Bab 2E: Dirimu Yang Menentukan,You are the World.

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

10.9 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 2E: Dirimu Yang Menentukan,You are the World.

Bab 2E: Anda yang Menentukan, You are the World!

Setiap individu bebas memilih hidup bahkan yang beresiko nyawanya sendiri. Itu yang terjadi pada Schindler di tahun 1939-1945. Ia berdaulat penuh mengambil tindakan yang bertentangan dengan kekuasaan dominan saat itu.

Apa yang harus kulakukan pada lebih dari 1200 yahudi ini? Lama Oscar Schindler termenung dan terombang-ambing. Sebagai pengusaha Jerman yang juga menjadi intel partai Nazi, Schindler jelaslah bukan pecinta Yahudi.

Namun 1200 Yahudi ini pekerja di pabriknya yang berlokasi di Polandia. Awalnya Shindler mempekerjakan mereka karena upah lebih murah dibandingkan mempekerjakan warga etnik Polandia biasa. Namun saat itu di era berkuasanya Nazi di Polandia, partainya mengambil kebijakan membantai para Yahudi.

Sebagai pengusaha dan politisi, ia merasakan hal yang tak biasa. Rasa kemanusiaannya bergetar lebih kuat ketimbang kepentingan ekonomi politiknya. Banyak karyawan Yahudi itu dikenalnya dekat. Terutama Istzak Stern, akuntannya.

Schindler lama berada dalam persimpangan. Ia harus memilih mengorbankan atau menyelamatkan yahudi. Semua keputusan semata ada di tangannya.

Tak terduga, Schindler malakukan hal yang kemudian membuat namanya abadi. Ia mengambil resiko nyawanya sendiri. Dengan dana yang tersisa, ia lakukan semua daya agar 1200 yahudi itu aman dan selamat.

Berkali-kali disogoknya pejabat partai dan pemerintah. Bagi pejabat penting yang tahu pabriknya, disogoknya agar mengizinkannya tetap mempekerjakan dan melindungi Yahudi.

Tahun 1944, Jerman dikalahkan Rusia di Polandia. Sekali lagi partai Nazi memberi instruksi agar para Yahudi yang tersisa di Polandia yang dibawah kontrol Nazi, dipindahkan ke wilayah lain yang masih dalam kendali kekuasaan Nazi. Schindler tidak tunduk pada keputusan partai. Kembali ia menyogok para petinggi partai agar membolehkannya memindahkan 1200 yahudi ke wilayah lain, yang lebih aman di Brunnlitz.

Schindler membuat list siapa saja 1200 Yahudi yang akan ia pindahkan. List ini yang kemudian dikenal dengan Schindler list.

Tak hanya untuk menyogok, di era sampai dengan berakhirnya perang dunia kedua, Schindler menghidupi, menyediakan akomodasi, memberi makan dan minum 1200 yahudi. Total dana yang ia keluarkan untuk kegiatan kemanusiaan ini sebesar 4 juta mark. Jumlah itu ekuivalen dengan 80 milyar rupiah uang masa kini.

Seluruh dananya rela ia habiskan. Keuangan Schindler terganggu. Schindlerpun terancam bangkrut.

Perang terus berkobar. Nazi lalu dikalahkan di Jerman sendiri. Yahudi yang dibawah kontrol Nazi di seluruh wilayah dibebaskan.

Setelah itu, zaman berubah. Paska perang, Schindler benar-benar bangkrut. Komunitas yahudi yang berada dalam Schindler list gantian gotong royong membantu membangkitkan Schindler kembali.

Di tahun 1963, pemerintah Isreal menganugrahkannya gelar the Righteous Among Nations padanya. Di tahun 1974, Schindler wafat. Komunitas Yahudi menguburkannya di Jerusalem, di Mount Zion. Ia petinggi Nazi yang dihormati komunitas Yahudi untuk dimakam di sana.

Anak dan cucu komunitas Yahudi yang diselamatkan Schindler terus berkumpul. Mereka disebut Schindlerjuden (Yahudi Schindler). Komunitas ini kini beranggotakan puluhan ribu. Rutin mereka berziarah ke makam Schindler di Jerusalem.

Sejarahwan berdebat mengenai motif Schindler berkorban menyelamatkan 1200 Yahudi. Ia bukan tipe pemimpin spritual seperti Gandhi atau Mother Teresa. Dari jejak rekamnya, ia sama dengan kebanyakan kita, penuh dengan kelemahan dan kesalahan.

Apapun motifnya, Schindler menjadi contoh betapa individu berkuasa penuh untuk melakukan apa saja sesuai dengan kesadarannya. Lingkungan memang membatasinya. Namun tetap individu itu yang berdaulat memutuskan, termasuk pilihan menolong orang banyak dengan jalan yang sangat beresiko.


-000-

Seberapa bebas individu  memilih jalan hidupnya? Mengapa menurut riset banyak orang pintar tak bahagia? Namun banyak pula orang bodoh tak bahagia? Mengapa banyak orang kaya justru hidup penuh tekanan? Namun tak kalah banyak orang miskin menderita?

Variabel apa saja yang mempengaruhi kebahagian? Dapatkah kita membuat persamaan matematika untuk kebahagian? Berapa persen filsafat hidup kita, misalnya, berpengaruh terhadap kebahagian atau tertekannya jiwa? Apakah gene yang kita warisi sejak lahir ikut mempengaruhi level kebahagian?

Ini pertanyaan umum yang ingin diketahui siapapun yang secara sadar ingin memilih hidup bahagia.

Ketika kita tumbuh dengan pengalaman, kita menyadari semua pencapaian duniawi menjadi tak lengkap jika ternyata kita tak bahagia. Menjadi bahagia harus menjadi tujuan akhir apapun profesi, agama, etnis, jenis kelamin, dan persepsi hidup kita.

-000-

Sonja Lyubomirsky, seorang peneliti psikologi ekspemerintal mengajukan pertanyaan yang sama. Ia merumuskan persamaan matematika bagi kebahagian setelah melakukan serial riset yang panjang dan mendalam.

Berita baik dari hasil risetnya, 40 persen penyebab rasa bahagia berada sepenuhnya dalam kendali kita. Kita punya ruang yang luas menentukan makna hidup dan rasa bahagia.

Variabel lingkungan seperti kekayaan, jenis agama (Islam, Kristen, Budha, dll, ataupun tak beragama), tinggi atau rendah pendidikan, jabatan, laki atau perempuan, tua atau muda, dan sebagainya, total semuanya hanya mempengaruhi 10 persen saja dari kebahagian. Tak diduga begitu kecilnya pengaruh variasi lingkungan bagi tumbuhnya rasa bahagia.

Lebih tak terduga lagi, variabel genetis yang kita warisi sejak lahir ternyata mempengaruhi kebahagian dalam volume sangat besar: 50 persen.

Inilah persamaan matematikanya; H = 50 persen SP + 10 persen VL + 40 PA.

H: Hapiness
SP: Set Point/ base line yang kita warisi sejak lahir
VL: Variasi Lingkungan (status ekonomi, jenis agama, pendidikan, profesi, gender, usia, dll)
PA: Pilihan Aktivitas karena pandangan dan filsafat hidup yang bisa kita kontrol dan kendalikan.

Dalam bahasa Sonja sendiri, rumus matematikanya: Happiness ditentukan oleh 50 persen tendensi genetik (genetic tendencies), 10 persen situasi lingkungan (circumtances) dan 40 persen aktivitas pilihan hidup kita sendiri (intentional activities).

-000-

Dari manakah kesimpulan ini berasal? Mengapa genetic tendecies bawaan lahir itu menentukan hingga 50 persen?

Besarnya pengaruh genetic ini berasal dari riset yang sangat terkenal dengan sebutan the Minnesota Twin Family Study yang dilakukan selama 20 tahun, 1979-1999. Obyek studi sejumlah 137 anak kembar (baik kembar dari satu telur ataupun dua telur), yang hidup terpisah sejak kecil.

Aneka anak kembar ini masing masing tumbuh di tempat yang berbeda satu sama lain, dengan lingkungan yang bervariasi. Yang satu misalnya hidup dalam ekonomi sederhana, namun kembarannya hidup dalam kemewahan. Atau yang satu tumbuh dengan pendidikan rendah namun kembarannya tumbuh dalam pendidikan tinggi.

Yang mengagetkan, ketika diriset level kebahagiannya melalui serangkaian test, mereka yang kembar itu umumnya memiliki set point/ base line atau tingkat kebahagian yang nyaris sama. Padahal mereka hidup dalam lingkungan yang tak sama, dan sebagian bahkan bertolak belakang.

Sesuatu dalam gene masing- masing anak kembar itu menghasilkan level kebahagian yang sama, dan tak banyak dipengaruhi lingkungan. Serangkaian test itu akhirnya melahir prosentase 50 persen bagi gene bawaan lahir sebagai penentu rasa bahagia.

Mengapa pula kekayaan ekonomi, tingginya pendidikan, jenis agama, gender, usia, dan variasi lingkungan hanya berpengaruh 10 persen saja? Mengapa variabel variasi lingkungan itu kecil sekali?

Kesimpulan ini juga diambil dari uji statistik. Ratusan responden dipilih dari variasi lingkungan yang beragam. Kaya miskin, tua-muda, pendidikan S3 atau SD, agama Kristen, Islam bahkan atheis, laki dan perempuan, semua diuji. Ketika variasi itu dikuantifikasi, ternyata total semuanya memberikan perbedaan kurang lebih hanya 10 persen saja.

Sebanyak 40 persen lainnya adalah variabel sikap hidup kita yang tergambar dalam prilaku dan kegiatan yang kita pilih secara sengaja.

Terlalu kecilkah pandangan hidup dan aktivitas kita hanya mempengaruhi kebahagian 40 persen? Riset menunjukkan 40 persen itu ruang yang sangat besar yang bisa membedakan akhirnya hidup kita bahagia atau tertekan, walau kita punya gene tendecies dan variasi lingkungan yang sama.

-000-

Dari persamaan matematika itu, menjadi bahagia ataupun hidup susah sepenuhnya tetap berada dalam kontrol kita sendiri. Menjadi bahagia adalah pilihan bebas yang harus diikuti oleh prilaku dan habit.

Ujar Krishnamurti: You are the World! Dirimu yang menentukan. Lingkungan dan orang lain hanya membuka peluang atau menghadirkan keterbatasan. Namun dirimu yang memilih, menetapkan, menjalankan dan akhirnya menikmati  buahnya.***

  • view 324