Bab 2D: Berpegang pada Ilmu Pengetahuan

Denny JA
Karya Denny JA Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Juli 2016
Bahagia itu Mudah dan Ilmiah

Bahagia itu Mudah dan Ilmiah


Buku Kecil

Kategori Acak

9.2 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 2D: Berpegang pada Ilmu Pengetahuan

Bab 2D: Berpegang pada Ilmu Pengetahuan

Berpeganglah pada pedoman hidup yang sudah diuji oleh aneka riset ilmu pengetahuan.

Tina Turner tidak benyanyi dalam acara Lary King Live, CNN tahun 2006. Ia hanya melafalkan mantra. Ia lagukan mantra itu sekitar 2-3 menit. Tak kita tahu arti kata-kata asing di mantra itu. Namun Tina mengeluarkan suara dan dengung yang terasa menentram hati.

Sudah lama ia menekuni meditasi sebagai terapi mengheningkan pikiran dan menentramkam emosi. Mantra ini mengubah hidup saya, ujar Tina Turner. Larry King diam menyimak.

Dalam usia 20an, Tina jatuh cinta pada musisi kharismatik, Ike Turner. Ini awal yang menentukan karir dan hidupnya di kemudian hari. Nama Turner, kini abadi menempel di belakang nama Tina, menjadi Tina Turner karena akhirnya ia menikah, menjadi murid dan anak didik Ike Turner. Pasangan ini menjadi rock star dunia dengan hits abadi antara lain: Rolling on the River.

Situasi berubah. Tina Turner melambung bahkan kemudian melampaui popularitas suaminya Ike Turner. Dengan tipe kepribadiannya yang dominan dan otoriter, Ike merasa tak bisa lagi memgendalikan Tina. Seolah Tina tak lagi membutuhkannya selaku guru, pemimpin dan suami.

Ike merasa akan kehilangan Tina. Ia semakin ingin mengekang, lebih ingin mengontrol, lebih ingin menguasai, lebih cemburu.

Narkoba mempengaruhi pula Ike Turner. Ia kecanduan. Dimulailah serial kekerasan fisik Ike kepada Tina Turner. Acapkali Tina menjadi sasaran kekerasan Ike. Anggota band menjadi saksi betapa sering Ike menyiksa Tina. Dalam banyak kesempatan bahkan menjelang atau setelah show, wajah Tina Turner tak jarang babak belur.

Begitu banyak obat stress dan pil tidur yang diminum Tina Turner. Ia merasa hidup di neraka. Aneka terapi psikologis dan psikiater sudah dijalaninya. Tina Turner semakin frustasi dengan hidupnya.

Sehingga satu masa di tahun 1971, Tina diperkenalkan sahabatnya dengan Nichiren Soshu Buddhism. Di perkumpulan ini, Tina mulai melafalkan mantra Nam Myoho Renge Kyo. Secara rutin Tina bermeditasi.

Tina berubah tumbuh dengan pribadi yang lebih tenang dan damai. Ia pun akhirnya resmi bercerai dengan Ika Turner di tahun 1978. Tina membangun karir solonya sendiri.

Yang menarik, Tina memulai jalan baru dalam mengatasi stress dan tekanan hidup. Ia tak menggunakan lagi obat-obatan atau terapi psikiater. Ia menempuh jalan meditasi dan membangun karakter dan nilai hidup positif.

Kemudian hari aneka jenis self-healing yang dilakukan Tina Turner diriset secara akademik, dan baku dalam trend baru mindset dan habit happiness. Meditasi sudah menjadi sebuah science. Juga aneka tips bahagia lainnya.

-000-

Di tahun 2015, sebuah rekor terjadi dalam sejarah Universitas Harvard. Untuk pertama kalinya, sebuah kelas begitu populer, karena yang mendaftar berjumlah 1400 mahasiswa. Rekor ini menjadi bahan pembicaraan dan menarik mass media memberitakannya.

Kelas itu diajarkan oleh Prof Ben Shahar. Nama kelasnya Harvard Positive Psychology 1504. Yang diajarkan di sana ilmu pengetahuan berdasarkan riset untuk memahami hidup berbahagia.

Jika dulu berbahagia itu adalah sebuah aspirasi dan keinginan semua orang sehat. Kita kebahagian juga kajian ilmu pengetahuan. Tips dan kerangka berpikir untuk bahagia dirumuskan secara ilmiah.

-000-

Bagaimanakah awal mula terbentuknya trend sehingga soal bahagia menjadi ilmu dan couse paling populer di Universitas sangat terkemuka Harvard? Siapa founding fathers ilmu bahagia ini? Apa sebab musababnya? Apa yang disumbangkan oleh masing- masing founding fathers itu bagi evolusi dan tumbuhnya ilmu pengetahuan kebahagiaan?

Empat tokoh di bawah ini bisa disebut sebagai founding fathers yang membuat happiness berkembang menjadi ilmu, yang kini sangat digemari pula.

Pertama: Abraham Maslow (1908-1970).

Di tahun 1954, dalam bukunya Motivation and Personality, Maslow adalah yang pertama menggunakan istilah positive psychology.

Saat itu ia prihatin atas tendensi ilmu psikologi yang terlalu banyak mendalami dan mempelajari sisi negatif manusia. Mengapa seseorang mengalami mental disorder? Apa yang menyebabkan ilusi, stress, alienasi? Apakah itu pengaruh lingkungan? Atau itu pengaruh masa kecil? Apa hubungannya dengan libido? Dan sebagainya.

Menurut Maslow saatnya psikologi juga mendalami sisi positif manusia. Penting kita untuk juga tahu mengapa dan bagaimana seseorang itu hidup bahagia? Apa yang ia perlukan untuk sampai pada tahap aktualisasi diri.

Keprihatinan Maslow saat itu agak nyeleneh dan berbeda dengan mainstream. Namun psikologi positif yang ia impikan pelan-pelan menjadi benih yang tumbuh.

Kedua: Martin Seligman (1942- )

Di tahun 1996, Martin Seligman terpilih sebagai presiden American Psychological Association. Ia menggariskan di bawah leadershipnya, ia akan lebih banyak menstimulasi agar positive psychology lebih diperhatikan.

Manusia yang sehat menurutnya lebih dari sekedar tak terjangkit penyakit mental. Definisi sehat itu lebih sekedar dari absen dan tidak hadirnya persoalan psikologis. Manusia sehat adalah manusia yang berbahagia. Karena itu penting untuk mendalami dan melalukan riset bagaimana agar manusia berbahagia.

lompatan penting yang dilakukan Martin Seligman adalah metode riset yang ia kembangkan. Di era Maslow, aneka teori psikologi banyak dilahirkan melalui perenungan dan spekulasi.

Walau Maslow sudah menginisiasi pentingnya positiv psikologi, namun tak ada riset empirik yang dilakukannya.

Di bawah era Martin Seligman selaku presiden asosiasi psikologi, riset empirik mulai digencarkan. Aneka riset eksperimental, survei opini publik, studi kasus, dijadikan metode untuk menarik kesimpulan.

ilmu mengenai bahagia pun terbentuk; dari spekulasi menjadi kajian empiris. Untuk jasa ini, Martin Seligman dianggap lebih tepat diberi gelar bapak psikologi positif, walau ia bukan ahli pertama yang merintisnya.

Ketiga: Mihaly Czhikzentmihaily (1934-)

Mihaly membawa satu cabang studi baru dalam riset kebahagiaan. Tradisi yang ia kembangkan itu melahirkan aneka riset serupa yang diekplor generasi setelahnya.

Ia secara empiris menguji efek bagi situasi mental yang sangat fokus dan antusias bagi level kebahagiaan. Ini kondisi yang ia namakan FLOW. Yaitu satu kondisi dimana individu seolah melupakan waktu dan tempat karena ia begitu intensnya mengerjakan sesuatu.

Flow ini membuat individu tidak hanya menjadi lebih jeli dan detail mengenai jenis kegiatan yang sedang ditekuninya. Namun kondisi ini juga memberikan efek kebahagian di level ecstasy, lebih sangat tinggi.

Dengan FLOW itu, seseorang bisa berjam-jam terkoneksi intens dengan kegiatan yang disukainya. Itu seperti Mozart yang sedang bermain musik, atau Picaso yang sedang melukis, atau Pele yang sedang bermain bola.

Ia menguji banyak grup remaja untuk mengamati apa yang mereka sedang pikirkan ketika mendengar sebuah bunyi. Ketika bunyi itu berhenti, mereka diminta menuliskan apa yang sedang mereka pikirkan itu.

Aneka grup remaja diberikan berbagai isu dan persoalan. Dari riset itu diketahui bahwa semakin seseorang menyukai apa yang sedang dilakukannya, semakin ia sangat fokus dan gembira.

Fokus untuk menikmati penuh "sebuah momen" menjadi cabang riset yang terus tumbuh. Betapa pikiran yang meditatif dan tidak terdistorsi pada waktu, tempat dan hal lain ketika seseorang sedang dalam satu momen menjadi isu penting untuk berbahagia.

Studi mengenai fokus pada sebuah momen terus berlanjut dengan aneka variasinya, mulai dari mindful meditation sampai tips hidup dari momen ke momen.

Keempat: Christopher Peterson (1950-2012).

Sebagaimana Mihaly, Christopher dianggap berjasa membawa sebuah cabang riset yang baru bagi studi happiness. Ia meneliti secara empiris apa kaitan katakter, nilai dan prilaku dengan level kebahagiaan.

Bersama Martin Seligman, ia menulis buku Charafter Strength and Virtues di tahun 2004. Ini sebuah riset dalam waktu 3 tahun yang melibatkan 55 ahli ilmu sosial terkemuka.

Secara detail dan empiris ia mengaitkan betapa emosi positif yang kemudian disebut positivity begitu penting dijadikan prilaku dan habit untuk mencapai kebahagian. Sikap optimis, harapan, oritentasi hidup yang pro-social adalah variabel yang bisa membedakan seseorang akhirnya berbahagia atau tidak berbahagia.

Buku ini menjadi handbook yang terus dieksplorasi oleh aneka riset happiness yang datang kemudian.

-000-

Secara perlahan kajian psikologi positif mendominasi dan menjadi mainstream menggantikan psikologi yang negatif.

Tak hanya di bidang kajian akademis, namun juga dalam terapi praktis, solusi menumbuhkan emosi positif lebih ditekankan daripada solusi melawan emosi negatif. Emosi positif tak hanya berarti absennya emosi negatif.

Riset kebahagiaan ini menjadi semakin populer karena kebutuhan baru manusia post-modern pula. Setelah primer basic need terpenuhi (makan, pangan, rumah, security), hidup yang lebih berkualitas dan bermakna menjadi kebutuhan baru.

Namun dunia yang semakin didominasi ilmu pengetahuan merasa tak lagi cukup hanya diberikan tips yang bersandar pada spekulasi atau "warta dari langit." Mereka ingin panduan yang dihasilkan berdasarkan riset empirik atas kehidupan nyata.

Perlu selalu ditumbuhkan sikap hidup yang terbuka pada penemuan baru ilmu pengetahuan. Tak ada masalah jika temuan ilmu ini menjungkir balikkan keyakinan kita sebelumnya. Dengan kokoh berpegang pada ilmu pengetahuan, kita selalu berjalan pada pedoman yang lebih teruji dan kredibel.***

  • view 244