Epilog: Mulailah Melangkah

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.8 K Hak Cipta Terlindungi
Epilog: Mulailah Melangkah

Epilog Buku Bahagia itu Mudah dan Ilmiah:
Mulailah Melangkah

Denny JA

Seberapapun jauh elang mengangkasa, ia mulai dengan kepakan sayap pertama. Untuk memulai hidup baru, kepakan sayap pertama cukup niat dan komitmen.

Apapun posisi sosial, ekonomi, pendidikan, gender, ras, suku dirimu saat ini; apapun ideologi dan agama yang dipeluk, dirimu bisa memulai hidup bahagia dan bermakna. Yang penting mulailah dengan kepakan sayap pertama: kencangkan niat, disiplikan diri dalam komitmen untuk hidup dalam Lima Habit dan Mindset Bahagia.

Miyamoto Mushashi juga memulai hidup barunya dengan niat dan komitmen. Di tahun 1600-an, usianya masih belasan. Ia masih bernama Takezo. Saat itu ia setuju dan ikhlas dirinya dikurung oleh sang mentor pendeta Budha: Tokuan Soho.

Sebelumnya, berhari-hari Takezo menghilang di hutan. Selaku remaja, ia sangat kasar, liar dengan enerji berlebih dan bakat samurai luar biasa. Begit banyak huru-hara penduduk desa karena ulahnya.

Ia dianggap titisan setan, sigap dan tangkas melukai siapa saja yang menghadang.

Tiada yang kuasa menangkap Takezo di hutan. Akhirnya pendeta Tokuan menawarkan diri mencari Takezo. Ia hanya bermodalkan suling dan sejenis tali tambang.

Mana mampu Tokuan mengalahkan Takezo dalam tarung samurai. Ia justru akan menaklukan Takezo dengan suara suling dan diskusi soal jalan hidup.

Demikianlah kisah dalam novel Miyamoto Mushashi karangan Eiji Yoshikawa. Tulisannya soal Mushashi pertama kali muncul di koran Asahi Shimbun, tahun 1935.

Pelan dan mendalam suara suling ditiup oleh Tokuan di tengah hutan, di atas batu sungai. Suara suling mendamaikan hati. Takezo ikut mendengar suling itu di tempat sembunyinya.

Perlahan Takezo mendekati sumber suling. Samurai tetap di tangan siap menebas siapapun yang akan menangkapnya. Namun Takezo terpana. Pendeta Tokuan tenang dan menenangkan. Ia dengan damai menyambut Takezo dalam suasana yang sangat bersahabat.

Mereka berdiskusi, berdialog. Setelah percakapan sangat panjang, Takezo bersedia dibawa pulang ke desa. Ia mengikat dirinya sendiri. Kekuatan kata dan kepercayaan pada Tokuan membuatnya ikhlas berserah diri.

Penduduk desa heboh. Bagaimana mungkin Takezo bisa dikalahkan oleh seorang pendeta Buddhis yang tak tahu cara bermain samurai?

Atas permintaan Tokuan, Takezo tidak diperlakukan seperti umumnya penjahat. Takezo dihukum di ruangan saja, untuk membaca dan merenung. Diskusi intensnya dengan Tokuan telah menjadi virus. Takezo ingin memulai hidup baru.

Berhari-hari Takezo membaca dan merenung. Keluar dari kamar, iapun lahir dengan jiwa baru, seorang samurai, dengan hidup yang lurus. Takezopun berubah menjadi Miyamoto Mushashi.

Awal dari hidup baru Mushashi memang cukup niat dan komitmen untuk menerima habit dan mindset seorang samurai sejati. Takezo tidak melatihnya ilmu pedang, tapi ilmu hidup seorang samurai sejati.

-000-

Untuk hidup berbahagia dan bermakna, kitapun membutuhkan ilmu hidup samurai sejati, tapi dari jenis yang lain. Di awal dan dalam keseluruhan buku, hal itu sudah dieksplorasi.

Mulailah hidup sesuai dengan lima habit dan mindset bahagia: 3P + 2S: Personal relationship, Positivity, Passion (3P), Small winning serta Spritual life (2S). Ini lima fondasi hidup bahagia hasil riset akademik.

Yang baru dalam empat puluh tahun terakhir, prinsip bahagia dirumuskan melalui serial riset aneka lembaga dan individu peneliti. Aneka disiplin ilmu, mulai dari psikologi, sosiologi, ekonomi, politik, hingga neuro-science bersinerji merumuskannya.

Prinsip habit dan mindset bahagia tak lagi hanya bertumpu pada spekulasi filsafat atau kerangka berpikir teoritik semata. Juga ia tak lagi semata bersandar wejangan dari langit (wahyu, kitab suci). Prinsip bahagia kini dirumuskan, dibantah, diperkaya melalui puluhan riset.

Setelah membaca dan merenungkan aneka temuan ilmiah itu, tahulah kita. Untuk hidup berbahagia dan bermakna, tak perlu lagi kehadiran guru sakti atau pendidikan panjang. Ia bisa ditempuh dengan cara mudah dan ilmiah. Sesuai dengan judul
buku kecil ini: Bahagia itu Mudah dan Ilmiah.

Inilah spritualitas di era Google. Era dimana kita tak memerlukan agama baru, tak memerlukan teologi baru, tak memerlukan nabi baru, untuk hidup bahagia dan bermakna. Yang diperlukan hanyalah niat dan ketekunan individu untuk mengelaborasi apapun yang dianggapnya penting. Segala hal sudah tersedia.

Hidup bahagia dan bermakna semata buah dari habit dan mindset belaka. Yaitu hidup yang dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, selalu menumbuhkan spirit untuk menikmati persahabatan (Personal relationship), menumbuhkan karakter dan perspektif positif (Positivity), melibatkan diri total sepenuh hati untuk aneka kegiatan utama (Passion), membuat serial kemenangan kecil (Small Winning) dan memperjuangkan sesuatu yang lebih besar ketimbang dunia benda dan kepentingan pribadi belaka (Spiritual life).

Dalam prakteknya nanti, tentu up and down, kelalaian dan alpa, biasa saja jika mewarnai trial and error lima habit dan mindset itu. Namun sejauh kita kembali ke track yang benar, kapal akan membawa kita ke pulau tujuan.

Kita menjadi pengawas dan guru bagi diri sendiri. Indikatornya dalam prilaku kita terbentuk habit yang otomatis. Jika lima prilaku yang membuat bahagia itu secara otomatis kita lakukan dalam praktek hidup sehari-hari, berarti ia sudah tumbuh sebagai habit dan mindset.

Sama halnya dengan habit merokok dan berdoa. Jika seseorang setiap kali bangun tidur langsung mencari korek untuk menyalakan rokok, tanpa berpikir lagi, ia sudah menjadi merokok sebagai habit otomatis. Jika bangun tidur, ia langsung berdoa tanpa berpikir lagi, ia sudah menjadikan berdoa sebagai habit otomatis.

Habit terbentuk melalui serial prilaku yang sangat panjang dan lama.

Jika lima prinsip 3P + 2S sudah pula menjadi habit otomatis, hidup berbahagia dan bermakna hanyalah buahnya belaka. Dari pohon habit dan mindset 3P +2S, hidup bahagia dan bermakna adalah buahnya yang paling ranum.

Apapun yang kita capai, jika tak bahagia, itu bukan hidup yang ingin kita jalani. Setinggi apapun prestasi, jika tak bahagia, itu bukan hidup yang kita dambakan.

Sungguh ini era yang luar biasa. Bahkan walau tak ada pencapaian besar, walau tak ada prestasi besar, kita tetap bisa hidup bahagia dengan mudah dan ilmiah. Apalagi jika ada pencapaian dan prestasi.***