Bab 5: Spiritual Life, Hidup yang Bermakna

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.8 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 5: Spiritual Life, Hidup yang Bermakna

Bab 5: Spiritual Life, Menumbuhkan kekayaan spiritual

Hidup yang bermakna itu hidup yang spiritual, yang memiliki tujuan lebih besar dari sekedar kepentingan pribadi atau perolehan material belaka. Ini hidup yang tak hanya mengejar kebahagian yang sekedar bebas dari kesulitan, tapi menjalani sebuah perjuangan.

"Ketika ketidak adilan begitu jumawa, berdiam diri adalah penghianatan. Ini saatnya kita bersikap. Mungkin sikap kita tidak populer, tidak disukai, bahkan berbahaya. Namun kita tahu sikap ini harus diambil karena hati kita meyakininya."

Dengan variasi kata yang berbeda, gelora di atas acapkali dinyatakan oleh Martin Luther King. Saat itu ia baru berusia 26 tahun dan memimpin boikot di Rosa Park tahun 1955, memprotes diskriminasi atas kulit hitam.

Sejak kecil Martin Luther King mengalami begitu banyak persoalan hanya karena ia berkulit hitam. Sahabat masa kanak-kanakknya seorang lelaki kulit putih. Mereka acapkali menghabiskan waktu bersama. King sangat menyayanginya. Begitu pula sebaliknya.

Namun ketika datang era bersekolah, mereka tak bisa bersama di satu sekolah karena perbedaan warna kulit. Bahkan kemudian ayah sahabatnya melarangnya bertemu dengan King.

Ketika remaja, di tahun 1940-an, King juga jatuh cinta pada gadis kulit putih yang bekerja di sebuah Kafe. Namanya Betty, seorang seminari. Mereka saling mencintai. King berencana menikah dengannya. Sahabat sudah ia beritakan.

Namun sekali lagi King dipaksa melupakan gadis itu karena perkawinan antar kulit yang berbeda akan menjadi skandal. Ini kenyataan yang sangat memukulnya.

Beberapa kali King naik bus bersama gurunya. Acapkali pula mereka dilarang duduk karena kursi itu untuk warga kulit putih. King hendak melawan. Namun guru dan temannya menyatakan, aturan yang ada memang seperti itu. Melawan aturan akan membuatnya dipenjara.

King merasa ia tak bisa lagi berdiam diri. Bersama rakyat lain yang sepaham, ia memimpin gerakan lokal anti diskriminasi. Gerakan mereka di Rosa Park itu membuatnya tumbuh sebagi aktivis tingkat nasional.

King merasa berjuang melawan diskriminasi dan ketidak adilan adalah life calling, panggilan hidup. Beberapa kali ia masuk penjara. Rumahnya dibom. Keluarganya diteror. Namun gagasan yang ia perjuangkan lebih besar dan lebih penting dari kenyamanan hidup pribadinya.

Tanggal 4 April tahun 1968, usia Martin Luther King baru 39 tahun. Hari itu, Di Lorraine Motel Memphis, Martin Luther King ditembak. Fisiknya mati. Namun gagasannya, "I have a dream" mengenai persamaan manusia apapun warna kulitnya terus hidup dan tumbuh sebagai fondasi peradaban baru.

-000-

Dalam prinsip Lima Habit dan Mindset Happiness: 3P + 2 S, S kedua yang dibahas dalam bab ini adalah Spiritual Life. Kisah Martin Luther King hanyalah ilustrasi individu yang sudah mencapai level spiritual.

Yang kita maksud dengan spiritual life adalah hidup yang diperkaya oleh dimensi spiritual. Seorang individu tak hanya kumpulan benda, peristiwa dan kepentingan pribadinya semata. Spiritual Life memperkaya hidup individu, membuatnya lebih bermakna, bahwa hidup punya tujuan yang lebih besar dari sekedar dirinya pribadi.

Dalam kekayaan spiritual, ada suasana perjuangan di sana. Ada mimpi untuk ingin ikut berkorban menciptakan lingkungan yang lebih baik. Ada makna yang lebih besar dibandingkan penderitaan dan kesulitan yang datang.

S kedua: Spritual Life dalam prinsip Lima Habit dan Mindset Bahagia 3P + 2S, membuat hidup bahagia naik ke level lebih tinggi. Level pertama hidup bahagia adalah hidup yang mudah, absen dari aneka kesulitan, menikmati aneka kesenangan, hidup dari satu momen ke momen.

Namun level pertama hidup bahagia itu ada dalam tataran pleasent happiness: sebuah kebahagian yang sudah asyik tapi dangkal saja.

Tahap berikutnya dari kebahagiaan adalah meaningful happiness. Ini kebahagian yang lebih mendalam, yang pro-sosial. Kebahagiaan individu di level ini juga memberi eksternalities, memberi pengaruh untuk ikut membahagiakan lingkungan.

Dalam level pleasent happiness, kesulitan hidup dan derita dianggap problem dan negatif. Namun dalam meaningful happiness, kesulitan hidup dan derita mempunyai makna sejauh itu bagian dari perjuangan. Kesulitan hidup dan derita bukan sesuatu yang harus dihindari. Bahkan itu sesuatu yang harus diterima dengan ikhlas dan senyuman.

Aneka riset akademik membuktikan betapa mereka yang berjuang,
mereka yang punya "sense of purpose," hidup untuk sesuatu yang besar, justru lebih merasakan hidup yang bermakna.

Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun, lewat peristiwa apapun, tumbuhkan habit hidup yang berjuang. Tak perlu gagasan yang terlalu besar yang tak bisa kita pikul. Cukup dipilih saja medan perjuangan yang realistik yang bisa kita kerjakan sebagai individu.

Nuansa lebih detail dari Spiritual Life kita narasikan dalam aneka kisah di bawah ini.


A) Mereka Yang Sudah Sampai di Pucuk Diri

 

Mereka yang sudah menemukan makna hidup (meaning of life) akan tahan segala derita. Demikian acapkali dinyatakan VIctor Frankl, seorang psikiatris terkemuka.

Yang membuat ucapannya kredibel, karena pernyataan itu tak hanya dilahirkannya sebagai kerja renungan seorang psikiatris. Victor Frankl adalah survivor, orang yang selamat dan sehat ketika dibebaskan dari camp Holoucost era Hitler.

Di tahun 1942, Victor Frankl beserta istri dan kedua orang tuanya dikerangkeng dalam camp konsentrasi Nazisme. Mereka keturunan Yahudi. Turut serta bersama mereka aneka penduduk termasuk banyak ilmuwan Yahudi.

Frankl menjadi saksi betapa kerasnya siksaan terhadap mereka. Ia melihat beberapa kenalannya bunuh diri di dalam camp karena tak tahan siksaan. Istri dan kedua orang tuanya juga mati di dalam camp itu.

Namun Victor Frankl sejak awal memang berniat untuk survive. Bahkan ketika ia punya kesempatan lari ke Amerika sebelum ditahan, ia memilih untuk tinggal, menjaga orang tua mereka, beresiko untuk disiksa bersama.

Bagi Victor Frankl ada yang lebih besar dalam hidup dari sekedar takut disiksa. Yaitu hidup yang punya makna. Ini hidup yang mengambil resiko derita jangka pendek demi sebuah nilai yang lebih besar.

Hidup dengan sebuah tujuan yang bermakna membuat Victor Frankl bisa keluar dari siksaan dalam kondisi psikologis yang lebih sehat. Bahkan ia kemudian mengarang sebuah buku yang dianggap salah satu paling berpengaruh abad ini: Man's Search for Meaning.

Buku ini ia tulis di tahun 1946, menceritakan pengalamannya di camp Auswitscz. Di buku itu ia narasikan metode psikoterapi menyembuhkan aneka persoalan psikologis dengan cara mencari meaning of life

-000-

Karya Victor Frankl ini bahkan mempengaruhi secara mendalam studi mengenai Happiness. Hidup yang sekedar bahagia belum tentu hidup yang bermakna. Sebaliknya hidup yang bermakna belum tentu juga hidup yang bahagia dalam jangka pendeknya.

Adalah Roy F Baumeister di tahun 2013 mempublikasikan riset soal itu. Ia mensurvei 400 responden selama tiga kali dalam waktu selang beberapa minggu.

Responden dieksplor aneka kegiatan dan pilihan hidup. Lalu respon mereka dikorelasikan dengan level of happiness dan derajat hidup yang bermakna.

Hasilnya: memang ada korelasi positif antara hidup bermakna dan hidup bahagia. Namun ditemukan pula banyak kegiatan yang membuat hidup bahagia tapi ternyata dianggap kurang bermakna. Sebaliknya, ditemukan kegiatan yang bermakna walau kurang membuat bahagia.

Aneka kegiatan yang umumnya hanya memberi kesenangan jangka pendek dianggap kurang bermakna. Pesta kesana- kemari setiap minggu misalnya dianggap cukup membuat bahagia. Namun kegiatan itu dianggap tidak bermakna.

Membesarkan anak terutama ketika mereka remaja dianggap kurang membahagiakan orang tua. Namun tindakan membesarkan anak itu dianggap sangat bermakna.

-000-

Berdasarkan sumbangan ini kemudian para ahli dengan aneka versi membedakan dua jenis kebahagiaan.

Pertama adalah hedonic happiness. Ini jenis kebahagiaan paling dangkal, jangka pendek. Ia diperoleh hanya dengan memenuhi kebutuhan bersenang-senang dan lepas dari tekanan.

Kedua adalah meaningful happiness. Ini jenis kebahagiaan yang paling otentik dan jangka panjang. Kebahagiaan ini lahir karena individu yang bersangkutan terlebih dahulu memiliki sense of purpose, meaning of life dalam hidupnya.

Kebahagiaan jenis kedua ini bahkan mungkin saja dilalui dengan penderitaan terlebih dahulu karena perjuangan gagasannya. Namun perjuangan itu membuatnya harum. Ia dianggap menyumbang sesuatu bagi lingkungan.

Victor Frankl adalah contoh nyata. Tahunan berada di camp Auswitsz adalah neraka. Namun ia bertahan dan memberikannya makna sebagai bagian nilai yang lebih penting.

-000-

Frederick Nietszhe suatu hari membuat kutipan dengan bahasa tinggi: He who has a why to live can bear almost any how. Siapapun yang sudah menemukan alasan untuk hidup, sense of purpose, dapat menanggung aneka beban dunia.

Dengan kata lain, mereka yang sudah sampai di pucuk diri, yang sudah memilih alasan untuk hidup, bukan saja akan tahan lebih banyak derita. Mereka juga akan potensial bahagia secara lebih otentik.***

 

  • view 348