Bab 5E: Hidup yang Berdoa

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

9.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 5E: Hidup yang Berdoa

Bab 5E: Hidup yang Berdoa

Doa, dengan cara dan bahasa apapun, sejauh dari hati, dan sampai pada level keheningan, membawa  kita pada inner life,  keindahan yang melampaui dunia benda.

Sejak tahun 1973, ujar David Lynch, hidup saya diwarnai oleh Trancendental Meditation (TM) setiap hari. Pembuat film ternama ini, lalu di tahun 2015, mendirikan David Lynch Foundation yang mengkampanyekan meditasi TM untuk mengurangi stress, konflik, kekerasan di sekolah, dunia usaha, bahkan di kalangan veteran perang.

Meditasi menjadi password untuk mengakses enerji berlimpah alam semesta, dan memberikan kebahagiaan yang mendalam, ujar David Lynch.

Awalnya perkenalan David Lynch dengan pendiri TM, guru India Maherishi Mahesh Yogi. Selama ini David Lynch hanya dikenal sebagai pembuat film surealis. Blue Velvet dibuatnya di tahun 1986, dianggap salah satu film terbaik dekade 80an. FIlm ini juga menghadiahkannya banyak penghargaan, termasuk nominasi Oscar untuk sutradara terbaik.

Perkenalannya dengan sang guru, perlahan tapi pasti mulai mengubah orientasi hidup David Lynch. Ia sudah lama mendengar kisah sang guru, yang pertama kali mendarat di Amerika, di Honolulu tahun 1958. Maharishi sejak saat itu aktif memperkenalkan meditasi untuk kebahagiaan sejati kepada banyak kalangan, termasuk celebrity. Teknik yang dikembang Maharishi meditasi dengan mantra yang disebut Trancendental Meditation (TM).

Nama Maharishi semakin melambung setelah the Beatles dan Beach Boy berguru padanya.

Di Los Angeles 1975, untuk pertama kali David Lynch bertatap muka langsung dengan sang guru. Saat itu Maharishi menghidupkan komunitasnya Spiritual Regeneration Movement Center di Los Angeles. Lynch semakin dekat ketika ia aktif mendampingi sang guru membuka seminar Millionaire Enlightment Course di tahun 2003. Fee untuk ikut course itu senilai USD 1 juta, atau sekitar 13 milyar rupiah dengan kurs sekarang.

Hidup David Lynch berubah total. New York Times, 22 Fabuari 2013, mengulas panjang soal David Lynch yang berevoluasi dari pembuat film menjadi guru spiritual Trancendental Meditation (TM).

Dengan dananya sendiri, dan fund rising, David Lynch sangat militan mensosialisasikan meditasi ke aneka sekolah, terutama untuk mengurangi kekerasan, agresivitas, konflik. Solusi kekerasan dan drug yang banyak merusak anak-anak muda sangat sederhana, ujar David Lynch. Cukuplah mereka mempraktekkan meditasi 20 menit sehari, dan diajarkan di sekolah.

Bahkan kepada veteran perang yang rusak mentalnya akibat perang, meditasi dapat menenangkan kembali pikiran mereka dari dalam (inner self).

-000-

Di dunia barat, berkembang pesat aneka teknik meditasi. TM yang dipromosikan David Lych salah satunya saja. Tak hanya meditasi, namun berdoa dalam agama konvensional semakin pula digali khasiatnya.

Mereka yang hidupnya acapkali meditasi, atau berdoa (dengan compassion) lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak atau sangat jarang berdoa.

Kesimpulan ini menjadi kuat karena tidak hanya berasal dari kutbah ulama atau pendeta di rumah ibadah. Namun ini hasil kajian riset empirik aneka universitas modern dunia maju.

Jauh lebih kuat lagi, berdasarkan data Pew Research Center 2014, mereka yang berdoa saat ini (kasus Amerika) tak hanya mereka yang beragama dan percaya pada Tuhan saja. Tapi yang tak lagi berafiliasi pada agama dan tak percaya Tuhan versi agama (Agnostik/Atheist) juga berdoa.

Tidaklah heran jika praktek doa sudah setua usia peradaban sendiri. Agama yang ada sekarang, Hindu, Budha, Judaisme, Kristen, islam, paling tua usianya baru 3000 tahun.

Sementara manusia homo sapiens sudah hidup sejak 150-300 ribu tahun lalu. Manusia sudah berdoa jauh hari, ratusan ribu tahun sebelum cara berdoa sekarang ini dikenal.

Konsep Tuhan, ritual, kepercayaan terus berevolusi. Doa sudah hadir sejak awal dan ikut bertahan dan berevolusi bersama perkembangan peradaban.

Satu hal yang membuat doa itu bertahan dan berevolusi: ternyata doa itu memang memberi fungsi bagi kenyamanan psikologis penganutnya, dari zaman baheula hingga abad digital.

-000-

Dari begitu banyak riset yang mencari korelasi antara berdoa, meditasi dan level kebahagiaan, tiga riset di bawah ini dapat memberikan inspirasi.

Pertama riset yang dilakukan oleh University of Warwick, United Kingdom pada tahun 2008. Respondennya sejumlah 131 mahasiswa-i universitas tersebut. Riset ini mencari korekasi antara berdoa, kebahagiaan dan personality.

Kebahagiaan didefinsikan mengikuti measurement yang sudah baku dalam the Oxfort Happiness Quetionnaire. Doa hanya diukur dari frekwensi 4 skala: tak pernah berdoa, berdoa sangat jarang, berdoa setidaknya sekali sebulan dan berdoa nyaris setiap hari.

Personality diukur melalui Eysenk Personality Questionnaire. Ini riset yang mengeksplorasi apakah seorang individu itu memiliki personaliti yang lebih pro-sosial, ektrovert, ataukah lebih introvert, penyendiri, atau bahkan neurotis yang mudah gelisah, suka berbohong, dan sebagainya.

Sampel dikategorisasi berusia antara 18-21 tahun. Jenis kelaminnya nyaris merata walau sedikit lebih banyak lelaki. Sebanyak 40 persen dari responden mengklaim tak lagi berafiliasi dengan agama manapun. 57 persen responden berasal dari agama Kristen dengan aneka variasinya. Hanya 3 persen yang di luar kristen.

Kesimpulan riset: doa mempengaruhi signifikan terhadap sikap hidup yang positif, dan level kebahagiaan. Mereka yang lebih sering berdoa cenderung hidupnya lebih ceria dan bermakna.

Namun hubungan itu hanya berbunyi dengan catatan: jenis kepribadian sangatlah menentukan. Pribadi yang pro-social dan ekstrovert sangat berpengaruh positif pada level kebahagiaan.

Di tangan pribadi neurotis yang gelisah dan berbohong, berdoa tak banyak efeknya. Walau tetap saja level kebahagiaan yang berdoa lebih baik dibandingkan jenis kepribadian yang sama yang tak berdoa.

-000-

Studi berikutnya meneliti lebih detail soal doa bukan dari sisi frekwensi tapi jenisnya. Walau berada dalam box sama bernama doa, tapi jenis doa yang berbeda memberikan efek yang berbeda pula.

Kali ini studi dari Univerity of Akron tahun 1989, berjudul exploring type of prayer and quality of life. Riset dipimpin oleh dua akademisi: Margareth M Poloma dan Brian F Pendleton.

Mereka membedakan doa dari sisi jenis, dan secara implisit juga kualitasnya. Doa dikategorisasi dalam 4 klasifikasi.

Pertama: doa ritualistik (Ritualist Prayer). Ini jenis doa yang kadang hanya hafalan, dikerjakan karena kewajiban ritual agama saja. Doa jenis ini kadang diwarnai oleh motif ingin dapat pahala atau takut dosa.

Kedua: doa petisi (Petitionary Prayer). Ini jenis doa yang melakukan petisi minta ini dan itu, ego-sentris, untuk dirinya, keluarganya, atau temannya. Doa menjadi semacam "perdagangan,": aku menyembahMu, dan mohon KAU berikan aku ini dan itu.

Ketiga, doa meditatif (Meditative Prayer). Ini doa yang penuh perenungan, merasakan keberadaanNya, mengekspresikan cinta pada the Higher Self (Tuhan dalam konsep agama, atau lainnya)

Keempat, doa yang compassion, personal dan pro-social (Colloquial Prayer). Ini jenis doa yang menyatakan syukur, mohon ampun untuk diri sendiri, dan meminta The Higher Self ikut mengasihi orang lain, meringankan derita dunia. Ini jenis doa yang tidak Ego-sentris.

Riset tersebut melakukan interview per telefon kepada 560 responden secara random. Responden tak hanya ditanya soal tipe doanya. Mereka juga ditanya soal aneka indikator life satisfaction dan happiness.

Riset menyimpulkan doa yang memberi efek kepada life satisfaction, meaning of life atau level of happines adalah doa jenis meditatif (jenis ketiga) dan jenis doa yang compassion, personal/pro-social itu (jenis keempat)

Sedangkan doa yang semata hafalan dan ritualistik (jenis pertama), apalagi doa yang "berdagang," minta ini dan itu yang ego-sentris, (jenis kedua) tak banyak efeknya.

Level doa meditatif dan pro-social bisa dilakukan oleh mereka yang beragama. Doa jenis itu bisa juga dilakukan oleh mereka yang tak lagi berafiliasi dengan agama. Juga bisa dipraktekkan oleh mereka yang tak meyakini Tuhan (personal God), Agnostik bahkan Atheist sekalipun.

Doa meditatif dan doa yang compassion, persoal pro-social itu yang dianjurkan jika level of happiness yang ingin dicapai.

-000-

Studi neuro science terhadap mindful meditation, memberikan nuansa lain bagi doa.

Riset ini dilakukan oleh Kyoto University yang dipublikasi di tahun 2015. Mereka melakukan scan otak terhadap 51 responden.

Masing- masing responden dirating terlebih dahulu level kebahagiannya. Hasil rating itu dikorelasikan dengan kondisi otaknya.

Kesimpulannya: ada lokasi di otak manusia yang disebut precuneous. Lokasi ini berhubungan dengan perasaan bahagia. Individu yang rating kebahagiannya tinggi mempunyai ukuran precuneous yang lebih besar ketimbang yang kurang bahagia.

Yang menarik, precuneous di otak manusia ini sama sepeti otot. Ia bisa dilatih membesar. Agar otot membesar, latihan gymnasium dengan mengangkat beban bisa menjadi terapinya.

Sedangkan untuk membesarkan precuneous di otak adalah dengan teknik mindful meditation. Ini sejenis latihan pernafasan dan fokus pikiran pada momen saat ini.

Doa yang compassion, khusyuk dapat pula membawa pada kondisi otak yang meditatif. Itu sebabnya mengapa doa (jenis tertentu) secara hormonal dan neurotik bisa membuat individu lebih mempunyai level kebahagiaan yang tinggi.

-000-

Jika aku menyembahMu karena inginkan Surga, tutuplah pintu Surga bagiku.
Jika aku menyembahMu karena takut neraka, cemplungkanlah aku ke dalam neraka.
Jika aku menyembahMu karena cintaku padaMU, janganlah kau tolak cintaku.

Puisi sufi Rabi'ah Al-Adawiyah abad di atas sangat terkenal. Isinya menjadi substansi aneka jenis doa meditatif, dengan aneka versi kata dan nada. Ini contoh doa melalui jalan agama.

Tanggal 11 juli 2015, Deepak Chopra memimpin meditasi global untuk bersama menyebarkan compassion kepada lingkungan. Mereka ingin terlibat mengubah dunia melalui tarnsformasi diri sendiri, untuk lebih peduli, dan lebih kasih.

Apa yang dilakukan Deepak Chopra dan komunitasnya adalah jenis doa pro sosial yang tidak menggunakan jalan agama tertentu. Ini momen of silence yang melibatkan individu lintas agama, lintas negara dalam compassion yang sama.

Jika aneka riset menunjukkan betapa doa yang sederhana dapat mempengaruhi level kebahagiaan, dan ia bisa dilakukan oleh yang percaya agama ataupun tidak, oleh yang percaya Tuhan ataupun tidak, mengapa kita tidak memulai dan menutup hari dengan doa? Yaitu doa yang penuh compassion dan kasih.

Suatu ketika Rene Descartes, di abad 16, berkata: Aku Berpikir, maka Aku Ada. Pernyataan terkenal itu bisa diperluas: Aku Berdoa (dengan compassion), Maka Aku Bahagia.

Tumbuhkanlah tradisi berdoa, bermeditasi ataupun momen of silence. Arahkan doa itu untuk kebahagiaan dan keselamatan orang lain dan dunia yang lebih besar.

Ini kegiatan yang murah, mudah dan mendalam, yang membuat kita menyatu dengan enerji yang lebih besar, lebih bermakna.***

 

 

  • view 278