru jika menyalahkan dan ingin mengisolasi Muslim dari komunitas Amerika. Kaum Muslim di banyak negara, termasuk Amerika, juga menjadi korban terorisme. Bahkan Muslim menjadi korban dari labeling Islam ke dalam gerakan terorisme hanya karena segelintir pelaku yang mengatas namakan Islam.

Yang kurang diangkat oleh banyak pakar dan media justru mood rakyat Amerika sendiri. Apa yang terjadi dengan publik Amerika? Mengapa demagog dengan visi yang gelap bisa menjadi calon sebuah partai besar? Bahkan polling di akhir Juli 2016, Trump versus Hillary bersaing ketat sekali. Gagasan hitam yang dibawa Trump artinya disetujui banyak pemilih.

Visi gelap seperti Trump memang selalu ada di sepanjang sejarah, dan dimanapun. Namun selama ini di Amerika, mereka hanya kelompok yang sangat minoritas.

Di dalam partai Republik, mereka sering disebut segmen pemilih "Jacksonian." Ini tipe pemilih Partai Republik yang tak banyak menganalisa informasi. Umumnya mereka dari kalangan pendidikan rendah.

Jacksonian Republik selalu menyukai tokoh yang bisa menyederhanakan persoalan, berani, bertindak seperti jagoan koboi, dan pahlawan yang melindungi rakyat. Mereka menyukai Ronald Reagan yang acap menyebut negara komunis sebagai negara setan. Mereka menyukai film Rambo, serdadu Amerika yang sangat perkasa dan hebat menembak mati begitu banyak musuh. Merka menyukai McCartney yang ingin melindungi kemurnian ideologi Amerika dari infiltrasi ideologi asing komunisme.

Tentu mereka sangat menyukai dan pendukung fanatik tokoh Donald Trump. Mereka paling mudah termakan oleh jargon "Make America Great Again," tanpa terlalu menganalisa apakah plarform yang ditawarkan itu berangkat dari data dan kesimpulan yang benar dan sahih. Mereka mudah dirayu oleh pemimpin yang terkesan agresif bahkan ektrem sejauh bisa dipercaya punya kapasitas untuk melindungi.

Problemnya : Donald Trump memang masuk akal didukung minoritas. Tapi yang kini ada, Donald Trump didukung mayoritas pemilih partai Republik. Apa yang terjadi? Mengapa minoritas berubah menjadi mayoritas?

-000-

Cinta kepada figur yang terkesan kuat, agresif, bahkan ekstrem, yang dinilai cakap melindungi rasa aman memang produk Amerika di era dekade 2010.

Ini era populasi Amerika disuguhkan berita TV mengenai begitu seringnya kekerasan di dalam negri ataupun di luar negeri. Pelakunya seringkali diidentifikasi sebagai Islam, imigran atau imigran muslim.

Di akhir Juni bulan lalu; 49 orang mati dan 53 luka parah ditembak dalam sebuah klub malam Orlando. Penembaknya digambarkan dengan sosok muslim, imigran dan tidak menghayati way of life Amerika. Ia anti LGBT membunuh dalam rangka keyakinan agama.

Berita ini diulang-ulang, diperkaya, masuk ke ruang keluarga di rumah, atau di kamar tidur melalui TV. Ketika bangun tidur, membuka internet di handphone, berita itu pula yang m menjadi hit populasi Amerika, berhari-hari.

Sebelumnya berita kekerasan yang sama oleh imigran Muslim di Paris. Sebuah negara Eropa, pusat fashion dunia, berkali-kali kini diguncangkan oleh terorisme. Pelakunya selalu dihubungkan dengan esktrimis Islam, atau imigran Muslim.

Dalam dekade 2010 telah terjadi sekitar 20 serangan terorisme yang diatas namakan "terorist Islam." Kekerasan itu tak hanya terjadi di negara seperti Pakistan, Irak, Indonesia, api juga Swedia, Jerman, Paris dan Amerika sendiri.

Korbannya tak hanya aparat keamanan, tapi rakyat sipil biasa yang berada di kafe, stadium, kantor dan Mall. Pelakunya tak hanya warga asing, tapi warga negara sendiri: imigran yang sudah pula menjadi warga negara.

Inilah dekade ketika kekerasan atas nama agama, dan dilakukan imigran menjadi hit. Walau sebenarnya jauh lebih banyak kekerasan yang terjadi bukan karena alasan agama dan bukan karena imigran.

Kondisi ini yang membuat tokoh dengan visi gelap seperti Donald Trump kini bisa populer bahkan di Amerika Serikat sekalipun.

Amerika kini berada di simpang jalan. Akankah ia tetap menjadi kiblat demokrasi dunia dengan tidak memilih Trump sebagai presidennya? Ataukah Trump terpilih sebagai presiden AS yang ke 45, dan berhenti pula Amerika menjadi kiblat keberagaman dunia yang diidealkan?***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : Denny JA