Bab 4F: Kemenangan Kecil atas Kegagalan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

8.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 4F: Kemenangan Kecil atas Kegagalan

Bab 4F: Kemenangan kecil atas Kegagalan

Tak ada pula perjalanan hidup tanpa mengalami serial kegagalan. Kemampuan bangkit dari kegagalan itulah sukses yang sebenarnya.


Francis D Carpenter adalah seniman dan pelukis yang malang melintang di White House di abad ke 19. Di tahun 1864, ia berkesempatan melukis wajah Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat saat itu.

Kepada aneka kenalan, Carpenter mengekspresikan kesannya yang mendalam. Ia sudah melukis banyak sekali tokoh politik penting. Ia sudah mengabadikan ke dalam kanvas wajah elit darah biru ataupun rakyat biasa. Namun ia tak pernah melukis wajah sesedih ini: wajah Abraham Lincoln.

Ia meminta Lincoln tersenyum. Namun melankoli dan kegetiran tak kunjung hilang dari ekspresi wajah Lincoln.

Seniman acapkali mampu menjangkau apa yang tersembunyi di bawah kulit. Carpenter meyakini sang presiden menyimpan masa silam yang getir.

Memang sejarahwan di kemudian era mencatat betapa hidup Lincoln dipenuhi aneka rekor kegagalan. Membaca rekor kegagalannya, tak menyangka jika ia bisa mencapai kursi presiden.

Di usia 22 tahun, di tahun 1831, Lincoln kehilangan pekerjaan dan tumbuh lama sebagai pengangguran. Setahun kemudian di tahun 1832, ia ingin terjun ke dunia politik praktis. Ia maju bertarung untuk menjadi anggota legislatif negara bagian Illinois. Tapi Lincoln gagal.

Merasa kurang beruntung di politik, ia mencoba terjun ke bisnis di tahun 1833. Tapi usahanya bangkrut.

Di tahun 1934 akhirnya ia terpilih sebagai anggota legislatif. Namun ketika ia maju untuk menjadi ketua legislatifnya (speaker), di tahun 1838, ia kembali gagal.

Tahun 1843, ia melangkah ke pentas politik nasional, bertarung untuk anggota konggres. Kembali Lincoln gagal. Tahun 1848, ia mencoba sekali lagi memperebutkan anggota Konggres AS. Kembali pula ia gagal.

Dari 1848- 1858 hidup Lincoln dipenuhi serial kemalangan, gagal yang satu menuju kegagalan lainnya. Ia tak terpilih menjadi senator. Ia kalah lagi untuk senator periode berikutnya.

Ia mencoba ke jalur eksekutif, masuk menjadi nominasi wakil presiden AS, di tahun 1856. Kembali ia kalah.

Carpenter, selaku pelukis, tidak tahu detail rekor kegagalan Lincoln di atas. Namun ia menangkap bekas luka batin dan kesedihan yang terpancar di wajah Lincoln.

-000-

Di tahun 1860, politisi yang acap gagal Abraham Lincoln mencoba peruntungan maju sebagai calon presiden AS. Kini dewi fortuna menolehnya: Lincoln menang dan menjadi Presiden AS yang ke 16.

Lincoln tak hanya menjadi presiden, namun ia membuat sejarah mengubah wajah peradaban. Di eranya, ia menghapuskan perbudakan kulit hitam.

Keputusan ini membawa Amerika masuk dalam perang saudara intensif selama 4 tahun (1861-1865). Sebanyak lebih dari 700 ribu tentara Amerika mati. Itu lebih banyak dibandingkan tentara Amerika dalam perang dunia.

Namun sejak Lincoln, politik dan ekonomi Amerika berubah. Kesetaraan warga negara terlepas dari warna kulit bertahap dimulai. Kesetaraan warga negara menjadi fondasi maha penting demokrasi modern. Lincoln meletakkan kesetaraan itu.

Sampai hari ini Lincoln dianggap satu dari tiga presiden Amerika yang paling berhasil dalam sejarah. Dua presiden lainnya: George Washington dan Franklin D. Roosevelt.

Kekuatan apa yang dimiliki Lincoln? Apa yang membuatnya bangkit dari serial kegagalan karir tapi berakhir dengan pencapaian luar biasa? Apa yang menyala di dadanya untuk sampai pada makom tertinggi hidup penuh makna (meaningful happiness)?

-000-

Lincoln memiliki passion yang kemudian diberi nama oleh Angela sebagai The true grit. Ini unsur personality yang lebih menentukan dan lebih tinggi nilainya dari kecerdasan.

Di tahun 2013, psikolog Angela Lee Duckworth mempublikasi hasil risetnya. Ia mencari tahu prediktor paling menentukan sukses atau tidaknya seorang siswa?

Angela mengumpulkan sampel dari aneka situasi. Dari studi kasus yang ia teliti, ternyata bukan IQ yang paling menentukan sukses atau tidaknya siswa. Juga bukan kecerdasan sosial, bukan kesehatan, penampilan fisik, kekayaan orang tua, dan sebagainya yang paling mempengaruhi tingkat sukses.

Yang paling menentukan kejayaan individu adalah apa yang kemudian ia sebut dengan The True Grit. Ini sebuah determinansi dan passion untuk mimpi/ target jangka panjang.

Individu yang menyimpan obsesi yang keras untuk sebuah pencapaian jangka panjang, akan bekerja lebih keras dan cerdas. Ia juga akan lebih tahan terhadap kegagalan yang dianggapnya sebagai halangan sementara.

Angela sendiri mengembangkan lebih detail true grit itu dalam skala yang terukur. Berkali-kali ia menguji bahwa skala true grit lebih kuat dari skala IQ atau EQ untuk memprediksi anak yang sukses.

True Grit ini dapat diterapkan lebih luas. Tak hanya di sekolah, di kantor tapi juga dalam dunia nyata. Determinasi dan passion untuk sebuah goal jangka panjang memang sangat powerful.

True grit dianggap signifikan pula menentukan pencapaian karir militer, sebagaimana riset yang dilakukan akademi militer di West Point.

-000-

Ujar Lincoln, yakini dulu anda sudah meletakkan kaki di tempat yang benar. Selanjutnya jangan goyah walau badai datang.

Tidak seperti Lincoln, umumnya kita tak berkesempatan mengubah sejarah peradaban. Kitapun juga tak perlu berlagak seperti Lincoln menyimpan ambisi besar mrngubah dunia.

Namun hal yang beharga jika kita mengembangkan kanvas besar untuk diri kita sendiri, sesuai dengan situasi. Agar hidup tak datar saja, kita perlu juga punya mimpi. Namun mimpi kita mimpi yang realistik saja.

Setidaknya kita tahu apa yang berharga untuk kita capai dalam jangka panjang? Apa yang membuat hidup kita terasa bermakna? Pelihara terus mimpi ini sebagai the True Grit.

Dengan passion yang kuat pada mimpi jangka panjang itu, kegagalan demi kegagalan yang datang hanya akan nampak sebagai aneka halte sementara belaka.

Tiada yang bisa menahan. Kereta hidup kita terus saja melaju menuju stasiun terakhir, yang lebih bermakna.

Kegagalan yang tidak mematahkan semangat untuk terus tumbuh adalah kemenangan kecil.***

 

Dilihat 175