Bab 3C: Passion untuk Panggilan Hidup

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.9 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 3C:  Passion untuk Panggilan Hidup

Bab 3C:  Passion untuk Panggilan Hidup

Teruslah menggali untuk tahu apa yang menjadi panggilan hidupmu (life calling). Darah dan daging dalam tubuhmu akan lebih bergairah karena panggilan hidup itu.

Tahun 1947 di India. Mahatma Gandhi berduka. Muslim dan Hindu konflik berdarah membelah India menjadi dua negara.

Nahari, beragama Hindu, menghampiri Gandhi dengan penuh penyesalan. "Mahatma, celakalah jiwa saya. Baru saja saya membunuh seorang bocah Muslim. Saya benturkan kepalanya ke dinding. Ia masih kecil, ya Mahatma. Ia masih kecil."

"Mengapa kamu membunuh anak kecil," tanya Mahatma? Jawab Nahari: "Gerombolan muslim itu membunuh anak saya. Saya hilang akal. Saya membalasnya dengan membunuh anak Muslim dimanapun saya jumpa."

"Oh Mahatma. Saya sadar ini sangat keliru. Jiwa saya terpanggang. Saya sangat menyesal. Tapi bocah Muslim itu sudah mati. Apa yang harus saya lakukan, Mahatma. Tolong selamatkan jiwa saya."

Dengan tenang Gandhi menjawab. "Carilah anak Moeslim yatim, yang ayahnya dibunuh oleh Hindu. Kamu harus adopsi anak itu. Kamu rawat dan besarkan seperti anakmu sendiri, dengan kasih sayangmu. Jangan kau bedakan ia dengan anak kandungmu yang lain.

"Namun kamu harus ingat," ujar Gandhi. Jangan kamu ubah agamanya menjadi Hindu. Kamu besarkan ia menjadi anak Muslim yang hidup berdasarkan keyakinan Muslim. Hanya ini yang bisa menolong jiwamu."

Percakapan Mahatma Gandhi dan Nahari, seringkali dikutip, dengan aneka ungkapan kata. Kutipan itu menunjukkan contoh praktis kearifan dan kedalam toleransi.

Gara-gara pandangan Mahatma Gandhi yang mengutamakan kemanusian, di atas ikatan agama formal, ikut menyebabkan ia dimusuhi, dan akhirnya dibunuh oleh penganut Hindu Militan.

Namun Gandhi terus hidup abadi dalam memori peradaban. Passion yang dalam pada panggilan hidup  membuat Gandhi mudah mengatasi aneka derita duniawi.

-000-

Mahatma Gandhi contoh figur yang kemudian diklasifikasi oleh Howard Gardner sebagai cerdas secara eksistensial (existential intelligence). Ia sudah merenungkan dalamnya samudra dan tingginya langit. Hidupnya sudah dilezatkan oleh aneka penderitaan dan perjuangan.

Semua itu berbuah pada sebuah life calling, panggilan hidup. Dengan passion dan resiko, ia jalankan panggilan hidup itu.

Howard Gardner pakar psikologi dari Harvard University menulis buku yang berpengaruh di tahun 1983, The Frame of Mind: Theory of Multiple Intelligence.

Betapa dalam diri seorang individu terdapat aneka jenis kecerdasan. Pada individu tertentu acapkali yang menonjol jenis kecerdasan yang tertentu pula.

Salah satu kecerdasan terpenting dan tertinggi adalah existensial inteligence: kecerdasan eksistensial. Ini kapabilitas dan kepedulian seorang individu untuk bertanya dan mencari jawab tentang hal yang sangat eksistensial dalam hidup.

Apa tujuan tertinggi dalam hidup? Apa itu kebajikan? Adakah Tuhan dan wahyu? Mengapa saya ada dan harus menuju kemana? Jika hidup penuh kebahagiaan mengapa harus ada kematian? Jika hidup penuh derita mengapa harus ada kehidupan?

Mereka yang terobsesi mengenai ultimate values di atas umumnya ingin mengetahui lebih dahulu peta paling makro dari segala sesuatu. Akibatnya, kecerdasan eksistensial membawanya mempunyai elemen seorang filsuf, pemikir, rohaniawan, atau social reformer. Itu yang membuatnya bergairah ikut menggerak komunitas yang lebih besar.

Karena substansi persoalan yang ingin ia pahami, ia cenderung menggunakan semua referensi yang disediakan peradaban (common values). Ia tak lagi terikat dan mengkerangkeng dirinya hanya kepada satu jenis paradigma berpikir saja.

Baginya semua agama, ideologi, ilmu pengetahuan adalah milik bersama manusia. Itu semua warisan dunia. Kita bisa meraciknya. Ajaran itu bisa diambil intisarinya, dan digunakan untuk panduan hidup bagi siapapun.

Tak heran, misalnya, walau Gandhi tumbuh dalam tradisi agama Hindu, namun ia tetap menyarankan anak yatim dari seorang ayah Muslim dididik tetap menjadi Muslim oleh ayah angkatnya yang Hindu.

-000-

Mereka yang mendalam dan cerdas dalam kategori kecerdasan eksistensial ini umumnya menumbuhkan karater sebagai berikut:

- Hidupnya penuh makna karena dengan passion yang kuat ia selalu bergairah untuk sebuah vision. Ia akan berujung memilih apa yang disebut panggilan hidup (life calling)

- Ia lebih mengikuti apapun yang bergetar di nuraninya. Ia cenderung ikhlas mengambil resiko jika berbeda dengan mayoritas lingkungannya.

- Bukan lagi kesenangan jangka pendek yang dicarinya. Ia ikhlas tidak hidup dalam comfort zone. Ia meyakini hidup dengan sebuah vision, walau penuh dinamika dan derita, memberikannya makna yang lebih dalam.

- Ia punya kapabiliti menggali persoalan eksistensial dan akar persoalan. Ia cenderung mencari dan mengolah universalisasi dari ajaran agama dan filosofi. Ia cenderung mencari gagasan yang bisa diterapkan secara universal, melewati aneka sekat primordial.

- spiritnya bukan menjadi pengikut, tapi sebagai individu independen yang ikut
aktif menerangi lingkungan.

-000-

Janiffer Aaker dari Standford University di tahun 2014 mempublikasi risetnya soal "the meaningful life is a worth road traveling": pentingnya jalan hidup bermakna.

Ia melakukan penelitian dengan 397 responden selama sebulan. Yang ingin digalinya bagaimana populasi menghabiskan waktunya? Pengalaman apa yang mereka ingin tumbuhkan dalam hidupnya.

Aaker membedakan orientasi hidup yang mencari kebahagian, dan orientasi hidup yang mencari meaning of life. Terlebih dahulu ia membuat parameter yang membedakan orientasi kebahagiaan dan meaning of life.

Hasil risetnya, dalam banyak kasus, kegiatan yang bermakna juga membuat bahagia. Juga berlaku sebaliknya: kegiatan yang membuat bahagia juga bermakna. Misalnya berbagi waktu dengan sahabat sharing mengenai pengalaman pribadi, masalah yang sedang dihadapi dan mendiskusikan solusi.


Namun banyak kasus, kegiatan yang memberikan kebahagiaan (jangka pendek) tapi tidak bermakna. Misalnya kegiatan pesta pora dari satu klub ke klub lain. Apalagi jika ia sudah menyandu menjadi party animal.

Ada pula kegiatan yang bermakna bagi dirinya namun justru melahirkan penderitaan jangka pendek ataupun panjang. Misalnya ia memperjuangkan kesetaraan hak kaum minoritas di lingkungan mayoritas militan yang diskriminatif. Iapun diisolasi.

jelaslah hidup yang sehat membuat lebih bahagia. Namun mereka yang sedang sakit tak berarti hidupnya tak bermakna. Jelaslah memiliki dana berlebih mempunyai pilihan mencari kegiatan bersenang-senang. Namun yang dananya terbatas tak berarti hidupnya tak bermakna.

Sikap hidup yang fokus momen ke momen, untuk menikmati masa kini dan di sini memang dapat merasakan flow. Namun mereka yang mengorbankan kesenangan masa kini untuk sesuatu yang lebih berharga di masa depan, tak berati hidupnya tak bermakna.

Aaker memulai riset awal betapa mass media semakin bias mempromosikan banyak kegiatan yang memberikan kebahagiaan jangka pendek, selfish, dan dangkal. Dan kurang memberi tempat bagi kegiatan yang meaningful, walau harus ditempuh dengan kesengsaraan terlebih dahulu.

Menurut Aaker, pencarian makna hidup justru membuat kita manusiawi. Mereka yang memperjuangkan gagasan kesetaraan walau mereka sempat menderita justru yang membuat peradaban maju, lebih adil.

-000-

Mahatma Gandhi figur raksasa yang sudah memilih life calling, panggilan hidup. Ia mengalami banyak tekanan sepanjang hidupnya, dipenjara, dihina, bahkan kemudian dibunuh.

Tapi Gandhi menjalani hidup yang bermakna. Pengaruhnya kepada "a better world" terasa.

Bandingkan dengan milyuner yang mencari kesenangan jangka pendek, hiburan malam, pindah dari satu pelukan ke pelukan lain. Ia mungkin merasakan kesenangan jangka pendek.

Namun siapa berani jamin bahwa itu gaya hidup yang bermakna bagi sang milyuner dalam jangka panjang. Pengaruhnya kepada "a better world" tak pula dirasakan karena orientasinya yang selfish, dan dangkal.

Tentu tak semua kita bisa sangat cerdas secara eksistensial. Tak semua kita sudah sampai kepada pilihan panggilan hidup. Tak semua kita harus mengikuti persis seperti Gandhi.

Tapi hal yang bermakna jika kita mulai mengembangkan apa yang disebut Galdner dengan kecerdasan eksistensial. Ini kegelisahan batin yang mencari jawaban untuk berujung pada panggilan hidup. Tak apa jika kita mulai dengan dosis ala kadarnya.

Kita mulai mengasah dengan bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain, sekecil apapun. Jenis kerja sosial bagaimana yang bisa membangkitkan passion kita?

Dalam panggilan hidup bukan keuntungan pribadi yang dicari. Yang ingin ditemukan sebuah jenis kerja sosial. Tak jarang kitapun harus berkorban, entah waktu, pikiran, dana, emosi, dan sebagainya.

Tips diberikan Gandhi untuk mendapatkan gairah dan passion. Bayangkan dunia ideal bagaimana yang kamu inginkan? Itu haruslah dunia masa depan yang menggetarkanmu. Jadilah bagian dalam perjuangan itu, sekecil apapun.

Mungkin akan kita temui aneka tekanan dan ketidak nyamanan akibat kerja sosial dan panggilan hidup itu. Tapi sejauh tidak membunuhmu, apapun justru akan menguatkanmu. Friederich Nietzche: what doesn't kill you makes you stronger.***

 

 

 

 

 

 

  • view 360