Bab 3: Passion, Terlibat Sepenuh Hati

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.4 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 3: Passion, Terlibat Sepenuh Hati

 


Bab 3: Passion, Terlibat Sepenuh Hati

Pilihlah satu, dua atau tiga kegiatan yang sepenuh hati dirimu terlibat, dengan seluruh gairah. Ini aroma yang akan hidupmu lebih berwarna.

 Billy Eliot, 11 tahun, duduk kesepian dan menangis. Ibu sudah tiada. Ayah mendidiknya agar menjadi petinju. Ia acapkali menjadi sasaran kemarahan kakak dan ayah yang frustasi di tempat kerja.

Billy diam-diam menyukai tari ballet. Ia menyusup dan akhirnya bergabung dengan bocah perempuan, bersama menarikan ballet.

Betapa marah sang Ayah dan kakak ketika tahu Billy menari ballet. Ia menjadi olok-olok tetangga: seorang lelaki kok menari ballet bersama perempuan. Ayah dan kakaknya juga diolok-olok karenanya. Hanya guru ballet yang membela Billy.

Namun Billy terus saja menari. Ia merasa lepas dari beban hidup. Dalam tarian ballet, ia lupa ruang dan waktu. Semua kemarahan ayah dan kakaknya, olok-olok tetangga, ia lampiaskan dalam tarian ballet. Ia menari saja, menari saja, menari saja.

 

"Saya seperti melayang, lepas, damai, kapanpun saya menari ballet," ujar Billy. Begitu total Billy di dunia ballet, melalui drama yang panjang, akhirnya ayah dan kakaknya, juga tetangganya mendukung Billie. Ia tumbuh menjadi penari professional di Royal Ballet School di London.

Demikianlah intisari film Billy Illiot, diperankan Jamie Bell. Film ini diproduksi BBC Film tahun 2000, dan dianggap 10 film ballet terbesar sepanjang massa.

Yang mahal di film itu adalah passion Billy Eliot. Ia total memberikan dirinya sepenuh hati kepada dunia tarian ballet. Itu yang membuatnya tetap menikmati hidup walau banyak kesulitan menimpa diri dan keluarga.

Lima habit dan mindset bahagia sudah kita rumuskan dgn formula 3 P + 2S. Bab ini membahas P yang ketiga: Passion, seperti passion Billy kepada tarian ballet.

Dimanapun, kapanpun, kegiatan apapun, dengan siapapun saat itu dirimu hidup, tumbuhkanlah passion. Yaitu habit melibatkan diri secara total, dengan semangat sepenuh hati atas aktivitas apapun yang dirimu anggap penting.

Hanya dengan passion yang menyala, sejauh kegiatan itu sangat disukai, riset akademik membuktikan bahwa itu penanda awal anda akan menjalani hidup yang bermakna.

Nuansa detail mengenai passion kita uraian dalam aneka kisah di bawah ini.

-000-

 

A. Kerjakan dengan Sepenuh Hati.

Apa yang terjadi dengan mereka? Pele yang begitu total bermain bola. Bobby Fisher berjam-jam latihan catur. Mozart lupa waktu dan tempat ketika asyik bermain piano. Leonardo da Vinci bahkan lupa makan ketika begitu intens melukis.

Para ahli kemudian hari menamakannya: FLOW. Pele, Fisher, Mozart dan Da Vinci berada dalam the state of flow: fokus dan hidup total dalam momen itu, seolah waktu berhenti, lupa hal lain, sepenuh hati hanya ada dalam suasana "kini dan disini."

itulah suasana puncak yang bisa memberikan "ecstasy": buncah kegembiraan yang teramat sangat.

Berdasarkan survei di Amerika dan Jerman, sebanyak 15-20 persen populasi tak pernah mengalami situasi flow seperti itu. Sebanyak 15-20 persen lainnya merasakan Flow sangat sering bahkan dalam aneka momen setiap hari. Sisanya 60-70 persen pernah merasakan flow namun sangat jarang.

Anda termasuk yang mana?

Hidup terasa lebih indah dan bahagia jika ada satu atau beberapa kegiatan yang sangat kita sukai. Kita melakukan kegiatan itu secara reguler, yang membangkitkan antusias emosi positif paling puncak.

-000-

Sebuah riset dikembangkan bernama Experience Sample Method (ESM). University of Chicago di tahun 1970an menerapkan EDM ini kepada sekitar 2300 responden dalam serial riset yang panjang.

Responden diberikan guide line untuk membuat jurnal kegiatannya sendiri. Peneliti memilihkan waktu sekitar 2 jam saja setiap harinya untuk dilaporkan responden. Waktu 2 jam itu dipilihkan peneliti secara random. Bisa saja terpilih waktu 2 jam di pagi hari, atau siang, sore, malam, dan sebagainya.

Untuk 2 jam waktu yang terpilih, responden saat itu juga mencatatkan apa kegiatan yang sedang ia lakukan? Ia sedang dimana bersama siapa? Responden diminta menuliskan saat itu juga suasana hatinya dalam skala, secara real-time.

Laporan dibuat berhari- hari. Total terkumpul lebih dari 70 ribu halaman jurnal laporan kegiatan dan skala emosinya.

Dari jurnal itu, peneliti membuat klasifikasi dan mencari skala emosi yang berada dalam tahap Flow itu: emosi positif yang puncak.

Di antara aneka temuan, ini yang penting. Pertama, suasana flow itu dapat lahir dari aneka kegiatan; mulai dari ketika melakukan aktivitas hobi seperti fotography, sport, kegiatan seni.

Namun flow bisa lahir juga dari kegiatan di tempat kerja atau di sekolah. Flow dapat muncul juga dalam suasana pergaulan dan percakapan.

Kedua, suasana flow lebih sering muncul dalam kegiatan yang aktif dibandingkan yang pasif.

Duduk santai bermalasan sambil beristirahat, atau menghabiskan waktu menonton TV adalah kegiatan yang pasif. Namun bekerja, berolahraga, beraktivitas adalah kegiatan yang aktif.

Flow yang merupakan puncak emosi positif lebih mudah distimulasi dengan kegiatan yang aktif.

Ketiga, ini kuncinya; flow hanya muncul untuk kegiatan yang disukai responden. Yang melahirkan flow bukan kegiatannya, tapi tingkat kesukaan reponden pada kegiatan itu.

Misalnya photography bagi responden yang sangat menyukainya dapat menciptakan suasana flow. Tapi bagi responden yang tak menyukainya, efeknya biasa saja.

Namun bisa juga responden yang sama untuk kegiatan yang sama memberikan skala emosi yang berbeda. Ia yang suka photography di suatu saat merasakan skala emosi positif yang tinggi. Namun di saat lain, skala emosinya pada photography jauh lebih rendah.

Apa yang membedakannya? Responden berada di tahap flow jika ia mengerjakan apa yang disukainya dengan sepenuh hati, fokus dalam momen saat itu saja. Jika ia sedang bad mood, tak mengerjakan aktivitas itu sepenuh hati, walau ia sangat suka kegiatan itu, ia tak akan sampai di level flow.

 

-000-

Adakah tips paling mudah agar kita termasuk golongan 15-20 persen yang dapat merasakan suasana flow, kebahagaian yang puncak, setiap hari, atau setidaknya setiap minggu?

Di bawah ini TIPs tiga jenis kegiatan yang dapat kita tumbuhkan secara sadar.

Pertama, carilah satu hobi dan buatlah diri kita begitu menyukainya. Lakukan kegiatan itu kapanpun ada waktu senggang, setidaknya seminggu sekali.

Setiap individu selalu mungkin memilih kegiatan yang berbeda. Ada yang senang bersama teman untuk gowes mengayuh sepeda. Atau memilih sendirian untuk jogging. Atau bersama keluarga menonton film. Atau melewatkan waktu berjam-jam bermain catur, bermain gitar, dan sebagainya.

Kedua, ciptakan sense of purpose, bahwa dalam hidup ini kita tak hanya bekerja, bangun, makan dan tidur. Ada yang ingin ikut kita perjuangkan sekecil apapun.

Terlibatlah dalam kegiatan itu sebagai bagian dari sense of duty. Misalnya kita aktiv dalam kerja sosial sukarela untuk menolong orang yang lemah. Atau ikut memperjuangkan sebuah gagasan lingkungan hidup, hak asasi, ajaran cinta kasih, dan sebagainya.

Ketiga, niatkan sejak awal dalam satu hari ada kegiatan yang ingin kita kerjakan untuk orang lain, dan menikmatinya. Kegiatan itu bisa dipilih secara random, yang berbeda dari hari ke hari. Para ahli menyebutnya dengan random acts of kindness.

Bisa saja kegiatan yang dipilih adalah hal yang seolah remeh temeh sampai yang memang penting. Misalnya ingin mentraktir lunch teman kerja dan mencoba mengakrabkan diri. Atau ingin menemani seorang sahabat yang hari itu sedang bersusah hati. Atau ingin merawat bunga di halaman.

Tiga jenis kegiatan di atas dapat dengan mudah melahirkan suasana flow: emosi positif yang puncak secara regular. Kuncinya: libatkan diri sepenuh hati, secara total.

-000-

Dalam lakon Sang Nabi karya Kahlil Gibran, seorang guru didampingi Almitra, muridnya yang terkasih, memberikan wejangan terakhir kepada rakyat Orphalese yang mengantarkannya untuk pergi:

"Jangan biarkan hidupmu seperti dunia tanpa musim. Kau bisa tertawa namun tak seluruh gelak tawamu. Kau bisa menangis namun tak seluruh air matamu."

Saya menafsir Kahlil Gibran sedang bercerita tentang manusia yang tidak berkelana sampai kepada puncak emosi positif yang tertinggi. Mereka yang tak sering merasakan flow, seperti dunia tanpa musim.

Padahal ada cara yang sangat mudah untuk berada di puncak emosi. Apapun yang kita anggap penting, kerjakanlah sepenuh hati. Berikanlah seluruh diri. Nikmati prosesnya. ***

 

 

  • view 798