Bab 5F: Merawat Anak Peradaban

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.4 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 5F: Merawat Anak Peradaban

Bab 5F: Merawat Anak Peradaban

Ada anak-anak biologis, anak kandung dari seorang ayah dan ibu. Ada pula anak-anak peradaban, karya budaya dari "para orang tua": pemikir, filsuf, seniman, pejuang, dan sebagainya.

Mereka yang tak memiliki anak biologis tetap bisa merawat anak peradaban. 


Di tahun 2016, usia artis jelita Jenifer Aniston 47 tahun. Akhirnya ia bicara terbuka. Ia memang tidak ingin mempunyai anak dalam hidupnya.

Hidup menyediakan begitu banyak kegembiraan diluar memiliki anak. Untuk mempunyai anak dan membesarkannya membutuhkan komitmen waktu, perhatian dan hal besar lain. Ia hanya tak ingin mengambil komitmen itu.

Sejak lama mass media memberitakan sikap hidup Aniston. Namun ia saat itu belum ingin bicara terbuka. Bahkan kegagalan perkawinannya dengan Bratt Pitt juga diduga karena Aniston tak ingin punya anak.

Kini celebrity yang tak ingin punya anak semakin banyak. Mereka tak lagi sungkan bicara terbuka. Antara lain: Cameron Diaz, George Clooney, Oprah Winfrey, Helen Mirren, Dolly Parton, Janet Jackson, Condoleezza Rice, Jay Lenno, dan banyak lagi yang lain.

Marieclaire.com yang berurusan dengan industri kecantikan membuat list Top 22 celebrity yang terus terang tak ingin punya anak. Media lain mempublikasikan Top 50 orang terkenal yang memberikan alasan mengapa mereka tak menginginkan anak dalam hidupnya, walau sebagian mereka menikah.

Ternyata trend tak ingin punya anak tak hanya terjadi di kalangan celebrity. Ini juga melanda umumnya populasi.

Survei nasional dilakukan oleh Biro Sensus pemerintah AS sejak 1976. Di tahun 2014, untuk wanita berusia 15-44 tahun sebanyak 47.6 persen menyatakan mereka tak ingin mempunyai anak.

Hampir separuh dari wanita AS di masa kini tak ingin punya anak. Apa yang tengah terjadi?

-000-

Riset mendukung trend ini. Ditemukan fakta pasangan yang tak punya anak cenderung lebih bahagia ketimbang pasangan yang punya anak.

Di tahun 2011, Robin Simon dari Wake Forest University mempublikasi hasil risetnya. Ia mengkaji relasi antara menjadi orang tua dan level of happiness. Respondennya sampling nasional berjumlah 11. 473 orang.

Responden dipilih dari segmen yang beragam. Mereka datang dari aneka identitas dari sisi ras dan etnik, kondisi ekonomi, level pendidikan dan gender.

Hasilnya sangat tegas. Pasangan yang tak memiliki anak cenderung lebih berbahagia dibandingkan pasangan memiliki anak.

Ini temuan yang menjungkir balikkan convensional wisdom yang sebelumnya diyakini sebagai kebenaran: betapa berbahagia mempunya anak. Pasangan yang belum memiliki anak dahulu dianggap tak komplet dan gagal.

Pakar psikologi dari Universitas Harvard, Daniel Gilbread menulis buku Stumbling on Happiness. Ia juga berkesimpulan serupa.

Ternyata interaksi orang tua dengan anak tidak sebahagia interaksi orang tua itu dengan sahabat atau bahkan dibandingkan dengan ketika orang tua itu berolahraga.

Merawat dan membesarkan anak yang berusia 0-18 tahun begitu time consuming, dan banyak diwarnai tekanan. Ini berbeda dengan mitos tentang betapa anak sangat membahagiakan orang tua.

Sisi negatif memiliki anak kini dishare oleh semakin banyak orang. Tapi benarkah demikian?

-000-

Riset lain membantah secara keras fakta merawat dan membesarkan anak tindakan yang negatif bagi level of happiness.

Roy Baumester (2013) dan banyak pakar lain membedakan antara happiness yang dangkal yang semata berdasarkan hidup tiada tekanan atau kesenangan jangka pendek. Ada happiness jenis lain: meaningful life atau meaningful happines: kebahagiaan yang lebih dalam dan jangka panjang.

Bausmester mengembangkan skala meaning of life. Ia mendapatkan banyak fakta baru betapa kegiatan yang meaningful itu dalam jangka pendek memang terasa menekan, tak mudah, tidak happy dalam pengertian tidak memberikan pleasure kontan saat itu. Namun jangka panjangnya, kegiatan itu justru menumbuhkan hidup yang bermakna; kebahagiaan versi yang lebih dalam dan jangka panjang.

Prinsip "bersusah-susah dulu hari ini agar bersenang kemudian" sudah menjadi kearifan lokal banyak komunitas lama.

Prinsip ini justru yang membuat banyak orang tahan menderita demi perolehan lebih besar di masa depan. Tak apa hari ini pahit dulu demi manisnya masa datang.

Minset ini justru mengubah banyak hal, baik bagi pertumbuhan pribadi, ataupun evolusi masyarakat. Tak ada perjuangan mewujudkan a better world" misalnya tanpa ada proses bersakit-sakit dahulu.

Membesarkan dan merawat anak itu sama dengan perjuangan di tingkat individu. Tak selalu membahagiakan jangka pendeknya tapi meaningful dalam jangka panjangnya.

-000-

Suatu hari Kahlil Gibran menulis:

"Anakmu bukanlah anakmu. Ia anak Sang Hidup. Ia memang datang melalui kamu tapi bukan dari kamu. Berikan rumah bagi badannya, namun jangan bagi pikirannya. Anak-anak itu milik masa depan."

Membesarkan dan merawat anak akan berbeda perspektifnya jika didasari oleh rasa cinta kita pada anak-anak.

Bisa saja kita mengembangkan sebuah "sense of purpose,": sesuatu yang besar. Yaitu keyakinan bahwa anak- anak sebagai sumbangan kita bagi kelanjutan peradaban dan masa depan. Bahagia dan tekanan, harapan dan derita, dalam proses membesarkan anak, adalah ritme yang meaningful jika kita menerimanya sebagai tanggung jawab dan karunia.

Namun persepsi filosofis dan makro itu juga tak berguna jika tidak tumbuh di hati kita rasa cinta pada anak. Cinta mengalahkan filosofi.

Di era kebebasan, Jenifer Aniston bahkan hampir separuh populasi wanita di Amerika Serikat sekarang ini tiada bisa dilarang jika mereka memang tak ingin mempunyai anak. 

Namun persepsi yang lain: kegembiraan dan makna mempunyai dan membesarkan anak tetap perlu diwartakan dan dirayakan.

Berbeda dengan Jenifer Aniston, celebrity musisi Taylor Hanson beropini: betapa kelahiran dan merawat anak telah memberikannya perspektif baru soal hidup. Anak menjadi tenaga dan alasan mengapa ia bangun setiap hari.

Betapa benar Taylor Hanson, bagi mereka yang mencintai anak.

-000-

Untuk dunia yang lebih luas, anak dalam tulisan ini bisa juga diartikan sebagi metafor. Ia tak harus anak biologis. Ia juga bisa berarti anak-anak peradaban.

Anak-anak peradaban adalah aneka karya budaya yang dilahirkan para orang tua: seniman, pemikir, filsuf, penulis, pemusik, agamawan, pejuang, pemimpin.

Anak-anak peradaban bisa dalam bentuk buku, film, lagu, bangunan, foto, teks, audio dan sebagainya. Yang penting bukan bentuknya tapi gagasan yang ada dalam karya itu. Yaitu gagasan peradaban yang maju, sesuai dengan perkembangan hak asasi manusia, bersandarkan pada ilmu pengetahuan, kuat rasa keadilan sosialnya, dan pro pada keberagaman,  perdamaian.

Mereka yang tak memiliki dan tak ingin memiliki anak biologis tetap bisa merasakan makna yang besar dengan merawat dan menyebarkan anak-anak peradaban.

Kita buat hidup dan masyarakat kita lebih spiritual dengan merawat, memperbanyak anak-anak peradaban itu. Semakin bervariasi gagasan pencerahan yang hidup dan disebarkan ke tengah masyarakat, semakin bermakna kehidupan pribadi dan sosial kita. ***