Bab 3D: Passion untuk Olah Rohani

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

9.2 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 3D: Passion untuk Olah Rohani

Bab 3D: Passion untuk Olah Rohani

Tak hanya jasmani, rohanipun (pikiran) perlu kita latih, olah agar tumbuh rasa damai dan hamoni dari dalam, dari inner life.


Apa yang terjadi dengan celebrity dunia Richard Gere, Katy Perry, Howard Stern, Gweyneth Paltrow, David Lynch dan lainnya? Mereka bukan saja mempraktekkan meditasi sebagai bagian life-style. Sebagian mereka sudah pula mengkampanyekannya.

Sebelum mereka, sudah terlebih dahulu bertamasya spiritual ke sana, antara lain the Beatles, Beach Boys, Tina Turner, Oprah Winfey, untuk menyebut beberapa.

Meditasi bahkan kini secara resmi menjadi program aneka Rumah Sakit di Amerika Serikat. Pelatihnya dididik khusus dan bersertifikat pula. Sebagai pengganti obat depresi, olah meditasi dijadikan alternatif.

Sebuah rekor meditasi bersama dunia baru saja diresmikan. Tgl 8 Agustus 2014, sebanyak 140 ribu individu di seluruh dunia, bermeditasi di momen yang sama. Mereka mengirimkan salam perdamaian dan compassion melalui "moment of silence." Payung bersama mereka: Gerakan Global Meditation for Peace, 2014.

-000-

Era baru meditasi yang nge-trend masa kini datang dari generasi Jon Kabbat Zinn. Ia seorang doktor (Ph.D) kedokteran dari universitas ternama MIT. Ia murid Salvador Luria, penerima Nobel kedokteran tahun 1969.

Lahir di tahun 1944, sejak mahasiswa, Zinn menekuni mediatasi dari para guru Zen dan Buddhism. Kearifan ritual berusia ribuan tahun dipelajari Zinn dengan tekun.

Namun berbeda dengan generasi sebelumnya, Zinn mendalami meditasi dalam rangka ilmu pengetahuan. Ia mendalami hubungan dan efek meditasi atas aneka bidang kedokteran yang diminatinya.

Tahun 1979, ia mendirikan klinik untuk mereduksi stress (Stess Reduction Clinic) di Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts. Zinn mulai bereksperimen menerapkan meditasi mengatasi stress dan aneka emosi negatif.

Dengan gembira akhirnya ia memperkenalkan racikannya sendiri. Ini program yang memadukan meditasi, psikologi populer dan terapi kesehatan. Ia menamakan programnya Mindfullness- Bases Stress Reduction (MBSR).

Ia menciptakan strandarisasi mengenai program tersebut. Lamanya program 8 minggu. Latihan untuk program ini dirancang berbentuk kelas 2 jam seminggu: latihan pernafasan dan brainstorming konsep yang mendasarinya. Setiap minggu dibuatkan session untuk perenungan diri.

Program ini diajarkan oleh pelatih bersertifikat. Aneka jargon keagamaan dalam meditasi itu ia buang dan diganti dengan pendekaran yang ilmiah.

Mengapa jenis meditasi ini membawa kehebohan baru? Penyebabnya adalah publikasi hasil riset. Beberapa riset membuktikan program Meditasi ilmiah ini terbukti efektif mengatasi aneka masalah stress, dan aneka penyakit yang berhubungan dengan negative emotion.

Media terpana. Celebrity terpana. Kaum cerdik pandai terpana.

Kini meditasi ilmiah itu sudah melahirkan lebih dari 1000 pelatih bersertifikat. Program ini juga meluas diterapkan di aneka rumah sakit besar di Amerika Serikat. Bahkan program ini juga goes internasional, diterapkan di 30 negara.

Perusahaan besar mulai menerapkan meditasi ilmiah untuk para anggota dan CEO. Tradisi baru ini diulas oleh Harvard Business Review.

Di lingkungan politik, hal sama berlaku. Anggota Konggres Tim Ryan menerapkan dan mempraktekkan meditasi ini bersama kelompok kecil sesama anggota Konggres di Capitol Hill.

-000-

Meditasi ilmiah memperoleh pesonanya yang baru. Terlebih lagi riset bidang neuro-science dan postive psychology menunjukkan betapa meditasi bisa menjadi cara paling murah dan praktis meningkatkan kebahagiaan individu.

Tahun 2003, Richard Davidson dari University of Wisconsin menerapkan neuro-science untuk meneliti mereka yang mempraktekkan Mindfullness Meditation.

Otak responden discan dan dicatat aktivitasnya, sebelum dan setelah program 8 minggu meditasi. Hasil belum meyakinkan namun menunjukkan adanya gejala awal. Terindikasi plasticity, unsur yang bisa berkembang di syaraf manusia akibat dilatih terus menerus oleh keheningan, fokus dan teknik konsentrasi.

UCLA melanjutkan studi dengan cara mengscan (MRI) otak responden untuk penghayat meditasi yang sudah mempraktekkannya sejak lama (sekitar 10 tahun ke atas). Otak ini dibandingkan dengan yang tidak mempraktekkan meditasi sama sekali.

Dua perbedaan pada struktur otak nampak ke atas permukaan. Yang sering meditasi memiliki volume otak yang lebih besar.

Ada area yang disebut prefrontal cortex, di syaraf manusia. Ini area yang bertanggung jawab untuk instruksi dan prilaku yang berhubungan dengan self kontrol dan perhatian. Emosi positif seperti empati dan simpati adalah turunan dari area yang sama.

Mereka yang sering bermeditasi memiliki area yang lebih besar dan tebal, dibandingkan yang tidak bermeditasi. Dengan sendirinya, yang sering bermeditasi lebih terlatih untuk compassion, mengontrol diri, simpati, dan berbahagia.

Semakin banyak riset yang kemudian mengkonfirmasi meditasi dapat mengubah signifikan area syaraf pelakunya. Ia bisa membuat pelakunya lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih tahan tekanan.

-000-

Beruntunglah kita di Indonesia. Begitu banyak agama besar yang memiliki ritual sejenis meditasi. Ada Dzikir di Islam. Ada Retreat di Kristen/Katolik.

Namun Mindfulness meditation tentu saja tidak untuk menggantikan ritual agama. Ini hanyalah olah pikiran, sebagaimana olahraga, yang bisa dilakukan siapa saja, terlepas dari sekat primordial.

Kitapun tak perlu mati-matian belajar aneka teknik mindfulnes meditation, jika tidak memerlukannya. Cukup merenungkan satu dimensinya: pentingnya mengisi dan mewarnai kesibukan sehari-hari dengan "momen of silence."

Di antara rutinitas yang menenggelamkan dan menyibukkan, kita perlu waktu untuk keheningan diri. Pause sejenak, sekitar 10- 25 menit setiap hari, atau tiga kali seminggu, atau sekali seminggu, untuk menghayati dan menikmati momen yang ada. Ataupun untuk mensyukuri apa yang oleh mata dan pengalaman normal tampak biasa saja.

Ujar Deepak Chopra, meditasi membuat semua serpihan diri kita dan sistem syarafnya menyatu kembali secara koheren.

Ilmu pengetahuan kini sudah menyediakan cara yang sangat mudah dan murah untuk menghayati "the higher self" dalam diri.

Hal yang sangat berharga jika kita menjadikan aktivitas momen of silent sebagai bagian pertumbuhan diri, baik sebagai bagian ritual agama, ataupun yang tak berhubungan sama sekali dengan agama.

 

 

 

  • view 179